Sebuah Keputusan

1181 Kata
Niko begitu cemas dengan kondisi Lia langsung membawanya ke IGD. "Pak Niko, Anda putra Bu Rianti kan? Bisa keruangan Bu Rianti, kondisi pasien tidak stabil," ucap seorang perawat mencari Niko "ayah, jangan cemaskan Lia, nanti Lia kabari!" Lia meyakinkan kepada Niko klo dirinya akan baik-baik saja. Dia tentunya tidak ingin membuat Niko mencemaskannya, apalagi sekarang banyak sekali masalah yang menimpa laki-laki itu membuat Lia tidak tega. Dengan berat hati Niko meninggalkan Lia Seorang dokter wanita masuk memeriksa Lia "Selamat ya Nona anda sedang mengandung," ucap salah satu dokter memberikan selamat kepada Lia. Lia seketika meraba perutnya, ada kehidupan di dalam perutnya saat ini. Ada rasa sedih sekaligus bahagia yang dia rasakan saat ini. *** "Lia, pergi dari kota ini bawa anak harammu itu. Aku tidak sudi memiliki adik dari rahim p**acur kayak kamu," ujar Nayra tiba-tiba menyadarkan Lia. Nayra sudah berdiri disampingnya dengan Zara. Mereka sedari tadi sudah membuntuti mereka. Lia begitu terkejut melihat Nayra dan Zara. "Nayra, aku minta maaf. Tapi anak yang ada dalam perutku adalah adikmu. ayahmu harus tau kalo aku lagi mengandung," Lia berkata dengan nada memohon. "Kalo ingin hidup kamu dan adikmu tenang pergi menjauh dari kota ini dan kehidupan Niko, Klo tidak aku tidak segan melenyapkan Adikmu dan kamu juga. Apalagi teman kencan ibumu adalah salah satu temanku," ancam Zara. Dia teringat perkataan Bram siapa itu Zara. Lia begitu ketakutan. Nayra merebut ponsel Lia, tentu saja Lia kalah dari mereka berdua. lia menjadi ingat dengan. Adiknya. "Mau kemana kamu?" Zara menarik tangan Lia yang hendak beranjak dari brankar. "Adikmu sudah di mobil bersama anak buahku," seru Zara. "Tolong jangan sakiti adikku," mohon Lia mencakup kan kedua tangannya di d**a. "Kalo begitu kamu pergi keparkiran, anak buahku sudah menunggumu disana," perintah Zara sambil tersenyum penuh kemenangan begitu juga dengan Nayra. Lia mengikuti perintah mereka, dengan cepat Lia menuju parkir tanpa peduli dokter memanggilnya. Keselamatan adiknya lebih penting. Seseorang sudah menunggunya, Deon ada di mobil begitu ketakutan. Melihat kakaknya dia langsung memeluk sang kakak. "Kakak bersama kamu, jangan takut," Lia memeluk adiknya, Deon menganggukan kepalanya. Seorang laki-laki memberikan amplop kepada Lia, ternyata amplop itu berasal dari Nayra. Didalam Amplop itu ada uang dan beberapa perhiasan. Lia membuka kertas yang berisikan sepucuk surat dan ada identitas baru. ~Lia pergilah sejauh mungkin, lupakan ayah. Karena ayahku hanya milikku dan Mommyku. Pakai uang sama perhiasan itu untuk hidup barumu, jangan pernah kembali lagi~ Lia menitihkan air matanya, begitu sulit meninggalkan laki-laki yang dia cintai. Laki-laki pertama dalam hidupnya apalagi ada buah cinta mereka didalam rahimnya. Namun jika kebersamaan mereka ditentang. Lia memilih untuk pergi bersama kenangan mereka. "niko, selamat tinggal. Lia pergi bukan karena Lia tidak mencintai kamu justru karena Lia sangat mencintai kamu.. Lia tidak ingin kamu semakin di benci oleh Nayra," Lirih Lia. Lia meminta sopir itu meninggalkan rumah sakit. Tanpa membawa apapun Lia dan Deon pergi meninggalkan tempat ini, dia tidak tau harus kemana. Cittt.... Tiba-tiba mobil itu mengerem hampir menabrak seorang wanita paruh baya. Sopir dan Lia turun. "Nenek tidak apa-apa?" tanya Lia sembari membantu nenek itu dan mengambil tasnya dan membawa masuk kedalam mobil biar tidak terjadi kemacetan. "Nek hati-hati dong nyeberang," ucap sopir itu dengan marah-marah. "Nenek mau kebandara biar tidak ketinggalan pesawat," sahut nenek itu dengan wajah sedihnya ditangkap oleh Lia "Memang nenek mau kemana?" tanya Lia "Bali," sahut sang nenek. Seketika Lia memikirkan sesuatu, mungkin dia ikut saja ke Bali, di sana dia bisa memulai kehidupan yang baru tanpa ada orang yang mengenalnya. Rumah sakit di Bali juga lengkap jadi dia bisa melanjutkan terapi adiknya. Apalagi Lia sudah diberikan identitas baru jadi dia bisa memakai itu. "Pak bawa aku ke bandara," pinta Lia. Sopir itu langsung mengambil arah bandara dan tak lama mereka sampai di bandara. Mereka turun dari mobil, Lia mendorong kursi roda adiknya. "Kamu kok gak bawa barang?" tanya Nenek itu. "Kami tidak memiliki apapun nek," sahut Lia dengan raut wajah sedihnya. "Keluarga kalian mana?" tanya Nenek itu. "Ceritanya panjang Nek," sahut Lia. "Oya nek perkenalkan aku Lia, ini adikku Deon," ucap Lia. "Sekarang kalian mau kemana?" tanya nenek itu lagi "Kami mau kebali aja Nek. Mau mulai kehilangan yang baru," sahut Lia. "Nak kamu terlihat sangat sedih. Sepertinya kamu sangat berat meninggalkan tempat kota ini," ucap Nenek itu. "Iya nek tapi saya harus pergi. Karena kepergian saya bisa menyelamatkan sebuah hubungan," sahut Lia dengan senyuman kecut di wajahnya. Nenek itu seakan mengerti, bahkan dia membeli tiket pesawat lagi agar mereka bisa bersama. * Niko sedang menunggui ibunya. Dia sedikit tenang karena mendapatkan pesan dari Lia yang mengatakan jika dirinya baik-baik saja karena kelelahan dan dia juga mengatakan jika dia dan Deon pulang dengan menggunakan taxi online. Nayra dan Zara selalu berada dekat Niko menunggui Mommy Rianti yang masih tertidur. Dokter menyarankan agar tidak membuat pasien tertekan Waktu menunjukan pukul sepuluh malam. Bram juga masih berada di kantor lembur, banyak sekali pekerjaan yang harus dia selesaikan. Jadi Bram belum sempat pulang sedari pagi. Entah kenapa Niko terus memikirkan Lia. Dia menghubungi nomor Lia akan tetapi nomer itu sudah tidak aktif. Nayra memperhatikan sang ayah, jujur dia begitu ketakutan namun dalam permainan ini ada campur tangan sang nenek. Nayra menjadi sedikit lebih tenang. "ayah mau kemana?" tanya Nayra melihat ayahnya sibuk dengan ponselnya. Niko tidak menjawab putrinya dia merasa ada sesuatu yang janggal. "Bram, Lia di mana?" tanya Niko lewat benda pipihnya. "Bukankah tadi tuan bilang yang akan menjaga Lia dan Deon," jawab Bram. "Jadi kamu gak bersama Lia? Kamu dimana sekarang?" tanya Niko dengan nada paniknya. "Saya masih di kantor tuan." "Saya telpon kerumah dulu tuan, pastikan Nona dan Deon ada di rumah." Tanpa menutup telponnya, Bram menghubungi ibunya menggunakan pesawat telpon yang lain. Betapa terkejutnya Bram jika Lia dan Deon tidak ada dirumahnya Niko bisa mendengar percakapan Bram dengan ibunya karena Bram loud speaker pembicaraan mereka. Niko mengusap kasar wajahnya. Dia minta Bram langsung datang kerumah sakit "Sayang, kamu dimana?" Niko mencengkram benda pipihnya. Dia mulai bisa menebak-nebak apa yang terjadi. "Nayra, jika ini perbuatan kamu, kali ini ayah pastikan kamu juga akan ayah hukum," geram Niko Tak menunggu lama Bram datang kerumah sakit. Hal pertama yang Bram lakukan meminta penjelasan dari ruangan IGD tempat terakhir Lia ditinggalkan oleh majikannya. Sampai menunggu dokter yang mengecek Lia. Bram meminta pihak rumah sakit siapa yang terakhir bertemu dengan Lia. Terlihat Zara dan Nayra di ruangan itu. Niko mengepalkan tangannya menahan emosinya melihat putrinya sendiri yang meminta LIA meninggalkannya. Jika itu Zara saja dia pasti sudah membuat perhitungan tapi ini putri kesayangannya yang melakukan ini. "Bram kamu cek kondisi ibuku yang sebenarnya, kirimkan rekam medisnya kepada Leon. Aku ingin tau apa yang terjadi sebenarnya. Apa mereka bertiga sudah merencanakan ini semua untuk memisahkan aku dengan Lia," titah Niko berusaha meredam amarahnya yang sudah di ubun-ubun. *** Seorang dokter wanita yang memeriksa keadaan Lia datang keruangan IGD dia belum mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. "Pak, kenapa anda biarkan Nona tadi meninggalkan rumah sakit sendirian, dia masih lemah dengan kondisinya yang sedang hamil muda," omel dokter itu langsung, karena dokter itu sempat melihat Niko menemani Lia ke IGD. "Apa dokter Hamil? Maksud dokter Lia hamil," Niko begitu terkejut. "Iya Pak, wanita muda tadi hamil."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN