Bab 10

1117 Kata
Sundari berdiri mematung di ambang pintu kamar mandi, tubuhnya menggigil bukan karena air yang membasahi lantai, tetapi karena rasa sakit yang menyesakkan d**a. Bau sabun yang lembut bercampur dengan aroma lembap membuat ruangan itu terasa makin menekan. Di belakangnya, pintu tertutup oleh tangan Hartoyo, suaminya, dengan hentakan lirih namun penuh ketegasan. “Tidur di sini.” Suara Hartoyo rendah, mengandung kemarahan yang sudah ia tahan sejak tadi. “Kau hampir mencelakai Liliana. Aku tidak mau mengambil risiko.” Sundari menelan ludah yang rasanya hambar. “Mas… aku tidak…” “Cukup!” bentaknya. “Aku tidak mau mendengar alasanmu lagi.” Pintu tertutup. Terkunci. Sundari menatap gagang pintu itu lama, seolah masih berharap Hartoyo akan kembali, membuka pintu, memeluknya seperti dulu ketika mereka baru menikah. Tapi yang tersisa sekarang hanya udara dingin dan suara gemericik air dari keran di sudut ruangan. Ia melangkah pelan, memeluk tubuhnya sendiri. Lantai kamar mandi itu lebih dingin daripada biasanya. Setiap langkah membuat telapak kakinya sakit, seolah ada jarum-jarum halus menusuk kulitnya. Di pojok ruangan terdapat baskom yang tadi menjadi sumber bencana dan fitnah. Baskom itu masih tergeletak di sana, dengan air yang tersisa separuh. Air hangat yang tadi ia siapkan untuk membersihkan luka-luka Liliana. Luka yang katanya didapat karena ia pukuli di ruang tamu meski Sundari tidak melakukannya, ia selalu curiga ada niatan yang disembunyikan adik tirinya itu. Tapi Sundari tak pernah menduga bahwa kebaikannya hari ini justru menjadi jebakan yang menelanjanginya di hadapan Hartoyo. Sundari menghela napas panjang, duduk perlahan di lantai. Ia membiarkan punggungnya bersandar pada dinding keramik yang dingin. “Ya Tuhan…” bisiknya lirih. “Kenapa Hartoyo tidak mau percaya padaku?” Air matanya menetes tanpa suara. Beberapa jam sebelumnya, semua itu bermula ketika Liliana berteriak histeris dari kamar tamu. Sundari, yang sedang membawa baskom air hangat, spontan terkejut. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Liliana menjerit sambil menunjuknya. “Kak Sundari mau menyiram aku dengan air panas!” teriaknya. Hartoyo, yang baru mengambil obat luka, mendengar suara itu dari ruang tengah. Tanpa bertanya lebih dulu, ia menerobos masuk. Saat itu Liliana menangis, wajahnya memerah seperti bekas tersiram… padahal itu sebenarnya bekas luka tamparan yang memang sudah ada sedari tadi. “Apa yang kau lakukan padanya?!” bentak Hartoyo, memukul pintu hingga Sundari bergidik. Sundari mencoba menjelaskan, namun suaminya tak mau mendengar sepatah kata pun. Liliana terus menangis, menyembunyikan wajahnya di balik selimut, seolah ketakutan setengah mati. Dan kini… Sundari terjebak di kamar mandi, dalam hukuman yang bahkan tidak layak diberikan kepada seorang pesakitan. Suara detik jam dari luar kamar mandi terdengar samar. Hartoyo tampaknya masih terjaga, karena Sundari mendengar langkah kakinya mondar-mandir di lantai kayu ruang keluarga. Itu membuatnya makin sedih, jika Hartoyo masih marah, artinya ia bahkan tidak mempertimbangkan untuk memeriksanya atau bertanya ulang tentang kejadian tadi. “Kau selalu mempercayai dia…” gumam Sundari. “Selalu Liliana…” Ia memejamkan mata, membiarkan ingatan masa lalu mengalir. Liliana, adik tiri yang diperkenalkan Hartoyo tiga bulan lalu sebagai asisten pribadinya, paska perceraian wanita itu dengan Daniel. Saat itu, Liliana terlihat rapuh, manja, dan cepat menangis, membuat siapa pun merasa perlu melindunginya. Termasuk Hartoyo. Tapi di balik itu, Liliana memiliki helai-helai gelap yang hanya terlihat oleh mata Sundari. Kata-kata manisnya sering berbalik menjadi fitnah diam-diam. Gerak-geriknya selalu mencari perhatian, seolah ingin mengambil tempat yang tidak pernah menjadi haknya. Namun setiap kali Sundari mencoba bicara, Hartoyo menanggapinya sebagai kecemburuan istri yang tidak masuk akal. “Kak Sundari tidak suka aku, Mas…” begitu Liliana selalu berkata sambil pura-pura menyeka air mata. Dan Hartoyo, yang selalu ingin menjadi pelindung cinta masa kecilnya, terjebak dalam kepolosan palsu itu. Sundari menyeka pipinya sendiri. “Mengapa aku selalu yang disalahkan…?” Ia menyelipkan telapak tangan ke bawah pipi, mencoba tidur meski dingin tak henti menggigit tulang. Kain tidurnya yang tipis makin lama makin lembap karena lantai yang basah. Udara menusuk hingga ke tulang, membuat tubuhnya menggigil sesekali. Namun ketika ia hampir terlelap, suara lembut tapi sinis terdengar dari arah pintu. “Kak… masih bangun?” Sundari mendongak. Itu suara Liliana. “Apa maumu?” tanya Sundari pelan, matanya setengah terbuka. Liliana tertawa kecil, tawa yang hanya terdengar manis di permukaan, namun mengandung duri di dalamnya. “Ingin memastikan Kak Sundari baik-baik saja. Kan kakak tidur di kamar mandi malam ini…” Sundari terdiam. Liliana melanjutkan, suaranya berbisik namun jahat, “Kalau Kak Sundari tadi tidak membawa air panas itu ke kamarku, mungkin Mas Hartoyo tidak akan marah.” “Itu air hangat,” jawab Sundari, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Untuk membersihkan luka-lukamu. Kau tahu itu.” “Aku tahu,” jawab Liliana dengan ringan. “Tapi Mas Hartoyo tidak perlu tahu, kan?” Deg. Sundari menggigit bibir bawahnya hingga terasa asin. “Liliana, kenapa kau melakukan ini?” Keheningan beberapa detik. Lalu Liliana menjawab dengan nada manja penuh kemenangan, “Karena Kak Sundari selalu terlihat terlalu bahagia dengan Mas Hartoyo. Dan aku… ya, aku ingin sedikit perhatian juga. Itu saja.” “Dengan memfitnah?” suara Sundari bergetar. “Ah, Kakak terlalu sensitif.” Liliana menguap samar. “Sudahlah… selamat tidur, Kak. Semoga tidak masuk angin.” Langkah kaki Liliana menjauh. Denting kecil terdengar, mungkin ia sengaja mengetuk pintu sebelum pergi. Sundari menutup wajahnya dengan kedua tangan. Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang lebih tajam daripada rasa sakit…keputusasaan. Subuh datang tanpa suara. Cahaya tipis merembes dari ventilasi kecil di sudut dinding. Sundari bangun dalam keadaan menggigil hebat, namun ia paksa tubuhnya duduk. Rambutnya kusut, bibirnya kebiruan. Ketukan lembut terdengar dari sisi luar pintu. “Sundari?” Itu suara Hartoyo. Lembut, lebih lembut dari tadi malam. Mungkin ia baru menyadari bahwa hukuman itu terlalu kejam. Atau mungkin ia hanya mendengar langkah Liliana yang tampak terlalu ceria pagi ini. “Sundari, buka pintunya,” katanya lagi. Sundari meraih gagang pintu, membukanya pelan. Wajah Hartoyo tampak lelah. Ada sesal di matanya. Tapi sesal saja tidak cukup untuk menambal hati yang sudah tergores begitu dalam. “Sundari…” Ia mengulurkan tangan hendak menyentuh pipinya. “Aku… aku mungkin terlalu keras tadi malam. Aku…” Sundari menepis pelan. “Mas Hartoyo percaya apa pun yang Liliana katakan. Bahkan tanpa bertanya padaku.” Hartoyo terdiam. “Aku tidak menyiram siapa pun dengan air panas,” lanjut Sundari. “Air itu untuk mengobati lukanya. Mas bisa periksa sendiri suhunya yang tersisa di baskom.” Hartoyo menunduk. Mungkin ia baru menghubungkan semuanya. Mungkin juga ia masih ragu. Namun bagi Sundari, luka itu sudah telanjur membuka. “Mas…” suaranya lirih. “Kalau setiap kali Liliana menangis aku harus dihukum begini… apakah aku masih dianggap sebagai istri?” Hartoyo menatapnya lama, namun tak mampu menjawab. Dan di situlah, di ambang pintu kamar mandi yang dingin itu, Sundari menyadari sesuatu, bukan hanya tubuhnya yang membeku semalaman, melainkan pernikahannya juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN