"Nayra tolong jangan seperti ini
aku ini unclemu."
Leon masuk berusaha menahan
dirinya sendiri, sedangkan bagian
bawahnya sudah mulai mengeras.
Nayra terus bergerak tak
terkendali terus membuka Kemeja
yang Leon pakai sampai kemeja itu
lepas dari tubuh Leon. Nayra tetap
tidak peduli dengan Leon yang
terus menolaknya. Hasrat Nayra
semakin tak terbendung lagi.
"Nayra, kendalikan dirimu. Kita
tidak boleh seperti ini, kamu
keponakanku."
Bukannya tambah sadar Nayra
justru menciumi leher Leon
membuat hasrat Leon semakin
terpancing. Leon sudah berusaha
menahan dirinya namun Nayra
begitu menggodanya.
"Jangan sampai kamu menyesal
setelah kejadian malam ini Nay,"
ucap Leon disela-sela kewarasannya
yang sudah mulai menipis.
"Tidak akan Uncle!!" sahut Nayra
penuh keyakinan.
Detik selanjutnya Leon langsung
mendorong tubuh Nayra keranjang
lalu menindihnya. Leon mulai
melumat bibir ranum Nayra.
Nayra membalas ciuman panas
yang Leon lakukan. Lidah mereka
saling membelit saling menukar
Saliva sedang tangan Leon
bebaskan b*******a Nayra dari
penutupnya lalu melemparnya
kesembarang arah
Lidah Leon mulai menelusuri leher
jenjang putih dan mulus Nayra dan
meninggalkan jejak kepemilikan di
tempat itu. Hasrat mereka berdua
semakin tak terbendung lagi.
Mereka berdua begitu terhanyut
dengan kenikmatan mereka
melupakan hubungan mereka.
Kini bibir Leon mulai menikmati
buah d**a Nayra yang begitu pas
ditangannya. Nayra semakin
dibuat melayang oleh kenikmatan
yang diberikan oleh laki-laki yang
tiga belas tahun diatasnya itu.
Nayra bukan yang pertama bagi
Leon, jadi Leon memiliki
pengalaman di bidang itu
meskipun tidak semahir kakak
sepupunya Niko
"Oughhh...." desah Nayra.
Setelah puas bermain dengan dua
buah d**a yang kenyal itu, Lidah
Leon kembali bergerilya kearah
kebagian perut Nayra lalu
menelusuri kaki mulus milik
keponakannya.
"Uncle Nayra gak tahan lagi."
mohon Nayra yang sudah tidak
tahan pengaruh obat
perangsangnya begitu kuat.
Leon bisa melihat keponakanya itu
sudah tidak bisa menahan dirinya
lebih lama lagi untuk penyatuan.
Leon menurunkan celana dalam
yang Nayra kenakan
memperlihatkan inti milik Nayra.
Leon sempat ragu, namun Nayra
terus merengek dan memohon.
Leon membuka celananya pada
akhirnya memperlihatkan junior
yang sudah berdiri tegak. Nayra
memang sering ke Club malam
namun dia belum pernah
sekalipun melihat langsung milik
pria, Nayra menelan salivanya
melihat milik Leon.
"Nay, tolong minta uncle
berhenti."
"No, uncle lakukan sekarang,"
pintanya.
Leon sudah tidak bisa mundur lagi
dia menekuk kedua kaki Nayra lalu
melebarkannya. Leon mulai
menuntun juniornya yang sudah
siap tempur memasuki Nayra.
"Aughhhhhh," pekik Nayra air
matanya jatuh membasahi pipinya
disaat mahkotanya dia lepaskan
untuk uncle tampannya.
Leon begitu terkejut, ternyata
Nayra masih perawan. "Maafin
uncle," lirih Leon.
"Uncle gak salah semua ini
keinginan Nay," ucapnya.
Mereka kemudian melanjutkan
kembali kegiatan mereka. Leon
begitu berhati-hati karena ini yang
pertama bagi Nayra. Leon
melumat bibir Nayra untuk
menyamakan rasa sakit yang
Nayra rasakan. Mereka berdua
terus menggapai kenikmatan
bersama sampai mereka
mendapatkan kepuasan
bersama-sama tanpa memikirkan
apa yang akan terjadi esok hari.
***
Niko terlihat cemas, semaleman dia
menunggu telpon dari Leon
namun Leon tidak ada
menghubunginya dan sekarang
telpon Leon maupun Nayra tidak
aktif. Bagaimanapun Nayra tetap
putri Niko meski mereka tidak
memiliki hubungan darah.
Lia bisa menangkap kekhawatiran
di wajah suaminya. Tanpa Lia
tanya, Lia sudah mengetahui apa
yang mengganggu pikiran
suaminya.
"ko...." panggil Lia
"Iya sayang," Niko mendekati
istrinya yang baru membuka
matanya lalu mengecup bibir Lia.
"pergilah cek kondisi Nayra.
Ada Nenek Yani yang temeni Lia
jadi gak usah cemasin lia.
Lia juga tidak tenang belum
mengetahui kabar Nayra," ucap
Lia yang sedang di bantu duduk
oleh suaminya
Istrinya memang sangat muda
namun begitu pengertian
membuat Niko semakin tambah
mencintai istrinya.
"Lia, makasih atas pengertian
kamu sayang. Nayra memang tidak
memiliki hubungan darah sama
aku akan tetapi aku sangat
mencintainya. Tolong maafin sikap
kasar Nayra sama kamu ya," ucap
Niko sembari duduk ditepi ranjang
istrinya sembari memeluk tubuh
istri kecilnya itu.
"lupa ya kalo aku sama
Nayra sahabatan."
"Tapi aku yang merusak
persahabatan kalian," lirih Niko
penuh penyesalan. Lia bisa
merasakan perasaan suaminya saat
ini.
" gak bole ngomong kayak
gitu, mungkin ini sudah takdir
yang harus kita lalui," sahut Lia
kemudian mengecup rahamg
suaminya yang dipenuhi
bulu-bulu.
"inget ya nanti bulunya di
kuris terlalu lebat nanti kasian
anak kita takut Liat ayahnya
sangar seperti ini," Lia berusaha
mengalihkan pembicaran mereka.
"Tapi kan ini yang bikin kamu
terus mendesah," goda Niko. Wajah
Lia seketika memerahkah karena
malu. Niko langsung
terkekeh-kekeh melihat expresi
wajah istrinya yang begitu
menggemaskan baginya.
Niko mendekatkan bibirnya ke
telinga Lia. "aku sudah gak
sabar lagi nunggu masa nifasmu.
Nanti kasih kamu lagi rasa
yang lebih enak.aku yakin
kamu pasti menyukainya dan
kamu gak akan pernah berhenti
mendesah. Desahanmu sangat
seksi sayang," bisiknya dengan
begitu menggoda.
Spontan tangan Lia mencubit
perut suaminya. Suaminya ini
memang m***m sekali.
"Idih m***m banget."
"Tapi kamu sukakan sama aku
yang m***m ini," kekeh Niko lagi
sejenak bisa melupakan masalah
Nayra untuk sementara waktu.
Niko melumat bibir istrinya dia
begitu merindukan istri kecilnya
ini.
CLEKKK
Seorang petugas membawakan
makanan masuk kedalam ruangan,
petugas wanita itu hanya
tersenyum. Lia begitu malu ada
yang memergokinya sedang
berciuman. Pola pikiran Lia
begitu lugu sangat berbeda dengan
Niko yang terlihat santai.
"Pagi pak, Bu. Selamat ya atas
kelahiran anaknya," ucap wanita
itu sembari meletakkan nampan
berisi makanan untuk Lia di meja
khusus pasien.
"Terimakasih Bu," sahut Lia
dengan ramahnya.
Niko melihat menu untuk istrinya,
menu ciri khas rumah sakit.
"Apa boleh saya bawa makanan
diluar untuk istri saya?" tanya
Niko
" Boleh pak asal makanan itu
bergizi dan tidak boleh pedes
terutama bersih pak. Yang banyak
sayurannya ya agar produksi ASI
nya bagus," sahut wanita itu
dengan ramah.
"Nanti saya akan perintahkan staf
di hotel saya untuk memasak
makanan untuk bergizi untuk istri
saya," sahut Niko. Menurut Lia
jawaban suaminya sangat sombong
tapi itulah gaya suaminya.
Petugas wanita pembawa makanan
itu sudah mendapatkan informasi
bahwa pasien diruangan ini istri
dari sepupu dokter Leon sekaligus
pengusaha kaya raya jadi petugas
itu tidak heran lagi jika laki-laki itu
menjawab seperti itu.
Tak lama nenek Yani sama Deon
datang kerumah sakit, Deon sudah
bisa berjalan walaupun masih di
bantu dengan tongkat. Pegawai
wanita itu mohon ijin keluar
meninggalkan mereka.
"Kakak selamat ya. Sekarang aku
punya ponakan temenku bermain,"
ucal Deon langsung memeluk
kakak tercintanya. Niko menggosok
rambut Deon yang dia anggap
seperti anaknya alih-alih seperti
adik iparnya. Memang Deon lebih
cocok jadi anaknya ketimbang jadi
adik iparnya.
"Kakak ipar Deon mau jenguk si
kembar dulu ya," ucap Deon begitu
bersemangat.
"Tunggu kakak kamu makan dulu,
setelah itu kalian bisa menjenguk
mereka," ucap Niko yang langsung
mendapatkan anggukan kepala
dari deon
Niko menyuapi istrinya makan
terlebih dahulu, meskipun Lia
menolak namun Niko tetap
memaksa menyuapi istri kecilnya.
"No, ini tugas aku."
***
Nayra bangun pukul enam pagi
sedangkan Leon masih tidur
terlelap. Mereka mengulangi
percintaan panas mereka berulang
kali tadi malam sampai mereka
benar-benar kelelahan mereka
berdua sudah seperti kecanduan.
Nayra hanya melihat wajah Leon
yang tampan sedang tertidur. Ini
kesalahan Nayra dia yang
memaksa Leon melakukan itu.
Nayra tidak mau menjadi beban
kedepannya dan dianggap
menjadikan apa yang terjadi
malam ini untuk mengikat Leon.
Nayra turun dari ranjang
membersihkan tubuhnya kekamar
mandi terlebih dahulu, walaupun
bagian intinya masih sangat sakti
namun dia terus menahannya dia
tidak boleh cengeng lagi. Sekarang
dirinya bukan seorang putri lagi.
Dia anak yang tidak jelas
identitasnya. Kemarin Nayra
sudah memikirkan hal ini. Mulai
detik ini dia akan menjalani
kehidupannya sesuai
kemampuannya. Nayra sudah
menganggap ayahnya sudah tidak
menginginkannya lagi.
Selesai membersihkan tubuhnya,
Nayra mengganti memakai
pakaiannya lagi kemudian
meninggalkan ruangan itu
mencapai sebuah taxi menuju ke
Bandara. Bersyukur Nayra masih
memiliki uang dan periasan yang
melekat ditubuhnya untuk
bekalnya sebelum dia
mendapatkan pekerjaan. Ini adalah
tekatnya, dia ingin meningkatkan
semuanya dan memulai kehidupan
yang baru.
Perut Nayra merasa kelaparan,
sedari kemarin dia belum makan
sama sekali jadi dia memutuskan
mencari restoran cepat saji.
Brukkk.
Nayra menubruk tubuh kekar
seorang laki-laki seumuran Niko
dan masih terlihat tampan. Pada
saat itu Nayra sedang mengambil
dompetnya di tas dan tidak melihat
orang didepannya.
"Maaf om saya ganti makanannya,"
ujar Nayra.
Laki-laki dewasa itu melihat
kearah Nayra langsung
mengerutkan keningnya, wajah
yang tidak asing meskipun mereka
tidak pernah bertemu.
"Kamu Nayra kan?" seru laki-laki
itu.
"Kok Om tau aku Nayra," Nayra
menatap curiga laki-laki itu.
"Om ini Uncle Louis," seru laki-laki
itu.
"Sepupu ayah kamu yang di
Bali," imbuhnya lagi.
Nayra yang ingin menghindari
keluarga dari mantan ayahnya itu
langsung meninggalkan Louis.
"Tunggu Nayra," Louis mengejar
Nayra karena mereka ada yang
aneh dengan keponakannya itu.
"Lepaskan saya Uncle saya bukan
putrinya ayah lagi. Dia bukan
ayah kandungku," seru Nayra
berusaha melepaskan diri dari
Louis yang menahan tangannya.
Sekilas tentang kejadian 21 tahun
yang lalu kembali teringat di
pikirannya.
"Apa maksud kamu Nayra bilang
Niko bukan ayah kamu?" tanya
Louis.
"Karena aku hasil dari pemerkosa
Mommyku," ucapnya sedih
matanya mulai menangis
Louis langsung memeluk Nayra,
dan menciumi rambut Nayra
seolah wanita muda itu sangat
berarti baginya.
"Astrid kenapa kamu tega
berbohong sama aku mengatakan
anak dalam kandunganmu
anaknya Niko. Apa karena aku
tidak sekaya Niko,kamu jelas-jelas
tau betapa aku mencintai kamu."
"Nayra aku ini ayah kamu."
Suara Louis tertahan di
kerongkongan. Dia tidak sanggup
mengatakan kebenaran ini
sebelum bertemu dengan Astrid
dan Nikoterlebih dahulu.
"Sama siapa kamu kebali Nayra?"
tanya Louis tanpa melepaskan
pelukannya.
"Sama Mommy."