Langkahku terhenti tepat di ambang pintu ruang tamu. Suasana rumah terasa berbeda. Terlalu ramai, dan terlalu hangat. Dan itu justru membuat tengkukku menegang. Di sofa utama, duduk seorang pria yang sangat kukenal, Calvin. Di sampingnya, kedua orang tuanya berpakaian rapi dan tampak berwibawa. Senyum mereka merekah begitu melihatku berdiri membeku di dekat pintu. Jantungku berdegup sedikit lebih cepat. “Akhirnya pulang juga,” suara Ayah terdengar ringan, seolah semua ini hal biasa. Aku masih berdiri, mencoba mencerna situasi. Calvin bangkit setengah berdiri, senyumnya sopan, nyaris sempurna. “Zenata,” sapanya lembut. Ibunya ikut tersenyum ramah. “Kamu semakin cantik saja.” Aku memaksa bibirku terangkat tipis. “Terima kasih, Tante.” Tatapanku bergerak cepat, Ayah terlihat santai, b

