Niko tidak bisa sepenuhnya
menyalahkan putrinya. Dialah
orang yang paling bersalah atas
apa yang terjadi dengan putrinya.
Dia sendiri yang membiarkan
putrinya dekat dengan Zara sedari
kecil sehingga Nayra begitu
bergantung dengan Zara sampai
sekarang ini.
Sejak perceraiannya dengan Astrid
istrinya, Niko memiliki dunianya
sendiri, membangun bisnis
ayahnya sehingga sampai berada
dititik ini. Kehidupannya hanya
bekerja dan menghibur dirinya
dengan teman wanitanya yang
hambar berganti setiap malam.
Niko memanjakan putrinya dengan
kemewahan
Zara dan ibunya yang menemani
Nayra kecil sampai kini beranjak
dewasa. Niko bisa memaklumi
kedekatan Nayra dengan Zara.
Namun anehnya Niko tidak pernah
melarang Zara masuk dalam
kehidupan putrinya meski Niko tau
wanita itu yang menyebabkan
perceraiannya dengan Astrid sang
istri.
Namun, ada alasan lain juga
kenapa Niko milih bercerai dari
pada mempertahankan pernikahan
mereka walaupun saat itu Nayra
masih sangat kecil.
Dengan berat hati Niko harus
meninggalkan istri kecilnya di Bali.
Lia ingin ikut tapi Niko
melarangnya bukan tanpa alasan.
Kondisi dan keselamatan Lia
menjadi prioritas utamanya. Zara
wanita yang bisa melakukan apa
saja demi mendapatkan
keinginannya.
"Mbok tolong jaga istri saya.
Pokoknya telpon saya klo ada
masalah disini," pesan Niko kepada
Mbak Yani.
"Tuan jangan menghawatirkan
Nyonya. Mbok akan menjaganya
dengan baik," sahut Mbok Yani.
Niko memeluk tubuh istrinya yang
sedang bersedih memikirkan
sahabatnya. Niko menakupkan
kedua tangannya diwajah istrinya.
"Sayang. Tolong jangan pikirkan
masalah Nayra aku akan
mengurusnya.'
"Nay seperti itu karena aku," Lia
tetap menyalakan dirinya sendiri.
" Kamu tidak salah sayang, aku
yang salah sudah lost control
terhadap Nayra. aku terlalu
memanjakannya sampai dia
seperti ini," ucap Niko lembut
kemudian mengecup wajah
istrinya.
"aku pergi dulu. Nanti
kabari kamu lagi," imbuh Niko .
Lia menganggukkan kepalanya.
Niko membungkuk mencium perut
istrinya.
"ayah urus kakak kalian dulu ya,
kalian jaga mommy jangan bikin
mommy lelah," Niko kembali
mencium perut istrinya.
"ko hati-hati. Jangan lupa
kabari Lia ya," pinta Lia yang
masih bersedih
Tolong tersenyum sayang kalo
kamu sedih aku jadi gak
bersemangat," pinta Niko dengan
lembut.
Lia menerbitkan senyumannya
mengiring kepergian suaminya.
Lia mengantar suaminya sampai
mobil dimana Bram sudah
menunggunya. Niko melambaikan
tangannya kepada istrinya.
"Lia ayo masuk," ajak Nenek Yuni.
Lia masuk kembali kedalam Villa.
"Jangan bersedih, suamimu pasti
bisa mengurus semua ini. Tuan
Niko laki-laki yang tangguh," ucap
Nenek Yani lagi. Lia mensugesti
dirinya jika semuanya akan
baik-baik saja
"Lia kamu makan dulu, kamu
harus ingat pesan suami kamu,
kamu harus jaga dirimu dan anak
dalam kandunganmu."
Lia menganggukkan kepalanya,
dia tidak ingin membuat suaminya
kepikiran,.dia harus bisa menjaga
dirinya dan anak mereka.
*
"Tuan, pengacara kita sudah
berada di kantor polisi saat ini
sedang mengupayakan Nona Nayra
bisa keluar dengan uang jaminan,"
lapor Bram.
Niko duduk di kursi penumpang
dengan pandangan kearah jendela.
Sedangkan Bram duduk di depan
samping pengemudi sedang sibuk
dengan IPad ditangannya.
"Bram, cari tau siapa yang
menjebak Nayra," titah Niko . Dia
yakin ada yang menjebak putrinya.
"Baik Tuan."
Bram dengan cepat mengetik
sesuatu di ponselnya lalu
mengirimkannya kepada anak
buahnya untuk diteruskan. Bram
meminta anak buahnya untuk
menyelidiki kasus Nayra sesuai
perintah Niko . Rupanya kali ini
sudah ada yang berani main-main
dengan menyentuh putri
kesayangannya.
Mereka sampai sudah sampai di
Bandara Ngurah Rai. Sebuah jet
pribadi milik Niko sudah
menunggu mereka berdua.
Sementara di kantor polisi terliat
Zara dan nenek Nayra beserta
pengacara pribadi Niko sedang
bernegosiasi dengan pihak
kepolisian.
Zara dan ibu Rianti terlihat begitu
sedih mereka menangisi Nayra
yang duduk termenung dalam trali
besi.
"Mom, wanita itu sudah
mendorong Nayra sampai jatuh
sedalam-dalamnya," ujar Zara
membuat wanita tua itu semakin
membenci Lia.
"Iya Zara kamu bener banget
wanita itu memang pembawa sial.
Nayra seperti ini karena wanita
itu," sahut ibunya Niko penuh
kebencian.
Nayra tak bergeming dia duduk
menatap kosong ruangan kecil itu.
Dia begitu santai tanpa ada rasa
takut maupun menyesal sama
sekali
Niko sampai di kantor polisi,
pengacaranya sudah
menunggunya, namun yang Niko
ingin ketahui pertama kali adalah
keadaan putrinya. Laporan Bram
beberapa menit yang lalu
membuat Niko syok. Dia baru tau
jika putrinya sudah biasa
menggunakan obat terlarang itu.
Begitu sedihnya Niko , dia sudah
gagal menjadi seorang ayah.
Selama ini dia mengira dengan
uang yang dia berikan akan
membuat anaknya bahagia. Bener
bahagia namun dia terjerat
pergaulan seperti ini.
Pertemanannya dengan Lia
sempat membuat Nayra bisa
membawa pengaruh positif
baginya namun ketika Nayra
merasa di khianati oleh temannya.
relasinya Niko bisa menjamin
putrinya kali ini. Tanpa banyak
bicara Niko duduk menunggu polisi
mengeluarkan putrinya.
Rianti dan Zara mendekati Niko .
Wanita tua itu terus
mengoceh
menyalahkan Lia dengan apa
yang menimpa Nayra. Jujur saja
bibir Bram begitu genit ingin
menjawab nenek tua itu.
"Niko , kamu harus pikirkan
putrimu dari sekarang biar tidak
salah pergaulan lagi. Kamu harus
menikahi Zara, karena Zara yang
bisa menyelamatkan putrimu dari
kehancuran, Ko berkorban lah
sedikit demi putri kamu ini," bujuk
ibunya terus. Wanita tua itu duduk
disamping Niko yang tak
menunjukkan expresi apapun.
Zara juga ikut duduk disamping
Niko , tangannya memegangi
lengan Niko sedikit membelainya.
"Aku tau kamu tidak cinta sama
aku, tapi aku tidak
mempermasalahkan itu. Aku
hanya ingin bantu kamu
menyelamatkan Nayra, putri kamu
Niko . Dia ingin kita menikah.
Kenapa itu sulit sekali untuk mu,"
ucap Zara lembut kembali
membelai lengan Niko yang tetap
tak bergeming.
Bram merasa ingin muntah
melihat wajah Zara yang seperti
Mak lampir itu. Mungkin lebih
cantik Mak lampir daripada wanita
licik itu bagi Bram.
Bram berfikir kenapa ada wanita
yang segila Zara yang begitu
menghalalkan cara untuk
mendapatkan laki-laki. Siapa juga
yang mau dengan wanita seperti
itu, pikir Bram yang terus
memperhatikan mereka dari
tempatnya berdiri.
Nayra dibawa keluar begitu juga
dengan sahabat-sahabatnya karena
ini kasus berkelompok biar kasus
ini ditutup terpaksa mereka semua
harus dikeluarkan.
Zara sudah bisa menebak gerakan
Niko akan seperti ini, dia tidak mau
namanya tercoreng jadi Zara sudah
meyakinkan teman Nayra yang lain
jika mereka tidak akan sampai di
penjara begitu lama.
Temen-temen Nayra dibawa pergi
oleh Bram atas perintah Niko ,
sedangkan Nayra ikut di mobil
ayahnya begitu juga dengan
ibunya. Zara juga ikut disana
mereka terlihat seperti keluarga
dengan Niko duduk
ditengah-tengah diantara Nayra
dan Zara sedangkan ibunya duduk
di depan.
Ibu Rianti mengambil gambar
mereka bertiga. Niko tetap
menahan dirinya emosinya
sebelum mereka sampai di
rumahnya
Sesampainya di rumah Niko
langsung turun berjalan
mendahului mereka bertiga lalu
duduk di sofa ruang tamu, expresi
Niko sulit ditebak namun yang jelas
dia terus menatap Zara.
"Sudah puas kamu Zara."
Kata pertama yang keluar dari
bibir Niko, mereka bertiga
kebingungan maksud Niko
sebenarnya.
"Niko, kamu mestinya
berterimakasih kepada Zara dari
awal Nayra ditangkap oleh polisi,
Zara yang selalu menemaninya,"
ucap ibunya.
"Mom, aku bertanya pada Zara
bukan sama mommy," suara Niko
tegas tak ingin terbantahkan.
Mata tajamnya kembali menatap
Zara, yang begitu kebingungan apa
maksud Niko sebenarnya.
"Niko , apa sih maksud kamu, aku
tidak mengerti."
"Tidak mengerti atau pura-pura
tidak mengerti. Bukannya kamu
kemarin yang bantu Nayra keluar
dari rumah ini dengan
mengalihkan perhatian
bodyguard." ucap Niko.
"Niko , Aku akui itu. Putrimu stres
dikurung di rumah kamu tidak
boleh egois seperti ini," sahut Zara
memberikan alasan yang
membenarkan sikapnya.
Nayra mendekati ayahnya lalu
memeluk tubuh kekar itu.
"ayah, aku seperti ini karena
ayah tidak sayang lagi sama aku
lagi hanya Tante Zara yang tulus
kasih aku perhatian semuanya
mengkhianati aku," Nayra menangis
sambil memeluk tubuh ayahnya.
"Nayra, kamu kira ayah tidak tau
apa yang terjadi sebenarnya.
ayah tau kamu sudah
menggunakan barang itu sejak
dulu. Dan Zara orang yang
mengajari kamu memakainya
kan."
Zara dan Nayra langsung terdiam,
kedua wanita itu berfikir
bagaimana Niko bisa tau semua ini.
Niko melepaskan pelukan tangan
putrinya pada tubuhnya lalu
berdiri mendekati Zara yang
terlihat pucat pasi.
Niko berdiri tepat dihadapan Zara
menatap wanita itu dengan tatapan
tajam.
"Zara kamu kira aku tidak tau
permainan kamu bahkan aku tau
kamu itu siapa. Kamu sudah
terlalu jauh menghancurkan
keluargaku. Aku bahkan tau
statusmu siapa Zara. Sekali kamu
bertindak lagi kamu dan Malik akan
tamat di negara ini."
Tubuh Zara langsung bergetar
mendengan Niko menyebut nama
Malik, Jadi Niko sudah mengetahui
hubungannya dengan Malik.
"Kenapa diam Zara? Apa kamu
ingin aku langsung yang turun
tangan terhadap suamimu itu."
Suara Niko begini mengerikan
walaupun laki-laki itu terlihat
santai berdiri di hadapannya
dengan masukan kedua tangannya
kesaku celananya
" Niko, kamu ngomong apa sih? Zara
itu masih single kamu jangan
memfitnahnya," sela ibunya
langsung mendekati Niko
menariknya lebih jauh dari Zara.
Niko menoleh kearah ibunya.
"Mommy bisa diem gak. Apa
Mommy kira aku tidak tau kamu
juga tau masalah ini. Bahkan Aku
tau Mommy dan Zara bekerja sama
untuk memisahkan kami dan
laki-laki pada malam itu yang
kalian perintahkan tidur di
ranjangku adalah Malik."
"Aku bicara berdasarkan bukti
bukan menuduh. Mom, justru
disini aku yang dikhianati oleh
wanita yang melahirkanku kedunia
ini." Tatapan tajam Niko tidak
hanya tertuju pada Zara tapi juga
pada ibunya yang terlihat syok.
Nayra yang tidak mengerti
pembicaraan mereka langsung
mendekati ketiga orang dewasa itu.
"ayah tolong jelasin semua ini,
Nayra tidak mengerti."
"Bukan ayah kamu yang akan
menjelaskan semuanya tapi
Mommy."
Suara wanita yang di bawa oleh
Bram begitu mengejutkan mereka
kecuali Niko . Astrid memasuki
rumah itu dengan menatap tajam
Zara sahabat namun sahabat itu
dan ibu mertuanya
menghancurkan kehidupan
pernikahannya dengan Niko .
laki-laki yang dia cintai sampai
sekarang ini. Meskipun perpisahan
terjadi sudah bertahun-tahun
lamanya namun Astrid masih tetap
mencintai mantan suaminya
apalagi perpisahan mereka karena
kesalahpahaman yang disebabkan
dua wanita iblis itu.