Bab 9.

914 Kata
“Haish sialan, dasar kalian tidak becus!” Hartoyo memaki-maki semua karyawan di perusahaannya. Dalam rapat internal perusahaan itu terlihat terus merugi. Grafik penjualan produk barang-barang rumah tangga dan divisi AI-nya tampak menurun drastic. Dalam satu malam saja, para investor mulai menarik investasinya. Kepercayaan mereka pada perusahaan Hartoyo semakin memudar. Tidak mau merugi, mereka menarik uangnya dalam jumlah besar-besaran. Sudah menjadi komitmen, para investor itu bisa menarik dananya dalam 24 jam jika perusahaan tidak menunjukan keuntungan yang bagus. “Bonus kalian bulan ini akan kupotong!” “Tapi bos, gaji kami yang bulan lalu saja belum anda bayarkan. Bagaimana anda bisa memotong gaji kami di bulan ini…kalau begitu kami berhenti!” serentak para manajemen di perusahaan itu membanting tag name-nya, berdiri, meninggalkan ruangan rapat. “Hai, dasar bodoh, kembali kalian!” teriaknya memukul meja. Malam harinya, Hartoyo pulang dalam keadaan mabuk. Bau alcohol dan parfum wanita, membuat Sundari melipat keningnya. “Apa yang terjadi?” papahnya pada tubuh sang suami yang sempoyongan. Dia membaringkan tubuh suaminya ka atas kasur. Membuka bajunya, menggantinya dengan baju tidur. Sundari merasa sakit hati, tatkala dia mengenali bau parfum itu. Bau kesukaan adik tirinya, Liliana. “Kalian masih berhubungan?” kesalnya. “Plak! Dasar istri tidak berguna. Kamu tidak perlu mengurusi urusan pribadiku. Kamu pembawa sial. Lihat! Perusahaanku hancur gegara menikahimu.” Sundari memegangi pipinya yang terasa sakit, tapi dia hanya terdiam, melihat suaminya yang mabuk itu. “Perusahaanmu yang rugi, apa hubungannya denganku.” Dia menghela napas, cintanya pada Hartoyo terlalu besar. Dia tidak menyalahkan suaminya. “Mungkin dia sedang kesal, tidak sadarkan diri karena minuman itu. Aku yakin kalau dia sadar nanti, permintaan maaf akan keluar dari mulutnya. Seperti kemarin, dia tiba-tiba membelikanku gaun merek ternama.” “Menyesal aku menikahimu. Perempuan udik yang tidak bisa apa-apa. Hidupmu tergantung padaku. Kau penyebab kehancuran bisnis keluarga Hartoyo!” kata-kata keluar dari mulutnya, dengan mata terpejam dia masih ngelantur ke sana kemari. Sundari berkali-kali menghela napas, kesabarannya benar-benar teruji. Setelah Hartoyo tertidur pulas, dia menuju ruang kerja suaminya di lantai satu. Wanita cantik itu membuka akun privatnya, mengirimkan pesan ke akun Tano. “Kucurkan dana ke Hartoyo company.” Hanya itu pesan yang ia buat, tidak ada nama dan histori penelurusan. Malam yang sunyi itu seolah mendukungnya, menjaga kerahasiaan status ganda yang disembunyikan Sundari atau dikenal sebagai BIBI SUN, sang pemilik asli FARMA CORPORATE. Perusahaan Hartoyo normal kembali. Sudah satu tahun paska kejadian itu. Suatu hari setelah berbulan-bulan perjalanan bisnis yang dilakukannya, Hartoyo pulang ke mansion bersama Liliana. Sang istri syah yang semula gembira, menyambut kedatangan suami dengan makan malam yang lezat, menjadi terkejut. “Ada urusan apa kau kesini?” kata Sundari pada adik tirinya yang sedang duduk manis di sofa ruang tamu. Hartoyo tidak terlihat di sana. “Tentu saja, ingin memberi selamat pada kak Hartoyo atas keberhasilan kerjasamanya dengan Farma Corporat,” dagunya terangkat. Dia melipat kedua tangannya di d**a. “Apakah kau tahu, Hartoyo-lah yang memintaku datang ke mansion ini.” “Tidak mungkin. Dia lelaki setia yang menjaga tubuhnya dari w*************a macam kau.” “Ouh, ya. Suamimulah yang menggodaku terlebih dulu. Dia tidak ingin punya istri memalukan macam kau. Udik dan tidak berkelas,” menatap tubuh Sundari lekat-lekat. “Kau lupa, kalau suami tercintamu itu tidak pernah mengajakmu ke acara-acara resmi, heum. Akulah yang hadir di sana. Coba lihat foto-foto ini.” Liliana memperlihatkan pose-pose mesranya dengan Hartoyo, di akun media sosial miliknya. Bahkan jutaan like telah ia terima dari penggemarnya. “Pasangan yang serasi. Laki-lakinya tampan wanitanya cantik,” kata akun Darma99 “Aku ingin seperti mereka. Cinta masa kecil yang abadi.” “Memangnya kamu sudah punya pacarkah.” “Belum, tapi aku menjadi bersemangat untuk mencari pasangan hidup. Aku mau seperti mereka.” “Tidak mungkin. Kamu kan seorang gay.” “Hah, benarkah.” “Benar. Coba kalian lihat akun-nya.” “Sudah-sudah. Kalian jangan bertengkar…aku menjadi sedih karenanya,” tulis Liliana di kolom komentar. Dia berlagak seperti sang bintang yang melarang penggemarnya bertengkar, hanya dengan masalah yang sepeleh. “Iya…iya benar. Maafkan aku dewiku. Kami tidak akan bertengkar lagi. Aku mencintaimu,” ungkap mereka bersamaan. Liliana mengirimkan tanda love dan emotikon tersenyum, padahal dalam hatinya dia merasa jijik dengan mereka. Gegara dia tahu si pemilik akun yang setia padanya itu, hanyalah seorang pemuda miskin yang hidup di daerah padat penduduk di pinggir kota. Demi menjaga imej-nya, dia harus bersikap munafik. Dia tidak mau menjadi bahan hujatan para netizen. Apalagi pemilik akun tersebut selalu menjadi pengomentar pertama kali di setiap unggahan yang ia lakukan, yang mampu menarik fans-fans lainnya untuk berkunjung ke akunnya. Liliana memukul pipinya sendiri lalu terjatuh di lantai. “Sundari apa yang kau lakukan!” teriakan itu berasal dari belakang Sundari. “Ak…aku.” Dicekalnya tangan sang istri, dengan keras ia hempaskan ke belakang, tubuh Sundari oleng, jatuh ke sofa dengan keras. Meskipun bend aitu empuk, tapi Sundari bisa merasakan nyeri di tubuhnya. Hatinya semakin sakit tatkala Hartoyo menggendong tubuh Liliana menuju kamar tamu. Laki-laki itu tergopoh mengobati luka di pipi wanita itu. Merasa tak enak hati, Sundari menuju ruang tamu sambil membawa sebaskom air hangat. “Kakak, jangan siram. Aku tahu aku salah, tapi tolong jangan begitu kejam padaku,” rintih Liliana. “Sundari jangan macam-macam kau, ya.” Hartoyo merebut baskom itu, membantingnya ke lantai. Sebagian airnya muncrat, mengenai baju Sundari. “Aku…aku.” Tidak ada kata-kata penjelasan dari mulutnya. Karena Hartoyo menyeret tubuh ringkihnya ke kamar mandi lalu menguncinya dari luar. “Malam ini tidur saja kau di sana, renungi kesalahanmu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN