"Nayra... Nayra.....," panggil Niko
dan Astrid bersamaan.
Nayra begitu terkejut mengetahui
fakta kalau dirinya adalah anak
dari hasil p*********n. Nayra
langsung berlari meninggalkan
villa itu.
"Mas biar aku yang urus Nayra,"
ucap Leon, Niko menganggukkan
kepalanya, Leon langsung keluar
mengejar Nayra.
"Ini semua salah kamu," teriak
Astrid menunjuk menyalahkan
Lia.
Lia begitu terkejut.
"Astrid kenapa kamu nyalahin
Lia. Ini semua salah kita yang
tidak bisa mendidik Nayra," Niko
menarik Astrid sedikit menjauh
dari Lia.
Astrid mendekati Niko memukul
dadanya dengan kedua tangannya.
"Mas Niko mana janjimu?
Bukankah dulu kamu berjanji
sama aku akan menjadikan Nayra
putrimu dan menyimpan rahasia
ini rapat-rapat. Kalo bukan
gara-gara dia kamu tidak akan
mengingkari janji yang sudah kita
buat," Astrid kembali
menunjukkan Lia.
Lia semakin merasa dirinya
bersalah, Lia memegangi
perutnya. Seakan anaknya dalam
perutnya mulai bereaksi.
"Astrid, Lia tidak bersalah kamu
tidak bisa menyalahkannya
Urusan masa lalu kalian kalian
selesaikan berdua jangan bawa-
Lia dalam masalah ini," bela
ibunya Leon sambil berjalan
mendekati Lia.
"Jadi anda membela wanita
penghancur ini. Pantesan saja
orang tuanya sendiri
meninggalkannya, sok lugu tapi
berbisa."
"Astrid pergi kamu dari sini. Ingat
wanita yang kamu hina itu istriku,"
usir Niko
"Aughhhhhh," pekik Lia
memegangi perutnya.
"Lia, kamu kenapa Nak" ibu Leon
begitu panik.
Tidak hanya ibunya Leon yang
panik Niko juga. Niko langsung
menggendong tubuh istrinya
keluar dari Villa menuju kearah
mobil. Niko mengendarai mobilnya
dengan kecepatan tinggi. Lia
terus menangis kesakitan
memegangi perutnya, jalanan
cukup rame sehingga Niko terus
menekan klakson mobilnya.
"Sayang tahan dikit ya, kita
kerumah sakit sekarang," Satu
tangan Niko menggenggam tangan
istrinya.
Ibu Leon tidak kalah paniknya di
Vila. Dia melihat kearah Astrid, dia
tidak membenci Astrid tetapi dia
kurang suka Astrid menyalahkan
Lia dalam masalah ini.
Ibu Leon mendekati Astrid yang
juga dalam keadaan tidak baik, dia
memikirkan Nayra putrinya.
Kamu sudah dewasa mestinya
kamu bisa berfungsi lebih objektif
menyikapi masalah orang. Justru
saya merasa tidak ada putri yang
sebaik Lia yang rela berkorban
demi keluarganya. Pantesan saja
Niko mencintai Lia karena wanita
itu memang pantas di cintai.
Berdoa saja agar anak dalam perut
Lia baik-baik saja. Kalo tidak
kamu dan Nayra bersiap-siap
dengan kemarahan Niko yang saya
yakin kamu sudah mengetahui sisi
lain dari diri mantan suami kamu
itu," Setelah mengatakan itu Ibu
Leon melewati Astrid mencari
mbok Yani mengajak wanita itu
kerumah sakit menemani Lia
Astrid memilih meninggalkan Villa
mencari taxi pergi ke hotel tempat
dia menginap dia akan
menghubungi putrinya dari sana.
Astrid memang kecewa kepada
Niko mengungkapkan
kebenarannya dengan cara seperti
ini.
Seandainya kejadian malam itu
tidak terjadi, mungkin dia dan
Niko sudah hidup bahagia apalagi
mereka saling mencintai. Kalo
bukan karena laki-laki sialan itu
pasti malam pertama pernikahan
mereka dia menyerahkan
mahkotanya kepada Niko.
Niko memang benar berkata akan
bertanggungjawab jawab karena
kejadian itu, Nikolah yang meminta
dirinya menjemput ke Club
dimana Niko sedang merayakan
acara perpisahan dengan
sepupunya bernama Louis yang
akan melanjutkan study di luar
negeri
Air mata Astrid mulai membasahi
pipinya, mengingat malam ini di
sebuah kamar seorang laki-laki
yang dia kira Niko menjamahnya
dengan paksa laki-laki itu.
Laki-laki yang masih dia ingat jelas
wajahnya namun dia tidak berani
mengatakan identitas laki-laki itu
kepada Niko. Belum lagi kejadian
dimana dia dijebak oleh Zara
dimana dia diberi obat perangsang
dan Malik menjamahnya di kamar
pribadinya sehingga Niko
memutuskan bercerai dengan
dirinya. Hidup Astrid memang
tragedi, takdir tidak berpihak
kepadanya atau dia salah memilih
teman. Zara adalah iblis berkedok
sahabat.
***
Leon mengejar Nayra, Nayra
hampir terjun dari jembatan jika
Leon tidak menghentikannya.
Nayra tidak bisa menerima
kenyataan ini. Nayra menangis
dipelukan Leon seperti seorang
anak kecil. Leon juga syok
mengetahui fakta ini apalagi
Nayra.
Leon terus menenangkan
keponakan kecilnya. Walaupun
sekarang faktanya Mereka tidak
memiliki hubungan darah
sedikitpun tetap saja Leon akan
menganggap Nayra seperti
keponakannya karena ikatan yang
sudah terjalin tidak begitu mudah
diputuskan. Bagaimanapun juga
secara hukum Nayra tetap putri
Niko William Gautama dari
pernikahannya dengan Astrid.
Leon yakin Niko sepupunya sangat
mencintai putrinya ini hanya saja
Niko kecewa dengan sifat keras dan
nakal putrinya.
"Nay. Tenangkan pikiranmu uncle
yakin meskipun kalian tidak
memiliki ikatan biologi, ayahmu
masih sangat mencintai kamu.
Hanya saja dia kecewa karena kamu
tidak mengerti ayahmu dan juga
kamu terlalu egois dan juga keras
kepala
Kata Leon sambil terus membelai
rambut gadis muda di pelukannya.
"ayah lebih menyayangi Lia
daripada aku. Lia merebut
ayahku uncle," ucapnya dengan
Isak tangis.
"ayah kamu mencintai kalian
berdua dengan cinta yang berbeda.
ayahmu mencintai Lia sebagai
seorang wanita dan mencintai
kamu sebagai putrinya. Leon
berusaha menjelaskan arti cinta
kepada keponakannya ini.
"Berdamailah dengan keadaan ini
Nayra. Terimalah Lia sebagai istri
ayah kamu apalagi mereka akan
memiliki anak," impuh Leon lagi.
Nayra tidak menjawab dia hanya
menangis di pelukan sang Uncle.
Nayra merasa begitu nyaman
dalam pelukan itu. Belum pernah
dia merasa senyaman ini selain
dipelukan ayahnya.
"Kita pulang ya," ajak Leon. Nayra
menganggukan kepalanya tanda
dia setuju.
Mereka berdua masuk kedalam
mobil. Leon mengantarkan Nayra
kehotel tempat mereka menginap
Leon mengantarkan Nayra sampai
kekamarnya dan bertemu dengan
Astrid.
"Leon terimakasih," ucap Astrid
tulus.
Leon hanya menyunggikan
senyuman menggendong Nayra
dan meletakkannya di atas ranjang
lalu menyelimutinya.
"Astrid, aku pulang dulu," ucap
Leon.
"Tunggu Leon?" Leon
menghentikan langkahnya.
"Bukankah kamu sodaranya Louis?
Gimana kabar Louis?" tanya
Astrid.
"Kak Louis ada di luar negri
bersama istrinya," jawab Leon
dengan santai.
"Kamu kenal Louis?" tanya Leon.
"Siapa yang gak kenal sama Louis
apalagi dia cukup dekat dengan
Niko" sahut Astrid.
"Aku pulang dulu. Kamu jaga
Nayra saat ini dia belum bisa
berdamai dengan keadaannya. Jika
terjadi apa-apa telpon aku," Leon
memberikan ponselnya pada
Astrid. Astrid mencatat ponsel
Leon pada ponselnya setelah itu
Leon meninggalkan hotel. Leon
mendapatkan kabar kalo Lia
dibawa kerumah sakit yang
terdekat.
Suasana di rumah sakit begitu
tegang. Dokter memutuskan
melakukan tindakan karena Air
ketuban sudah pecah
"Pak Niko, kami harus segera
melakukan tindakan operasi,
ketuban istri anda sudah pecah
dan itu sangat berbahaya untuk
janin didalam. Tolong bapak ke
bagian administrasi untuk
menandatangani persetujuan
tindakan," ucap Dokter yang
menangani Lia
"Baik dok. Tolong selamatkan istri
dan anak kembar kami," ucap Niko
dengan nada memohon. Dia akan
melakukan apapun demi istri dan
anaknya termasuk memohon
kepada dokter.
"Kami akan berusaha pak Niko,"
sahut dokter itu kemudian masuk
kedalam ruangan.
Niko menuju kebagian administrasi
mengurus semuanya dan
menandatangani surat persetujuan
pengambilan tindakan. Ini
pertama kali Niko mengurus
administrasi secara langsung
biasanya Bramlah yang
melakukannya. Seperti ini jadi
suami yang siaga ada perasaan lain
dalam hatinya mengurus semua
sendiri untuk istri dan calon
anaknya.
"Tuhan tolong selamatkan mereka.
Mereka begitu penting dalam
hidupku bahkan aku rela
melaksanakan apapun demi
mereka," terucap barisan doa yang
tulus dipanjatkan untuk istri
kepada Tuhan untuk istri
tercintanya.
Ibu Leon dan Mbok Yani
menghampiri Niko yang terlihat
khawatir. Niko terus
mondar-mandir sekali-kali
menghisap wajahnya. Bagaimana
Niko tidak khawatir didalam
ruangan operasi istrinya berjuang
keras untuk melahirkan
anak-anaknya, apalagi usia
kandungan Lia belum cukup
bulan menambah kekawatiran
Niko.
"Niko, kamu jangan khawatir Auty
yakin Lia kuat dia anak yang kuat
dan sudah melewati kehidupan
yang keras. Tuhan akan
memberikannya kebahagiaan."
Nila ibunya Leon berusaha
menghibur Niko yang tengah
menghawatirkan keadaan istrinya.
Terlihat Leon begitu buru-buru
berjalan kearah mereka, wajah
Leon tidak kalah khawatirnya
dengan sosok Niko. Mereka
melewati jam-jam menunggu
berita dari dalam ruang operasi.
Leon sudah menghubungi dokter
Sinta, dokter yang menangani dari
awal kehamilan Lia. Bersyukur
dokter Sinta juga bertugas di
rumah sakit itu juga.
CLEKKK
Pintu ruangan operasi terbuka,
seorang dokter keluarga dari pintu.
Niko dan Leon langsung
mendekatinya.
"Gimana keadaan Lia, dok?" tanya
Leon mendahului Niko membuat
Niko kesal.
"Saya suaminnya jawab
pertanyaan saya saja," tegur Niko
tegas. Membuat dokter itu
kebingungan melihat kedua
laki-laki yang terlihat begitu
mencintai wanita yang sama.
Operasi berjalan lancar namun
karena lagi belum cukup bulan si
kembar kami rawat diruangan
khusus dulu," kelas dokter itu.
"Saya ingin melihat istri saya."
"Setelah dipindahkan keruangan
anda bisa melihat istri anda," sahut
dokter itu.
Kemudian dokter itu
meninggalkan mereka berdua.
"Lia Leon bukan Lea. Lia hanya
panggilan sayangku terhadap
istriku," Niko memperingati Leon
dengan tegas.
"Maaf Mas, karena aku sudah
kebiasaan," ucapnya tak enak.
"Rubah kebiasaan itu dari
sekarang. Kamu paling
mengenalku. Aku paling tidak suka
milikku diminati orang lain," tegas
Niko lagi.