Niko begitu cemas dengan kondisi
Lia langsung membawanya ke
IGD.
"Pak Niko, Anda putra Bu Rianti
kan? Bisa keruangan Bu Rianti,
kondisi pasien tidak stabil," ucap
seorang perawat mencari Niko
"ayah, jangan cemaskan Lia,
nanti Lia kabari!"
Lia meyakinkan kepada Niko klo
dirinya akan baik-baik saja. Dia
tentunya tidak ingin membuat Niko
mencemaskannya, apalagi
sekarang banyak sekali masalah
yang menimpa laki-laki itu
membuat Lia tidak tega. Dengan
berat hati Niko meninggalkan Lia
Seorang dokter wanita masuk
memeriksa Lia
"Selamat ya Nona anda sedang
mengandung," ucap salah satu
dokter memberikan selamat
kepada Lia.
Lia seketika meraba perutnya,
ada kehidupan di dalam perutnya
saat ini. Ada rasa sedih sekaligus
bahagia yang dia rasakan saat ini.
***
"Lia, pergi dari kota ini bawa anak
harammu itu. Aku tidak sudi
memiliki adik dari rahim p**acur
kayak kamu," ujar Nayra tiba-tiba
menyadarkan Lia. Nayra sudah
berdiri disampingnya dengan Zara.
Mereka sedari tadi sudah
membuntuti mereka.
Lia begitu terkejut melihat Nayra
dan Zara.
"Nayra, aku minta maaf. Tapi anak
yang ada dalam perutku adalah
adikmu. ayahmu harus tau kalo
aku lagi mengandung," Lia
berkata dengan nada memohon.
"Kalo ingin hidup kamu dan
adikmu tenang pergi menjauh dari
kota ini dan kehidupan Niko, Klo
tidak aku tidak segan melenyapkan
Adikmu dan kamu juga. Apalagi
teman kencan ibumu adalah salah
satu temanku," ancam Zara. Dia
teringat perkataan Bram siapa itu
Zara.
Lia begitu ketakutan. Nayra
merebut ponsel Lia, tentu saja
Lia kalah dari mereka berdua.
lia menjadi ingat dengan.
Adiknya.
"Mau kemana kamu?" Zara
menarik tangan Lia yang hendak
beranjak dari brankar.
"Adikmu sudah di mobil bersama
anak buahku," seru Zara.
"Tolong jangan sakiti adikku,"
mohon Lia mencakup kan kedua
tangannya di d**a.
"Kalo begitu kamu pergi
keparkiran, anak buahku sudah
menunggumu disana," perintah
Zara sambil tersenyum penuh
kemenangan begitu juga dengan
Nayra.
Lia mengikuti perintah mereka,
dengan cepat Lia menuju parkir
tanpa peduli dokter
memanggilnya. Keselamatan
adiknya lebih penting.
Seseorang sudah menunggunya,
Deon ada di mobil begitu
ketakutan. Melihat kakaknya dia
langsung memeluk sang kakak.
"Kakak bersama kamu, jangan
takut," Lia memeluk adiknya,
Deon menganggukan kepalanya.
Seorang laki-laki memberikan
amplop kepada Lia, ternyata
amplop itu berasal dari Nayra.
Didalam Amplop itu ada uang dan
beberapa perhiasan. Lia
membuka kertas yang berisikan
sepucuk surat dan ada identitas
baru.
~Lia pergilah sejauh mungkin,
lupakan ayah. Karena ayahku
hanya milikku dan Mommyku.
Pakai uang sama perhiasan itu
untuk hidup barumu, jangan
pernah kembali lagi~
Lia menitihkan air matanya,
begitu sulit meninggalkan laki-laki
yang dia cintai. Laki-laki pertama
dalam hidupnya apalagi ada buah
cinta mereka didalam rahimnya.
Namun jika kebersamaan mereka
ditentang. Lia memilih untuk
pergi bersama kenangan mereka.
"niko, selamat tinggal. Lia pergi
bukan karena Lia tidak mencintai
kamu justru karena Lia sangat
mencintai kamu.. Lia tidak ingin
kamu semakin di benci oleh
Nayra," Lirih Lia.
Lia meminta sopir itu
meninggalkan rumah sakit. Tanpa
membawa apapun Lia dan Deon
pergi meninggalkan tempat ini, dia
tidak tau harus kemana.
Cittt....
Tiba-tiba mobil itu mengerem
hampir menabrak seorang wanita
paruh baya. Sopir dan Lia turun.
"Nenek tidak apa-apa?" tanya Lia
sembari membantu nenek itu dan
mengambil tasnya dan membawa
masuk kedalam mobil biar tidak
terjadi kemacetan.
"Nek hati-hati dong nyeberang,"
ucap sopir itu dengan
marah-marah.
"Nenek mau kebandara biar tidak
ketinggalan pesawat," sahut nenek
itu dengan wajah sedihnya
ditangkap oleh Lia
"Memang nenek mau kemana?"
tanya Lia
"Bali," sahut sang nenek.
Seketika Lia memikirkan sesuatu,
mungkin dia ikut saja ke Bali, di
sana dia bisa memulai kehidupan
yang baru tanpa ada orang yang
mengenalnya. Rumah sakit di Bali
juga lengkap jadi dia bisa
melanjutkan terapi adiknya.
Apalagi Lia sudah diberikan
identitas baru jadi dia bisa
memakai itu.
"Pak bawa aku ke bandara," pinta
Lia.
Sopir itu langsung mengambil arah
bandara dan tak lama mereka
sampai di bandara. Mereka turun
dari mobil, Lia mendorong kursi
roda adiknya.
"Kamu kok gak bawa barang?"
tanya Nenek itu.
"Kami tidak memiliki apapun nek,"
sahut Lia dengan raut wajah
sedihnya.
"Keluarga kalian mana?" tanya
Nenek itu.
"Ceritanya panjang Nek," sahut
Lia.
"Oya nek perkenalkan aku Lia, ini
adikku Deon," ucap Lia.
"Sekarang kalian mau kemana?"
tanya nenek itu lagi
"Kami mau kebali aja Nek. Mau
mulai kehilangan yang baru,"
sahut Lia.
"Nak kamu terlihat sangat sedih.
Sepertinya kamu sangat berat
meninggalkan tempat kota ini,"
ucap Nenek itu.
"Iya nek tapi saya harus pergi.
Karena kepergian saya bisa
menyelamatkan sebuah
hubungan," sahut Lia dengan
senyuman kecut di wajahnya.
Nenek itu seakan mengerti, bahkan
dia membeli tiket pesawat lagi agar
mereka bisa bersama.
*
Niko sedang menunggui ibunya.
Dia sedikit tenang karena
mendapatkan pesan dari Lia yang
mengatakan jika dirinya baik-baik
saja karena kelelahan dan dia juga
mengatakan jika dia dan Deon
pulang dengan menggunakan taxi
online.
Nayra dan Zara selalu berada dekat
Niko menunggui Mommy Rianti
yang masih tertidur. Dokter
menyarankan agar tidak membuat
pasien tertekan
Waktu menunjukan pukul sepuluh
malam. Bram juga masih berada di
kantor lembur, banyak sekali
pekerjaan yang harus dia
selesaikan. Jadi Bram belum
sempat pulang sedari pagi.
Entah kenapa Niko terus
memikirkan Lia. Dia
menghubungi nomor Lia akan
tetapi nomer itu sudah tidak aktif. Nayra
memperhatikan sang ayah, jujur
dia begitu ketakutan namun dalam
permainan ini ada campur tangan
sang nenek. Nayra menjadi sedikit
lebih tenang.
"ayah mau kemana?" tanya
Nayra melihat ayahnya sibuk
dengan ponselnya.
Niko tidak menjawab putrinya dia
merasa ada sesuatu yang janggal.
"Bram, Lia di mana?" tanya Niko
lewat benda pipihnya.
"Bukankah tadi tuan bilang yang
akan menjaga Lia dan Deon,"
jawab Bram.
"Jadi kamu gak bersama Lia?
Kamu dimana sekarang?" tanya
Niko dengan nada paniknya.
"Saya masih di kantor tuan."
"Saya telpon kerumah dulu tuan,
pastikan Nona dan Deon ada di
rumah."
Tanpa menutup telponnya, Bram
menghubungi ibunya
menggunakan pesawat telpon yang
lain. Betapa terkejutnya Bram jika
Lia dan Deon tidak ada
dirumahnya
Niko bisa mendengar percakapan
Bram dengan ibunya karena Bram
loud speaker pembicaraan mereka.
Niko mengusap kasar wajahnya.
Dia minta Bram langsung datang
kerumah sakit
"Sayang, kamu dimana?" Niko
mencengkram benda pipihnya. Dia
mulai bisa menebak-nebak apa
yang terjadi.
"Nayra, jika ini perbuatan kamu,
kali ini ayah pastikan kamu juga
akan ayah hukum," geram Niko
Tak menunggu lama Bram datang
kerumah sakit. Hal pertama yang
Bram lakukan meminta penjelasan
dari ruangan IGD tempat terakhir
Lia ditinggalkan oleh majikannya.
Sampai menunggu dokter yang
mengecek Lia. Bram meminta
pihak rumah sakit siapa yang
terakhir bertemu dengan Lia.
Terlihat Zara dan Nayra di ruangan
itu.
Niko mengepalkan tangannya
menahan emosinya melihat
putrinya sendiri yang meminta
LIA meninggalkannya. Jika itu
Zara saja dia pasti sudah membuat
perhitungan tapi ini putri
kesayangannya yang melakukan
ini.
"Bram kamu cek kondisi ibuku
yang sebenarnya, kirimkan rekam
medisnya kepada Leon. Aku ingin
tau apa yang terjadi sebenarnya.
Apa mereka bertiga sudah
merencanakan ini semua untuk
memisahkan aku dengan Lia,"
titah Niko berusaha meredam
amarahnya yang sudah di
ubun-ubun.
***
Seorang dokter wanita yang
memeriksa keadaan Lia datang
keruangan IGD dia belum
mengetahui apa yang terjadi
sebenarnya.
"Pak, kenapa anda biarkan Nona
tadi meninggalkan rumah sakit
sendirian, dia masih lemah dengan
kondisinya yang sedang hamil
muda," omel dokter itu langsung,
karena dokter itu sempat melihat
Niko menemani Lia ke IGD.
"Apa dokter Hamil? Maksud
dokter Lia hamil," Niko begitu
terkejut.
"Iya Pak, wanita muda tadi hamil."