Rania perlahan menarik kedua sudut bibirnya haru, menatap lembut sang putra yang kini sudah jatuh dalam pelukannya. Ia tidak pernah menyangka kalau bisa memeluk Theodoric erat seperti ini lagi. Theodoric pun, sama. Pemuda itu kini terharu bisa merasakan hangatnya pelukan sang ibu yang sudah lama tidak bisa ia rasakan. Lelah, capek, bingung dan juga amarah yang hendak meluap karena berbagai masalah yang menyerangnya beberapa hari ini seakan hilang begitu saja. Kenyamanan berada dalam pelukan sang ibu seperti membuat Theodoric berada dalam mimpi kini, aroma tubuh familiar ibunya yang begitu harum membuat kelopak matanya secara naluri menutup dengan sendiri. Ingin segera terlelap, dan bisa tidur di samping sang ibu seperti saat ia kecil dulu. “Kamu kemana saja selama ini? A

