Kehidupan Baru

1108 Kata
Liaa bangun di pagi hari perutnya merasa tidak nyaman, Lia langsung ketoilet. UEKKKK Nenek Yani yang melihat Lia seperti itu langsung mengambil minyak angin dan memijat tengkuk Lia, sehingga Lia merasa lebih baik. Nenek Yani membuatkan teh untuk Lia, Lia duduk di meja makan sambil menghirup bau minyak angin. "Kamu hamil Lia?" tanya Nenek Yani. "I_iya Nek," Lia merasa tidak enak. Nenek Yani seakan bisa merasakan apa yang Lia rasakan, Nenek Yani menakupkan tangannya di atas kedua tangan Lia yang berada di atas meja. "Cerita Nak, jangan simpan beban kamu sendirian. Jadikan Nenek sebagai tempat curhatmu," ucap Nenek Yuni dengan lembut. Lia mulai menitihkan air matanya, Dia mulai menceritakan semua apa yang terjadi dalam hidupnya, mulai dari kecelakaan Deon dan awal menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah ayah sahabatnya sampai sahabatnya kini membenci. Nenek Yani menghapus air mata di pipi Lia " Nak, kamu jangan bersedih lagi. Sekarang kamu punya Nenek yang akan menjadi keluarga kamu. Mulailah kehidupan baru kamu disini. Nenek yakin jika kalian berjodoh tuhan akan membukakan jalan untuk kalian bersatu. Jika kalian tidak berjodoh anggap itu sebagai pelajaran hidup dan kamu harus merawat anakmu dengan baik." Nenek Yani menasehati Lia dengan lembut. Nenek Yani sendiri begitu kasian, anak semuda ini mendapatkan cobaan hidup yang begitu besar. "Jangan nangis lagi, mendingan kita kewarung depan beli sayur biar hari ini kita masak enak, biar kamu cepet gendut," seru Nenek Yani dengan kekehannya, dia tidak ingin Lia terus memikirkan masalahnya. Nenek Yani dan Lia bersiap kewarung depan membeli bahan mumpung Deon masih tidur. Kebetulan disebelah warung ada toko yang menjual pakaian, Lia membeli beberapa untuk dirinya dan adiknya mengingat tidak ada barang satupun yang dia bawa. Tak lupa nenek Yani membelikan susu hamil untuk Lia. Lia memeluk Nenek Yani dia bersyukur bisa bertemu seorang nenek yang baik hati. "Apa kemarin nenek mengunjungi keluarga di Jakarta?" tanya Lia, mereka berjalan menuju rumah. "Dokter Leon tu yang ngajakin Nenek. Katanya dia punya keluarga sakit. Ehhh ternyata sakit pura-pura," kata Nenek Yani sebel. "Nenek dari dulu kerja di rumah keluarga Dokter Leon, beliau sangat baik dan suka membantu." Mereka tiba di rumah, Deon sudah bangun dan duduk di kursi rodanya. "Nenek, kak Lia ada yang bisa Deon bantu," ucap Deon. "Deon duduk didepan sambil nonton bantu nenek kupas bawang putih sambil Deon sarapan," sahut Nenek Yani. Dia tidak ingin membuat Deon merasa tidak berguna. Deon melakukan perintah dari Nenek Yani sedangkan Lia menyiapkan sarapan untuk untuk Deon. Lia dan Nenek memasak bersama, mereka terlihat sangat kompak, Lia bisa sedikit melupakan kesedihannya walaupun didalam hatinya dia begitu merindukan Niko Tok Tok Tok Suara pintu diketuk oleh seorang, Nenek Yani sedang mengulek sambel dan Lialah yang membukakan pintu untuk tamu yang datang. CLEKKK Sosok tinggi tampan, tersenyum kepada Lia, begitu juga Lia tersenyum ramah kepada laki-laki itu. "Ada mbok Yani?" tanya laki-laki itu. "Ada pak," sahut Lia mempersilahkan laki-laki itu masuk. Laki-laki itu mengerutkan keningnya melihat seorang anak remaja duduk di kursi roda sambil mengupas bawang putih. Anak remaja itu tersenyum kepada Laki-laki itu. "Hai ganteng kenalin aku Leon. Kamu siapa?" tanya laki-laki itu menjulurkan tangannya. "Maaf Om tangan Deon kotor," sahut Deon dengan senyuman di wajahnya. Tidak hanya Deon saja yang menjadi pusat perhatian Leon. Wanita muda yang berdiri di pintu begitu menarik perhatiannya. "Cantik," guman Leon dalam hatinya. "Dokter Leon, pagi-pagi sudah kerumah mbok. Emang dokter gak ada kerjaan lain apa pagi-pagi sudah ngapelin mbok Yani," kekeh mbok Yani yang memang suka sekali bercanda dengan dokter tampan itu. Dokter yang berkisar 33 tahun itu. "Janda lebih menggoda Mbok," sahut dokter Leon asal, mereka memang suka bercanda. "Mbok bikinin kopi dulu. Dokter duduk saja sama Leon," ujar Nenek Yani. Lia mengikuti nenek Yani masuk kedapur dan membantu nenek Yani. "Nenek biar Lia yang lanjutin masaknya," Lia mengambil alih menggoreng dan nenek Yani menyiapkan kopi untuk dokter Leon. Nenek Yani membawakan secangkir kopi untuk putra mantan majikannya yang sedari kecil dia urus. Secangkir kopi dan ditemani jajan laklak dengan kelapa diisi gula merah cair diatasnya, jajan yang paling disukai dokter Leon. Dokter Leon menyesap kopinya dan menikmati sarapan paginya. Dokter Leon sering mengunjungi rumah Nenek Yani walau sekedar ngopi saja. "Mbok, ini Keluarga mbok?" tanya dokter Leon. "Dulu bukan tapi sekarang mereka cucu Nenek," sahut mbok Yani sambil tersenyum Leon mengamati Deon dari atas sampai bawah. "Kenapa bisa di kursi roda?" tanya Dokter Leon dengan ramah. "Deon ditabrak mobil Om," sahut Deon dengan senyuman dibibirnya. "Mumpung dokter ada disini, mungkin dokter bisa bantu kesembuhan Deon. Mungkin dokter bisa bantu kami dengan kartu miskin, biar nanti Mbok Yani urus," ucap Mbok Yani penuh harap. "Mbok tau rumah sakit itu milik keluarga saya jadi mbok jangan khawatir, saya akan membantu sebisa saya, Tapi sebelumnya saya harus tau pengobatan apa saja yang sudah dijalani oleh Deon." Nenek Yani merasa dapat angin segar dari dokter tampan itu, dia langsung memanggil Lia yang sedang berada di dapur. "Lia, Lia," panggil Nenek Yani. Lia mengelap tangannya terlebih dahulu sebelum menemui mereka di ruang tamu kecil milik Nenek Yani. "Duduk Lia," Nenek Yani menepuk kursi disebelahnya. Lia duduk di sana. "Coba kamu jelasin sama pak dokter pengobatan apa saja yang sudah Deon dapatkan sebelumnya," pinta Nenek Yani. Lia menceritakan semuanya dan juga menyebut nama rumah sakit tempat Deon dirawat sebelumnya.Leon mengerikan keningnya. Semua pengobatan yang didapatkan oleh Deon itu dilakukan oleh pasien VVIP. Dokter Leon memperhatikan Lia, dia tertuju pada kalung dan cincin dan anting yang Lia pakai. Leon tau harga periasan itu dan tidak semua orang kaya bisa membeli meriasan yang Lia pakai. "Siapa wanita muda ini?" Leon begitu penasaran. Apalagi melihat wajah Lia yang pucat dan kotak susu untuk ibu hamil di meja makan yang tak jauh dari tempat mereka duduk. *** Sedangkan Niko sedang memeluk baju Lia yang ada diapartemen mereka. Niko tidak bisa tidur tanpa memeluk bagian dari Lia. Bahkan dia menyemprotkan parfum yang Lia pakai di ranjangnya. Sudah enam bulan Niko belum mendapatkan kabar dari detektif yang dia sewa. Perubahan sikap Niko terlihat jelas sebulan ini. Dingin itulah yang Niko perlihatkan, hubungan dengan Nayra juga tidak membaik. Niko bahkan tidak pernah pulang kerumahnya, dia lebih memilih tinggal di apartemen. Bram datang keapartemen menemui Niko yang terlihat sedang sibuk dengan ponselnya, laki-laki dewasa itu sedang memperhatikan foto wanita yang dia cintai. "Ada kabar?" tanya Niko tanpa basa-basi. "Nyonya Astrid ada di Canada dan Lia kemungkinan ada di Bali," jelas Bram. "Temukan Lia secepatnya. Saya tidak peduli caranya, meskipun kamu harus mengobrak-abrik Bali," tegas Niko "Nona Astrid bagaimana, karena kita tidak mudah membawanya pergi. Ternyata selama ini Nona Zara memiliki hubungan special dengan para mafia." "Urusan Zara menjadi urusanku. Aku akan mengikuti permainannya," tegas Niko dengan tatapan tajam sambil meneguk cairan kuning di tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN