32. Lintasan Emosi

1094 Kata

Begitu aku melangkah masuk ke area sirkuit, suara mesin langsung menyambutku seperti gema masa lalu. Beberapa orang menoleh. Ada yang hanya melirik, ada juga yang mengenali. Dan di antara kerumunan itu, satu wajah lama muncul mendekat. “Zenata?” Suaranya terdengar tidak percaya. “Gila, udah lama banget," katanya. Aku menoleh. “Hai, Vin, Masih berdiri di sini juga, rupanya?” Senyumku terpatri tipis di bibir. Dia terkekeh, lalu melirik mobilku. “Kamu datang buat nonton atau…?” “Balapan,” jawabku singkat. Senyumnya memudar, diganti ekspresi ragu. “Kamu yakin?” Dia mencondongkan badan, merendahkan suara. “Lawanmu bukan sembarang orang. Dia lagi digadang-gadang jadi juara. Beberapa bulan ini, sirkuit ini dikuasai dia," kata Kevin, memberi tahu. Aku menatap lintasan di kejauhan. Lampu-la

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN