Bram membawa ketiga teman
Nayra namun tidak dia pulangkan.
Dia harus mengintrogasi mereka
nanti setelah tugasnya selesai.
"Kak Ini kan bukan jalan pulang,"
ucap salah satu dari mereka yang
bernama Monic teman kuliah
Nayra.
"Siapa bilang kalian akan lolos
dengan mudahnya setelah
beraninya menjebak putri dari
Tuan Niko," sahut Bram dengan
nada dingin, dia menatap tajam
ketiga wanita itu.
"Kami hanya mengikuti perintah
saja," sahut yang lain yang terlihat
ketakutan melihat expresi dingin
sang asisten muda itu.
Mereka bertiga tertunduk
dibelakang. Sopir terus melaju
kendaraan ke sebuah gudang milik
Niko, gudang yang sudah tak
terpakai lagi. Untuk sementara
Ketiga wanita itu akan dikurung
oleh Bram di sana.
"Tolong lepaskan kami," pinta
mereka sambil menangis sekaligus
ketakutan.
"Tidak segampang itu. Siapa suruh
jadi anak bandel ya begini
jadinya."
Bram mengunci mereka disebuah
ruangan yang minim penerangan,
namun Bram masih punya hati
nurani memerintahkan penjaga
mengawasi mereka berdua dan
membelikan nasi bungkus untuk
mereka bertiga.
"Awasi mereka sampai saya
kembali," titah Bram kepada
keempat penjaga itu.
"Baik Pak Bram," sahut mereka
semua.
Bram melangkahkan kakinya
keluar dari gudang yang sudah tak
terpakai itu. Dia kembali ke mobil
meminta sang sopir ke alamat yang
dia minta untuk menjemput
seseorang sesuai dengan perintah
sang majikan.
*
Nayra yang tidak mengerti
pembicaraan mereka langsung
mendekati ketiga orang dewasa itu.
"ayah tolong jelasin semua ini,
Nayra tidak mengerti."
"Bukan ayah kamu yang akan
menjelaskan semuanya tapi
Mommy."
Suara wanita yang di bawa oleh
Bram begitu mengejutkan mereka
kecuali Niko. Astrid memasuki
rumah itu dengan menatap tajam
Zara sahabatnya.
" Astrid..."
"Iya ini aku Zara. Sahabatmu yang
kamu rusak pernikahannya dan
kamu hancurkan hidup putrinya,"
ucap Astrid dengan marah.
Astrid sudah berdiri di depan Zara sahabatnya, menatap kedua
wanita itu dengan tatapan jijik.
"Mommy...."
"Iya Nayra dia Mommy kamu yang
ditahan oleh Tante Zara mu di
Canada dan dipekerjakan disebuah
club malam," sahut Niko.
PLAKKK
Sebuah tamparan dengan cepat
mendarat di pipi Zara. Pelakunya
adalah Nayra.
"Nayra kamu berani
menamparku." Zara memegangi
pipinya yang kebas.
"Nayra jangan keterlaluan kamu?"
bentak Omanya.
"Oma yang keterlaluan. Oma
penipu Sama kayak wanita ini. Oma
jahat sudah buat aku kehilangan
orang tuaku," bentak Nayra kepada
Omanya.
Niko tidak menghentikan putrinya
karena itu pantas untuk Zara
maupun ibunya. Meski tidak sopan
membentak orang tua tapi ibunya
sudah sangat keterlaluan. Niko
mengetahui kedekatan Zara karena
ayah Zara adalah mantan kekasih
ibunya dan ibunya sudah berjanji
akan menjaga Zara kepada mantan
kekasihnya yang meninggal karena
penyakit
" Mommy apa yang mereka lakukan
sama Mommy cepet Mommy
ceritakan sama Nay," pinta Nayra
tidak sabar.
"Zara dan Omamu menjebak
Mommy dengan obat perangsang
dan memasukan Malik kekamar
sampai Mommy dan Malik
melakukan itu dan ayahmu
memergokinya langsung. Pada saat
itu ayahmu marah dan terus
dihasut oleh Omamu untuk
menceraikan Mommy. Omamu
tidak pernah setuju dengan
hubungan kami karena Mommy
bukan dari keluarga Kaya bahkan
Mommy anak yatim-piatu," tutur
Astrid menceritakan semuanya
kepada putrinya.
"Bahkan setelah kami bercerai pun
dia dan Malik tidak melepaskan
Mommy karena mereka tau ayah
kamu masih mencintai Mommy
dan mereka menjual Mommy dan
memperkerjakan Mommy di Club
malam di Canada sampai
ayahmu menebus Mommy dan
membawa Mommy kembali ke
Jakarta. Zara ingin ayah kamu
jijik sama Mommy." Astrid terisak
menceritakan semuanya kepada
putrinya.
Nayra memeluk Mommynya dia
begitu menyesal telah
mempercayai Oma dan wanita
jahat itu selama ini.
"Tante Zara mulai saat ini kamu
jangan pernah lagi muncul
dihadapanku dan keluargaku. Aku
benci kamu wanita iblis," maki
Nayra masih memeluk ibunya.
"Nayra, jangan kamu pernah
menghina Zara didepan Oma," bela
Rianti yang mata hatinya sudah
tertutup.
"Kenapa Oma gak trima? Aku juga
sama membenci Oma. Ternyata
Oma sama wanita iblis."
"Nayra....!"
Rianti mengangkat tangannya
hendak menampar Nayra namun
Niko dengan cepat mencengkram
tangan ibu.
"Mommy sudah keterlaluan,"
sentak Niko .
"Mommy lebih cinta dengan putri
dari mantan kekasih Mommy
daripada putra Mommy sendiri.
Baik kalo seperti itu Mommy bisa
tinggalkan rumah ini dan hidup
dengannya. Mulai sekarang
Mommy tidak ada hubungannya
dengan aku lagi," tegas Niko.
Niko memberi perintah untuk
Bram agar mengeluarkan Zara
dengan Mommynya dari
rumahnya.
"Ini adalah rumah Mommy kamu
tidak bisa mengusir Mommy dari
rumah ini," bentak ibunya.
Niko mendekati ibunya, dia begitu
malu menyebut wanita itu dengan
sebutan ibu. Seorang ibu akan
melindungi anaknya sendiri tapi
berbeda dengan ibunya yang lebih
memilih melindungi anak dari
mantan kekasihnya.
"Mommy sudah lupa jika rumah
ini sudah dilelang dan perusahaan
ayah sudah hancur. Aku yang
membeli lagi rumah ini dan
membangun usaha ayah yang
bangkrut karena ulah Mommy
sendiri," tegas Niko.
"Tapi aku ini Mommy kamu Ko
sampai kapanpun tidak akan
merubah fakta itu," Rianti menarik
tangannya dari Bram yang hendak
menariknya keluar.
"Fakta itu tidak akan pernah
berubah sampai kapanpun akan
tetapi Mommy sudah memilih
Zara dan menghancurkan
keluargaku. Jujur aku malu
menyebutmu dengan sebutan
Mommy lagi."
Niko mengalihkan pandangannya
dari ibunya, dia melihat putri dan
mantan istrinya sedang
berpelukan.
Bram melanjutkan tugasnya
meminta beberapa anak buahnya
mengeluarkan Zara dan ibunya
keluar dari rumah. Tidak ada anak
yang tidak sedih namun Ibunya
sudah tidak bisa lagi diperbaiki
sudah bertahun-tahun
kelakuannya tidak pernah berubah
jadi Niko memutuskan melepas
ibunya dengan orang yang menjadi
pilihannya.
Niko memberi kesempatan ibu dan
anak melepaskan kangen dia
menaiki tangga meninggalkan
mereka berdua di ruang tamu
menuju kekamarnya.
Niko begitu merindukan istri
kecilnya, padahal dia sudah
berencana mengajak istrinya
berkeliling sambil menikmati
indahnya pulau Bali.
Niko memutuskan untuk mandi
sebentar setelah itu dia akan
menghubungi istri kecilnya yang
begitu dia rindukan.
Ponsel Lia berdering dia melihat
suaminya melakukan panggilan
Video call. Lia yang sedang duduk
di teras sedari tadi sudah
menunggu kabar dari suaminya.
Lia menggeser tombol hijau
menampakkan suaminya
berbaring diatas ranjang dengan
hanya memakai celana selutut
tanpa memakai atasan.
"Daddy gimana dengan Nayra?"
Itu pertanyaan yang muncul
pertama kali dari bibir Lia. Niko
mengerutkan keningnya istri
kecilnya tidak terpesona dengan
tubuhnya padahal dia sengaja
tidak memakai atasannya.
"Kenapa tidak nanyain aku
dulu?" protes Niko
"kamu kan udah Lia liat baik-baik
saja jadi Lia gak tanya lagi,"
sahutnya polos.
"ko jawab Lia gimana dengan
Nayra," ucap Lia dengan wajah
memohon.
"Kasih aku ciuman dulu baru
dijawab," pinta Niko dengan
senyuman menggodanya.
" Lia serius nie."
"No...cium dulu baru
jawab," paksa Niko
Cup
Lia mengecup layar ponselnya
seakan itu suaminya. Niko
tersenyum penuh kemenangan
mendapatkan apa yang dia
inginkan.
Niko memberitahukan Nayra
sudah ada dirumah namun Niko
tidak menceritakan tentang Astrid
nanti pas ketemu dia akan
menceritakan semuanya. Niko
begitu merindukan istrinya dia
ingin secepatnya ada di Bali.
"Sayang, aku kangen banget
sama kamu. Tunggu ya
secepatnya aku ke Bali."
"Iya ..."
"Love You baby." Niko mengecup
layar ponselnya. Niko seperti
sedang kasmaran.
Mereka berdua berdua mengakhiri
panggilan telpon karena pintu
kamar Niko ada yang mengetuk
dari luar.
Niko turun dari ranjang langsung
menuju kearah pintu melihat siapa
yang mengetuk pintu kamarnya.
"Mas Niko boleh aku masuk Mas
ada yang ingin aku bicarakan sama
kamu," ucap Astrid dengan lembut.
Astrid masih terlihat sangat cantik
sama seperti dulu.
Kamu mau bicara apa katakan
disini saja. Tidak etis kita bicara
dikamar apalagi kita sudah
berpisah," sahut Niko tidak
mengijinkan Astrid masuk
kedalam kamarnya.
Astrid mengerti maksud mantan
suaminya itu. Bibirnya
menyunggingkan senyuman.
"Mas barusan Nayra minta aku
nginep, jadi aku mau minta ijin
sama kamu dulu."
"Aku pikir Nayra butuh kamu. Aku
harap kamu bisa membantu Nayra
ke jalan yang benar. Maaf aku
sudah gagal menjadi seorang
ayah," ucap Niko begitu sedih.
Astrid meraih kedua tangan
mantan suaminya, dia bisa
merasakan kesedihan suaminya.
" Mas kita berdua yang salah, mulai
sekarang kita bisa bekerjasama
untuk mendidik Nayra semua
belum terlambat. Aku masih
mencintai kamu Mas."ucap Astrid
jujur.
Niko menarik tangannya.
"Astrid sekarang ini sudah ada
wanita lain dalam hatiku bahkan
cintaku sangat besar untuknya,
aku mencintainya melebihi
hidupku sendiri. Jadi jangan
membicarakan masa lalu lagi,"
tegas Niko.
Astrid sudah siap untuk
kemungkinan ini. Dia
menganggukan tanda dia
mengerti. Astrid juga tidak berani
terlalu berharap apalagi dirinya
wanita yang kotor.
" Kita bisa merawat Nayra
bersama-sama tanpa harus terlibat
hubungan." tegas Niko.
"Iya Mas aku mengerti.
Terimakasih sudah mengijinkan
aku menginap disini."
Niko memutuskan untuk tidak
membahas masalah Nayra, dia
berikan tugas ini ke Astrid.
Mereka makan malam bersama,
Niko meminta pelayan menyiapkan
makan malam lebih awal karena
Niko memutuskan untuk balik ke
Bali malam ini.
"ayah mau kemana
malam-malam bisa gak ayah
temenin aku sama Mommy di
rumah," pinta Nayra.