Sapaan Debay

1127 Kata
Lia meninggalkan Niko dengan nenek Yani di kamar tamu. Ada pembicaraan serius mereka lakukan dimana Nenek Yani sudah mengganggap Lia seperti cucunya sendiri. "Tuan, saya pernah mendengar kisah kalian hanya saja mbok tidak tau wanita dalam kisah itu Lia. Mbo begitu menyanyangi mereka seperti cucu mbok sendiri. Mbok hanya takut Lia terluka jika kembali ke Jakarta," ucap Si mbok begitu sedih. Niko bisa merasakan cinta tulus wanita tua ini untuk Lia dan Deon tentu saja Niko sangat berterimakasih. Mbok, saya tidak akan membawa Lia ke Jakarta untuk sementara waktu, sampai masalah saya dengan keluarga saya selesai. Untuk sementara saya ingin pernikahan ini dirahasiakan dulu untuk menjaga mereka keselamatan mereka. Saya akan mencarikan rumah untuk Lia dan saya harap mbok mau ikut biar bisa menjaga mereka berdua, apalagi Lia sudah dekat mau lahiran." ucap Niko. Terlihat kesungguhan Dimata laki-laki dewasa itu. "Jika tuan serius mbok pasti akan menjaga Lia untuk tuan. Mbok juga akan ikut dimana Lia akan tinggal," sahut mbok Yani. Niko menjadi lebih tenang, karena ada yang mengurus Lia. Bram juga tidak kalah bahagianya karena Deon juga ada yang mengurus. Malam ini Niko menginap dirumah mbok Yani. Kebetulan ada tiga kamar dirumah itu dan mbok Yani tidak keberatan sama sekali. Niko memindahkan tubuh Lia kamar yang lain. Sedangkan Bram tidur dengan Deon. Niko berbaring disamping Lia. Ini pertama kalinya Niko tidur di ranjang yang keras munurutnya, namun demi Lia dia tidak peduli yang penting bisa memeluk wanitanya. Lia yang sudah terlelap tidak menyadari ada gerakan tangan yang begitu nakal membelai perutnya. Bahkan perutnya terus mendapatkan kecupan dari bibir yang dipenuhi jambang dan kumis itu. "Baby, Mommy kalian lagi capek jadi ayah gak bisa jenguk kalian, sabar ya besok ayah pasti jenguk kalian sampai pagi," ucapnya sembari terus berbicara diatas perut Lia dan terus mengecupinya. Niko menelan salivanya melihat paha mulus Lia disaat daster yang Lia pakai tersingkap karena pergerakan kaki Lia. "Sial...." maki Niko ketika si piton mulai bereaksi di bawah sana. Wajar Niko sudah puasa hampir tujuh bulan. "Sabar, tunggu besok biar halal," gerutu Niko sembari mengelus si piton untuk menenangkannya. Dia tidak bisa bermain solo karena kamar mandi letaknya di luar kamar. "niko...." Lia membuka matanya karena terganggu dengan desahan Niko. Lia duduk ditempat tidur, wajahnya memerah melihat Niko sibuk dengan miliknya yang terlihat sedang berontak minta dimanja. "Dia gak mau tenang dari tadi." "Kok bisa ? Emang selama ini klo gak mau tenang di cariin penenang ya?" tanya Lia polos namun terlihat kecewa. Niko menarik tengkuk Lia lalu melumat bibirnya meski tidak lama. Penenangnya hanya kamu sayang tidak ada yang lain. Pading bermain solo dikamar mandi," tegasnya. "Kenapa masih tidak percaya?" tanya Niko melihat mimik wajah Lia yang tetap tidak berubah. "Lia percaya," jawab Lia. Niko memandangi wajah cantik wanita yang akan sah menjadi istrinya esok hari. Untuk sesaat kedua netra mereka bertemu saling mengunci. Tatapan penuh kerinduan dari dua insan yang saling mencintai walaupun jarak umur mereka sangat jauh 23 tahun tepatnya. "Apa boleh menuntaskan malam ini," pinta Niko yang sudah tidak tahan menunggu hari esok. "Gak enak , nanti didengar sama Nenek." "Ya jangan terlalu keras mendesahnya." Tangan Niko sudah mulai menari-nari. "Aughhhhhh ..!!" Lia sudah mulai meloloskan desahannya disaat tangan Niko mulai membelai gundukan kembarnya. "ko... " Pekik Lia lagi ketika bayi besar itu sudah mulai memainkan lidahnya pada salah satu gundukan kembar itu. Lia tidak memakai Bra dalam dasternya karena selama menginjak usia kehamilannya semakin tua Lia begitu susah bernafas. Tangan Lia meremas rambut gondrong Niko. Apa yang Niko lakukan ditubuhnya begitu membuat Lia tergoda antara geli dengan bulu-bulu disekitar bibir Niko sekaligus nikmat. Tiba-tiba Lia merasa ada pergerakan pada perutnya dan memegangi perutnya. Niko menjadi panik. "Kita kerumah sakit." "Tidak usah , ini sudah biasa. Udah gak sakit, mungkin Lia kebanyakan berdiri." "gak peduli yang penting sekarang kita kerumah sakit." Niko mengenakan kembali pakaiannya, dia begitu panik. "ko denger Lia dulu. Yang tadi itu mereka nendang perut Lia. Kayaknya mereka lagi sapa ayahnya," ucap Lia lagi. Niko duduk disamping istrinya lagi tangan dia letakkan di perut istrinya. Niko merasa ada pergerakan di perut Lia. "Mereka terus nyapa ayahnya." "Sayang mereka udah gak sabar pingin dijenguk," seru Niko langsung menciumi perut Lia. Pergerakan di perut Lia semakin intens mungkin ada ikatan batin karena ini pertama kalinya ditemani oleh ayah mereka. "Lia, bentar aja gak lama kok hanya ingin menyapa mereka." Lia tidak tega melihat wajah Niko yang begitu memohon apalagi dia juga merindukan sentuhan pria dewasa itu. Mungkin saat ini Lia egois, itu hanya demi anaknya agar tidak di cap anak haram dalam hatinya dia terus minta maaf kepada sahabatnya Niko sudah menelanjangi tubuh Lia. Bahkan tubuh Lia begitu seksi dimatanya dimana perutnya terlebih begitu besar. Ada keturunannya langsung di perut wanita muda itu. Sesuai janjinya Niko hanya berkenalan saja dengan si kembar. Keadaan ranjang yang terus berbunyi membuat Lia tidak nyaman. Niko yang mengerti langsung menyelesaikan permainannya dengan singkat. "kamu cuci dulu," pinta Lia. "Besok saja." "Jorok ah" "Mana ada jorok yang ada enak," kekeh Niko yang begitu malas keluar mencuci si piton. Niko langsung memeluk tubuh Lia dan menarik selimutnya menyelimuti tubuh mereka berdua yang masih dipenuhi oleh butiran keringat kami tidak ada AC hanya ada kipas angin saja. * Keesokan harinya Lia bangun terlebih dahulu dari Niko. Ternyata dia sudah tidak melihat Bram. Lia melihat nenek yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. "Tuan Niko masih tidur?" tanya Nenek Yani dengan senyuman di wajahnya seakan tau apa yang terjadi tadi malam dikamar itu. "Sana kamu mandi sama keramas dulu biar seger. Hari ini hari pernikahan kalian. Kita sudah janjian sama penghulu setelah makan siang," ucap sang nenek. Lia terdiam masih ragu dengan keputusan, kata egois memang begitu susah di kamusnya. Nenek Yani menakupkan tangannya yang sudah keriput di wajah Lia. "Lia, untuk hari ini jadilah wanita egois demi mereka yang ada diperut kamu. Nenek yakin suatu hari nanti Nayra bisa menerima kamu dan adik-adiknya." Lia langsung masuk kedalam pelukan wanita tua itu. Wanita yang tidak ada hubungan darah dengan tapi begitu menyayangi dirinya. "Nenek sudah janji sama tuan Niko akan ikut bersama kamu dimanapun kamu akan tinggal. Nenek akan menjaga kalian," ucap nenek Yani lagi. Lia begitu terharu mendengarnya. Nenek Yani mengusap air mata di wajah Lia. "Hari ini kamu akan menjadi Nyonya Niko, kamu harus terlihat cantik. Nenek juga hari ini pingin terlihat cantik, nenek mau fotoan sama mantan Hot Duda keren yang menjadi idola kaum Hawa, biar temen arisan nenek pada ngiri liat nenek punya cucu menantu tampan gak ketulungan," ucap Nenek Yuni sambil terkekeh. "Ihhh, nenek genit," canda Lia. Mereka berdua tertawa terkekeh, Niko mengambil mereka dari pintu, betapa senangnya dia melihat Lia tertawa lepas seperti itu. Lia mungkin kedepannya kehidupan kita akan banyak masalah tapi aku janji akan melindungi kamu. aku akan berusaha sekuat tenaga agar tawa dan senyuman itu selalu terbit diwajahmu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN