Liaa bangun di pagi hari perutnya
merasa tidak nyaman, Lia
langsung ketoilet.
UEKKKK
Nenek Yani yang melihat Lia
seperti itu langsung mengambil
minyak angin dan memijat
tengkuk Lia, sehingga Lia
merasa lebih baik.
Nenek Yani membuatkan teh
untuk Lia, Lia duduk di meja
makan sambil menghirup bau
minyak angin.
"Kamu hamil Lia?" tanya Nenek
Yani.
"I_iya Nek," Lia merasa tidak
enak.
Nenek Yani seakan bisa merasakan
apa yang Lia rasakan, Nenek Yani
menakupkan tangannya di atas
kedua tangan Lia yang berada di
atas meja.
"Cerita Nak, jangan simpan beban
kamu sendirian. Jadikan Nenek
sebagai tempat curhatmu," ucap
Nenek Yuni dengan lembut.
Lia mulai menitihkan air
matanya, Dia mulai menceritakan
semua apa yang terjadi dalam
hidupnya, mulai dari kecelakaan
Deon dan awal menjalin hubungan
dengan seorang laki-laki yang tak
lain adalah ayah sahabatnya
sampai sahabatnya kini membenci.
Nenek Yani menghapus air mata di
pipi Lia
" Nak, kamu jangan bersedih lagi.
Sekarang kamu punya Nenek yang
akan menjadi keluarga kamu.
Mulailah kehidupan baru kamu
disini. Nenek yakin jika kalian
berjodoh tuhan akan membukakan
jalan untuk kalian bersatu. Jika
kalian tidak berjodoh anggap itu
sebagai pelajaran hidup dan kamu
harus merawat anakmu dengan
baik."
Nenek Yani menasehati Lia
dengan lembut. Nenek Yani sendiri
begitu kasian, anak semuda ini
mendapatkan cobaan hidup yang
begitu besar.
"Jangan nangis lagi, mendingan
kita kewarung depan beli sayur
biar hari ini kita masak enak, biar
kamu cepet gendut," seru Nenek
Yani dengan kekehannya, dia tidak
ingin Lia terus memikirkan
masalahnya.
Nenek Yani dan Lia bersiap
kewarung depan membeli bahan
mumpung Deon masih tidur.
Kebetulan disebelah warung ada
toko yang menjual pakaian, Lia
membeli beberapa untuk dirinya
dan adiknya mengingat tidak ada
barang satupun yang dia bawa. Tak
lupa nenek Yani membelikan susu
hamil untuk Lia. Lia memeluk
Nenek Yani dia bersyukur bisa
bertemu seorang nenek yang baik
hati.
"Apa kemarin nenek mengunjungi
keluarga di Jakarta?" tanya Lia,
mereka berjalan menuju rumah.
"Dokter Leon tu yang ngajakin
Nenek. Katanya dia punya keluarga
sakit. Ehhh ternyata sakit
pura-pura," kata Nenek Yani sebel.
"Nenek dari dulu kerja di rumah
keluarga Dokter Leon, beliau
sangat baik dan suka membantu."
Mereka tiba di rumah, Deon sudah
bangun dan duduk di kursi
rodanya.
"Nenek, kak Lia ada yang bisa
Deon bantu," ucap Deon.
"Deon duduk didepan sambil
nonton bantu nenek kupas bawang
putih sambil Deon sarapan," sahut
Nenek Yani. Dia tidak ingin
membuat Deon merasa tidak
berguna. Deon melakukan
perintah dari Nenek Yani
sedangkan Lia menyiapkan
sarapan untuk untuk Deon.
Lia dan Nenek memasak
bersama, mereka terlihat sangat
kompak, Lia bisa sedikit
melupakan kesedihannya
walaupun didalam hatinya dia
begitu merindukan Niko
Tok Tok Tok
Suara pintu diketuk oleh seorang,
Nenek Yani sedang mengulek
sambel dan Lialah yang
membukakan pintu untuk tamu
yang datang.
CLEKKK
Sosok tinggi tampan, tersenyum
kepada Lia, begitu juga Lia
tersenyum ramah kepada laki-laki
itu.
"Ada mbok Yani?" tanya laki-laki
itu.
"Ada pak," sahut Lia
mempersilahkan laki-laki itu
masuk.
Laki-laki itu mengerutkan
keningnya melihat seorang anak
remaja duduk di kursi roda sambil
mengupas bawang putih. Anak
remaja itu tersenyum kepada
Laki-laki itu.
"Hai ganteng kenalin aku Leon.
Kamu siapa?" tanya laki-laki itu
menjulurkan tangannya.
"Maaf Om tangan Deon kotor,"
sahut Deon dengan senyuman di
wajahnya.
Tidak hanya Deon saja yang
menjadi pusat perhatian Leon.
Wanita muda yang berdiri di pintu
begitu menarik perhatiannya.
"Cantik," guman Leon dalam
hatinya.
"Dokter Leon, pagi-pagi sudah
kerumah mbok. Emang dokter gak
ada kerjaan lain apa pagi-pagi
sudah ngapelin mbok Yani," kekeh
mbok Yani yang memang suka
sekali bercanda dengan dokter
tampan itu. Dokter yang berkisar
33 tahun itu.
"Janda lebih menggoda Mbok,"
sahut dokter Leon asal, mereka
memang suka bercanda.
"Mbok bikinin kopi dulu. Dokter
duduk saja sama Leon," ujar Nenek
Yani. Lia mengikuti nenek Yani
masuk kedapur dan membantu
nenek Yani.
"Nenek biar Lia yang lanjutin
masaknya," Lia mengambil alih
menggoreng dan nenek Yani
menyiapkan kopi untuk dokter
Leon.
Nenek Yani membawakan
secangkir kopi untuk putra mantan
majikannya yang sedari kecil dia
urus. Secangkir kopi dan ditemani
jajan laklak dengan kelapa diisi
gula merah cair diatasnya, jajan
yang paling disukai dokter Leon.
Dokter Leon menyesap kopinya
dan menikmati sarapan paginya.
Dokter Leon sering mengunjungi
rumah Nenek Yani walau sekedar
ngopi saja.
"Mbok, ini Keluarga mbok?" tanya
dokter Leon.
"Dulu bukan tapi sekarang mereka
cucu Nenek," sahut mbok Yani
sambil tersenyum
Leon mengamati Deon dari atas
sampai bawah.
"Kenapa bisa di kursi roda?" tanya
Dokter Leon dengan ramah.
"Deon ditabrak mobil Om," sahut
Deon dengan senyuman
dibibirnya.
"Mumpung dokter ada disini,
mungkin dokter bisa bantu
kesembuhan Deon. Mungkin
dokter bisa bantu kami dengan
kartu miskin, biar nanti Mbok Yani
urus," ucap Mbok Yani penuh
harap.
"Mbok tau rumah sakit itu milik
keluarga saya jadi mbok jangan
khawatir, saya akan membantu
sebisa saya, Tapi sebelumnya saya
harus tau pengobatan apa saja
yang sudah dijalani oleh Deon."
Nenek Yani merasa dapat angin
segar dari dokter tampan itu, dia
langsung memanggil Lia yang
sedang berada di dapur.
"Lia, Lia," panggil Nenek Yani.
Lia mengelap tangannya terlebih
dahulu sebelum menemui mereka
di ruang tamu kecil milik Nenek
Yani.
"Duduk Lia," Nenek Yani menepuk
kursi disebelahnya. Lia duduk di
sana.
"Coba kamu jelasin sama pak
dokter pengobatan apa saja yang
sudah Deon dapatkan
sebelumnya," pinta Nenek Yani.
Lia menceritakan semuanya dan
juga menyebut nama rumah sakit
tempat Deon dirawat sebelumnya.Leon mengerikan keningnya.
Semua pengobatan yang
didapatkan oleh Deon itu
dilakukan oleh pasien VVIP.
Dokter Leon memperhatikan Lia,
dia tertuju pada kalung dan cincin
dan anting yang Lia pakai. Leon
tau harga periasan itu dan tidak
semua orang kaya bisa membeli
meriasan yang Lia pakai.
"Siapa wanita muda ini?" Leon
begitu penasaran. Apalagi melihat
wajah Lia yang pucat dan kotak
susu untuk ibu hamil di meja
makan yang tak jauh dari tempat
mereka duduk.
***
Sedangkan Niko sedang memeluk
baju Lia yang ada diapartemen
mereka. Niko tidak bisa tidur tanpa
memeluk bagian dari Lia. Bahkan
dia menyemprotkan parfum yang
Lia pakai di ranjangnya.
Sudah enam bulan Niko belum
mendapatkan kabar dari detektif
yang dia sewa. Perubahan sikap
Niko terlihat jelas sebulan ini.
Dingin itulah yang Niko
perlihatkan, hubungan dengan
Nayra juga tidak membaik. Niko
bahkan tidak pernah pulang
kerumahnya, dia lebih memilih
tinggal di apartemen.
Bram datang keapartemen
menemui Niko yang terlihat sedang
sibuk dengan ponselnya, laki-laki
dewasa itu sedang memperhatikan
foto wanita yang dia cintai.
"Ada kabar?" tanya Niko tanpa
basa-basi.
"Nyonya Astrid ada di Canada dan
Lia kemungkinan ada di Bali,"
jelas Bram.
"Temukan Lia secepatnya. Saya
tidak peduli caranya, meskipun
kamu harus mengobrak-abrik
Bali," tegas Niko
"Nona Astrid bagaimana, karena
kita tidak mudah membawanya
pergi. Ternyata selama ini Nona
Zara memiliki hubungan special
dengan para mafia."
"Urusan Zara menjadi urusanku.
Aku akan mengikuti
permainannya," tegas Niko dengan
tatapan tajam sambil meneguk
cairan kuning di tangannya.