Sudah seminggu Niko tidak pulang
kerumahnya, namun dia tetap
menghubungi Astrid menanyakan
perkembangan Nayra. Niko tidak
bisa pulang mengingat kondisi
kandungan Lia sudah mau
menginjak delapan bulan. Lia
sangat membutuhkan perhatian
apalagi ini pengalamannya dan
didalam perutnya ada janin
kembar.
Nayra semakin membenci ayahnya
karena dia anggap tidak
mempedulikan dirinya bahkan
Nayra tidak mengetahui ayahnya
pergi kemana. Nayra juga
menganggap jika ayahnya tidak
menghargai ibunya karena sang
ayah tidak pernah pulang
kerumah.
"Nay, mau kemana kamu?" tanya
Astrid yang barusan ingin
membangun Nayra karena sarapan
sudah tersaji di meja makan.
"Mau cari ayah kekantor Mom,"
sahut Nayra.
"Nayra, sini sarapan dulu."
Astrid mengajak putrinya kemeja
makan sarapan bersama. Niko
mencukupi kebutuhan mereka
meskipun Niko tidak pernah
pulang. Bukan egois namun Niko
yakin jika putrinya akan
menjodohkannya kembali dengan
mantan istrinya. Niko tidak mau
ada berdebat lagi lebih baik dia
menghindar untuk sementara
waktu. Dia ingin fokus kepada
darah dagingnya yang sebentar lagi
akan membawa warna baru dalam
hidupnya, Buah cintanya denga
Lia istri kecilnya.
Astrid bisa melihat kekecewaan di
mata putrinya namun dia juga
tidak bisa menyalahkan Niko
Laki-laki itu sudah begitu baik
walaupun perceraian yang
akhirnya mengakhiri kisah cinta
mereka.
"Nay, kamu gak bisa bersikap egois
seperti ini kepada ayah kamu. Dia
berhak menentukan melanjutkan
hidupnya dengan wanita yang dia
anggap bisa membuatnya
bahagia," nasehat Astrid kepada
sang putri.
Seketika Nayra menghentikan
kegiatan makanannya, dia kurang
suka dengan kata-kata ibunya.
"Mommy, apa ayah tidak bisa
berkorban sedikitpun untuk aku.
Aku juga ingin Keluarga yang
lengkap. Bukankah kalian dulu
saling mencintai kenapa tidak bisa
balikan," sahut Nayra masih
dengan pikirannya yang keras
kepala itu.
Astrid menarik nafas panjang, dia
begitu bersedih dengan sikap
anaknya ini. Astrid berusaha
menasehati putrinya dengan
lembut.
"Sayang, perasaan seseorang itu
bisa berubah dengan perjalanan
waktu. Tolong maklumi ayah
kamu ya. Terimalah wanita yang
ayah kamu cintai sekarang ini,"
ucap Astrid lembut sembari
membelai tangan putrinya.
Nayra memutar lehernya
memperhatikan ibunya yang
jelas-jelas masih sangat mencintai
ayahnya. Nayra akan berusaha
memaksa ayahnya apapun yang
akan dia lakukan demi ibunya.
"Mom.. Aku tau Mommy masih
mencintai ayah jadi apa salahnya
kalian rujuk demi aku. Lagian
wanita itu tidak tulus mencintai
ayah, apalagi dia lagi butuh uang
untuk pengobatan adiknya."
"Maksud kamu apa Nayra? Kamu
tau kekasih ayahmu?" Astrid
begitu penasaran.
"Tentu saja aku tau. ayah ada
hubungan dengan temen sekolahku.
ayah membiayai semua
pengobatan adiknya yang
kecelakaan," tutur Nayra.
Astrid seakan tidak percaya jika
mantan suaminya menyukai
wanita seumuran Nayra. Astrid
jadi berfikir apa mantan suaminya
lagi diperalat wanita itu.
"Nayra, kamu tidak boleh
ngomong seperti itu. Mungkin saja
temanmu itu memang mencintai
ayahmu," Astrid tetap berfikir positif
"LIa itu mencintai Rey mantan
kekasihnya. Mereka putus karena
Rey selingkuh setelah Nayra
langsung menjalin hubungan sama
ayah. Aku yakin Nayra hanya
ingin uang ayah." Nayra kekeh
dengan pemikirannya.
Astrid terdiam, dia tidak ingin
bertengkar dengan putrinya yang
baru seminggu bersama. Putrinya
memiliki sifat yang sangat keras.
Setelah Sarapan Nayra, keluar dari
rumah mengendarai mobilnya. Dia
ingin mencari sang ayah
kekantornya. Dia ingin membawa
ayahnya pulang kerumah dan
hidup seperti layaknya keluarga.
Astrid memandangi putrinya
dengan raut wajah sedih.
"Nay, seandainya kamu tau kita
tidak berhak atas diri ayahmu,"
ucap Astrid lirih.
Nayra memarkir mobilnya
sembarangan di lobby perusahaan.
Tentu saja tidak ada yang berani
melarangnya Siapa juga yang
berani melarang Putri seorang
pemilik perusahaan.
Nay menaiki lift menuju ke lantai
di mana tempat ruangan ayahnya.
Sekretaris baru ayahnya cukup
terkejut melihat kedatangan
Nayra.
"ayah mana?" tanyanya dengan
angkuh.
"ayah anda tidak ada ditempat.
Beliau ada acara keluar kota,"
jawab sekretaris baru ayahnya.
Kebetulan Bram lagi rapat
mewakili Niko
"Sejak kapan?" tanya Nayra lagi.
"Sejak seminggu Nona," sahut
sekretaris itu dengan sopan.
"Katakan ayah perginya provinsi
mana?" tanya Nayra lagi sambil
berdiri dengan angkuhnya.
"Maaf saya tidak tau Nona. Yang
tau hanya pak Bram. Anda bisa
tanyakan kepada pak Bram tetapi
sekarang pak Bram lagi sedang
rapat," ucap sekretaris itu.
Nayra merasa ada yang aneh,
biasanya jika ayahnya pergi keluar
kota pastinya Bram akan ikut
bersamanya. Nayra semakin
penasaran kemana ayahnya pergi
sampai Bram harus mengurus
perusahaan.
***
Sementara di Bali Lia terlihat
begitu kelelahan, suaminya
semalaman bermain dengan
tubuhnya dan berkali-kali
menengok anak dalam rahimnya.
Lia masih betah bergelung di
bawah selimut.
"Lia sayang, bangun dulu minum
susunya." Niko sudah membawa
segelas s**u untuk istrinya.
"Sayang bangun dong.
"Lia capek banget," keluh
Lia
"Ibu hamil gak boleh males. Minum
susu dulu habis tu kita keliling,"
Niko menyentil kening istrinya.
"Klo gak mau bangun gimana kalo
aku jenguk si kembar lagi biar
kamu terus melek."
Lia langsung membuka matanya.
Tidak ingin suami dewasanya itu
melakukan apa yang suaminya
ucapkan kemarin saja tubuhnya
masih lelah melayani nafsu gede
suaminya.
Lia langsung menerima gelas
yang suaminya bawa dan langsung
menghabiskan s**u hangatnya.
Lia memberikan gelas kosong
kepada suaminya kemudian Niko
meletakkannya di atas nakas.
"Sayang, seperti kamu gak suka ya
main sama aku sampai baru
aku bilang kayak gitu kamu
langsung bangun menghabiskan
susunya," Niko melihat istrinya,
seakan Niko begitu kecewa.
Biasanya wanita lain akan
memohon untuk dia sentuh
berbeda dengan istrinya.
Lia merasa suaminya tersinggung
dengan sikapnya tadi. Lia
mendekati suaminya menakupkan
tangannya pada bulu-bulu halus
pada rahang suaminya.
"jangan marah, maksud Lia
gak gitu. Hanya saja semenjak
hamil perut Lia agak sakit klo
terlalu lama digenjot beda
dengan dulu," jawab Lia jujur
"Apa perut kamu sakit? Kenapa
gak bilang kemarin,” Niko mulai
panik dan memegangi perut
istrinya.
"Lia takut nanti kamu ngambek
kayak ini," sahut Lia sedikit ragu.
"Sayang aku minta maaf ya,"
Niko menciumi wajah istrinya
kemudian berpindah keperut
istrinya.
"Sayang ayah minta maaf ya sudah
bikin kalian berdua gak nyaman.'
ucap Niko diperut istrinya seakan
dia sedang meminta maaf kepada
kedua buah hatinya.
"Sekarang udah gak sakit kok ."
Mereka memutuskan mandi
bersama. Seperti hari-hari
sebelumnya Niko memperlakukan
istrinya seperti ratu.
Setelah sarapan mereka berdua
memutuskan main kepantai Sanur
sekalian makan siang di sebuah
rumah makan ikan laut yang
sangat terkenal di kawasan pantai
dekat Bali Beach Hotel. Banyak
Artis dan pejabat pusat mampir ke
rumah makan itu jika sudah
datang ke Bali sama seperti Niko
yang juga sering mampir kesana
jika sedang ada di Bali.
Niko memarkir mobilnya cukup
jauh, seperti biasa parkiran mobil
disana penuh sesak. Niko
menggandeng tangan istri kecilnya
melewati jalan setapak. Mereka
cukup menjadi pusat perhatian,
mungkin karena perbedaan yang
mencolok diantara mereka namun
mereka tidak peduli pandangan
orang yang penting mereka
bahagia.
"Nanti kalo capek kasih tau ya."
Niko memang begitu
mengkhawatirkan keadaan istrinya
itu salah satu alasan Niko tidak
berani meninggalkan istrinya
sendiri sewaktu-waktu istrinya
bisa melahirkan.
"Gimana enak?" tanya Niko kepada
istrinya.
"Enak ,Lia nambah lagi ya."
Niko begitu senang istrinya makan
cukup banyak hari ini. Sepertinya
selera anaknya sama seperti
dirinya.
Rumah makan itu semakin ramai
dikunjungi. Terlihat satu
rombongan sudah memesan
tempat duduk disana dan tidak
jauh dari tempat duduk Niko dan
Lia.
"Mas Niko kok kamu bisa ada di
Bali, gak ngomong sama aku sih,"
seru seorang wanita cantik salah
satu dari rombongan yang akan
makan siang itu
"Aku kangen banget sama kamu."
Wanita itu langsung memeluk
Niko.
Lia syok, melihat ada wanita
cantik yang umurnya sekitar tiga
puluhan memeluk suaminya.
Sepertinya wanita itu sangat
mengenal suami nya.