Niko sampai di Bali pukul sepuluh
malam tanpa Bram ikut
bersamanya. Niko menugaskan
Bram mengurus perusahaannya
selama dia berada di Bali.
Mbok Yani begitu terkejut melihat
kedatangan majikannya tanpa ada
pemberitahuan terlebih dahulu.
Apalagi saat ini Lia tidak ada di
Villa tepatnya Lia membantu
Leon di tempat prakteknya karena
belum ada pegawai baru yang
menggantikan posisi Lia.
Tadi Leon meminta tolong kepada
Lia karena asistennya ada
keperluan mendadak. Lia tidak
enak untuk menolaknya apalagi
selama ini Leon begitu baik dan
sudah banyak membantu dirinya
selama tinggal di Bali.
"Lia sudah tidur mbok?" tanya
Niko.
"A_anu Tuan. Tadi non Lia pergi
membantu dokter Leon di tempat
prakteknya karena dokter Leon
belum menemukan pegawai
pengganti Lia kebetulan asisten
dokter Leon juga ada keperluan
mendadak," jelas Mbok Yani.
Niko mengerutkan keningnya dia
tidak menyukai istrinya dekat
dengan sepupunya. Tepatnya Niko
cemburu karena dia jelas tahu jika
istrinya hampir menjadi istri
sepupunya.
"Nyonya tidak mengatakan sama
Tuan karena Tuan lagi ada
masalah di Jakarta makanya
Nyonya menunggu Tuan pulang
untuk menjelaskannya." Niko
mengangguk tanda Dia mengerti
penjelasan Mbok Yani.
"Apa sopir tahu di mana alamat
Leon praktek?" tanya Niko
"Tahu tuan," sahut Mbok Yani.
Niko langsung memerintahkan
sopir mengantarkannya ke tempat
praktek Leon menjemput istrinya.
Niko begitu merindukan istrinya
Dan Dia tidak ingin jika istrinya
terlalu dekat dengan Leon.
Sekitar 30 menit mereka sampai di
tempat praktek Leon. Niko turun
dari mobilnya menaiki tangga
menuju tempat praktek Leon.
Terlihat istri kecilnya sedang sibuk
di meja mengatur pasien. Niko
menyunggikan senyuman di
bibirnya melihat istrinya yang
begitu cantik, Lia terlihat serius
dengan pekerjaannya. Niko
memilih tidak mengganggu
istrinya dan duduk diantara pasien
yang lain. Kebetulan masih tinggal
beberapa pasien saja.
"Pak, jangan diliatin terus wanita
cantik itu istri dokter Leon," seru
salah satu pasien yang sedari tadi
melihat Niko terus
memperhatikan Lia dari tempat
duduknya.
"Kok ibu tahu itu istrinya dokter
Leon?"
"Ya tahulah, saya kan pasien
dokter Leon. Siapa lagi kalau
bukan istrinya orangnya datang
dan pulangnya terus barengan,"
sahut pasien wanita itu.
Niko menarik nafas dalam-dalam,
sorot matanya masih tertuju pada
Lia yang sedang memanggil
pasien yang mendapat giliran
masuk. Wanita yang duduk
disampingnya memandang Niko
dengan aneh. Akhirnya pasien
wanita itu mendapatkan gilirannya
lalu meninggalkan Niko mendekati
Lia.
"Mbak hati-hati ada Om-om dari
tadi perhatikan Mbak." Pasien
wanita itu memperingati Lia lalu
Lia menoleh ke tempat yang pasti
wanita itu tunjukan.
"niko....," seru Lia dengan lirih
dia begitu terkejut.
"Jadi dia ayahnya Mbak Lia ya,"
pasien wanita itu menjadi tidak
enak hati.
"Bukan Bu. Dia suami saya," jawab
Lia jujur.
Pasien wanita itu memegangi
jantungnya bersyukur dia tidak
terkena serangan jantung
mendengar pengakuan Lia. Malu
sekali rasanya pasien itu dengan
cepat masuk kedalam ruangan
periksa.
Niko beranjak dari tempat
duduknya setelah melihat istrinya
melihatnya.
"Jam berapa pulang?" tanya Niko
yang sudah duduk dikursi
didepannya.
"Habis pasien tadi .kamu
sudah lama kok gak samperin Lia
malah ngumpet dibelakang?"
"Habis kamu sibuk banget sih jadi
gak mau ganggu kamu lagi
kerja," sahutnya sembari
tersenyum lembut kepada istrinya.
"Lia sudah habis pasiennya. Nanti
saya tunggu kamu sama Leon di
ruangan saya ya. Jangan pake
lama." Suara dokter Santi
menginterupsi mereka berdua.
"Siapa dia?" tanya Niko langsung.
"Dan apa maksudnya di nungguin
kamu di ruangannya bersama
Leon?" tanya Niko dengan wajah
serius.
Lia dengan polosnya menjawab.
" itu dokter Santi dia dokter
kandungan yang praktek disini.
Dia sahabat dokter Leon. Selama
ini dokter Leon yang antar Lia
periksa dan bayarin semuanya,"
jelasnya.
Hati Niko seakan tertusuk ribuan
jarum. Dia begitu menyesali
karena begitu terlambat
menemukan Lia sampai Lia dan
darah dagingnya kontrol harus
ditemani oleh laki-laki lain
walaupun laki-laki itu adalah
sepupunya.
"Sekarang kamu tidak perlu Leon
lagi untuk mengantarkanmu
periksa. Itu tugasnya aku," ucap
Niko.
Setelah semua pasien habis Lia
merapikan meja kerjanya Leon
sudah tahu jika sepupunya ada di
tempat prakteknya karena pasien
tadi menceritakan apa yang terjadi
di depan.
"Maaf mas Niko sudah buat mas
menunggu lama," ucap Leon tidak
enak hati.
Secepatnya kamu cari pegawai
baru jangan istriku lagi dia harus
banyak istirahat apalagi dalam
waktu dekat ini dia akan
melahirkan,” tegas Niko
membuat Liaa tidak enak
mendengarnya.
"kok ngomongnya gitu sih,"
tegur Lia lembut.
"Mas Niko pasti mengkhawatirkan
kamu Lia makanya dia seperti itu,"
sela Leon.
"Sudah sekarang tunjukin aku di
mana ruangan temanmu, Mas mau
antar Lia periksa kandungan."
"cukup sama Lia aja
biarkan Pak Dokter pulang ke
rumah."
"Sini Mas aku tunjukin," potong
Leon. Dia sudah mengenal
sepupunya dia paham sepupunya
ini lagi kesal karena Leon meminta
istrinya bekerja, istri seorang Niko
yang harusnya jadi ratu tapi
bagaimana lagi. Leon belum dapat
penggantinya dan asistennya lagi
ada keperluan mendadak.
Dokter Santi begitu terkejut
melihat sosok yang bersama Leon.
Tentu saja kalangan kelas atas
mengenal sosok Niko yang juga di
kenal sebagai sang Casanova.
"San, kenalin ini Mas Niko
sepupuku dan suami Lia," ucap
Leon.
Dokter Santi langsung terperanjat,
dia seakan tidak percaya dengan
pendengarannya.
"Suami dari Lia," ulang dokter
Santi lagi.
"Iya, saya suami Lia ada
masalah," suara Niko tegas.
"Ohh.. tidak pak," sahut dokter
Santi dengan cepat. Dia tidak ingin
kehilangan klien berduit seperti
Niko
"Silahkan duduk Pak." Dokter
Santi mempersilahkan Niko dengan
sopan.
"Mas, aku tunggu kamu sama Lia
diluar ya," ucap Leon sebelum
menutup pintu ruangan.
Lia merasa tidak nyaman dengan
situasi ini dia dibuat begitu
canggung.
"Saya ingin tau semua
perkembangan janin diperut istri
saya," ucap Niko tegas ciri khas
seorang pemimpin.
"Baik pak," sahut Dokter Santi.
Dokter Santi meminta Lia
berbaring untuk diperiksa. Lia
terlihat begitu kesulitan naik
keatas bankar. Niko mendekati
istrinya langsung menggendong
tubuh istrinya meletakan diatas
bankar, spontan apa yang Niko
lakukan membuat Lia begitu
malu, wajahnya seketika memerah
dan Niko menyadari itu.
Dokter Santi dan asistennya
merasa iri melihat perlakuan
manis yang Niko tunjukkan. Kedua
wanita yang berstatus single itu
berharap menemukan pasangan
seperti sosok seperti Niko.
Niko menatap layar monitor,
walaupun dia tidak mengerti dunia
kedokteran, namun dia merasa
sangat bahagia. Dokter Santi
menjelaskan kepada Niko dengan
begitu detail. Niko begitu puas
dengan penjelasan dari dokter.
Seorang perawat membantu
membersihkan gel pada perut Lia.
Sedangkan Niko membantu
istrinya duduk. Niko tersenyum
kepada istrinya.
"Makasih sudah menjaga mereka
dengan baik selama ini, aku
sangat mencintai kalian," ucapnya
begitu lembut tentu saja didengar
oleh perawat dan dokter Santi.
Jujur mereka berdua begitu
penasaran dengan kisah percintaan
mereka. Semua orang bisa melihat
perbedaan umur mereka yang
lebih tepatnya Lia lebih cocok
menjadi anaknya.
" jangan lebay deh malu
tau," sahut Lia dengan nada lirih.
Niko terkekeh-kekeh melihat
istrinya yang pemalu ini.
Lia kini sudah duduk di hadapan
dokter Santi dengan Niko duduk
disampingnya.
"Lia, kamu harus rajin kontrol
mungkin seminggu sekali,
persalinanmu juga semakin dekat
jadi kita harus pantau terus," ucap
dokter Santi sembari menuliskan
resep.
"Apa perlu istri saya kontrol setiap
hari."
Dokter Santi menahan tawanya
mendengarkan kalimat Niko
barusan. Sedangkan Lia begitu
malu dengan suaminya ini.
Padahal sebenarnya suaminya ini
sudah pernah mengurusi wanita
hamil itulah pemikiran Lia.
Namun ada yang Lia tidak
ketahui.
Mereka keluar dari ruangan dokter
Santi. Leon masih betah
menunggu mereka berdua.
"Nanti pembayaran selama Lia
periksa kirim semuanya pada
Bram. Mas gak mau istri sama
anak Mas dianggap pasien
gratisan," ucap Niko, hari ini Lia
merasa suaminya begitu
menyebalkan. Malu sekali liat
suaminya yang begitu sombong.
"Tenang Mas, nanti aku minta
bagian administrasi menaikan
semua tagihannya sebagai bunga,"
sahut Leon sambil tertawa.
Sekalian Mas bayar seharga lima
kali lipat harga tempat praktek mu
ini," sahut Niko sombong.
Leon percaya dong, sepupunya ini
begitu kaya raya sanggup membeli
apapun yang dia mau.
Niko tidak mau meladeni
sepupunya, mendingan dia cepat
pulang ingin bermesraan dengan
istri kecilnya.
Mereka masuk kedalam mobil
setelah berpamitan dengan Leon.
Sang sopir melajukan kendaraan
mewah milik sang majikan
meninggalkan tempat praktek
Leon.
"Leon, apa aku tidak salah liat tadi
itu beneran suami Lia," seru
dokter Santi yang masih begitu
penasaran.
" Apa perlu aku mintakan buku
nikah mereka," sahut Leon. Santi
melihat ada kesedihan di mata
Leon. Santi tau selama ini Leon
jatuh cinta kepada Lia.
"Sabar ya... Nanti kamu pasti dapat
pengganti yang lebih baik," ucap
Dokter Santi sembari menepuk
lengan Leon.
**
"kamu kok pulang sih mestinya jagain Nayra dulu," ucap
Lia. Kini mereka sudah ada di
villa dan di kamar mereka.
"Apa kamu tidak senang aku
pulang ke Bali atau kamu lebih
suka bersama Leon dari pada
laki-laki tua ini," sahut Niko kesal.
Lia yang baru saja selesai mandi.
Mendekati suaminya yang duduk
diranjang bersandar pada
headboard. Lia naik keatas
ranjang.
" kok ngomongnya kayak
gitu sih. Tentu saja Lia seneng
kamu pulang. Tapi Nayra juga
butuh ayahnya. Kita gak bole egois.
Aku sedih jika Nayra terus
kecanduan kamu harus
mendampinginya, jangan sampai
Nayra berfikir ayahnya
mengabaikannya," ucap Lia
dengan lembut.
Niko bisa melihat rasa sayang yang
tulus di mata Lia untuk Nayra.
Niko membentangkan kedua
tangannya seolah meminta Lia
masuk kedalam pelukannya. Lia
membenamkan kepalanya di dada
bidang suaminya.
Nayra sekarang sudah didampingi
oleh seorang paling pantas. aku
sudah membawa Astrid pulang dan
sekarang dia lagi di rumah nemeni
Nayra," jelas Niko sembari
membelai lembut rambut panjang
Lia.
"Astrid itu siapa ?" tanya
Lia.
Niko agak ragu mengatakannya
namun dia memilih jujur kepada
istri kecilnya.
"Astrid itu ibu kandung Nayra,"
jawab Niko sembari
memperhatikan expresi wajah istri
kecilnya.