Menikahlah Denganku

1197 Kata
Kondisi Deon sudah membaik dan sudah bisa berjalan dengan tongkat, semua berkat bantuan dari dokter Leon dan Nenek Yani yang selalu memberikan support kepada Deon. Sedangkan perut Lia sudah membesar usia kehamilannya hampir menginjak 7 bulan. lia sekarang bekerja dengan dokter Leon di tempat prakteknya, sedangkan paginya dia membantu nenek Yani membuat pesanan jajan. Dokter Leon setiap praktek akan menjemput Lia, dia tidak tega membiarkan Lia naik motor sendirian apalagi tempat praktek dokter Leon cukup jauh dari tempat Lia tinggal Hari ini jadwal kontrol kandunganmu," ucap Leon penuh perhatian. Dia tidak pernah bertanya siapa ayah dari bayi yang Lia kandung takutnya Lia akan bersedih lagi. Hanya satu yang mengganggu pikiran Leon. Bram, apa hubungan Deon dan Lia dengan Bram asisten kepercayaan kakak sepupunya Niko Williem Gautama. Leon mengetahui nama Bram karena dia mengecek kerumah sakit tempat Deon dirawat. "Pak dokter, apa apa? Kenapa liatin Lia kayak gitu. Emang ada yang salah ya sama wajah Lia?" Leon tergagap seperti seorang maling yang keciduk. Leon memang sering memperhatikan Lia diam-diam. Apalagi disaat Lia sedang bekerja. "Kamu ada aja." Leon mengendarai mobil mewahnya menuju tempat praktek pribadinya di kawasan Denpasar. Deon adalah specialis jantung tamatan luar negeri, pasiennya sangat banyak. Lia duduk di meja depan mengatur nomor Antrean pasien. Banyak yang dari mereka mengira jika Lia istri dari dokter Leon karena mereka sering berangkat dan pulang bareng. "Sudah berapa bulan mbak usia kandungannya?" tanya salah satu dari pasien dokter Leon yang sedang mengantre kebetulan tidak dapat tempat duduk jadi dia duduk di depan meja Lia "Sudah mau tujuh bulan Bu," sahut lia dengan ramahnya. "Kalian ini memang pasangan serasi ya. Dokter Leon ganteng istrinya cantik, muda lagi," celetuk pasien itu sembari tersenyum. Lia agak kikuk tetapi dia memilih untuk tersenyum. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tempat praktek dokter Leon sudah seperti, disitu tidak hanya dokter Leon saja yang praktek, tapi ada dokter kandungan, dokter anak dan dokter special dalam juga. "Lia, kita sudah di tunggu dokter Santi," ujar Leon. "Apa ini gak kemaleman pak dokter," sahut Lia sambil merapikan meja kerjanya. "Gaklah, kita kan memang pasien paling akhir," kekeh Leon. Lia dan dokter Leon beriringan menuju ruangan dokter Santi yang tak lain adalah teman Leon. Semua yang praktek ditempat ini adalah teman-teman Leon karena Leon pemilik bangunan ini. Leon merupakan keluarga yang sangat kaya, anak bungsu dari dua bersaudara. "Akhirnya kalian datang, baru aku mau tinggal," canda dokter Santi. "Berarti kamu tinggal tunggu aku gusur," sahut Leon dengan candaanya. Dokter wanita cantik itu berdecih. Temannya ini memang tidak bisa dikalahkan kalo sudah urusan berdebat. Lia berbaring di bankar, perutnya diolesi gel. Dokter Santi duduk didepan layar monitor, lalu memainkan stik di perut besar Lia. "Selamat ya Lia Anak kamu kembar, cewek cowok," seru dokter Santi. "Mereka tumbuh dengan sehat. Ukurannya sesuai dengan usia kandungan kamu," seru Dokter Santi lagi. Lia tidak bisa menahan tangisnya mendengar penjelasan dokter, kalo anak yang dia kandung sepasang anak kembar. Lia mengingat ayah dari anaknya. Kadang Lia berfikir apa Niko sudah melupakannya dan hidup bahagia dengan Nayra. Lia tidak pernah mau mencari informasi tentang masa lalunya. Leon yang melihat Lia menangis langsung menghampirinya dan bawa wanita muda itu masuk kedalam pelukannya. "Lia, jangan nangis lagi ya. Ada aku yang akan selalu jagain kamu sama Deon," ucap dokter Leon lembut. Dokter Santi bisa merasakan jika temanya itu menyukai Lia. Selama ini Leon tidak pernah terlihat sedekat ini dengan seorang wanita, bahkan orang tuanya sampai kebingungan putranya yang tampan dan mapan ini terus menolak dijodohkan, bahkan ada ketakutan dalam diri orang tuanya jika Leon pecinta sesama jenis. Setelah mengambil obat di apotek, Leon menuntun Lia dengan hati-hati takut jika wanita muda itu terluka. Leon membantu Lia naik kedalam mobil mewahnya. Seperti biasa Leon akan mengajak Lia makan malam sebelum mengantarkannya ke rumah Mbok Yani. "Lia kamu makan yang banyak," Leon lebih bersemangat dari Lia. Lia terlihat murung dia memikirkan Niko. "Niko, apa tau kalo kita akan memiliki anak," lirih Lia dalam hatinya. Leon terus memperhatikan Lia. "Lia apa kamu mau menikah sama aku. Aku janji akan menerima mereka seperti darah dagingku sendiri." Lia begitu terkejut mendengar permintaan dokter Leon. "Lia aku serius, aku sudah lama sekali memendam perasaan ini. Dari pertama aku melihatmu aku sudah jatuh cinta sama kamu," Leon menggenggam kedua tangan Lia yang berada di atas meja. "Lia, lupakan laki-laki yang itu, mulailah hidup barumu. Aku janji akan menjadikan kamu ratuku dan akan selalu menjadi pelindung untuk kamu dan Deon dan juga anak kita," Leon berusaha meyakinkan Lia. Lia masih kebingungan harus menjawab apa? Ini terlalu mendadak, apalagi dia belum bisa melupakan Niko. Laki-laki yang pertama baginya. Walaupun hubungan mereka singkat namun rasa cinta yang lia miliki begitu besar terhadap pria yang merupakan ayah dari anak yang dia kandung. Selama makan malam suasana begitu canggung. Tapi Leon sudah tidak bisa menahan dirinya untuk mengungkapkan perasaannya selama ini. Sudah enam bulan dia memikirkan semuanya ini. Suasana canggung tidak di tempat makan saja, selama perjalanan pulang suasana tidak kalah canggungnya karena ungkapan perasaan Leon yang tidak diduga sama sekali olehnya. "Lia, tolong kamu pikirkan lagi "Aku serius," ucap Leon ketika Lia hendak keluar dari mobil mewah milik Leon. "Beri Lia waktu dok. Lia masih_" "Lupakan dia. Belum tentu dia juga mengingatmu." Lia terdiam, apa yang Leon katakan ada benarnya juga. Lia pernah mendengar siapa sosok Niko yang terkenal seorang Womanizer. Apalagi hubungan mereka dimulai dari sebuah pertukaran. "Sekarang masuk kerumah sudah malam. Besok kita bicarakan lagi," ucap Leon sambil mengelus rambut Lia. Lia turun dari mobil langsung masuk kerumah sederhana namun nyaman itu. Leon baru meninggalkan rumah itu setelah Lia benar-benar masuk kedalam kamar. Leon melaju mobilnya menuju kerumahnya dia begitu lelah, selain praktek, Leon juga aktif dibeberapa rumah sakit. "Anak Mommy ini kusut bener. Makanya nikah dong biar ada yang urus," seru Mommynya yang sedang menonton acara hiburan dengan ayahnya. "Iya, sudah umur segini bel nikah juga, malu tau ayah terus ditanyain sama temen-temen ayah" cibir sang ayah. "Dad, Mom, Leon mau menikahi pegawai Leon di tempat praktek. Leon jatuh cinta dari pertama kali melihatnya." Ayah dan ibunya saling berpandangan dan mengerjap-ngerjapkan mata mereka lalu melihat kesekeliling rumahnya. "Suamiku, apa ada setan di rumah kita?" "Iya istriku, kayaknya putra kita kesambet setan rumah ini," seru sang ayah. Mereka Keluarga yang santai dan begitu dekat dengan anak-anaknya. "Leon serius Mom, Dad. Leon gak peduli dia sedang mengandung benih orang lain. Leon sudah mantap memilihnya menjadi pendamping Leon," jelas Leon kepada kedua orang tuanya. Wanita paruh baya itu beranjak dari tempat duduknya duduk disamping anaknya. "Leon, Mommy tidak akan menghalangi keputusan kamu. Kamu sudah dewasa. Tapi tolong kamu pikirkan baik-baik keputusan kamu. Mungkin sekarang kamu bilang akan menerima anak yang dikandung itu seperti anakmu sendiri karena kamu mencintai wanita itu. Mommy tidak ingin kedepannya anak itu menjadi masalah, takutnya ketika kalian memiliki anak sendiri kamu tidak lagi mencintai anak bawaan istrimu dan itu pasti akan menyakiti kalian semua terutama istrimu. Seorang wanita bisa berpisah dengan suaminya tetapi tidak dengan anaknya," nasehat ibunya dengan lembut. Keluarga mereka bukan seperti keluarga kebanyakan yang akan menentang pernikahan seperti ini, apalagi ayah Leon bukan orang Indonesia, diluar negri sudah menjadi hal yang biasa. "Leon dengirin kata Mommy kamu. Jangan nanti kedepannya kamu menyesal dan membuat banyak hati yang terluka," ucap ayahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN