kehidupan di bali

1338 Kata
Mereka bertiga sampai di Bali dengan selamat. Lia ikut pulang kerumah ke Nenek Yani yang bertempat tinggal di daerah Denpasar. Kebetulan Nenek Yani tinggal sendiri dia memiliki satu putri tapi putrinya sudah menikah dengan bule dan menetap di luar Negri. Nenek Yani menolak ikut dengan putrinya dia lebih suka tinggal dirumah peninggalan almarhum suaminya. Meskipun kecil tetapi terlihat begitu bersih dan nyaman. Lia sebenarnya sudah menolak, akan tetapi Nenek Yani memaksa. Dia begitu cocok dengan Lia dan Deon. Kedua anak baik dari kacamatanya "Terimakasih atas bantuan nenek yang besar ini," ucap Lia dengan mata berkaca-kaca begitu juga dengan Deon yang duduk di kursi roda. "Kalian ngomongin apa sih. Justru Nenek gak kesepian lagi," Nenek Yani memeluk Lia. "Kalian istirahat dulu. Nenek mau kewarung beli nasi bungkus pake makan malam," seru nenek Yani. "Nenek, Lia ikut sekarang Lia yang traktir nenek," ucap Lia. "Kapan-kapan saja kamu traktir nenek. Sekarang kalian tamu nenek biar nenek yang traktir kalian," tolak Nenek Yani. Sebelum pergi ke warung Nenek Yani, mengajak mereka berdua kekamar. "Kak Lia tidur sama aku ya," pinta Deon yang begitu merindukan kakaknya. "Iya, kakak akan menemani kamu," sahut Lia memeluk adiknya. Deon sudah menunjukkan beberapa perubahan, dia sudah bisa menggeser tubuhnya sendiri dari kursi roda ke tempat tidur. Dia punya semangat yang tinggi dan tidak ingin merepotkan kakaknya. "Deon kamu rebahan dulu ya. Kakak mau tanya dulu sama nenek dimana beli baju ganti," ucap Lia. Lia bersyukur Nayra menyuruhnya pergi tapi memberikan dia uang dan perhiasan untuk hidup mereka. Lia akan menggunakan itu untuk pengobatan Deon dan kebutuhan sehari-hari sebelum dirinya mendapat pekerjaan. Lia keluar dari kamar, Nenek Yuni sudah datang membawa nasi bungkus sama pakain ganti untuk Lia. "Lea, ini pakain ganti untuk kamu sama Deon. Besok kita beli dipasar lagi, didalam juga ada alat mandi sama handuk," Nenek Yuni menyerahkan kantong plastik kepada Lia. Lia kembali memeluk wanita tua itu namun masih segar bugar. Nenek Yuni menepuk bahu Lia seakan bisa merasakan kesedihan wanita muda itu Kamu bantu Deon dulu. Habis tu kalian makan dan tidur. Besok baru kamu ceritakan masalah kamu kalo kamu percaya sama nenek. Nenek hanya bisa mengatakan ini, hidup memang tidak mudah jadi kamu harus kuat dan iklas menjalani semuanya. Besok nenek punya majikan dokter siapa tau bisa bantu Deon. Dokter Leon sangat baik," ucap Nenek Yuni. Lia membersihkan tubuhnya di kamar mandi dan berganti pakaian, setelah itu dia membantu mengelap badan adiknya dan menyuapi Deon. Setelah itu Lia makan bersama Nenek Yuni meja makan kecil uang ada di sebelah dapur. Lia mencuci piring walaupun nenek Yuni melarangnya melakukan itu Setelah itu Lia merebahkan tubuhnya disamping adiknya yang sudah terlelap. Tanpa terasa air mata Lia mengalir keluar, tangannya mengelus perutnya yang dimana ada kehidupan di dalam sana. Lia teringat Niko laki-laki dewasa yang begitu baik dan dia juga mencintai laki-laki itu. Ayah dari anaknya. " niko Lia kangen," lirih Lia : Niko hanya ada dalam ingatannya tidak ada foto ataupun jejaknya kecuali kalung dan cincin yang dia kenakan saat ini. Hadiah pertama dari laki-laki yang dia cintai. "Niko, Lia janji akan bekerja keras untuk menafkahi anak kita," lirihnya lagi dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya. ** Sementara di Jakarta Niko duduk di sofa rumahnya dengan ekspresi wajahnya yang begitu susah dijelaskan. Niko sudah mendapatkan laporan semua tentang kesehatan ibunya bahkan dia sudah menanyakan kesehatan ibunya kepada sepupunya yang seorang dokter tamatan luar negeri. Kebetulan sepupunya sedang ada seminar beberapa hari di Jakarta. Sekarang ini diotaknya hanya ada Lia, dia begitu khawatir dengan kondisinya dan juga Deon, apalagi sekarang Lia sedang mengandung buah cinta mereka. Semua ini kesalahannya seandainya dia tidak meninggalkan Lia, sekarang dia pasti sedang bahagia kekasihnya sedang mengandung. Niko memijit keningnya. Kenapa putrinya berubah menyeramkan seperti itu. Niko melihat cara Nayra mengusir Lia dari rekaman CCTV di rumah sakit. Bram membawa Ibu Rianti, Nayra namun Zara bersikukuh untuk ikut, Nayra terus memegangi Zara seolah meminta perlindungan dari wanita itu. "Bram, apa kamu sudah bosan bekerja denganku? Apa kamu tidak denger tadi perintahku?" bentak Niko dengan tatapan tajamnya. "Tuan Nona Nayra bersikukuh," sahut Bram menundukkan kepalanya, kali ini dia sadar betul majikannya sedang marah besar. "Niko aku_" Satu tangan Niko naik berarti dia tidak mendengar apapun. "Zara, kamu mau keluar dari rumahku sendiri atau bodyguardku yang akan menarikmu keluar?" Suara Niko dingin. "Niko kamu jangan keterlaluan,"bentak ibunya. Niko menatap tajam ibunya. "Aku tidak minta pendapat Mommy," tegas Niko "Aku Mommymu Niko," teriak ibunya. "Itu dulu tapi sekarang Mommy musuhku!" suara Niko tegas. Mommy Rianti tentu saja tidak berani berkata -kata lagi, takut nanti Niko menghentikan keuangannya. Dia tentu saja semakin membenci Lia yang dianggap sebagai penyebab perubahan putranya. "Niko kamu tidak bisa melakukan ini sama aku," protes Zara. "Ini rumahku aku bebas melakukan apapun," tegasnya lagi tanpa mengalihkan tatapannya. Niko duduk di sofa sedangkan menurut bertiga duduk dihadapan Niko "Bram..." Baik tuan," Bram memanggil bodyguard untuk membawa Zara pergi. Bram tidak ingin mereka bertiga berkumpul. "ayah, aku tidak mau Tante Zara keluar dari rumah ini." Niko tidak peduli dengan putrinya, Bodyguard tetap membawa Zara keluar dan menahan Nayra. Zara dengan kesal meninggalkan mereka tepatnya di usir, namun dia juga tidak bisa menantang Niko terang-terangan ayah, kenapa kamu berubah sekarang? Ternyata Lia membawa pengaruh buruk untuk ayah. Berarti aku sudah benar mengusirnya," ujar Nayra dengan beraninya menantang ayahnya. "Nayra, ayah tidak tau dari mana asal sifat egois dan kejammu ini sedangkan Astrid Mommymu memiliki sifat yang lembut. Ternyata pengaruh Zara sangat kuat melekat pada dirimu," Niko menatap tajam putrinya, masih menahan emosinya. "Kamu memaksa ayah untuk menikahi wanita yang tidak ayah Cinta. Sekarang ayah juga akan melakukan hal yang sama untuk kamu ayah akan menikahi kamu dekang laki-laki pilihan ayah," tegas Niko masih menatap tajam putrinya. "Niko, apa kamu ingin menghancurkan hidup putrimu," protes ibunya. Tatapan Niko beralih kearah ibunya, "Mommy aku sedang mendidik putriku. Atau Mommy ingin aku mengatakan kalo Mommy dan Zara_" "Cukup Niko" potong ibunya dengan wajah yang terlihat kebingungan. "Nayra, kamu sangat tega dengan calon adikmu sendiri memisahkan mereka dari ayahnya. Apa kamu masih menganggap perbuatan kamu itu layak disebut perbuatan manusia," cerca Niko "Apa tindakan ayah juga bisa dibenarkan?" balas Nayra dengan begitu emosinya. "ayah dan Lia tidak melakukan kesalahan. ayah tidak terikat pernikahan dan Lia juga, jadi dimana letak kesalahan ayah," sahut Niko "Tapi Lia itu sahabat aku ayah. Itu penghianatan namanya," Nayra tetap saja tidak mau disalahkan. "ayah tidak pernah tau kalian sahabatan. Jikapun iya tidak ada salahnya juga kalo ayah jatuh cinta dengannya bahkan banyak pernikahan dengan beda usia yang sangat jauh," sahut Niko "Pokoknya aku mau ayah hanya menikah dengan Tante Zara," tegasnya Sekali lagi kamu paksa ayah saat itu juga kamu akan ayah nikahkan dengan laki-laki pilihan ayah," tegas Niko yang tentunya tidak mau diintimidasi Niko "Mulai sekarang, selain kegiatan sekolahmu kamu tidak boleh meninggalkan rumah," tegas ayah Dan Mommy juga, jangan berulah lagi. Jika tidak aku akan mengirim Mommy ke panti jompo di luar negri dan aku pastikan tidak akan ada yang pernah menjenguk Mommy kesana," tegas Niko tanpa mau di bantah lagi membuat kedua wanita beda generasi itu tidak berani angkat bicara lagi "Bram pastikan mereka jangan keluar rumah dan jangan biarkan Zara datang kerumah ini lagi," titah Niko lalu meninggalkan rumahnya diikuti oleh Bram. Bram meneruskan pesan majikannya kepada para bodyguard dibawah pimpinannya. Bram mengikuti majikannya meninggalkan rumah besar itu. Bram mengendarai mobil itu tanpa tujuan yang jelas "Bram, sudah ada kabar Tentang Lia?" "Blom tuan, para detektif yang kita sewa blom memberikan kabar. Yang jelas Nona Lia pasti menggunakan identitas orang lain. Sepertinya ini mang sudah direncanakan dengan matang," sahut Bram mengutarakan pendapatnya. "Terus lakukan pencarian. Aku tidak peduli Lia dan Deon harus ketemu. Tapi jangan bawa mereka kembali pastikan saja mereka baik-baik saja," titah Niko "Aku tidak peduli berapa uang yang harus aku habiskan untuk menemukan mereka. Jangan pernah berhenti sebelum menemukan mereka," imbuh Niko lagi Niko melihat kearah jendela. Dia begitu merindukan Lia dia ingin memeluk wanitanya. "Lia, kamu dimana? aku kangen banget sama kamu sayang. Tunggu aku akan menjemput kamu dan anak kita," lirih Niko dengan hati yang yang begitu merindukan sosok wanitanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN