Niko tidak peduli dimana dia
berada saat ini. Dia terus
menciumi Lia. Rasa rindunya
kepada wanitanya begitu dalam
sampai dia tidak bisa tidur dengan
nyenyak beberapa bulan ini.
Apalagi melihat perut Lia yang
sudah membesar.
"Maafin ayah sudah membuat
hidup kamu menderita," ucap Niko
penuh rasa bersalah.
Leon begitu terkejut, jadi Lia
sedang mengandung anak dari
kakak sepupunya dan Lia sahabat
dari Nayra keponakannya.
Lia tak kuasa menahan air
matanya, air matanya terus
mengalir membasahi d**a bidang
laki-laki yang begitu dia rindukan.
Leon dan orang tuanya bisa
merasakan betapa kedua insan itu
saling mencintai.
Remon mengajak Leon dan
istrinya meninggalkan ruangan
itu. Bram juga mengikuti mereka
tidak ingin mengganggu
majikannya.
"Leon, kamu putra ayah. Kamu
harus bisa mengiklaskan mereka,
apalagi anak dalam kandungan
Lia anaknya Niko" ucap Remon
masih tetap berfikir bijaksana.
Nila mendekati putranya
meletakkan tangannya di pundak
putranya.
"Mommy tau hatimu pasti
sekarang sangat hancur
mengetahui
fakta ini. Tapi Leon
kamu harus bisa terima ini, kalian
tidak berjodoh. Mommy yakin
akan ada seseorang yang akan
ditakdirkan untuk kamu," nasehat
ibunya menyemangati putranya.
"Tuan, maaf saya menyela, Tuan
Niko sangat mencintai Nona Lia,
selama beberapa bulan ini hidup
Tuan Niko begitu hancur bahkan
beliau banyak menyewa detektif
untuk mencari keberadaan Nona
Lia apalagi Tuan mendapat kabar
dari dokter kalo Nona Lia sedang
hamil buah cinta mereka." Bram
sengaja mengatakan itu agar
mereka tidak mengira majikannya
laki-laki yang b***t.
"Bram, aku sempat mengira Lia
hamil anak kamu, karena kamu
yang membayar biaya rumah sakit
untuk Deon," ucap Leon
berusaha tertawa menahan rasa
sakit dalam hatinya.
Uhuuukkkk Uhuuukkkk
Bram langsung batuk mendengar
perkataan dokter Leon. Bisa-bisa
kalo bosnya dengar dia bisa
dikibiri sama si bos.
"Pak dokter, bercandanya jangan
kelewatan, bisa-bisa milik saya
langsung dipotong sama si bos,"
ujar Bram membuat suasana yang
tadinya sedikit tegang menjadi
berubah.
Sementara di ruang tamu terlihat
Niko sedang mengecup perut Lia
"Sayang maafin ayah ya. ayah
lambat banget sampai membuat
kalian menderita," ucap Niko di
perut Lia seolah meminta maaf
kepada anaknya.
Niko kembali memeluk Lia lagi.
" malu jangan seperti ini,"
pinta Lia.
Niko mengerti dan melepaskan
Lia, dia mengajak Lia bertemu
dengan pemilik rumah. Niko
menggandeng tangan Lia.
"Maaf atas kejadian ini. Leon Mas
harap kamu bisa memahami
situasi ini. Jangan salahkan Lia
dalam hal ini dia tidak bersalah.
Justru dia adalah korban," ucap
Niko.
Leon hanya menganggukkan
kepalanya sedangkan Lia
menundukkan kepalanya dia
begitu malu kepada Leon dan
keluarganya.
Ibu Leon menghampiri Lia, "Lia
kamu gak usah merasa gak enak
seperti itu apalagi kamu juga
belum menerima lamaran dari
Leon," ucap Ibunya Leon dengan
lembut.
"Aunty gak seperti Mommy.
Walaupun mereka saudara
kandung tapi sifat mereka sangat
berbeda," bisik Niko di telinga Lia.
Lia bisa merasakan perbedaan
mereka.
Remon bisa melihat betapa Niko
begitu mencintai Lia dari cara
Niko memperlakukan Lia.
Mereka tetap melanjutkan makan
malam bersama. Leon dari tempat
duduknya memperhatikan Lia
dan sepupunya. Terlihat jelas Niko
begitu perhatian dengan Lia dan
sepengetahuan Leon, kakak
sepupunya tidak pernah bersikap
seperti itu dengan
wanita-wanitanya yang lain.
" selamat ya. Aunty denger
dari Leon janin yang Lia kandung
kembar," celetuk Ibunya Leon
mencairkan suasana.
Niko tentu saja langsung bahagia
mendengarkannya, bahkan dia
begitu mengharapkan anak
kembar dari dulu.
"Lia sayang, beneran apa yang
aku denger ini?" tanya Niko
dengan lembut kepada Lia. Lia
hanya menjawab dengan
menganggukkan kepalanya
membenarkan apa yang dikatakan
oleh ibunya Leon.
Niko kembali memeluk Lia
kemudian berjongkok mencium
perut Lia lagi tanpa
mempedulikan dia berada dimana.
Yang ada dia begitu bahagia saat
ini. Remon dan Nila hanya bisa
mengelengkan kepalanya melihat
kelakuan Niko. Dulu waktu Astrid
mengandung bahkan Niko terlihat
biasa saja.
Akhirnya makan malam selesai
Niko mendekati Leon yang sedari
tadi terlihat murung. Kedua
laki-laki tampan dan terpaut 10
tahun itu terlihat berbicara serius
tak jauh dari tempat mereka
duduk.
"Kamu gak perlu khawatir dengan
mereka Lia. Mereka sudah
dewasa dan Mommy yakin Leon
dan Niko bisa mengatasi masalah
ini," ucap Ibunya Leon sembari
menenangkan Lia.
"Lia, pintu rumah ini selalu
terbuka untuk kamu dan adikmu.
Main-main ya Mommy kesepian
banget dirumah gak ada yang
nemeni," lanjut Ibu Leon,
walaupun kecewa wanita ini tidak
jadi menikah dengan leon karena
dia sudah merasa cocok dengan
Lia sejak pertama kali wanita itu
datang kerumahnya.
Nila berfikir apa yang membuat
kakak tertuanya bisa tidak
menyukai Lia dan begitu
menentang hubungan mereka. Nila
penasaran tapi dia tidak mau
membahas masalah itu. Dia akan
cari tau semuanya nanti.
Waktu sudah menunjukan pukul
sebelas malam, Niko berpamitan
dengan Leon dan orang tuanya.
Begitu pula dengan Lia.
"Pak dokter maaf," ucap Lia
ketika akan berpamitan dengan
Leon.
Leon hanya menyunggikan
senyuman. Niko menarik Lia
sedikit menjauh dari Leon.
Bagaimanapun Niko laki-laki
normal yang tidak suka wanitanya
begitu dekat dengan laki-laki lain.
Apalagi jelas-jelas Niko tau adik
sepupunya jatuh cinta dengan Lia
meski Lia sedang hamil adik
sepupunya siap menikahinya.
Lia masuk kedalam mobil dibantu
oleh Niko sedangkan Bram duduk
di kursi sebelah sopir.
"Tuan, apa kita langsung balik ke
hotel?" tanya Bram.
"ko, kita kerumah Nenek Yani
ya.Lia gak mau nenek yang cemas
Lia gak pulang," pinta Lia.
Niko tersenyum lembut kembali
mengecup kening Lia. Tentu saja
dia menuruti semua permintaan
wanita yang begitu dia cintai.
"Emang tau dimana rumah
nenek Yani?" Lia begitu
kebingungan padahal dia belum
menyebutkan alamatnya.
"Lia sayang, tujuan aku kebali
ingin menjemput kamu dan Deon.
Orang suruhan aku sudah tau
dimana alamatnya, padahal aku
berniat besok pagi menjemput
kamu dengan Leon," jelas
Niko.
Wajah Lia terlihat sedih. Dia
sudah betah tinggal di Bali jauh
dari keributan yang membuatnya
tidak nyaman.
"Kalo kamu gak mau balik ke
Jakarta aku gak akan paksa
kamu," Niko kembali memeluk
Lia.
Setelah dua puluh menit
berkendara mereka sampai di
rumah sederhana yang Lia
tempati selama ini. Bersyukur
mobil bisa masuk tapi tentunya
tidak bisa parkir terlalu lama
disana karena bisa mengganggu
pengendara lain.
"Lia, kok malem banget
pulangnya," ujar Nenek Yani yang
sudah menunggu Lia. Nenek
memang seperti itu tidak akan bisa
tidur kalo Lia belum pulang
kerumah.
Nenek Yani begitu terkejut melihat
sosok yang sedang merangkul
pinggang Lia. Sosok yang tidak
asing baginya.
"Tuan Niko," seru Nenek Yani.
"Nenek kenal sama niko" tanya
Lia.
"Tuan silahkan masuk, maaf
rumah mbok kotor banget."
Nenek Yani tidak menjawab Lia
dia justru mempersilahkan mereka
masuk terlebih dahulu. Deon yang
juga belum tidur keluar dari
kamarnya dengan bantuan
tongkat.
"Kak Bram..." seru Deon begitu
bahagian. Bram begitu kangen
dengan Deon yang sudah dia
anggap seperti adiknya bahkan
ibunya Bram hampir tiap hari
menangis dan terus menanyakan
kabar Deon.
Mereka berpelukan. Bahkan Nenek
Yani menitihkan air matanya
melihat pertemuan yang begitu
mengharukan. Apalagi melihat
Lia dia yakin dua orang yang
duduk di kursinya memiliki
hubungan spesial. Nenek Yani
sudah mengira-ngira jika Niko
adalah ayah dari janin yang
dikandung oleh Lia.
"Mbok Yani. Saya ingin menikahi
Lia secepatnya tolong bantu Bram
mengurus acara ini." ucap Niko
yang begitu mengejutkan Lia.
"bagaimana dengan
Nayra?"
"Urusan Nayra sama Mommy
nanti aku urus belakang,
sekarang yang terpenting anak
dalam kandungan mendapatkan
haknya sebagai anak Niko," tegas
Niko
"Yang penting kami sah dulu.
Besok Lia sudah harus menikah
dengan saya," tegas Niko lagi. Lia
sendiri juga terkejut
"Besok Tuan" tanya Nenek Yani
begitu terkejut.
"Iya besok