Malam Pengantin

1103 Kata
"aku bantu ya," ucap Niko langsung membantu Lia membukakan sanggulan rambut istrinya. Niko memperhatikan wajah istrinya yang terlihat tidak bahagia. Niko berjongkok dihadapan istri kecilnya. "Memikirkan Nayra?" tebak Niko Lia menganggukan kepalanya. Dia menganggap dirinya sahabat yang buruk yang sudah menghancurkan impian sahabatnya. Niko menghapus air mata yang keluar dari pelupuk mata istrinya. Dia bisa merasakan kesedihan istrinya saat ini. "Sayang, Nayra boleh punya mimpi tapi aku juga punya keinginan sendiri. Walaupun kamu tidak hadir di dalam kehidupan aku, aku juga tidak akan menikahi Zara," tegas Niko. "Apa alasan kamu tidak mau menikahi Tante Zara. Dia begitu menyayangi Nayra?" tanya Lia dengan tatapan lembut. "Karena satu aki tidak pernah mencintainya dan kedua Zara hanya pura-pura mencintai Nayra," Niko memberikan penjelasan kepada istrinya. "Sayang ini malam pengantin kita, tolong jangan rusak malam ini dengan hal yang tidak penting ya," pinta Niko sampai menciumi punggung tangan Lia. "aku kangen banget sama kamu." Niko mendekati wajah Lia, lalu melumat bibir wanita yang kini sudah berganti status menjadi istrinya. Ya sekarang Lia sudah seutuhnya menjadi miliknya. Niko menghentikan kegiatannya sebentar, lalu menggendong tubuh istrinya kemudian membaringkannya diatas ranjang besar dan empuk itu. Niko menatap lekat istrinya. Wajah Lia langsung memerah karena malu melihat tatapan suaminya. "Terimakasih sudah mau menjadi istri laki-laki tua ini," ucap Niko begitu lembut. "ko....." lirih Lia "Stttttt.... jangan nangis sayang. Hati aku sakit kalo ini keluar dari mata indahmu." Niko menghapus jejak air mata itu lagi. Lia lalu menerbitkan senyuman di bibirnya. "aku minta hakku ya. Uda gak tahan. Piton terus ngambek.yang kemarin kurang," pinta Niko "dasar m***m," sahut Lia dengan lirih. "Gak pa-pa kan sayang mesum sama istri." "Mau enak seperti waktu di kantor gak?" goda Niko dengan wajah hornynya Lia begitu malu menjawabnya, namun Niko sudah memahami jawaban istri kecilnya dalam diamnya. Tangan Niko mulai membuka kancing kebaya yang istrinya kenakan hingga kebaya itu lolos dari tubuh Lia. Lalu Niko mulai mencium leher jenjang istri kecilnya sembari tangannya mencari resleting angkin yang istrinya kenakan. Mungkin karena tangan besar itu sudah begitu pengalaman dibidang buka membuka dengan cepat tangan besar itu meloloskan angkin itu dan melemparkannya kesembarang tempat tak sabar Niko langsung membuka pengait Bra berwarna Cream yang menutupi dua asetnya Niko melihat ada perubahan pada dua aset itu. Sekarang terlihat lebih besar dan lebih montok, tempat dimana makanan pokok calon kedua anaknya. Niko membelainya dan memberikan pijitan dengan lembut. LIA hanya bisa pasrah dengan apa yang suami dewasanya lakukan pada tubuhnya. Apalagi Lia juga begitu merindukan sentuhan laki-laki yang pertam kalinya mengenalkan kenikmatan dalam hidupnya. "Indah...." puji Niko Detik berikutnya Niko memainkan lidahnya disalah satu puncak kembarnya dan tangannya yang lain tetap memberikan pijitan. "Aughhhhhh ," desahan mulai lolos dari bibir istrinya Desahan yang semakin memancing gairah Niko semakin naik, lidah itu semakin bergerak liar turun kebawah. Dengan cepat Niko melepaskan kain batik yang melilit di pinggang Lia hingga menampakkan perut besar dimana didalamnya ada dua anaknya. "Kalian pasti kangen sama ayah, kemarin kita cuma sapaan, sekarang ayah bakal puasin jenguk kalian." Niko menciumi perut Lia sampai ada pergerakan yang Niko rasakan, sepertinya anaknya sudah tidak sabar ingin bertemu sang ayah. "Sabar sayang ayah kasi enak Mommy dulu," ucapnya dengan jelas didengar oleh Lia, wajah Lia langsung memerah dan itu disadari oleh suaminya. Niko semakin dibuat gemes sama istri kecilnya ini. Niko menekuk kedua kaki istrinya. Sebelum melepaskan penghalang terakhir yang melekat pada tubuh istrinya terlihat dahulu dia turun dari ranjang meloloskan tubuhnya dari pakaian yang dia kenakin. Lia bisa melihat jelas d**a bidang suaminya yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang menyambung sampai kebawah perut. Sekilas Lia melihat milik suaminya sudah berdiri tegak. Niko menyunggikan senyuman menggoda Lia begitu malu melihatnya kemudian memalingkan wajahnya Niko naik keatas ranjang lagi, memposisikan dirinya berjongkok. Niko melepaskan penghalang terakhir yang berbentuk segitiga tiga itu dari tubuh istrinya. "Oughhh ...." Desahan Lia langsung terdengar begitu jelas di telinga Niko. Sapuan lidah panas Niko begitu melumpuhkan saraf-saraf Lia kedua pahanya ada di pundak suaminya. Rasa nikmat yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata yang pas untuk bisa menggambarkan rasa yang Niko berikan kepada istrinya. Mata Lia semakin sayu tangannya terus mencengram seprai karena perut besarnya menghalanginya mencengkram rambut suaminya. Sensasi lidah bercampur gesekan kumis dan bulu-bulu dirahang suaminya begitu memabukan. Niko semakin beringas, memainkan lidahnya di bagian inti istrinya yang sudah semakin becek karena ulahnya. Kini rasa rindunya selama tujuh bulan ini harus dia tuntaskan. " Lea gak tahen lagi..." Lia terus merancau, tidak hanya Lia si piton juga sudah tidak sabar lagi bereaksi. "ko....." pekik Lia disaat dia mencapai puncaknya kakinya terus bergerak. Niko tersenyum begitu puas, dia mengelap bibirnya yang basah dengan punggung tangannya. Niko melihat istrinya sedang mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan. Niko berbaring disamping istrinya dia memilih gaya dari samping melakukan penyatuan mereka. "Aughhhhhh ." Pekik Lia ketika sipiton sudah mulai memasuki intinya dibawah sana. "Sayang suka banget, milikmu sempit banget." Niko mulai melakukan tugasnya memompa tubuh istrinya. Suara desahan dan erangan mulai memenuhi ruangan yang ditata begitu indah untuk pasangan yang sedang melakukan malam pengantin, meski ini bukan malam pertama mereka namun bagi Niko dan Lia malam ini tetap malam yang akan menjadi sejarah dalam hidup mereka dimana cinta mereka bisa bersatu dalam ikatan perkawinan. Butiran peluh membasahi tubuh dua insan yang sedang memadu kasih. Niko terus berganti gaya mencari posisi yang aman buat istrinya dan anaknya. Kali ini Niko bermain tidak memikirkan kepuasan dirinya sendiri. " Lia mau keluar lagi." "Keluarkan sayang." Niko semakin mempercepat tempo. Kini posisi Niko berada diatas tubuh Lia tetapi Niko tidak menindih tubuh istrinya. Gerakan Niko semakin cepat dia ingin mengejar ketinggalannya. Erangan gagahnya terdengar jelas. "aku mau keluar sayang....' "Ahhhhhhh." Niko mengerang dengan gagahnya ketika sudah mendekati dengan puncaknya beberapa detik kemudian cairan hangat keluar keluar memenuhi inti istrinya. Lia bisa merasakan suaminya sudah mendapatkan pelepasannya. Niko mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum mencabut si piton dari l**************n istrinya. Niko berbaring disamping istrinya lalu mencium bibir istrinya. "Sayang makasi ya." Niko membawa istrinya masuk ke dalam selimut "Jangan pernah bosan ya sama laki-laki tua ini,"' ucap Niko lagi kembali mengecup kening istrinya yang ada dalam pelukannya. "Lia malah takut kamu yang bosan sama Lia," sahut Lia jujur. "Kamu ngomong apa sih. Mana mungkin bosan sama istri yang menggemaskan ini. Bahkan aku sudah terkena racunmu sampai candu kayak gini." Niko semakin mengeratkan pelukannya di tubuh istrinya. Tak lama Lia langsung tertidur pulas dipelukan suaminya. Tidak hanya Niko ,Lia juga merasakan hal yang sama selama beberapa bulan ini dia tidak bisa tidur nyenyak. Niko memperhatikan wajah polos istrinya yang sedang tertidur seperti anak kecil dipeluknya. "Lia aku janji akan mengembalikan persahabatan kalian karena kalian berdua sama pentingnya dalam hidup aku. Tolong beri aku waktu untuk menyadarkan Nayra" pintanya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN