Leon mengendarai mobilnya
menuju ke Villa kakaknya. Selama
perjalanan dia terus memikirkan
fakta yang baru dia ketahui
ternyata wanita yang dia tiduri
adalah keponakannya sendiri.
Seandainya dia mengetahuinya
sebelum hal itu terjadi mungkin
hal itu masih bisa dihindari.
Mungkin dia akan menolak Nayra
mati-matian. Namun sekarang nasi
sudah menjadi bubur. Leon terus
memaki dirinya sendiri betapa dia
tertarik dengan keponakannya
sendiri.
Leon tidak mengetahui jika Louis
hanya saudara angkat dan hal itu
juga tidak banyak yang
mengetahuinya. Karena Remon
dan Nila begitu menyayangi
Louis seperti anak kandung sendiri
dan tidak ada perbedaan antara
Leon dan Louis. Niko mengetahui
fakta itu karena Louis sendiri yang
menceritakannya memang
diantara mereka tidak ada rahasia.
Leon sampai di villa, dia
mendengar ada keributan dari
dalam Villa. Terdengar suara
Nayra sedang ribut dengan
seorang wanita siapa lagi kalo
bukan istri kakaknya yang egois
itu.
"p*****r kecil berani sekali kamu
menggoda suamiku," maki seorang
wanita bule seumuran ibunya
sambil menunjuk Nayra. Wanita
bule itu begitu fasih berbicara
bahasa Indonesia.
"Siapa yang kamu bilang pelacur
hah?" tantang Nayra berkacak
pinggang. Nayra bukan wanita
yang gampang ditindas dia
memiliki sifat keras hati.
"Siapa lagi kalo bukan kamu,"
sahut wanita bule itu dengan
galaknya.
Nayra yang memiliki masalah
dengan emosinya langsung
mendekati wanita bule itu.
PLAKKK
Naira menatap tajam wanita bule
didepannya, begitu juga dengan
wanita bule itu.
"Kamu berani tampar aku?" geram
wanita bule yang sok cantik itu.
Nayra menatapnya dengan tatapan
menantangnya membuat wanita
bule itu menaikan tangannya ingin
membalas perlakuan Nayra.
"Berhenti Clara." Suara Leon
mengalihkan mereka berdua.
Leon melihat kearah
keponakannya, untuk sepersekian
detik pandangan mereka bertemu
sebelum akhirnya Nayra
memutuskan kontak mata mereka.
Leon berjalan mendekati mereka
berdua.
"Leon apa kamu mengenal wanita
ini? Dia p*****r yang menggoda
kakakmu," ujar Clara istri Louis.
"Sekali lagi kamu mengataiku
pelacur aku robek mulutmu,"
ancam Nayra dengan emosi.
"Jaga kata-katamu Clara dia putri
Mas Niko," ucap Leon tegas.
"Niko?"
"Iya..." sahut Leon lagi.
"Sorry aku tidak tau kalo dia putri
keponakan Louis," Clara merasa
tidak enak.
Clara mendekati Nayra yang masih
memasang wajah marahnya.
"Sorry Aunty tidak mengenalimu,"
ucapnya.
"Nayra kita pulang sekarang ayah
kamu sudah menunggu kamu di
hotel," tegas Leon.
"Aku mau tunggu Uncle Louis
dulu," tolak Nayra dia tidak ingin
pergi bersama Leon setelah
kejadian kemarin.
Sekarang Kak Louis sedang
bersama ayah kamu di hotel,"
sahut Leon langsung menarik
lengan Nayra.
"Tunggu Leon," cegah Clara. Leon
menghentikan langkahnya.
Clara mendekati mereka berdua.
"Katakan sama Louis untuk
menemuiku. Aku sudah
menghubunginya berkali-kali
namun dia tidak mengangkat
panggilanku," pesan Clara.
"Kakakku tidak mengangkat
panggilan darimu pasti ada
alasannya," sahut Leon ketus.
Clara akan mencari kakaknya jika
dia sudah kehabisan uang. Leon
juga tidak menyukai kakak iparnya
itu
yang hidupnya suka
berfoya-foya dengan
teman-temannya. Leon dan orang
tua mereka mendukung rencana
Louis menceraikan Clara.
"Uncle Leon lepaskan tanganku
sakit tau," tempat Nayra kesal.
"Diam gak usah banyak protes,"
bentak Leon langsung membuat
Nayra bungkam.
Dari kecil Nayra memang paling
takut jika bertemu dengan Leon
karena Leon suka memarahinya
kalo sudah membuat kesalahan
dan Leon tidak seperti ayahnya
yang begitu memanjakannya dan
menuruti semua keinginannya,
sehingga Nayra menjadi sosok
yang egois.
Leon membuka pintu mobil.
"Masuk," perintah Leon tegas.
Kemudian Leon menutup pintu
mobil. Leon mengitari mobil dan
duduk dibelakang kemudian.
Mobil Jeep Wrangler berwarna
hitam itu melesat meninggalkan
villa milik Louis.
"Uncle lupakan semuanya yang
terjadi kemarin. Aku akan
menyimpan rahasia ini, Uncle
tenang saja aku gak akan ember,"
ucap Nayra enteng tanpa menoleh
kearah Leon dia melihat kearah
jendela.
"Uncle aku gak mau balik ke hotel
aku mau pulang ke Jakarta. Aku
mau hidup dengan caraku sendiri
aku bukan putri ayah Niko lagi,"
ucapnya.
Hati Leon mencelos mendengar
kata-kata Wanita muda yang
kemarin di renggut
kehormatannya tepatnya Nayra
kehilangan kendali karena obat
perangsang yang diberikan oleh
temannya di Club malam. Leon
bisa merasakan kesedihan Nayra
namun wanita muda itu berusaha
kuat dan seperti tidak terjadi
sesuatu. Kini Leon yakin Nayra
memang putri kakaknya keras hati
namun tetap tegar apapun
masalahnya.
"Uncle kita mau kemana?" tanya
Nayra lagi setelah menyadari jalan
yang Leon ambil bukan menuju
kearah hotel maupun bandara.
Leon tidak menjawab dia fokus
dengan kemudinya, Nayra menjadi
tambah kesal dibuatnya.
"Uncle berhenti, aku gak mau ikut
uncle."
Leon tidak peduli dia fokus dengan
jalanan yang dia lalui. Meski Nayra
terus mengoceh dan berteriak.
Leon memang lelaki yang lembut
namun dia juga bisa keras
tergantung siapa yang sedang dia
hadapi.
"Nayra duduk yang tenang klo gak
Uncle iket kamu," ancam Leon
menoleh Nayra sebentar lalu
kembali fokus dengan jalan.
Leon membawa Nayra ke villa
milik pribadinya di kawasan
Canggu cukup jauh dari Villa
kakaknya yang berada di kawasan
Jimbaran.
Leon memarkir mobilnya di depan
Villa, pegawainya menghampiri
Leon.
"Tuan anda ditunggu Nona
Cynthia di dalam," lapor
pegawainya. Leon memang sering
bertemu dengan teman-teman
setiap hari sabtu di Villanya
membahas pekerjaan dan Cynthia
salah satunya.
Nayra merasa tidak suka
mendengar ada seorang wanita
berada di villa Leon. Entah kenapa
namun Nayra berusaha cuek.
Leon menarik lengan Nayra masuk
kedalam villa.
"Sakit Uncle..." protes Nayra.
"Anak nakal memang harus dikasih
pelajaran," sahut Leon tegas terus
menarik Nayra masuk.
Cynthia yang sedang bersantai
menunggu Leon, mengerutkan
keningnya melihat Leon datang
dengan seorang wanita muda.
Nayra juga tidak suka melihat
Cynthia yang begitu kecentilan.
Terlihat jelas jika wanita itu
menyukai Leon.
"Uncle lepasin, aku pingin pulang,"
protes Nayra sembari berusaha
melepaskan cengkraman tangan
Leon.
"Cynthia bisa kamu tinggalkan
villaku. Hari ini sepertinya aku ada
urusan dengan keponakanku."
Cynthia merasa kurang suka,
seakan Leon mengusirnya padahal
dia sengaja datang kevila ini
karena dia mengetahui klo Leon
setiap akhir pekan akan
menghabiskan waktu di tempat ini
dengan teman yang lain.
Leon mengambil ponselnya
menghubungi temannya yang lain
agar tidak datang keVillanya.
"Uncle gak usah batalin janji sama
temen-temen uncle. Aku janji gak
akan kabur."
"Gak usah mengatur Uncle kamu
cukup diam dan menurut saja.
Uncle bukan ayah kamu yang
selalu menuruti keinginan kamu,"
tegas Leon.
Nayra berdecak kesal, seandainya
waktu bisa di ulang lebih baik
dirinya tidak berurusan dengan
sosok ini.
"Cynthia pergilah aku masih ada
urusan yang harus aku selesaikan
terlebih dahulu," perintah Leon.
Dia langsung meninggalkan
Cynthia masuk kedalam sebuah
kamar yang memiliki
pemandangan pantai.
Cynthia dengan kesal
meninggalkan Villa milik Leon
padahal dia sudah menghabiskan
berjam-jam menghabiskan waktu
di spa untuk hari ini biar bisa
menarik perhatian dokter ganteng
dan kaya itu.
"Uncle mau apa sih sebenarnya.
Bukankah aku sudah bilang kita
lupakan kejadian semalam."
Leon kesal sekali mendengar
kata-kata Nayra. Dia langsung
mendorong Nayra di ranjang
langsung menindih nya dan
mengunci kedua tangannya diatas
kepalanya.
"Kamu kira mudah melupakan
kejadian kemarin malam Nayra.
"Bagaimana kalo kamu hamil.
Kemarin kita melakukannya
berkali-kali dan aku tidak memakai
pengaman."
Nayra langsung terdiam dia
mengalihkan pandangannya dari
wajah Leon, sebisa mungkin Nayra
menghindari kontak mata dengan
Leon.
"Tinggal digugurin saja bereskan.
Uncle tenang Nayra gak tuntut
uncle untuk bertanggungjawab,"
sahut Nayra dengan enteng.
"Nayra......"
***
Niko menjadi lebih tenang setelah
mengetahui Nayra sekarang
berada di villa Leon. Niko juga
mengetahui Nayra bisa dijinakkan
oleh Leon karena sedari kecil
Nayra paling takut dengan Uncle
dokternya klo sudah mengancam
akan menyuntikan kalo dia tidak
mau minum obat kalo sedang
sakit.
Niko kembali kerumah sakit
sedangkan Louis masih di hotel
milik Niko. Dia ingin berbicara
dengan Astrid masalah Nayra dan
Niko tidak keberatan untuk itu,
karena dirinya dan Astrid tidak ada
hubungan lagi. Perkawinan
mereka sudah berakhir lama dan
sekarang Niko sudah melanjutkan
kehidupannya yang baru dengan
istri kecilnya yang sudah mencuri
hatinya sejak pertama kali
bertemu. Apalagi sekarang sudah
ada sikembar diantara mereka.
Niko langsung menuju keruang
bayi setelah tidak melihat istrinya
berada diruanganya. Bibir Niko
menyunggikan senyuman melihat
istrinya sedang duduk di kursi
roda sambil memandangi dua
malaikat kecil mereka yang masih
berada didalam tabung incubator.
Niko meminta mbok Yani dan Deon
pulang kerumah untuk
beristirahat, dia akan menunggui
istri kecilnya.
"Mereka mirip kita ya." ucap Niko
sembari tersenyum.
"Sayang, mereka belum memiliki
nama. Apa kamu sudah
menyiapkan nama untuk anak
kita."
"Belum, kamu aja yang
kasih nama kan ayah
mereka," sahut Lia.
Niko berfikir sebentar.
"Alexander Gautama dan Alexia
Fransiska Gautama."
"Mommy tidak setuju nama
Gautama diberikan kepada kedua
anak itu, karena perkawinan kalian
tidak sah tanpa ada persetujuan
Mommy." Niko dan Lia begitu
terkejut mendengar suara wanita
yang sangat mereka kenal.
Niko dan Lia membalikkan
badannya melihat kearah suara itu.
Mommy Rianti ditemani oleh Zara
sudah berdiri tepat dihadapan
mereka.
Wajah Lia seketika memucat
melihat kedua wanita itu. Niko
melihat expresi wajah istrinya.
Niko mensejajarkan dirinya yang
sedang duduk dikursi roda.
" Jangan takut ada aku
bersamamu," ucap Niko sembari
membelai wajah istrinya.
Rianti mendengus melihat
putranya yang begitu perhatian
dengan Lia. Wanita yang begitu
Rianti benci.
Niko berdiri lagi lalu mendekati
kedua wanita itu.
"Kita bicara diluar jangan buat
keributan disini. Aku tidak ingin
istri dan anakku terganggu dengan
kedatangan kalian. Urusan kalian
denganku bukan dengan Lia,"
tegas Niko menggiring ibunya dan
Zara keluar dari ruangan bayi.