Lia meninggalkan Niko dengan
nenek Yani di kamar tamu. Ada
pembicaraan serius mereka
lakukan dimana Nenek Yani sudah
mengganggap Lia seperti cucunya
sendiri.
"Tuan, saya pernah mendengar
kisah kalian hanya saja mbok tidak
tau wanita dalam kisah itu Lia.
Mbo begitu menyanyangi mereka
seperti cucu mbok sendiri. Mbok
hanya takut Lia terluka jika
kembali ke Jakarta," ucap Si mbok
begitu sedih.
Niko bisa merasakan cinta tulus
wanita tua ini untuk Lia dan Deon
tentu saja Niko sangat
berterimakasih.
Mbok, saya tidak akan membawa
Lia ke Jakarta untuk sementara
waktu, sampai masalah saya
dengan keluarga saya selesai.
Untuk sementara saya ingin
pernikahan ini dirahasiakan dulu
untuk menjaga mereka
keselamatan mereka. Saya akan
mencarikan rumah untuk Lia dan
saya harap mbok mau ikut biar
bisa menjaga mereka berdua,
apalagi Lia sudah dekat mau
lahiran." ucap Niko. Terlihat
kesungguhan Dimata laki-laki
dewasa itu.
"Jika tuan serius mbok pasti akan
menjaga Lia untuk tuan. Mbok
juga akan ikut dimana Lia akan
tinggal," sahut mbok Yani.
Niko menjadi lebih tenang, karena
ada yang mengurus Lia. Bram
juga tidak kalah bahagianya karena
Deon juga ada yang mengurus.
Malam ini Niko menginap dirumah
mbok Yani. Kebetulan ada tiga
kamar dirumah itu dan mbok Yani
tidak keberatan sama sekali.
Niko memindahkan tubuh Lia
kamar yang lain. Sedangkan Bram
tidur dengan Deon.
Niko berbaring disamping Lia. Ini
pertama kalinya Niko tidur di
ranjang yang keras munurutnya,
namun demi Lia dia tidak peduli
yang penting bisa memeluk
wanitanya.
Lia yang sudah terlelap tidak
menyadari ada gerakan tangan
yang begitu nakal membelai
perutnya. Bahkan perutnya terus
mendapatkan kecupan dari bibir
yang dipenuhi jambang dan kumis
itu.
"Baby, Mommy kalian lagi capek
jadi ayah gak bisa jenguk kalian,
sabar ya besok ayah pasti jenguk
kalian sampai pagi," ucapnya
sembari terus berbicara diatas
perut Lia dan terus
mengecupinya.
Niko menelan salivanya
melihat paha mulus Lia disaat
daster yang Lia pakai tersingkap
karena pergerakan kaki Lia.
"Sial...." maki Niko ketika si piton
mulai bereaksi di bawah sana.
Wajar Niko sudah puasa hampir
tujuh bulan.
"Sabar, tunggu besok biar halal,"
gerutu Niko sembari mengelus si
piton untuk menenangkannya. Dia
tidak bisa bermain solo karena
kamar mandi letaknya di luar
kamar.
"niko...." Lia membuka
matanya karena terganggu dengan
desahan Niko.
Lia duduk ditempat tidur,
wajahnya memerah melihat Niko
sibuk dengan miliknya yang
terlihat sedang berontak minta
dimanja.
"Dia gak mau tenang dari tadi."
"Kok bisa ? Emang selama ini
klo gak mau tenang di cariin
penenang ya?" tanya Lia polos
namun terlihat kecewa.
Niko menarik tengkuk Lia lalu
melumat bibirnya meski tidak
lama.
Penenangnya hanya kamu sayang
tidak ada yang lain. Pading
bermain solo dikamar mandi,"
tegasnya.
"Kenapa masih tidak percaya?"
tanya Niko melihat mimik
wajah Lia yang tetap tidak
berubah.
"Lia percaya," jawab Lia.
Niko memandangi wajah cantik
wanita yang akan sah menjadi
istrinya esok hari. Untuk sesaat
kedua netra mereka bertemu
saling mengunci. Tatapan penuh
kerinduan dari dua insan yang
saling mencintai walaupun jarak
umur mereka sangat jauh 23 tahun
tepatnya.
"Apa boleh menuntaskan
malam ini," pinta Niko yang sudah
tidak tahan menunggu hari esok.
"Gak enak , nanti didengar
sama Nenek."
"Ya jangan terlalu keras
mendesahnya." Tangan Niko sudah
mulai menari-nari.
"Aughhhhhh ..!!"
Lia sudah mulai meloloskan
desahannya disaat tangan Niko
mulai membelai gundukan
kembarnya.
"ko... " Pekik Lia lagi ketika
bayi besar itu sudah mulai
memainkan lidahnya pada salah
satu gundukan kembar itu.
Lia tidak memakai Bra dalam
dasternya karena selama
menginjak usia kehamilannya
semakin tua Lia begitu susah
bernafas. Tangan Lia meremas
rambut gondrong Niko. Apa yang
Niko lakukan ditubuhnya begitu
membuat Lia tergoda antara geli
dengan bulu-bulu disekitar bibir
Niko sekaligus nikmat.
Tiba-tiba Lia merasa ada
pergerakan pada perutnya dan
memegangi perutnya. Niko
menjadi panik.
"Kita kerumah sakit."
"Tidak usah , ini sudah biasa.
Udah gak sakit, mungkin Lia
kebanyakan berdiri."
"gak peduli yang penting
sekarang kita kerumah sakit."
Niko mengenakan kembali
pakaiannya, dia begitu panik.
"ko denger Lia dulu. Yang tadi
itu mereka nendang perut Lia.
Kayaknya mereka lagi sapa ayahnya,"
ucap Lia lagi.
Niko duduk disamping istrinya lagi
tangan dia letakkan di perut
istrinya. Niko merasa ada
pergerakan di perut Lia.
"Mereka terus nyapa ayahnya."
"Sayang mereka udah gak sabar
pingin dijenguk," seru Niko
langsung menciumi perut Lia.
Pergerakan di perut Lia semakin
intens mungkin ada ikatan batin
karena ini pertama kalinya
ditemani oleh ayah mereka.
"Lia, bentar aja gak lama kok
hanya ingin menyapa
mereka."
Lia tidak tega melihat wajah Niko
yang begitu memohon apalagi dia
juga merindukan sentuhan pria
dewasa itu.
Mungkin saat ini Lia egois, itu
hanya demi anaknya agar tidak di
cap anak haram dalam hatinya dia
terus minta maaf kepada
sahabatnya
Niko sudah menelanjangi tubuh
Lia. Bahkan tubuh Lia begitu
seksi dimatanya dimana perutnya
terlebih begitu besar. Ada
keturunannya langsung di perut
wanita muda itu.
Sesuai janjinya Niko hanya
berkenalan saja dengan si kembar.
Keadaan ranjang yang terus
berbunyi membuat Lia tidak
nyaman. Niko yang mengerti
langsung menyelesaikan
permainannya dengan singkat.
"kamu cuci dulu," pinta Lia.
"Besok saja."
"Jorok ah"
"Mana ada jorok yang ada enak,"
kekeh Niko yang begitu malas
keluar mencuci si piton.
Niko langsung memeluk tubuh Lia
dan menarik selimutnya
menyelimuti tubuh mereka berdua
yang masih dipenuhi oleh butiran
keringat kami tidak ada AC hanya
ada kipas angin saja.
*
Keesokan harinya Lia bangun
terlebih dahulu dari Niko. Ternyata
dia sudah tidak melihat Bram. Lia
melihat nenek yang sedang
menyiapkan sarapan di dapur.
"Tuan Niko masih tidur?" tanya
Nenek Yani dengan senyuman di
wajahnya seakan tau apa yang
terjadi tadi malam dikamar itu.
"Sana kamu mandi sama keramas
dulu biar seger. Hari ini hari
pernikahan kalian. Kita sudah
janjian sama penghulu setelah
makan siang," ucap sang nenek.
Lia terdiam masih ragu dengan
keputusan, kata egois memang
begitu susah di kamusnya.
Nenek Yani menakupkan
tangannya yang sudah keriput di
wajah Lia.
"Lia, untuk hari ini jadilah wanita
egois demi mereka yang ada
diperut kamu. Nenek yakin suatu
hari nanti Nayra bisa menerima
kamu dan adik-adiknya."
Lia langsung masuk kedalam
pelukan wanita tua itu. Wanita
yang tidak ada hubungan darah
dengan tapi begitu menyayangi
dirinya.
"Nenek sudah janji sama tuan Niko
akan ikut bersama kamu
dimanapun kamu akan tinggal.
Nenek akan menjaga kalian," ucap
nenek Yani lagi.
Lia begitu terharu
mendengarnya. Nenek Yani
mengusap air mata di wajah Lia.
"Hari ini kamu akan menjadi
Nyonya Niko, kamu harus terlihat
cantik. Nenek juga hari ini pingin
terlihat cantik, nenek mau fotoan
sama mantan Hot Duda keren yang
menjadi idola kaum Hawa, biar
temen arisan nenek pada ngiri liat
nenek punya cucu menantu
tampan gak ketulungan," ucap
Nenek Yuni sambil terkekeh.
"Ihhh, nenek genit," canda Lia.
Mereka berdua tertawa terkekeh,
Niko mengambil mereka dari pintu,
betapa senangnya dia melihat Lia
tertawa lepas seperti itu.
Lia mungkin kedepannya
kehidupan kita akan banyak
masalah tapi aku janji akan
melindungi kamu. aku akan
berusaha sekuat tenaga agar tawa
dan senyuman itu selalu terbit
diwajahmu