Matanya nyalang sedikit melirik arah jam "pukul 9" gumam rubby dalam hati, entahlah apa yang aku pikirkan tapi aku sudah terlamabat jika ingin pergi ke kantor, kutarik selimut hingga menutupi tubuhku, sesekali Ku meraba bahu Dan pahaku terdapat biru kemerahan akibat ulah jimmy semalam. Aku mersakan pusing dan juga mual yang sangat kuat, dengan bersusah payah aku berusaha untuk menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isinya yang hanya keluar air, tubuhku luruh Dan merasakan rasa nyeri diperutku "tidak biasanya aku seperti ini" ku coba berdiri dan menatap wajahku yang begitu menyedihkan "hai rubby....apapun yang terjadi kau harus kuat..jangan menyerah, kau wanita tangguh rubby...kau wanita tangguh" menyemangati dirinya sendiri walaupun sebenarnya dadanya sangat sesak mendapatkan perlakuan yang bisa dibilang seperti hewan buruan yang dicabik cabik isinya oleh sang pemburu, ini sudah tepat 9 bulan ia Dan jimmy menikah tapi pria itu sama sekali tak bisa bersikap ramah layaknya seorang suami malah terus menerus membuat dirinya seperti s*x toys nya, yang jika dia mau ia sambar begitu saja tanpa perduli dan ketika dia merasa bosan bisa ia abaikan begitu saja. Kini buliran air mata telah membasahi pipinya menahan amarahnya terhadap situasi yang begitu sangat menyudutkannya, mungkin jika ada sedikit saja celah untuk dia bisa lari maka dia akan lari sekencang kencangnya Dan tak mau tau dengan apa yang sudah terjadi, meminta jimmy untuk segera menceraikannya agar terbebas dari belengu laki-laki kejam itu.
Setelah mulai menata hati dan juga pikiranya ia ingin sesekali menggunjungi gereja yang kerap Kali ia lakukan jika dirinya memiliki beban berat, menenangkan hatinya yang kacau balau bak reruntuhan bangunan. "Bik mana mama dan papa ?, kenapa rumah terasa sepi sekali" Tanya Ku pada bik Amira yang memang dari aku kecil telah bekerja dirumah milik orang tuaku ini "Tuan ke kantor neng bareng sama den Hendrik...kalau nyonya pergi ke butik kaya biasanya neng" sambil tangannya berkutat dgn cucian piringnya "neng mau breakfast apaan biar bibik bikinin" lanjut ucapanya, aku membuka lemari pendingin berharap menemukan lemon juice disana Dan ada ,segera Ku ambil Dan Ku tauangkan dalam gelas "bik apakah ada yang jualan asinan buah didekat sini ?" Tanyaku lagi , "Ada neng di pasar yang dekat dengan toko buku bekas itu ...neng tau kan" sahut bik amira Dan langsung Ku angguki tanda mengerti "wah..wah...wah sepertinya rumah ini ga akan sepi lagi neng" kata kata bik amira yang membuatku tdk mengerti "maksudnya bik ?" Yang meminta penjelasan, tiba tiba bik amira menyunggingkan senyuman lebar menuju ke arahku mengusap perutku "neng ..neng rubby lagi nyidamkan, sudah isi ?" sontak mataku langsung melotot padanya dan memcebikkan bibirku "bik emmm... jangan bilang kalau aku Hamil dulu ke semua orang, aku belum mengeceknya jadi aku masih belum tau" kuhabiskan lemon juice ku dan pergi sambil Ku Amati tangan bik amira membulat mengangkat tiga jari tada ok "beres neng" , sedikit berteriak Karena aku sudah meninggalkan dapur namun masih sempat aku mendengarnya berteriak.
**** **** ****
Manusia adalah pelakon sempurna dalam kehidupan namun yang jauh lebih berkuasa atasnya ialah Tuhan ,sang maha pengerak hati sekaligus pengadil yang tepat bagi kesalahan.
Langkah Ku menuju altar gereja Ku nyalakan lilin didepan altar yang berjejer rapi disana wangi bunga sedap malam yang memang sangat khas dari gereja itu, kemudian Ku duduk di barisan urut 3 bangku yang tersedia di belakang altar, Ku pejamkan mataku dan berusaha menenangkan hati sekaligus batinku ,Ku tarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan membuang sesak didada yang kurasakan berbulan bulan, sdikit air mataku jatuh mulai membasai pipi tak bias lagi menahan amarh ,"Tuhan engaku maha adil bagi hidupku dan semuanya, Ku mohon padamu kuatkan aku sekali lagi untuk menjadi seorang istri....tolong kokohkanlah ketegaranku untuk menghadapi sikapnya" doa Ku dalam hati .
Tiba-tiba bahu rubby bergetar ,Ada seorang yang menepuknya dari belakang tentu saja ia kaget sekaligus sedikit meringis bahunya masih sedikit sakit karena lebam membiru tadi "biy" suara itu yang tak asing di telinganya rubby pun menoleh dan matanya membulat seketika tak percaya bisa bertemu dengan Harris Hans mantan kekasihnya yang sangat dia cintai hingga saat ini sekaligus mantan doctor yang merawat masa rehabilitasi mendiang adiknya Laura. "Hans ?" Ucapnya kaget namun senyum justru tersungging Dari bibir Hans, tangannya menyentil hidung rubby yang mancung itu "kau disini" tanya rubby kembali dan melihat wajah pria yang sempat mengisi hatinya sampai sekarang ,dia pun tak percaya jika Hans juga datang ke greja "geser dudukmu atau kau terus mau memandangi Ku seperti itu" kata Hans sambil mengambil alih tempat duduk yang diduduki oleh rubby Dan rubby mengeser tempat duduknya. Ia tak percaya jima Hans akan kemari. "Dirimu masih suka datang kesini untuk menenangkan diri rupanya ?" Tanya Hans kepadaku yang Ku angguki "iya.... aku kemari untuk sekedar menenangkan diriku" kemudian Hans menatapku intens yang tak dapat Ku artikan sorot matanya itu "apakah dia...masih mencintaiku" bisik Ku dalam hati.