SAH

1497 Kata
Kemampuan Bram tidak bisa diragukan lagi. Asisten muda dan tampan itu masuk membawa beberapa paper bag kedalam rumah sederhana milik nenek Yani sedangkan sang sopir menunggu depan gang di jalan raya karena mobil hanya bisa masuk tapi gak bisa parkir lama didepan rumah. Bram juga datang dengan seorang perias yang akan membantu Lia di hari yang paling penting dalam hidupnya. Niko yang tinggal di negara kelahiran ibunya tentu saja mengikuti agama yang dianut oleh sang ibu sedang ayah Niko seorang bule sama seperti ayahnya Leon. Niko dan yang lain baru saja selesai sarapan disaat Bram muncul lagi di rumah sederhana nyaman dan bersih itu. "Nak Bram sarapan dulu, mbok sudah siapin," ucap Nenek Yani dengan ramahnya Bram kamu sarapan dulu," titah Niko. Dia tau jika bukan dia yang mengeluarkan perintah Bram tidak akan mau melakukannya. " Baik Tuan." Bram langsung menuju ke meja makan kecil, sudah ada kopi dan jajan khas makanan bali dan Bram sangat menyukainya. Perias yang di bawa Bram langsung di bawa kekamar oleh nenek Yani untuk melakukan tugasnya. Niko mengikuti mereka masuk kedalam kamar. Niko berbaring di atas ranjang sambil memangku laptopnya sedangkan Lia duduk di depan beautiful case milik perias. Entah pesona apa yang dimiliki pria 43 tahun itu sampai perias yang merias Lia kadang curi-curi pandang pada sosok dewasa yang tengah sibuk dengan laptopnya itu. Beberapa kali Lia memergokinya, bukannya marah Lia malah menahan tawanya. Niko melirik jam tangannya, dia beranjak dari ranjang keluar dari kamar. Tak lama Niko kembali lagi dengan segelas air ditangannya. "Sayang, minum dulu vitaminnya," ucap Niko begitu lembut sampai sang perias merasa iri melihat keromantisan laki-laki itu pada calon istrinya. Lia menerima gelas dan vitaminnya dari tangan Niko kemudian meneguknya. Setelah itu dia mengembalikan gelas itu kepada Niko. "ko, mandi gih dari kemarin blom mandi bau tau," perintah Lia. "Iya sekarang mandi," sahut Niko dengan manutnya dengan perintah calon istri kecilnya itu. "Handuknya kamu mana sayang?" " pakai handuk yang kak Bram bawain aja." "mau pakai handuk yang kamu pakai." "Handuk Lia tadi tak jemur di luar," ucap nya. Niko melangkah kakinya menuju keluar dari kamar mandi mengambil handuk di jemuran lalu masuk kedalam kamar mandi. Nenek Yani dan Bram hanya memperhatikan bos besar itu sekarang terlihat seperti suami-suami pada umumnya kelas menengah. Ingin sekali Bram tertawa namun dia takut kena amukan si bos-nya. "Nak Bram apa gak sakit perut nahan ketawa," bisik nenek Yani ditelinga Bram. "Lebih baik sakit perut Nek daripada kena amukan singga," sahutnya lirih sambil terkekeh. Kamar mandi kecil itu begitu kontras dengan tubuh Niko yang tinggi besar. Baru kali ini Niko mandi menggunakan gayung. Entah kenapa Niko merasa senang bisa memakai alat mandi Lia yang sederhana itu. Mungkin otaknya sudah mulai tidak waras. Gadis polos sahabat putrinya mampu membuat sosok pemain menjadi tidak waras seperti ini. Niko menggelengkan kepalanya sambil menyunggingkan senyuman di bibirnya. Niko keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang membungkus bagian bawahnya. Dia berjalan dengan santai menuju kekamar dimana calon istrinya sedang di make up. Kehadiran Niko dengan penampilan seperti itu malah membuat perias yang merias Lia menjadi salah tingkah melihat dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus menambah seksi pemiliknya. Lia bisa merasakan wanita yang meriasnya begitu terpesona dengan sosok calon suaminya bahkan Lia bisa melihat wanita itu menelan salivanya. Berbeda dengan Niko yang begitu santai mencari pakaian dalamnya disalah satu paper bag yang Bram bawa. "ko, sana ganti bajunya di kamar Deon saja," ucap Lia. "Kenapa harus di sana? Bukankah kamu sudah sering menikmatinya kenapa mesti malu," sahut Niko dengan santainya tanpa peduli ada orang lain di kamar itu juga. Niko hanya menegaskan kalo wanita muda itu adalah pemilik atas dirinya. "Mbak bisa keluar dulu saya mau ganti baju," ucap Niko kepada wanita yang merias Lia tepatnya memberi perintah. "Baik Pak," sahutnya walau sedikit kecewa kehilangan pemandangan yang membuat mata seger seperti yang dikatakan mak-mak omes di grup WA Wanita itu meninggalkan kamar. Niko tanpa tau malunya membuka handuk dengan santainya dihadapan Lia seolah sedang memamerkan tubuhnya dan pitonnya. "buruan gantinya. Kalo minat jadi model panas nanti Lia minta kak Bram cariin agencynya," kekeh Lia. "Gak usah cari agency, cukup kamu jadi agencynya sekaligus photografernya. Nanti kamu pajang di kamar pribadi kita," sahut Niko dengan pongahnya. Lia memutar matanya berotasi malas menanggapi calon suaminya yang m***m ini. "Kenapa gak suka dipajang, klo gitu jadiin wallpaper di ponsel kamu aja." Niko memeluk tubuh Lia dari belakang. Dia sudah tidak sabar menunggu sertifikat halalnya. "ko kalo seperti ini kapan selesainya." "Habis gemes banget sama kamu." Kemudian Niko mengecup rambut wanita yang akan menjadi calon istrinya sebentar lagi. Sementara di kediaman keluarga Leon. Orang tua Leon begitu terkejut mendapatkan undangan begitu mendadak dari Niko. Meminta mereka datang sebagai saksi pernikahan Niko dengan Lia. Sementara ibu Leon kebingungan habis menerima telpon dari kakaknya dijakarta. Dia tidak enak membohongi mengatakan belum bertemu dengan Niko sama sekali. "Kenapa wajah kamu seperti itu? Cepetan kita harus ke tempat acaranya Niko ," seru suaminya Remon yang sudah selesai bersiap-siap. "Barusan Mbak Rianti telpon tanyain apa Niko ada menemui kita." "Lalu kamu jawab apa?" tanya Remon dengan santainya sambil memperhatikan penampilannya di cermin. "Mommy bilang aja Niko belum kemari menemui kita," sahutnya sembari mengoleskan blush-on pada pipinya. "Bagus. Kakakmu salah memisahkan dua orang yang saling mencintai tidak peduli bagaimana awalnya mereka bertemu apalagi akan ada anak ditengah -tengah mereka. Itu Kenapa suamimu ini selalu melarangmu terlalu ikut campur dengan urusan percintaan anak-anak kita. Itu kebahagiaan mereka dan mereka yang akan menjalani bukan kita. Kadang aku heran dunia ini sudah modern kenapa kakamu itu sangat kolot, apa dia tidak pernah berfikir perbuatannya ini justru akan membuatnya kehilangan anaknya. Apalagi si Nayra itu sudah besar tapi otaknya gak bisa di pakai, Niko juga salah terlalu memanjakannya dan membiarkan wanita seperti Zara itu dari dulu masuk kedalam keluarganya. Jadi beginilah jadinya nikah ngumpet-ngumpet kayak mau nikahi istri kedua saja," ucap Remon panjang lebar. Nila menarik nafas panjang, seperti ini kalo suaminya sudah berceramah. Jarang ngomong tapi kalo ngomong sekali langsung mengenai sasaran. Meski dengan hati yang kecewa Leon tetap datang ke acara akad nikah saudara sepupunya dengan wanita yang dia cintai, dia akan melepaskan wanita itu asalkan wanita itu bahagia. Mereka sampai disebuah Vila pribadi yang akan menjadi tempat tinggal Lia selanjutnya. Niko meminta Bram mencari Villa untuk istrinya selama istrinya menetap di Bali. Villa dengan menghadap kepantai. Niko mengetahui Lia begitu menyukai pantai, bahkan dia sering main kepantai dengan Deon. Tidak tanggung-tanggung Niko membelikan Villa mewah ini sebagai hadiah perkawinan mereka dan akad nikahnya juga akan di laksanakan di villa itu. Lia begitu cantik dengan balutan kebaya putih dengan paduan kain batik di bawahnya. Bahkan Auranya semakin bersinar. Perut Lia yang begitu besar seakan memberikan pancaran keindahan pada gadis muda itu. Niko juga terlihat begitu tampan dengan balutan baju Koko ya yang sederhana namun begitu mewah di tubuhnya seksi. Leon memandangi Lia dari tempatnya berdiri, Niko yang melihat calon istrinya dipandangi seperti itu tentunya dia merasa cemburu apalagi jelas-jelas dia tau kalau adik sepupunya mencintai calon istrinya. "Leon jaga matamu.” Remon memperingati putranya dengan berbisik. Leon langsung mengalihkan pandangannya dari wanita yang kini duduk berdampingan dengan saudara sepupunya didepan penghulu dan beberapa wali. SAH Satu kata itu berkumandang begitu jelas ditelinga Leon. Kini wanita yang Leon cintai selama beberapa bulan ini sudah sah menjadi istri dari kakak sepupunya. Niko memakaikan cincin yang dulu pernah dia pesan sebelum Lia pergi meninggalkan nya. Cincin itu begitu pas di jari manis Lia. Setelah itu Lia memasangkan cincin di jari suaminya. Sekarang mereka sudah sah menjadi suami istri. Kehidupan baru sudah menanti mereka berdua kedepannya. Yang pastinya kehidupan yang tidak mudah dilalui karena kehidupan pernikahan tidak semuanya bahagia pasti akan ada kerikil-kerikil dalam menjalani bahtera rumah tangga. Bohong sekali jika ada orang yang mengatakan kehidupan pernikahan itu selalu mulus. "Selamat Niko atas pernikahan kedua kamu. Uncle harap kamu bisa menjaga keluarga kecil kamu walaupun itu tidak akan mudah," ucap Remon yang sangat dimengerti oleh Niko. Niko hanya menganggukan kepalanya mungkin itu cara komunikasi orang dewasa. Nila memeluk Lia juga memberikan selamat kepada Lia atas pernikahannya dengan Niko. "Lia teteplah bersabar dalam pernikahan ini, kamu harus bisa menghadapi masalah yang akan terjadi kedepannya, Aunty tau ini tidak akan mudah tapi kamu harus yakin dengan cinta suamimu. Karena cinta pasangan yang akan memberikan kekuatan untuk kita bertahan." Nasehat Nila kepada Lia. "Terimakasih Aunty sudah dukung Lia." "Kamu anak yang baik. Aunty yakin ibu mertuamu akan menyadari kesalahannya." Nila kembali memeluk Lia. Leon terlihat sedang berbicara dengan Niko tak jauh dari mereka. Kedua laki-laki dewasa itu terlihat sangat serius. "Mas, aku melepaskan Lia karena dia berhak untuk bahagia. Tapi suatu hari nanti jika Mas membuatnya menangis aku akan membawanya pergi," ucap Leon begitu serius. Niko mengerutkan keningnya. "Kamu mengancam ku Leon?" "Bukan Ancaman Mas. Hanya ingin Mas tau jika ada seseorang yang akan selalu menerimanya jika dia sudah tidak bahagia lagi sama Mas Niko," tegas Leon. "Lia selamanya akan menjadi milikku dan tidak akan ada kata perceraian," sahut Niko penuh keyakinan. "Semoga saja. Aku juga tidak berharap kamu bercerai untuk kedua kalinya Mas."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN