Tersesat

1175 Kata
Sementara di Jakarta tingkah Nayra semakin menjadi-jadi menunjukkan sikap protesnya kepada sang ayah yang tidak mengabulkan permintaannya. Nayra anak yang cerdas ditambah lagi anak ini suka dengan tantangan. Meski dijaga oleh bodyguard Nayra tidak kalah kalo sudah urusan kucing-kucingannya sedari kecil Nayra memang paling suka permainan itu. Apalagi ini dirumahnya, tentu Nayra begitu gampang keluar masuk meskipun di jaga ketat. Kecuali jika penjaganya si Bram dan Uncle tampannya Leon yang lumayan susah di kibuli. Sebuah mobil sudah menunggu Nayra di luar rumah. Tepatnya dibelakang rumah. Sedangkan di depan rumah mereka di sibukkan oleh Zara yang memang tujuannya membantu nayra keluar dari rumah. Ini salah satu yang Nayra sukai dari sosok Zara yang selalu siap membantunya kapanpun dia butuhkan. Ponsel Zara berbunyi setelah Nayra berhasil kabur dari rumahnya lewat pintu belakang. Meskipun di kunci Nayra yang pintar sudah melipat ngandakan kunci makanya setiap malam dia bebas pergi ke Club malam bersama temannya yang lain. Zara langsung meninggalkan rumah itu, masuk kedalam mobilnya. Bibirnya mengulas serigaian licik. "Kamu anak bodoh Nayra sama seperti ibumu yang gampang sekali diperalat." Zara mengambil ponselnya menghubungi seseorang. "Buat anak itu terus kecanduan." "Niko, seandainya kamu tidak menolakku semuanya tidak akan seperti ini. Aku begitu menginginkan dirimu dan juga uangmu." Zara terus mengemudikan mobilnya kembali ke apartemennya. Karena seseorang teman kencannya sudah menunggunya. Zara terpaksa keluar untuk membantu Nayra. Nayra tidak asing lagi dengan dunia malam dan Alkohol. Kebiasaan buruknya kambuh lagi setelah merasa di khianati oleh temannya sendiri. "Nay, bukankah lebih enak temenan sama kita-kita daripada anak sok alim itu. Ehh taunya maen sama ayah Lo," seru Monic salah satu teman sekolahnya dan Lia juga. "Jangan ngomongin p*lacur itu lagi bikin pingin muntah gue," sahut Nayra sambil meneguk minuman beralkohol itu. "Ehhh .. gue punya barang baru nie gimana klo kita coba tapi gak cukup kalo banyak orang," ujar Laura teman dari Monic. "Nay, elo gak pingin coba yang baru?" bujuk Monic yang tau kalo Nayra banyak uang dan juga suka dengan barang haram seperti itu dan ini kesempatan bagi Monic. "Pesan lagi, nanti gue yang bayar semua," sahut Nayra sombong sambil meneguk cairan kuning ditangannya lagi. Dentuman musik malam semakin keras terdengar membuat pengunjung semakin bersemangat menggoyangnya tubuhnya mencari kebahagiaan ditempat itu, begitu juga dengan Nayra yang terus berjoget mengikuti alunan musik. "Nay, barangnya sudah datang," bisik Monic. Nayra mengikuti Monic bertemu dengan seseorang lalu memberikan uang kepada laki-laki itu. Nayra dan empat temannya yang lain menyewa sebuah room untuk menikmati barang yang Nayra beli. Barang yang membuatnya melayang namun akan merusak masa depannya tanpa dia sadari akan menghancurkan masa depannya. *** Lia terbangun dari tidurnya karena suaminya terus mengganggu tidurnya, rasa geli karena bulu tipis pada rahang suaminya terasa di perutnya. Niko sedang menyapa anaknya. "ko...." "Mommy sudah bangun. aku mau buatin s**u dulu," ucap Niko di perut istrinya "Morning sayang," sapa Niko lalu mengecup bibir istrinya. Lia menyunggikan senyuman bahagianya. "Maaf , Lia telat bangun." "Kenapa mesti minta maaf, kamu bebas bangun jam berapa saja sayang, ini rumahmu kamu Nyonya rumah disini," ucap Niko lembut. "Mana ada aturan seperti itu. Yang ada seorang istri itu harus siapin sarapan untuk suaminya." "Tapi aturan itu tidak berlaku di rumah ini. aku hanya ingin istri dan anak aku bahagia gak usah ngurus yang lain," ucap Niko sambil mengacak rambut istrinya. "ko kamu mau kemana?" tanya Lia melihat Niko mau turun dari ranjang. "Kenapa? Gak rela jauh dari aku," goda Niko sambil terkekeh "Ihhh Lia serius nie." Dengan mengerucutkan bibirnya. "Kalo kamu seperti ini aku malah gemes deh," Niko tak henti-hentinya menggoda istri kecilnya. "Males banget deh," ucap Lia kesal. Niko terkekeh-kekeh. Biasanya pagi harinya begitu membosankan tapi tidak mulai hari ini karena istri kecilnya akan memberikan warna baru. "aku mau ambilin kamu s**u," ucap Niko sembari memakai kimononya. " gak usah nanti Lia bikin sendiri," cegah Lia berusaha duduk. Niko dengan cepat membantu istrinya yang sedikit kesusahan. Niko berfikir selama ini, pasti istrinya kesulitan biasanya wanita hamil akan selalu didampingi oleh seorang suami tapi Lia menjalani kehidupan sendiri selama ini. Apalagi Niko mendengar jika istrinya juga bekerja sampai malam hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dengan sang adik. "Tetap duduk di ranjang! jangan membantah," perintah Niko lembut namun tegas Niko keluar dari kamar mereka terlihat Bram sudah rapi, begitu juga dengan Deon . Niko meminta Bram mencarikan guru privat untuk Deon agar anak itu tidak putus sekolah karena kondisinya yang belum sembuh total. Deon tersenyum kepada kakak iparnya. Niko mengacak rambut Deon. Anak yang begitu manis. "Belajar yang rajin ya. Jangan buat kakakmu kecewa," pesan Niko. Deon mengangguk. Deon sama seperti Lia yang begitu semangat kalo urusan belajar. "Kalian sudah sarapan?" "Sudah," sahut mereka berdua. "Bram hari ini aku tidak ingin diganggu dengan masalah apapun. Aku ingin mengajak istriku jalan-jalan, siapkan mobil," titah Niko sebelum meninggalkan mereka menuju kedapur. Nenek Yani terlihat sedang sibuk dengan pekerja yang lain disaat Niko masuk kedapur. "Tuan kenapa gak panggil Mbok sampai repot kedapur," mbok Yani begitu terkejut melihat Niko begitu juga dengan pekerja yang lain. Selama ini yang mereka dengar kalo Niko itu laki-laki yang hanya main perintah saja. "Saya a mau siapkan sendiri susu buat istri saya," ujar Niko langsung mengambil gelas menakar susu sesuai dengan petunjuk di kotak susu. Siapa wanita yang tidak meleleh melihat sikap Niko yang begitu perhatian dengan istrinya. Nenek Yani, begitu bahagia melihat Niko begitu perhatian dengan istrinya. Meskipun Nenek Yani tau kehidupan mereka kedepannya tidak akan mudah. Halangan terbesar pernikahan Mereka adalah putri dan Ibunda Niko sendiri. Niko kembali kekamarnya dengan segelas s**u ditangannya untuk istrinya. Lia sudah tidak ada ditempat tidurnya. Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi. Niko yakin istrinya sedang melakukan ritual mandi. Niko meletakkan gelas s**u diatas nakas. Dia langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi. Terlihat sang istri sedang berada dibawah guyuran air shower. Niko tersenyum lalu melepaskan kimononya ikut bergabung dengan istri kecilnya. Lia begitu terkejut sepasang tangan kekar memeluk tubuhnya dari belakang. "Kenapa gak tunggu aku dulu biar kita bisa bareng mandinya," bisik Niko ditelinga istrinya sambil menggigit kecil telinga istrinya. "malau ah. Biarin Lia mandi dulu kita giliran," Lia begitu malu padahal sebenarnya mereka biasa melakukan ini bahkan mereka melakukan lebih dari sekedar mandi di apartemen. "Apalagi yang bikin kamu malu mandi bersama suamimu, bahkan setiap jengkal tubuhmu sudah aku liat dan nikmat," ucap Niko. Niko begitu heran dengan istri kecilnya. "Sampai perutmu kayak gini karena ulah aku masih juga kamu malu," kekeh Niko. Niko mengambil sabun cair membantu istrinya yang terlihat kesusahan memberikan bagian bawah tubuhnya karena terhadap perutnya. "Jangan ." Niko tak menghiraukan istrinya dia mengolesi sabun diperut istrinya sampai kebawah perut, Lia begitu risih tapi si niko justru menyukai pekerjaannya .Setelah selesai mandi Niko membantu istrinya mengerikan rambut panjang istrinya dengan hair dryer. Lia begitu bahagia walaupun masih ada yang mengganjal di hatinya. Ponsel Niko terus berdering, namun Niko tidak mempedulikannya. Dia tidak ingin hari ini di ganggu oleh siapapun. Dia ingin menghabiskan waktunya dengan sang istri, apalagi dia sudah begitu banyak kehilangan waktu kebersamaan mereka. "angkat saja siapa tau penting." "Tidak ada yang lebih penting selain kamu sayang," sahut Niko masih betah mengeringkan rambut istrinya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN