Malam hari, di rumah sudah tenang. Aku sengaja mengurung diri di kamar lebih awal. Kepalaku penuh, hatiku lebih lagi. Aku berusaha menenangkan diri, mengingat kembali rencana yang sudah kami susun siang tadi. Aku tidak boleh gegabah juga tidak boleh memperlihatkan kecurigaan sebelum semuanya benar-benar terbukti dan perusahaan Ayah kembali aman. Maka aku harus bersabar. Rasa haus membuatku bangkit dari tempat tidur. Botol minumku kosong. Dengan langkah pelan agar tidak menimbulkan suara, aku keluar kamar menuju dapur. Lampu ruang tengah sudah redup, hanya lampu kecil di sudut ruangan yang menyala. Saat melewati lorong menuju dapur, suara pelan terdengar dari arah ruang keluarga. Aku berhenti. Itu suara Lisa. “Kita harus pastikan pertemuan minggu depan itu berjalan lancar.” Aku refleks

