45. Permintaan Maaf

1189 Kata

Bau antiseptik menyengat samar saat aku membuka mata, langit-langit putih, suara alat medis berdetak pelan, kepalaku terasa ringan, tubuhku lemas seperti habis berlari jauh. “Zenata.” Suara itu. Aku menoleh pelan, wajah pertama yang kulihat adalah Rheef. Dia duduk sangat dekat di sisi ranjang, rambutnya sedikit berantakan, matanya menyiratkan kecemasan yang belum sepenuhnya hilang. Begitu melihatku sadar, dia langsung bangkit dan mendekat. “Kamu sudah bangun,” katanya lirih, suaranya serak. Aku mencoba mengingat, rumah, cincin, teriakan, petugas, Lisa, dan Bianca, serta keluarga Calvin, lalu gelap. “Apa yang terjadi?” tanyaku pelan, tenggorokanku kering. Rheef menghela napas lega sebelum menjawab. “Kamu pingsan. Dokter bilang kamu kelelahan dan terlalu stres.” Stres? Ya, itu masu

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN