Ceril masih setia menekuk wajahnya sejak turun dari angkot. Percakapan dua laki-laki di angkot tadi berhasil memporak-porandakan moodnya. Telinga Ceril menangkap jelas percakapan dua laki-laki yang mengarah ke penghinaan itu. Ia sangat muak saat mereka mengomentari kekurangan fisik seorang wanita secara gamblang. Cih! Menjijikan. Apa enaknya, sih, ngurusin fisik orang? Apa lagi standar kecantikan masyarakat yang terkadang tidak manusiawi. Cantik itu harus tinggi, putih bersih, langsing, d**a berisi, pinggul bulat, dan wajah tanpa noda. Begitu yang sering Ceril dengar. Padahal, setiap orang punya kelebihan masing-masing. Cantik itu relatif dan bersifat subjektif. Begitu pikir Ceril yang kini sedikit demi sedikit belajar untuk selflove. Ah, kalau membahas fisik memang tidak ada habis

