Sementara di Jakarta tingkah
Nayra semakin menjadi-jadi
menunjukkan sikap protesnya
kepada sang ayah yang tidak
mengabulkan permintaannya.
Nayra anak yang cerdas ditambah
lagi anak ini suka dengan
tantangan.
Meski dijaga oleh bodyguard
Nayra tidak kalah kalo sudah
urusan kucing-kucingannya sedari
kecil Nayra memang paling suka
permainan itu. Apalagi ini
dirumahnya, tentu Nayra begitu
gampang keluar masuk meskipun
di jaga ketat. Kecuali jika
penjaganya si Bram dan Uncle
tampannya Leon yang lumayan
susah di kibuli.
Sebuah mobil sudah menunggu
Nayra di luar rumah. Tepatnya
dibelakang rumah. Sedangkan di
depan rumah mereka di sibukkan
oleh Zara yang memang tujuannya
membantu nayra keluar dari rumah.
Ini salah satu yang Nayra sukai
dari sosok Zara yang selalu siap
membantunya kapanpun dia
butuhkan.
Ponsel Zara berbunyi setelah
Nayra berhasil kabur dari
rumahnya lewat pintu belakang.
Meskipun di kunci Nayra yang
pintar sudah melipat ngandakan
kunci makanya setiap malam dia
bebas pergi ke Club malam
bersama temannya yang lain.
Zara langsung meninggalkan
rumah itu, masuk kedalam
mobilnya. Bibirnya mengulas
serigaian licik.
"Kamu anak bodoh Nayra sama
seperti ibumu yang gampang sekali
diperalat."
Zara mengambil ponselnya
menghubungi seseorang. "Buat
anak itu terus kecanduan."
"Niko, seandainya kamu tidak
menolakku semuanya tidak akan
seperti ini. Aku begitu
menginginkan dirimu dan juga
uangmu."
Zara terus mengemudikan
mobilnya kembali ke
apartemennya. Karena seseorang
teman kencannya sudah
menunggunya. Zara terpaksa
keluar untuk membantu Nayra.
Nayra tidak asing lagi dengan
dunia malam dan Alkohol.
Kebiasaan buruknya kambuh lagi
setelah merasa di khianati oleh
temannya sendiri.
"Nay, bukankah lebih enak
temenan sama kita-kita daripada
anak sok alim itu. Ehh taunya
maen sama ayah Lo," seru Monic
salah satu teman sekolahnya dan
Lia juga.
"Jangan ngomongin p*lacur itu
lagi bikin pingin muntah gue,"
sahut Nayra sambil meneguk
minuman beralkohol itu.
"Ehhh .. gue punya barang baru nie
gimana klo kita coba tapi gak
cukup kalo banyak orang,"
ujar Laura teman dari Monic.
"Nay, elo gak pingin coba yang
baru?" bujuk Monic yang tau kalo
Nayra banyak uang dan juga suka
dengan barang haram seperti itu
dan ini kesempatan bagi Monic.
"Pesan lagi, nanti gue yang bayar
semua," sahut Nayra sombong
sambil meneguk cairan kuning
ditangannya lagi.
Dentuman musik malam semakin
keras terdengar membuat
pengunjung semakin bersemangat
menggoyangnya tubuhnya mencari
kebahagiaan ditempat itu, begitu
juga dengan Nayra yang terus
berjoget mengikuti alunan musik.
"Nay, barangnya sudah datang,"
bisik Monic.
Nayra mengikuti Monic bertemu
dengan seseorang lalu memberikan
uang kepada laki-laki itu.
Nayra dan empat temannya yang
lain menyewa sebuah room untuk
menikmati barang yang Nayra beli.
Barang yang membuatnya
melayang namun akan merusak
masa depannya tanpa dia sadari
akan menghancurkan masa
depannya.
***
Lia terbangun dari tidurnya
karena suaminya terus
mengganggu tidurnya, rasa geli
karena bulu tipis pada rahang
suaminya terasa di perutnya. Niko
sedang menyapa anaknya.
"ko...."
"Mommy sudah bangun. aku
mau buatin s**u dulu," ucap Niko
di perut istrinya
"Morning sayang," sapa Niko lalu
mengecup bibir istrinya.
Lia menyunggikan senyuman
bahagianya.
"Maaf , Lia telat bangun."
"Kenapa mesti minta maaf, kamu
bebas bangun jam berapa saja
sayang, ini rumahmu kamu
Nyonya rumah disini," ucap Niko
lembut.
"Mana ada aturan seperti itu. Yang
ada seorang istri itu harus siapin
sarapan untuk suaminya."
"Tapi aturan itu tidak berlaku di
rumah ini. aku hanya ingin istri
dan anak aku bahagia gak usah
ngurus yang lain," ucap Niko
sambil mengacak rambut istrinya.
"ko kamu mau kemana?" tanya Lia
melihat Niko mau turun dari
ranjang.
"Kenapa? Gak rela jauh dari
aku," goda Niko sambil terkekeh
"Ihhh Lia serius nie."
Dengan mengerucutkan bibirnya.
"Kalo kamu seperti ini aku
malah gemes deh," Niko tak
henti-hentinya menggoda istri
kecilnya.
"Males banget deh," ucap Lia
kesal.
Niko terkekeh-kekeh. Biasanya pagi
harinya begitu membosankan tapi
tidak mulai hari ini karena istri
kecilnya akan memberikan warna
baru.
"aku mau ambilin kamu s**u,"
ucap Niko sembari memakai
kimononya.
" gak usah nanti Lia bikin
sendiri," cegah Lia berusaha
duduk.
Niko dengan cepat membantu
istrinya yang sedikit kesusahan.
Niko berfikir selama ini, pasti
istrinya kesulitan biasanya wanita
hamil akan selalu didampingi oleh
seorang suami tapi Lia menjalani
kehidupan sendiri selama ini.
Apalagi Niko mendengar jika
istrinya juga bekerja sampai
malam hari untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya sehari-hari
dengan sang adik.
"Tetap duduk di ranjang!
jangan membantah," perintah Niko
lembut namun tegas
Niko keluar dari kamar mereka
terlihat Bram sudah rapi, begitu
juga dengan Deon . Niko meminta
Bram mencarikan guru privat
untuk Deon agar anak itu tidak
putus sekolah karena kondisinya
yang belum sembuh total.
Deon tersenyum kepada kakak
iparnya. Niko mengacak rambut
Deon. Anak yang begitu manis.
"Belajar yang rajin ya. Jangan buat
kakakmu kecewa," pesan Niko.
Deon mengangguk. Deon sama
seperti Lia yang begitu semangat
kalo urusan belajar.
"Kalian sudah sarapan?"
"Sudah," sahut mereka berdua.
"Bram hari ini aku tidak ingin
diganggu dengan masalah apapun.
Aku ingin mengajak istriku
jalan-jalan, siapkan mobil," titah
Niko sebelum meninggalkan
mereka menuju kedapur.
Nenek Yani terlihat sedang sibuk
dengan pekerja yang lain disaat
Niko masuk kedapur.
"Tuan kenapa gak panggil Mbok
sampai repot kedapur," mbok Yani
begitu terkejut melihat Niko begitu
juga dengan pekerja yang lain.
Selama ini yang mereka dengar
kalo Niko itu laki-laki yang hanya
main perintah saja.
"Saya a mau siapkan sendiri susu
buat istri saya," ujar Niko langsung
mengambil gelas menakar susu
sesuai dengan petunjuk di kotak
susu.
Siapa wanita yang tidak meleleh
melihat sikap Niko yang begitu
perhatian dengan istrinya. Nenek
Yani, begitu bahagia melihat Niko
begitu perhatian dengan istrinya.
Meskipun Nenek Yani tau
kehidupan mereka kedepannya
tidak akan mudah. Halangan
terbesar pernikahan Mereka
adalah putri dan Ibunda Niko
sendiri.
Niko kembali kekamarnya dengan
segelas s**u ditangannya untuk
istrinya. Lia sudah tidak ada
ditempat tidurnya.
Suara gemericik air terdengar dari
kamar mandi. Niko yakin istrinya
sedang melakukan ritual mandi.
Niko meletakkan gelas s**u diatas
nakas. Dia langsung melangkahkan
kakinya masuk kedalam kamar
mandi. Terlihat sang istri sedang
berada dibawah guyuran air
shower.
Niko tersenyum lalu melepaskan
kimononya ikut bergabung dengan
istri kecilnya.
Lia begitu terkejut sepasang
tangan kekar memeluk tubuhnya
dari belakang.
"Kenapa gak tunggu aku dulu
biar kita bisa bareng mandinya,"
bisik Niko ditelinga istrinya sambil
menggigit kecil telinga istrinya.
"malau ah. Biarin Lia
mandi dulu kita giliran," Lia
begitu malu padahal sebenarnya
mereka biasa melakukan ini
bahkan mereka melakukan lebih
dari sekedar mandi di apartemen.
"Apalagi yang bikin kamu malu
mandi bersama suamimu, bahkan
setiap jengkal tubuhmu sudah
aku liat dan nikmat," ucap
Niko. Niko begitu heran dengan
istri kecilnya.
"Sampai perutmu kayak gini
karena ulah aku masih juga
kamu malu," kekeh Niko.
Niko mengambil sabun cair
membantu istrinya yang terlihat
kesusahan memberikan bagian
bawah tubuhnya karena terhadap
perutnya.
"Jangan ."
Niko tak menghiraukan istrinya dia
mengolesi sabun diperut istrinya
sampai kebawah perut, Lia begitu
risih tapi si niko justru menyukai
pekerjaannya .Setelah selesai mandi Niko
membantu istrinya mengerikan
rambut panjang istrinya dengan
hair dryer. Lia begitu bahagia
walaupun masih ada yang
mengganjal di hatinya.
Ponsel Niko terus berdering,
namun Niko tidak
mempedulikannya. Dia tidak ingin
hari ini di ganggu oleh siapapun.
Dia ingin menghabiskan waktunya
dengan sang istri, apalagi dia
sudah begitu banyak kehilangan
waktu kebersamaan mereka.
"angkat saja siapa tau
penting."
"Tidak ada yang lebih penting
selain kamu sayang," sahut Niko
masih betah mengeringkan rambut
istrinya