Aku baru saja berdiri tegak dari bersandar pada mobil ketika Kevin menepuk pundakku dan memberi isyarat ke arah seseorang. “Dia mau ketemu kau,” katanya singkat. Aku menoleh. Pria itu berjalan mendekat, masih muda, tubuhnya tinggi dengan jaket balap setengah terbuka. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya berbinar, bukan kesal. “Zenata, ya?” katanya sambil mengulurkan tangan. “Aku lawan kamu barusan," lanjutnya dengan senyum di wajahnya. Aku mengangguk dan menyambut uluran tangannya. Jabatannya kuat, tulus. “Iya.” “Permainanmu rapi banget,” ujarnya jujur. “Aku jarang ketemu orang yang berani ambil jalur seagresif itu tapi tetap tenang.” Aku tersenyum tipis. “Terima kasih. Aku anggap itu pujian," timpalku. Dia tertawa kecil. “Serius. Aku kira kamu bakal goyah di tikungan ketiga. Tapi

