Tidak Berjodoh

1183 Kata
Niko tidak peduli dimana dia berada saat ini. Dia terus menciumi Lia. Rasa rindunya kepada wanitanya begitu dalam sampai dia tidak bisa tidur dengan nyenyak beberapa bulan ini. Apalagi melihat perut Lia yang sudah membesar. "Maafin ayah sudah membuat hidup kamu menderita," ucap Niko penuh rasa bersalah. Leon begitu terkejut, jadi Lia sedang mengandung anak dari kakak sepupunya dan Lia sahabat dari Nayra keponakannya. Lia tak kuasa menahan air matanya, air matanya terus mengalir membasahi d**a bidang laki-laki yang begitu dia rindukan. Leon dan orang tuanya bisa merasakan betapa kedua insan itu saling mencintai. Remon mengajak Leon dan istrinya meninggalkan ruangan itu. Bram juga mengikuti mereka tidak ingin mengganggu majikannya. "Leon, kamu putra ayah. Kamu harus bisa mengiklaskan mereka, apalagi anak dalam kandungan Lia anaknya Niko" ucap Remon masih tetap berfikir bijaksana. Nila mendekati putranya meletakkan tangannya di pundak putranya. "Mommy tau hatimu pasti sekarang sangat hancur mengetahui fakta ini. Tapi Leon kamu harus bisa terima ini, kalian tidak berjodoh. Mommy yakin akan ada seseorang yang akan ditakdirkan untuk kamu," nasehat ibunya menyemangati putranya. "Tuan, maaf saya menyela, Tuan Niko sangat mencintai Nona Lia, selama beberapa bulan ini hidup Tuan Niko begitu hancur bahkan beliau banyak menyewa detektif untuk mencari keberadaan Nona Lia apalagi Tuan mendapat kabar dari dokter kalo Nona Lia sedang hamil buah cinta mereka." Bram sengaja mengatakan itu agar mereka tidak mengira majikannya laki-laki yang b***t. "Bram, aku sempat mengira Lia hamil anak kamu, karena kamu yang membayar biaya rumah sakit untuk Deon," ucap Leon berusaha tertawa menahan rasa sakit dalam hatinya. Uhuuukkkk Uhuuukkkk Bram langsung batuk mendengar perkataan dokter Leon. Bisa-bisa kalo bosnya dengar dia bisa dikibiri sama si bos. "Pak dokter, bercandanya jangan kelewatan, bisa-bisa milik saya langsung dipotong sama si bos," ujar Bram membuat suasana yang tadinya sedikit tegang menjadi berubah. Sementara di ruang tamu terlihat Niko sedang mengecup perut Lia "Sayang maafin ayah ya. ayah lambat banget sampai membuat kalian menderita," ucap Niko di perut Lia seolah meminta maaf kepada anaknya. Niko kembali memeluk Lia lagi. " malu jangan seperti ini," pinta Lia. Niko mengerti dan melepaskan Lia, dia mengajak Lia bertemu dengan pemilik rumah. Niko menggandeng tangan Lia. "Maaf atas kejadian ini. Leon Mas harap kamu bisa memahami situasi ini. Jangan salahkan Lia dalam hal ini dia tidak bersalah. Justru dia adalah korban," ucap Niko. Leon hanya menganggukkan kepalanya sedangkan Lia menundukkan kepalanya dia begitu malu kepada Leon dan keluarganya. Ibu Leon menghampiri Lia, "Lia kamu gak usah merasa gak enak seperti itu apalagi kamu juga belum menerima lamaran dari Leon," ucap Ibunya Leon dengan lembut. "Aunty gak seperti Mommy. Walaupun mereka saudara kandung tapi sifat mereka sangat berbeda," bisik Niko di telinga Lia. Lia bisa merasakan perbedaan mereka. Remon bisa melihat betapa Niko begitu mencintai Lia dari cara Niko memperlakukan Lia. Mereka tetap melanjutkan makan malam bersama. Leon dari tempat duduknya memperhatikan Lia dan sepupunya. Terlihat jelas Niko begitu perhatian dengan Lia dan sepengetahuan Leon, kakak sepupunya tidak pernah bersikap seperti itu dengan wanita-wanitanya yang lain. " selamat ya. Aunty denger dari Leon janin yang Lia kandung kembar," celetuk Ibunya Leon mencairkan suasana. Niko tentu saja langsung bahagia mendengarkannya, bahkan dia begitu mengharapkan anak kembar dari dulu. "Lia sayang, beneran apa yang aku denger ini?" tanya Niko dengan lembut kepada Lia. Lia hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang dikatakan oleh ibunya Leon. Niko kembali memeluk Lia kemudian berjongkok mencium perut Lia lagi tanpa mempedulikan dia berada dimana. Yang ada dia begitu bahagia saat ini. Remon dan Nila hanya bisa mengelengkan kepalanya melihat kelakuan Niko. Dulu waktu Astrid mengandung bahkan Niko terlihat biasa saja. Akhirnya makan malam selesai Niko mendekati Leon yang sedari tadi terlihat murung. Kedua laki-laki tampan dan terpaut 10 tahun itu terlihat berbicara serius tak jauh dari tempat mereka duduk. "Kamu gak perlu khawatir dengan mereka Lia. Mereka sudah dewasa dan Mommy yakin Leon dan Niko bisa mengatasi masalah ini," ucap Ibunya Leon sembari menenangkan Lia. "Lia, pintu rumah ini selalu terbuka untuk kamu dan adikmu. Main-main ya Mommy kesepian banget dirumah gak ada yang nemeni," lanjut Ibu Leon, walaupun kecewa wanita ini tidak jadi menikah dengan leon karena dia sudah merasa cocok dengan Lia sejak pertama kali wanita itu datang kerumahnya. Nila berfikir apa yang membuat kakak tertuanya bisa tidak menyukai Lia dan begitu menentang hubungan mereka. Nila penasaran tapi dia tidak mau membahas masalah itu. Dia akan cari tau semuanya nanti. Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, Niko berpamitan dengan Leon dan orang tuanya. Begitu pula dengan Lia. "Pak dokter maaf," ucap Lia ketika akan berpamitan dengan Leon. Leon hanya menyunggikan senyuman. Niko menarik Lia sedikit menjauh dari Leon. Bagaimanapun Niko laki-laki normal yang tidak suka wanitanya begitu dekat dengan laki-laki lain. Apalagi jelas-jelas Niko tau adik sepupunya jatuh cinta dengan Lia meski Lia sedang hamil adik sepupunya siap menikahinya. Lia masuk kedalam mobil dibantu oleh Niko sedangkan Bram duduk di kursi sebelah sopir. "Tuan, apa kita langsung balik ke hotel?" tanya Bram. "ko, kita kerumah Nenek Yani ya.Lia gak mau nenek yang cemas Lia gak pulang," pinta Lia. Niko tersenyum lembut kembali mengecup kening Lia. Tentu saja dia menuruti semua permintaan wanita yang begitu dia cintai. "Emang tau dimana rumah nenek Yani?" Lia begitu kebingungan padahal dia belum menyebutkan alamatnya. "Lia sayang, tujuan aku kebali ingin menjemput kamu dan Deon. Orang suruhan aku sudah tau dimana alamatnya, padahal aku berniat besok pagi menjemput kamu dengan Leon," jelas Niko. Wajah Lia terlihat sedih. Dia sudah betah tinggal di Bali jauh dari keributan yang membuatnya tidak nyaman. "Kalo kamu gak mau balik ke Jakarta aku gak akan paksa kamu," Niko kembali memeluk Lia. Setelah dua puluh menit berkendara mereka sampai di rumah sederhana yang Lia tempati selama ini. Bersyukur mobil bisa masuk tapi tentunya tidak bisa parkir terlalu lama disana karena bisa mengganggu pengendara lain. "Lia, kok malem banget pulangnya," ujar Nenek Yani yang sudah menunggu Lia. Nenek memang seperti itu tidak akan bisa tidur kalo Lia belum pulang kerumah. Nenek Yani begitu terkejut melihat sosok yang sedang merangkul pinggang Lia. Sosok yang tidak asing baginya. "Tuan Niko," seru Nenek Yani. "Nenek kenal sama niko" tanya Lia. "Tuan silahkan masuk, maaf rumah mbok kotor banget." Nenek Yani tidak menjawab Lia dia justru mempersilahkan mereka masuk terlebih dahulu. Deon yang juga belum tidur keluar dari kamarnya dengan bantuan tongkat. "Kak Bram..." seru Deon begitu bahagian. Bram begitu kangen dengan Deon yang sudah dia anggap seperti adiknya bahkan ibunya Bram hampir tiap hari menangis dan terus menanyakan kabar Deon. Mereka berpelukan. Bahkan Nenek Yani menitihkan air matanya melihat pertemuan yang begitu mengharukan. Apalagi melihat Lia dia yakin dua orang yang duduk di kursinya memiliki hubungan spesial. Nenek Yani sudah mengira-ngira jika Niko adalah ayah dari janin yang dikandung oleh Lia. "Mbok Yani. Saya ingin menikahi Lia secepatnya tolong bantu Bram mengurus acara ini." ucap Niko yang begitu mengejutkan Lia. "bagaimana dengan Nayra?" "Urusan Nayra sama Mommy nanti aku urus belakang, sekarang yang terpenting anak dalam kandungan mendapatkan haknya sebagai anak Niko," tegas Niko "Yang penting kami sah dulu. Besok Lia sudah harus menikah dengan saya," tegas Niko lagi. Lia sendiri juga terkejut "Besok Tuan" tanya Nenek Yani begitu terkejut. "Iya besok
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN