Kondisi Deon sudah membaik dan
sudah bisa berjalan dengan
tongkat, semua berkat bantuan
dari dokter Leon dan Nenek Yani
yang selalu memberikan support
kepada Deon.
Sedangkan perut Lia sudah
membesar usia kehamilannya
hampir menginjak 7 bulan. lia
sekarang bekerja dengan dokter
Leon di tempat prakteknya,
sedangkan paginya dia membantu
nenek Yani membuat pesanan
jajan. Dokter Leon setiap praktek
akan menjemput Lia, dia tidak
tega membiarkan Lia naik motor
sendirian apalagi tempat praktek
dokter Leon cukup jauh dari
tempat Lia tinggal
Hari ini jadwal kontrol
kandunganmu," ucap Leon penuh
perhatian. Dia tidak pernah
bertanya siapa ayah dari bayi yang
Lia kandung takutnya Lia akan
bersedih lagi.
Hanya satu yang mengganggu
pikiran Leon. Bram, apa hubungan
Deon dan Lia dengan Bram
asisten kepercayaan kakak
sepupunya Niko Williem Gautama.
Leon mengetahui nama Bram
karena dia mengecek kerumah
sakit tempat Deon dirawat.
"Pak dokter, apa apa? Kenapa
liatin Lia kayak gitu. Emang ada
yang salah ya sama wajah Lia?"
Leon tergagap seperti seorang
maling yang keciduk. Leon
memang sering memperhatikan
Lia diam-diam. Apalagi disaat
Lia sedang bekerja.
"Kamu ada aja."
Leon mengendarai mobil
mewahnya menuju tempat praktek
pribadinya di kawasan Denpasar.
Deon adalah specialis jantung
tamatan luar negeri, pasiennya
sangat banyak.
Lia duduk di meja depan
mengatur nomor Antrean pasien.
Banyak yang dari mereka mengira
jika Lia istri dari dokter Leon
karena mereka sering berangkat
dan pulang bareng.
"Sudah berapa bulan mbak usia
kandungannya?" tanya salah satu
dari pasien dokter Leon yang
sedang mengantre kebetulan tidak
dapat tempat duduk jadi dia duduk
di depan meja Lia
"Sudah mau tujuh bulan Bu,"
sahut lia dengan ramahnya.
"Kalian ini memang pasangan
serasi ya. Dokter Leon ganteng
istrinya cantik, muda lagi," celetuk
pasien itu sembari tersenyum.
Lia agak kikuk tetapi dia memilih
untuk tersenyum.
Waktu sudah menunjukkan pukul
sebelas malam, tempat praktek
dokter Leon sudah seperti, disitu
tidak hanya dokter Leon saja yang
praktek, tapi ada dokter
kandungan, dokter anak dan
dokter special dalam juga.
"Lia, kita sudah di tunggu dokter
Santi," ujar Leon.
"Apa ini gak kemaleman pak
dokter," sahut Lia sambil
merapikan meja kerjanya.
"Gaklah, kita kan memang pasien
paling akhir," kekeh Leon.
Lia dan dokter Leon beriringan
menuju ruangan dokter Santi yang
tak lain adalah teman Leon. Semua
yang praktek ditempat ini adalah
teman-teman Leon karena Leon
pemilik bangunan ini. Leon
merupakan keluarga yang sangat
kaya, anak bungsu dari dua
bersaudara.
"Akhirnya kalian datang, baru aku
mau tinggal," canda dokter Santi.
"Berarti kamu tinggal tunggu aku
gusur," sahut Leon dengan
candaanya.
Dokter wanita cantik itu berdecih.
Temannya ini memang tidak bisa dikalahkan kalo sudah urusan
berdebat.
Lia berbaring di bankar, perutnya
diolesi gel. Dokter Santi duduk
didepan layar monitor, lalu
memainkan stik di perut besar
Lia.
"Selamat ya Lia Anak kamu
kembar, cewek cowok," seru dokter
Santi.
"Mereka tumbuh dengan sehat.
Ukurannya sesuai dengan usia
kandungan kamu," seru Dokter
Santi lagi.
Lia tidak bisa menahan tangisnya
mendengar penjelasan dokter, kalo
anak yang dia kandung sepasang
anak kembar. Lia mengingat ayah
dari anaknya. Kadang Lia berfikir
apa Niko sudah
melupakannya
dan hidup bahagia
dengan Nayra. Lia tidak pernah
mau mencari informasi tentang
masa lalunya.
Leon yang melihat Lia menangis
langsung menghampirinya
dan bawa wanita muda itu masuk
kedalam pelukannya.
"Lia, jangan nangis lagi ya. Ada
aku yang akan selalu jagain kamu
sama Deon," ucap dokter Leon
lembut.
Dokter Santi bisa merasakan jika
temanya itu menyukai Lia.
Selama ini Leon tidak pernah
terlihat sedekat ini dengan seorang
wanita, bahkan orang tuanya
sampai kebingungan putranya
yang tampan dan mapan ini terus
menolak dijodohkan, bahkan ada
ketakutan dalam diri orang tuanya
jika Leon pecinta sesama jenis.
Setelah mengambil obat di apotek,
Leon menuntun Lia dengan
hati-hati takut jika wanita muda
itu terluka.
Leon membantu Lia naik kedalam
mobil mewahnya. Seperti biasa
Leon akan mengajak Lia makan
malam sebelum mengantarkannya
ke rumah Mbok Yani.
"Lia kamu makan yang banyak,"
Leon lebih bersemangat dari Lia.
Lia terlihat murung dia
memikirkan Niko.
"Niko, apa tau kalo kita
akan memiliki anak," lirih Lia
dalam hatinya. Leon terus
memperhatikan Lia.
"Lia
apa kamu mau menikah sama
aku. Aku janji akan menerima
mereka seperti darah dagingku
sendiri."
Lia begitu terkejut mendengar
permintaan dokter Leon.
"Lia aku serius, aku sudah lama
sekali memendam perasaan ini.
Dari pertama aku melihatmu aku
sudah jatuh cinta sama kamu,"
Leon menggenggam kedua tangan
Lia yang berada di atas meja.
"Lia, lupakan laki-laki yang itu,
mulailah hidup barumu. Aku janji
akan menjadikan kamu ratuku dan
akan selalu menjadi pelindung
untuk kamu dan Deon dan juga
anak kita," Leon berusaha
meyakinkan Lia.
Lia masih kebingungan harus
menjawab apa? Ini terlalu
mendadak, apalagi dia belum bisa
melupakan Niko. Laki-laki
yang pertama baginya. Walaupun
hubungan mereka singkat namun
rasa cinta yang lia miliki begitu
besar terhadap pria yang
merupakan ayah dari anak yang
dia kandung.
Selama makan malam suasana
begitu canggung. Tapi Leon sudah
tidak bisa menahan dirinya untuk
mengungkapkan perasaannya
selama ini. Sudah enam bulan dia
memikirkan semuanya ini.
Suasana canggung tidak di tempat
makan saja, selama perjalanan
pulang suasana tidak kalah
canggungnya karena ungkapan
perasaan Leon yang tidak diduga
sama sekali olehnya.
"Lia, tolong kamu pikirkan lagi
"Aku serius," ucap Leon ketika Lia
hendak keluar dari mobil mewah
milik Leon.
"Beri Lia waktu dok. Lia
masih_"
"Lupakan dia. Belum tentu dia juga
mengingatmu."
Lia terdiam, apa yang Leon
katakan ada benarnya juga. Lia
pernah mendengar siapa sosok
Niko yang terkenal seorang
Womanizer. Apalagi hubungan
mereka dimulai dari sebuah
pertukaran.
"Sekarang masuk kerumah sudah
malam. Besok kita bicarakan lagi,"
ucap Leon sambil mengelus
rambut Lia.
Lia turun dari mobil langsung
masuk kerumah sederhana namun
nyaman itu. Leon baru
meninggalkan rumah itu setelah
Lia benar-benar masuk kedalam
kamar.
Leon melaju mobilnya menuju
kerumahnya dia begitu lelah,
selain praktek, Leon juga aktif
dibeberapa rumah sakit.
"Anak Mommy ini kusut bener.
Makanya nikah dong biar ada yang
urus," seru Mommynya yang
sedang menonton acara hiburan
dengan ayahnya.
"Iya, sudah umur segini bel nikah
juga, malu tau ayah terus
ditanyain sama temen-temen
ayah" cibir sang ayah.
"Dad, Mom, Leon mau menikahi
pegawai Leon di tempat praktek.
Leon jatuh cinta dari pertama kali
melihatnya."
Ayah dan ibunya saling
berpandangan dan
mengerjap-ngerjapkan mata
mereka lalu melihat kesekeliling
rumahnya.
"Suamiku, apa ada setan di rumah
kita?"
"Iya istriku, kayaknya putra kita
kesambet setan rumah ini," seru
sang ayah. Mereka Keluarga yang
santai dan begitu dekat dengan
anak-anaknya.
"Leon serius Mom, Dad. Leon gak
peduli dia sedang mengandung
benih orang lain. Leon sudah
mantap memilihnya menjadi
pendamping Leon," jelas Leon
kepada kedua orang tuanya.
Wanita paruh baya itu beranjak
dari tempat duduknya duduk
disamping anaknya.
"Leon, Mommy tidak akan
menghalangi keputusan kamu.
Kamu sudah dewasa. Tapi tolong
kamu pikirkan baik-baik
keputusan kamu. Mungkin
sekarang kamu bilang akan
menerima anak yang dikandung
itu seperti anakmu sendiri karena
kamu mencintai wanita itu.
Mommy tidak ingin kedepannya
anak itu menjadi masalah,
takutnya ketika kalian memiliki
anak sendiri kamu tidak lagi
mencintai anak bawaan istrimu
dan itu pasti akan menyakiti kalian
semua terutama istrimu. Seorang
wanita bisa berpisah dengan
suaminya tetapi tidak dengan
anaknya," nasehat ibunya dengan
lembut.
Keluarga mereka bukan seperti
keluarga kebanyakan yang akan
menentang pernikahan seperti ini,
apalagi ayah Leon bukan orang
Indonesia, diluar negri sudah
menjadi hal yang biasa.
"Leon dengirin kata Mommy
kamu. Jangan nanti kedepannya
kamu menyesal dan membuat
banyak hati yang terluka," ucap
ayahnya.