Kemampuan Bram tidak bisa
diragukan lagi. Asisten muda dan
tampan itu masuk membawa
beberapa paper bag kedalam
rumah sederhana milik nenek Yani
sedangkan sang sopir menunggu
depan gang di jalan raya karena
mobil hanya bisa masuk tapi gak
bisa parkir lama didepan rumah.
Bram juga datang dengan seorang
perias yang akan membantu Lia
di hari yang paling penting dalam
hidupnya. Niko yang tinggal di
negara kelahiran ibunya tentu saja
mengikuti agama yang dianut oleh
sang ibu sedang ayah Niko seorang
bule sama seperti ayahnya Leon.
Niko dan yang lain baru saja selesai
sarapan disaat Bram muncul lagi di
rumah sederhana nyaman dan
bersih itu.
"Nak Bram sarapan dulu, mbok
sudah siapin," ucap Nenek Yani
dengan ramahnya
Bram kamu sarapan dulu," titah
Niko. Dia tau jika bukan dia yang
mengeluarkan perintah Bram tidak
akan mau melakukannya.
" Baik Tuan." Bram langsung
menuju ke meja makan kecil,
sudah ada kopi dan jajan khas
makanan bali dan Bram sangat
menyukainya.
Perias yang di bawa Bram
langsung di bawa kekamar oleh
nenek Yani untuk melakukan
tugasnya. Niko mengikuti mereka
masuk kedalam kamar. Niko
berbaring di atas ranjang sambil
memangku laptopnya sedangkan
Lia duduk di depan beautiful case
milik perias.
Entah pesona apa yang dimiliki
pria 43 tahun itu sampai perias
yang merias Lia kadang curi-curi
pandang pada sosok dewasa yang
tengah sibuk dengan laptopnya itu.
Beberapa kali Lia memergokinya,
bukannya marah Lia malah
menahan tawanya.
Niko melirik jam tangannya, dia
beranjak dari ranjang keluar dari
kamar. Tak lama Niko kembali lagi
dengan segelas air ditangannya.
"Sayang, minum dulu vitaminnya,"
ucap Niko begitu lembut sampai
sang perias merasa iri melihat
keromantisan laki-laki itu pada
calon istrinya.
Lia menerima gelas dan
vitaminnya dari tangan Niko
kemudian meneguknya. Setelah itu
dia mengembalikan gelas itu
kepada Niko.
"ko, mandi gih dari kemarin
blom mandi bau tau," perintah
Lia.
"Iya sekarang mandi," sahut
Niko dengan manutnya dengan
perintah calon istri kecilnya itu.
"Handuknya kamu mana sayang?"
" pakai handuk yang kak
Bram bawain aja."
"mau pakai handuk yang
kamu pakai."
"Handuk Lia tadi tak jemur di
luar," ucap nya.
Niko melangkah kakinya menuju
keluar dari kamar mandi mengambil
handuk di jemuran lalu masuk
kedalam kamar mandi.
Nenek Yani dan Bram hanya
memperhatikan bos besar itu
sekarang terlihat seperti
suami-suami pada umumnya kelas
menengah. Ingin sekali Bram
tertawa namun dia takut kena
amukan si bos-nya.
"Nak Bram apa gak sakit perut
nahan ketawa," bisik nenek Yani
ditelinga Bram.
"Lebih baik sakit perut Nek
daripada kena amukan singga,"
sahutnya lirih sambil terkekeh.
Kamar mandi kecil itu begitu
kontras dengan tubuh Niko yang
tinggi besar. Baru kali ini Niko
mandi menggunakan gayung.
Entah kenapa Niko merasa senang
bisa memakai alat mandi Lia yang
sederhana itu. Mungkin otaknya
sudah mulai tidak waras. Gadis
polos sahabat putrinya mampu
membuat sosok pemain menjadi
tidak waras seperti ini. Niko
menggelengkan kepalanya sambil
menyunggingkan senyuman di
bibirnya.
Niko keluar dari kamar mandi
hanya dengan handuk yang
membungkus bagian bawahnya.
Dia berjalan dengan santai menuju
kekamar dimana calon istrinya
sedang di make up.
Kehadiran Niko dengan
penampilan seperti itu malah
membuat perias yang merias Lia
menjadi salah tingkah melihat
dada bidang yang ditumbuhi
bulu-bulu halus menambah seksi
pemiliknya.
Lia bisa merasakan wanita yang
meriasnya begitu terpesona
dengan sosok calon suaminya
bahkan Lia bisa melihat wanita
itu menelan salivanya. Berbeda
dengan Niko yang begitu santai
mencari pakaian dalamnya disalah
satu paper bag yang Bram bawa.
"ko, sana ganti bajunya di
kamar Deon saja," ucap Lia.
"Kenapa harus di sana? Bukankah
kamu sudah sering menikmatinya
kenapa mesti malu," sahut
Niko dengan santainya tanpa
peduli ada orang lain di kamar itu
juga. Niko hanya
menegaskan kalo wanita muda itu
adalah pemilik atas dirinya.
"Mbak bisa keluar dulu saya mau
ganti baju," ucap Niko
kepada wanita yang merias Lia
tepatnya memberi perintah.
"Baik Pak," sahutnya walau sedikit
kecewa kehilangan pemandangan
yang membuat mata seger seperti
yang dikatakan mak-mak omes di
grup WA
Wanita itu meninggalkan kamar.
Niko tanpa tau malunya membuka
handuk dengan santainya
dihadapan Lia seolah sedang
memamerkan tubuhnya dan
pitonnya.
"buruan gantinya. Kalo
minat jadi model panas
nanti Lia minta kak Bram cariin
agencynya," kekeh Lia.
"Gak usah cari agency, cukup
kamu jadi agencynya sekaligus
photografernya. Nanti kamu
pajang di kamar pribadi kita,"
sahut Niko dengan
pongahnya.
Lia memutar matanya berotasi
malas menanggapi calon suaminya
yang m***m ini.
"Kenapa gak suka dipajang, klo
gitu jadiin wallpaper di ponsel
kamu aja." Niko memeluk tubuh
Lia dari belakang. Dia sudah tidak
sabar menunggu sertifikat
halalnya.
"ko kalo seperti ini kapan
selesainya."
"Habis gemes banget sama
kamu." Kemudian Niko mengecup
rambut wanita yang akan menjadi
calon istrinya sebentar lagi.
Sementara di kediaman keluarga
Leon. Orang tua Leon begitu
terkejut mendapatkan undangan
begitu mendadak dari Niko.
Meminta mereka datang sebagai
saksi pernikahan Niko dengan Lia.
Sementara ibu Leon kebingungan
habis menerima telpon dari
kakaknya dijakarta. Dia tidak enak
membohongi
mengatakan belum bertemu
dengan Niko sama sekali.
"Kenapa wajah kamu seperti itu?
Cepetan kita harus ke tempat
acaranya Niko ," seru suaminya
Remon yang sudah selesai
bersiap-siap.
"Barusan Mbak Rianti telpon
tanyain apa Niko ada menemui
kita."
"Lalu kamu jawab apa?" tanya
Remon dengan santainya sambil
memperhatikan penampilannya di
cermin.
"Mommy bilang aja Niko belum
kemari menemui kita," sahutnya
sembari mengoleskan blush-on
pada pipinya.
"Bagus. Kakakmu salah
memisahkan dua orang yang saling
mencintai tidak peduli bagaimana
awalnya mereka bertemu apalagi
akan ada anak ditengah -tengah
mereka. Itu Kenapa suamimu ini
selalu melarangmu terlalu ikut
campur dengan urusan percintaan
anak-anak kita. Itu kebahagiaan
mereka dan mereka yang akan
menjalani bukan kita. Kadang aku
heran dunia ini sudah modern
kenapa kakamu itu sangat kolot,
apa dia tidak pernah berfikir
perbuatannya ini justru akan
membuatnya kehilangan anaknya.
Apalagi si Nayra itu sudah besar
tapi otaknya gak bisa di pakai, Niko
juga salah terlalu memanjakannya
dan membiarkan wanita seperti
Zara itu dari dulu masuk kedalam
keluarganya. Jadi beginilah
jadinya nikah ngumpet-ngumpet
kayak mau nikahi istri kedua saja,"
ucap Remon panjang lebar.
Nila menarik nafas panjang,
seperti ini kalo suaminya sudah
berceramah. Jarang ngomong tapi
kalo ngomong sekali langsung
mengenai sasaran.
Meski dengan hati yang kecewa
Leon tetap datang ke acara akad
nikah saudara sepupunya dengan
wanita yang dia cintai, dia akan
melepaskan wanita itu asalkan
wanita itu bahagia.
Mereka sampai disebuah Vila
pribadi yang akan menjadi tempat
tinggal Lia selanjutnya. Niko
meminta Bram mencari Villa
untuk istrinya selama istrinya
menetap di Bali. Villa dengan
menghadap kepantai. Niko
mengetahui Lia begitu menyukai
pantai, bahkan dia sering main
kepantai dengan Deon.
Tidak tanggung-tanggung
Niko membelikan Villa mewah ini
sebagai hadiah perkawinan mereka
dan akad nikahnya juga akan di
laksanakan di villa itu.
Lia begitu cantik dengan balutan
kebaya putih dengan paduan kain
batik di bawahnya. Bahkan
Auranya semakin bersinar. Perut
Lia yang begitu besar seakan
memberikan pancaran keindahan
pada gadis muda itu.
Niko juga terlihat begitu tampan
dengan balutan baju Koko ya yang
sederhana namun begitu mewah di
tubuhnya seksi. Leon memandangi
Lia dari tempatnya berdiri, Niko
yang melihat calon istrinya
dipandangi seperti itu tentunya dia
merasa cemburu apalagi jelas-jelas
dia tau kalau adik sepupunya
mencintai calon istrinya.
"Leon jaga matamu.” Remon
memperingati putranya dengan
berbisik.
Leon langsung mengalihkan
pandangannya dari wanita yang
kini duduk berdampingan dengan
saudara sepupunya didepan
penghulu dan beberapa wali.
SAH
Satu kata itu berkumandang begitu
jelas ditelinga Leon. Kini wanita
yang Leon cintai selama beberapa
bulan ini sudah sah menjadi istri
dari kakak sepupunya.
Niko memakaikan cincin yang dulu
pernah dia pesan sebelum Lia
pergi meninggalkan nya. Cincin itu
begitu pas di jari manis Lia.
Setelah itu Lia memasangkan
cincin di jari suaminya. Sekarang
mereka sudah sah menjadi suami
istri.
Kehidupan baru sudah menanti
mereka berdua kedepannya. Yang
pastinya kehidupan yang tidak
mudah dilalui karena kehidupan
pernikahan tidak semuanya
bahagia pasti akan ada
kerikil-kerikil dalam menjalani
bahtera rumah tangga. Bohong
sekali jika ada orang yang
mengatakan kehidupan
pernikahan itu selalu mulus.
"Selamat Niko atas pernikahan
kedua kamu. Uncle harap kamu
bisa menjaga keluarga kecil kamu
walaupun itu tidak akan mudah,"
ucap Remon yang sangat
dimengerti oleh Niko. Niko hanya
menganggukan kepalanya
mungkin itu cara komunikasi
orang dewasa.
Nila memeluk Lia juga
memberikan selamat kepada Lia
atas pernikahannya dengan Niko.
"Lia teteplah bersabar dalam
pernikahan ini, kamu harus bisa
menghadapi masalah yang akan
terjadi kedepannya, Aunty tau ini
tidak akan mudah tapi kamu harus
yakin dengan cinta suamimu.
Karena cinta pasangan yang akan
memberikan kekuatan untuk kita
bertahan." Nasehat Nila kepada
Lia.
"Terimakasih Aunty sudah dukung
Lia."
"Kamu anak yang baik. Aunty
yakin ibu mertuamu akan
menyadari kesalahannya." Nila
kembali memeluk Lia.
Leon terlihat sedang berbicara
dengan Niko tak jauh dari mereka.
Kedua laki-laki dewasa itu terlihat
sangat serius.
"Mas, aku melepaskan Lia karena
dia berhak untuk bahagia. Tapi
suatu hari nanti jika Mas
membuatnya menangis aku akan
membawanya pergi," ucap Leon
begitu serius.
Niko mengerutkan keningnya.
"Kamu mengancam ku Leon?"
"Bukan Ancaman Mas. Hanya
ingin Mas tau jika ada seseorang
yang akan selalu menerimanya jika
dia sudah tidak bahagia lagi sama
Mas Niko," tegas Leon.
"Lia selamanya akan menjadi
milikku dan tidak akan ada kata
perceraian," sahut Niko penuh
keyakinan.
"Semoga saja. Aku juga tidak
berharap kamu bercerai untuk
kedua kalinya Mas."