Mereka bertiga sampai di Bali
dengan selamat. Lia ikut pulang
kerumah ke Nenek Yani yang
bertempat tinggal di daerah
Denpasar. Kebetulan Nenek Yani
tinggal sendiri dia memiliki satu
putri tapi putrinya sudah menikah
dengan bule dan menetap di luar
Negri. Nenek Yani menolak ikut
dengan putrinya dia lebih suka
tinggal dirumah peninggalan
almarhum suaminya. Meskipun
kecil tetapi terlihat begitu bersih
dan nyaman.
Lia sebenarnya sudah menolak,
akan tetapi Nenek Yani memaksa.
Dia begitu cocok dengan Lia dan
Deon. Kedua anak baik dari
kacamatanya
"Terimakasih atas bantuan nenek
yang besar ini," ucap Lia dengan
mata berkaca-kaca begitu juga
dengan Deon yang duduk di kursi
roda.
"Kalian ngomongin apa sih. Justru
Nenek gak kesepian lagi," Nenek
Yani memeluk Lia.
"Kalian istirahat dulu. Nenek mau
kewarung beli nasi bungkus pake
makan malam," seru nenek Yani.
"Nenek, Lia ikut sekarang Lia
yang traktir nenek," ucap Lia.
"Kapan-kapan saja kamu traktir
nenek. Sekarang kalian tamu
nenek biar nenek yang traktir
kalian," tolak Nenek Yani.
Sebelum pergi ke warung Nenek
Yani, mengajak mereka berdua
kekamar.
"Kak Lia tidur sama aku ya," pinta
Deon yang begitu merindukan
kakaknya.
"Iya, kakak akan menemani kamu,"
sahut Lia memeluk adiknya.
Deon sudah menunjukkan
beberapa perubahan, dia sudah
bisa menggeser tubuhnya sendiri
dari kursi roda ke tempat tidur.
Dia punya semangat yang tinggi
dan tidak ingin merepotkan
kakaknya.
"Deon kamu rebahan dulu ya.
Kakak mau tanya dulu sama nenek
dimana beli baju ganti," ucap Lia.
Lia bersyukur Nayra
menyuruhnya pergi tapi
memberikan dia uang dan perhiasan untuk hidup mereka. Lia akan
menggunakan itu untuk
pengobatan Deon dan kebutuhan
sehari-hari sebelum dirinya
mendapat pekerjaan.
Lia keluar dari kamar, Nenek
Yuni sudah datang membawa nasi
bungkus sama pakain ganti untuk
Lia.
"Lea, ini pakain ganti untuk kamu
sama Deon. Besok kita beli dipasar
lagi, didalam juga ada alat mandi
sama handuk," Nenek Yuni
menyerahkan kantong plastik
kepada Lia.
Lia kembali memeluk wanita tua
itu namun masih segar bugar.
Nenek Yuni menepuk bahu Lia
seakan bisa merasakan kesedihan
wanita muda itu
Kamu bantu Deon dulu. Habis tu
kalian makan dan tidur. Besok
baru kamu ceritakan masalah
kamu kalo kamu percaya sama
nenek. Nenek hanya bisa
mengatakan ini, hidup memang
tidak mudah jadi kamu harus kuat
dan iklas menjalani semuanya.
Besok nenek punya majikan dokter
siapa tau bisa bantu Deon. Dokter
Leon sangat baik," ucap Nenek
Yuni.
Lia membersihkan tubuhnya di
kamar mandi dan berganti pakaian,
setelah itu dia membantu
mengelap badan adiknya dan
menyuapi Deon. Setelah itu Lia
makan bersama Nenek Yuni meja
makan kecil uang ada di sebelah
dapur. Lia mencuci piring
walaupun nenek Yuni melarangnya
melakukan itu
Setelah itu Lia merebahkan
tubuhnya disamping adiknya
yang sudah terlelap. Tanpa terasa
air mata Lia mengalir keluar,
tangannya mengelus perutnya
yang dimana ada kehidupan di
dalam sana. Lia teringat
Niko laki-laki dewasa yang begitu
baik dan dia juga mencintai
laki-laki itu. Ayah dari anaknya.
" niko Lia kangen," lirih Lia
: Niko hanya ada dalam
ingatannya tidak ada foto ataupun
jejaknya kecuali kalung dan cincin
yang dia kenakan saat ini. Hadiah
pertama dari laki-laki yang dia
cintai.
"Niko, Lia janji akan bekerja
keras untuk menafkahi anak kita,"
lirihnya lagi dengan air mata yang
terus mengalir dari pelupuk
matanya.
**
Sementara di Jakarta Niko duduk
di sofa rumahnya dengan ekspresi
wajahnya yang begitu susah
dijelaskan. Niko sudah
mendapatkan laporan semua
tentang kesehatan ibunya bahkan
dia sudah menanyakan kesehatan
ibunya kepada sepupunya yang
seorang dokter tamatan luar
negeri. Kebetulan sepupunya
sedang ada seminar beberapa hari
di Jakarta.
Sekarang ini diotaknya hanya ada
Lia, dia begitu khawatir dengan
kondisinya dan juga Deon, apalagi
sekarang Lia sedang mengandung
buah cinta mereka. Semua ini
kesalahannya seandainya dia tidak
meninggalkan Lia, sekarang dia
pasti sedang bahagia kekasihnya
sedang mengandung.
Niko memijit keningnya. Kenapa
putrinya berubah menyeramkan
seperti itu. Niko melihat cara Nayra
mengusir Lia dari rekaman CCTV
di rumah sakit.
Bram membawa Ibu Rianti, Nayra
namun Zara bersikukuh untuk
ikut, Nayra terus memegangi Zara
seolah meminta perlindungan dari
wanita itu.
"Bram, apa kamu sudah bosan
bekerja denganku? Apa kamu tidak
denger tadi perintahku?" bentak
Niko dengan tatapan tajamnya.
"Tuan Nona Nayra bersikukuh,"
sahut Bram menundukkan
kepalanya, kali ini dia sadar betul
majikannya sedang marah besar.
"Niko aku_"
Satu tangan Niko naik berarti dia
tidak mendengar apapun.
"Zara, kamu mau keluar dari
rumahku sendiri atau
bodyguardku yang akan
menarikmu keluar?" Suara Niko
dingin.
"Niko kamu jangan keterlaluan,"bentak ibunya.
Niko menatap tajam ibunya. "Aku
tidak minta pendapat Mommy,"
tegas Niko
"Aku Mommymu Niko," teriak
ibunya.
"Itu dulu tapi sekarang Mommy
musuhku!" suara Niko tegas.
Mommy Rianti tentu saja tidak
berani berkata -kata lagi, takut
nanti Niko menghentikan
keuangannya. Dia tentu saja
semakin membenci Lia yang
dianggap sebagai penyebab
perubahan putranya.
"Niko kamu tidak bisa melakukan
ini sama aku," protes Zara.
"Ini rumahku aku bebas
melakukan apapun," tegasnya lagi
tanpa mengalihkan tatapannya.
Niko duduk di sofa sedangkan
menurut bertiga duduk dihadapan
Niko
"Bram..."
Baik tuan,"
Bram memanggil bodyguard untuk
membawa Zara pergi. Bram tidak
ingin mereka bertiga berkumpul.
"ayah, aku tidak mau Tante Zara
keluar dari rumah ini."
Niko tidak peduli dengan putrinya,
Bodyguard tetap membawa Zara
keluar dan menahan Nayra. Zara
dengan kesal meninggalkan
mereka tepatnya di usir, namun
dia juga tidak bisa menantang Niko
terang-terangan
ayah, kenapa kamu berubah
sekarang? Ternyata Lia membawa
pengaruh buruk untuk ayah.
Berarti aku sudah benar
mengusirnya," ujar Nayra dengan
beraninya menantang ayahnya.
"Nayra, ayah tidak tau dari mana
asal sifat egois dan kejammu ini
sedangkan Astrid Mommymu
memiliki sifat yang lembut.
Ternyata pengaruh Zara sangat
kuat melekat pada dirimu," Niko
menatap tajam putrinya, masih
menahan emosinya.
"Kamu memaksa ayah untuk
menikahi wanita yang tidak ayah
Cinta. Sekarang ayah juga akan
melakukan hal yang sama untuk
kamu ayah akan menikahi kamu
dekang laki-laki pilihan ayah,"
tegas Niko masih menatap tajam
putrinya.
"Niko, apa kamu ingin
menghancurkan hidup putrimu,"
protes ibunya.
Tatapan Niko beralih kearah
ibunya, "Mommy aku sedang
mendidik putriku. Atau Mommy
ingin aku mengatakan kalo
Mommy dan Zara_"
"Cukup Niko" potong ibunya
dengan wajah yang terlihat
kebingungan.
"Nayra, kamu sangat tega dengan
calon adikmu sendiri memisahkan
mereka dari ayahnya. Apa kamu
masih menganggap perbuatan
kamu itu layak disebut perbuatan
manusia," cerca Niko
"Apa tindakan ayah juga bisa
dibenarkan?" balas Nayra dengan
begitu emosinya.
"ayah dan Lia tidak melakukan
kesalahan. ayah tidak terikat
pernikahan dan Lia juga, jadi
dimana letak kesalahan ayah,"
sahut Niko
"Tapi Lia itu sahabat aku ayah.
Itu penghianatan namanya," Nayra
tetap saja tidak mau disalahkan.
"ayah tidak pernah tau kalian
sahabatan. Jikapun iya tidak ada
salahnya juga kalo ayah jatuh
cinta dengannya bahkan banyak
pernikahan dengan beda usia yang
sangat jauh," sahut Niko
"Pokoknya aku mau ayah hanya
menikah dengan Tante Zara,"
tegasnya
Sekali lagi kamu paksa ayah
saat itu juga kamu akan ayah
nikahkan dengan laki-laki pilihan
ayah," tegas Niko yang tentunya
tidak mau diintimidasi Niko
"Mulai sekarang, selain kegiatan
sekolahmu kamu tidak boleh
meninggalkan rumah," tegas ayah
Dan Mommy juga, jangan berulah
lagi. Jika tidak aku akan mengirim
Mommy ke panti jompo di luar
negri dan aku pastikan tidak akan
ada yang pernah menjenguk
Mommy kesana," tegas Niko tanpa
mau di bantah lagi membuat kedua
wanita beda generasi itu tidak
berani angkat bicara lagi
"Bram pastikan mereka jangan
keluar rumah dan jangan biarkan
Zara datang kerumah ini lagi,"
titah Niko lalu meninggalkan
rumahnya diikuti oleh Bram.
Bram meneruskan pesan
majikannya kepada para
bodyguard dibawah pimpinannya.
Bram mengikuti majikannya
meninggalkan rumah besar itu.
Bram mengendarai mobil itu tanpa
tujuan yang jelas "Bram, sudah ada kabar Tentang
Lia?"
"Blom tuan, para detektif yang kita
sewa blom memberikan kabar.
Yang jelas Nona Lia pasti
menggunakan identitas orang lain.
Sepertinya ini mang sudah
direncanakan dengan matang,"
sahut Bram mengutarakan
pendapatnya.
"Terus lakukan pencarian. Aku
tidak peduli Lia dan Deon harus
ketemu. Tapi jangan bawa mereka
kembali pastikan saja mereka
baik-baik saja," titah Niko
"Aku tidak peduli berapa uang
yang harus aku habiskan untuk
menemukan mereka. Jangan
pernah berhenti sebelum
menemukan mereka," imbuh Niko lagi
Niko melihat kearah jendela. Dia
begitu merindukan Lia dia ingin
memeluk wanitanya.
"Lia, kamu dimana? aku kangen
banget sama kamu sayang. Tunggu
aku akan menjemput kamu dan
anak kita," lirih Niko dengan hati
yang yang begitu merindukan
sosok wanitanya.