Lia melamun dalam mobil. Dia
berfikir tentang Nayra, haruskah
Nayra menghancurkan hidupnya
karenanya. Dia sangat
menyayangi sahabatnya itu.
"Kenapa kamu melamun Lia? Apa
karena Nayra," tebak Bram. Lia
mengangguk.
"Pak Bram."
"Panggil aku kakak saja," potong
Bram.
"Kak Bram sudah lama bekerja
dengan Niko?" tanya Lia
sedikit ragu.
"Sudah 10 tahun," sahut Bram
sembil tersenyum kearah Lia
kemudian kembali fokus kepada
jalan.
Lia terlihat ragu namun dia
penasaran.
"Kak, apa kak Bram tau tentang
Nayra dan Niko?" tanya Lia
terlihat ragu.
"Tentu saja aku tau," jawab Bram
"Nayra sangat keras hati dari kecil.
Dia begitu dimanja oleh Neneknya
dan Ayahnya. Bahkan Nayra sangat
dekat dengan Nona Zara
sahabat dari Ibunya Nayra. "Aku
tadi mendengar ancaman Nayra,"
Bram tersenyum kepada Lia yang
terlihat begitu sedih.
"Bukannya aku menakuti kamu
Lia Kamu tau berapa bodyguard
yang sudah di sewa oleh tuan
untuk menjaga Nayra tetap saja mereka
semua kalah semua dengan
ancaman Nayra. Bahkan Nayra
sudah pernah dikurung beberapa
hari tapi ada saja cara yang dia
lakukan untuk bunuh diri jika
keinginannya tidak dituruti. Dari
dulu Nayra ingin ayahnya
menikahi Nona Zara dan itu alasan
kenapa tuan jarang pulang
kerumah lebih memilih tinggal di
apartemen."
"Kenapa niko tidak mau
menikahi Nona Zara?" tanya Lia
begitu penasaran.
"Karena Nona Zara tidak baik
seperti yang Nayra lihat. Bahkan
Nona Zara begitu licik." Bram
kembali tersenyum kepada Lia,
Lia semakin tidak mengerti.
"Kenapa niko gak kasi tau Nayra
kalo Nona Zara itu licik?" tanya
Lia polos.
"Kamu memang sangat polos Lia.
Pantesan tuan begitu menyayangi
kamu dan jatuh cinta dengan
kamu," ucap Bram membuat wajah
Lia seketika menjadi merah
karena malu.
"Nona Zara tidak sesederhana yang
kita lihat, orang-orang
dibelakangnya sangat kuat, itu
yang membuat tuan tidak bisa
gegabah. Yang bisa bantu tuan
adalah mantan istrinya namun
kami belum bisa mendapatkan
jejaknya," jelas Bram lagi.
"Bukankah ayah memiliki kuasa
yang kuat, kok malah gak bisa cari
mantan istri apalagi itu untuk
kebaikan Nayra?" tanya Lia lagi.
" Mencari orang yang sudah
belasan tahun menghilang tidaklah
mudah apalagi kami baru mulai
mencarinya."
"Baru mulai...?"
"I_iya itu tuan lakukan hanya
untuk kamu Lia. Dulu tuan tidak
pernah peduli. Tapi sekarang
karena kamu tuan mencari Nyonya
Astrid. Dulu tuan gak peduli jika
Nona Zara ada campur tangan
dalam perceraian mereka. Tuan
ingin Nayra tau kebusukan Nona
Zara agar Nayra bisa menerima
kamu jadi ibu sambungnya," jelas
Bram lagi.
"Dulu tuan hanya ingin
bersenang-senang saja dengan
para wanita tanpa ikatan
pernikahan namun semenjak
bertemu dengan kamu, tuan malah
ingin menikah," imbuh Bram lagi.
Ada rasa bahagia sekaligus sedih
dalam waktu bersamaan. Lia juga
sudah jatuh cinta dengan sosok
dewasa itu, namun penghalang
mereka sangat berat yaitu Nayra.
Lia juga sangat mencintai
sahabatnya dia tidak pernah
mengetahui jika sahabatnya itu
memiliki sisi lain. Yang dia tau
Nayra sangat baik hati.
*
Niko menemani ibunya di dirumah
sakit bersama Nayra, mereka tidak
saling tegur sapa, khususnya Nayra
dia tetap dengan mode diamnya,
padahal sang ayah sudah
mengajaknya berbicara.
"Nay, ayah mau bicara sama
kamu," ucap Niko lembut duduk
disamping putrinya.
"Nay, apa yang kamu lihat baik
belom tentu baik Nak. ayah sama
Mommy kamu bercerai karena ada
campur tangan dari Zara," jelas
Niko
Nayra memutar lehernya yang
tadinya tidak mau melihat sang
ayah, kini menatap ayahnya
dengan tatapan tajam, senyum
sinis terbit dari wajah Nayra.
"Tega ya ayah memfitnah wanita
sebaik Tante Zara demi Pelacur
itu," cibir Nayra.
"Nay, stop sebut lia p*lacur dia
tidak seperti itu bahkan ayah
orang pertama untuknya," tegas
Niko namun Nayra sama sekali
tidak peduli
Nayra mendengus. "Pelet apa yang
Lia kasih ke ayah sampai ayah
lupa sama aku dan Oma. ayah
boleh lupa kebaikan Tante Zara
tapi kami_," ujar Nayra.
"Nay, tolong jangan seperti ini."
Nayra malas dengan ayahnya
dia beranjak dari tempat
duduknya. Niko menarik tangan
putrinya tapi Nayra
menghempaskan tangan ayahnya.
Pagi-pagi dia malas berdebat
mendingan dia meninggalkan
ruangan itu.
"Nayra...." panggil niko
"Niko, lebih baik kamu pergi,
jangan buat kondisi mommy
tambah parah. Mommy pingin
hidup lebih lama hidup jagain
Nayra. Karena kamu lebih memilih
p*lacur itu ketimbang kami," ucap
Rianti lemah.
"Pak Niko, kondisi Mommy anda
tidak baik tolong jangan
membuatnya lebih tertekan lagi,"
kata perawat yang sudah biasa
merawat Mommy Rianti jika
dirawat di rumah sakit.
Stres, itu yang Niko rasakan saat
ini. Dia begitu mencintai putrinya
dan ibunya namun dia juga tidak
bisa melepaskan Lia Bagaimana
pun dia sudah jatuh cinta dengan
wanita muda itu. Apalagi mereka
melakukan tidak pernah
menggunakan pengaman,
kemungkinan besar Lia hamil.
*
Lia bangun dengan kondisi yang
kurang sehat, wajahnya pucat
perutnya tidak enak. Niko tidak
ingin membuat seisi rumah
khawatir.
Hari ini jadwal Deon kontrol, Bram
akan mengantar mereka kerumah
sakit kebetulan rumah sakitnya
sama dengan rumah sakit dimana
Nyonya Rianti dirawat. Niko
meminta Bram mengantar mereka
kerumah sakit.
"Bram kamu balik saja kekantor,
nanti Lia biar sama saya pulang,"
titah Niko yang sudah menunggu
mereka.
"Baik Tuan." Bram meninggalkan
mereka.
"Sayang kenapa wajah kamu
pucat?" tanya Niko sambil berjalan
menuju ke ruang physioterapi
mengantar Deon. Niko mendorong
kursi roda Deon.
"Mungkin kemarin begadang ,"
sahut Lia menutupi keadaannya.
"Sepertinya kamu juga kurang
tidur," ujar Lia melihat Niko
begitu berantakan " sudah makan?" tanya Lia.
"Belom sayang," jawab Niko jujur.
" makan dulu sana nanti
kamu sakit."
"Nanti saja setelah Deon masuk
keruang terapi."
Kamu temeni aku ya," pinta
Niko
"Kak Lia, Deon gak apa-apa
ditinggal sendiri. Deon sudah kenal
sama perawat sama dokternya,
mereka semua baik dengan Deon,"
ucap Deon yang begitu pengertian.
Niko mengacak rambut anak kecil
yang sudah seperti putranya
sendiri. Niko begitu mengasihani
takdir adik kakak ini. Kenapa anak
yang baik seperti ini justru
ditelantarkan oleh kedua orang
tuanya.
Deon yang sudah punya janji
tentunya sudah ditunggu perawat
sama dokter. Deon termasuk
pasien VVIP, karena semua biaya
ditanggung oleh Niko
Dokter dan perawat melirik kearah
Lia. Ini pertama kalinya sosok
Niko sampai turun tangan
mendorong kursi roda. Belum
lagi perhatian Niko dengan Lia
yang sangat berbeda membuat
yang melihat pastinya iri. Karena
sosok Niko adalah sosok idola
kaum Hawa.
Setelah menitipkan Deon,Niko
mengajak Lia kekantin. Niko
memang stres dan tidak berselera
makan namun karena wajah Lia
yang pucat dan dia yakin
wanitanya pasti juga belum makan.
Niko yakin Lia tadi berbohong
bilang sudah makan.
"Kamu mau makan apa sayang?"
tanya Niko dengan lembut.
"Lia gak berselera makan,"
tolaknya Lia yang memang tidak
berselera makan.
"Kamu harus makan sayang,"
paksa Niko langsung memesankan
soto untuknya. Niko tau kalo
wanitanya ini paling suka soto
ayam.
Tak berselang lama soto yang Niko
pesan pun datang. Seorang pelayan
menyajikannya dihadapan Lia.
UEKKKK...
"Lia kamu kenapa?"