Bel tanda berakhirnya waktu belajar di sekolah TK Tadika Husada baru saja berbunyi.
Setelah berdoa bersama Mia membuat sebuah permainan tebak-tebakkan menghitung. Siapa yang lebih cepat menjawab dia bisa pulang lebih dulu.
"Lima di tambah lima berapa?" ucap Mia yang berdiri di depan kelas.
Seorang bocah mungil yang baru bergabung hari ini di dalam kelas itu dengan cekatan mengacungkan jarinya.
"Ya, Nayna?"
"Sepuluh, Bu Guru," jawab Nayna yakin.
Mia tersenyum sumringah. "Oke Nayna boleh pulang,"
Nayna pun bangkit dari tempat duduknya, bersalaman dengan sang Ibu guru dan langsung keluar dari dalam kelas dengan langkah riang.
Di luar pintu kelas, Nayna disambut oleh sang Bunda yang dengan sabar menunggu kepulangannya.
Seluruh murid sudah sepenuhnya keluar. Mia sang Ibu Guru terlihat keluar dari dalam kelas dan hendak mengambil El yang saat itu terlihat sedang bermain dengan Ajeng dan Nayna.
"Loh, kok El sama Mamanya Nay? Pak Kartonya mana?" tanya Mia pada Ajeng. Sebab sebelumnya, Mia menitipkan El pada Pak Karto, security di TK Tadika.
Baik Guru, Kepala sekolah, staf-staf administrasi serta termasuk para security di TK Tadika sudah seperti keluarga ke dua bagi Mia, jadi, dia percaya kalau El akan aman di tangan Pak Karto.
"Maaf, Bu. Saya bosan nunggu Nayna sendirian di sini, jadi saya gantiin Pak Karto buat jagain El," ucap Ajeng dengan wajah yang terlihat sungkan. "El lucu banget sih," tambahnya dengan tawa renyah sembari mengelus pipi El.
"Oh, ya ampun, jadi ngerepotin. Maaf ya, Bu," sahut Mia sang sama sungkannya.
El meronta dari pangkuan Ajeng saat dia melihat sang Mamah dihadapannya. Mia pun buru-buru mengambil El dari pangkuan Ajeng.
"El anaknya Bu Guru ya?" tanya Nayna yang saat itu tak lepas menggandeng tangan El.
"Iya sayang, El anak Ibu," jawab Mia dengan senyuman lebar.
"Nayna boleh pinjem El nggak? Mau Nayna kasih liat ke Papah, biar Papah sama Bunda bisa kasih Nayna adik kayak El,"
Ajeng langsung membekap mulut anaknya. Pipinya langsung merona. Kenapa juga Nayna bisa-bisanya bicara begitu? Pikirnya bingung. Sungguh, dia jadi dibuat malu oleh Nayna dihadapan Ibu Guru.
Mia jadi tertawa mendengar celoteh polos Nayna.
Meski tawa itu terdengar hambar.
Entah dia harus bicara apa, Mia jadi kebingungan sendiri.
Insiden tadi pagi yang menimpanya cukup membuat konsentrasi mengajarnya kian buyar. Pikirannya kacau dan terpecah belah.
Dan semua itu terjadi saat Mia melihat seorang laki-laki yang tak asing di taman bermain pagi tadi.
Laki-laki berperawakan tinggi kekar dengan wajahnya yang khas bule Swedia. Seorang laki-laki berkemeja abu-abu dengan sebuah tato di leher kirinya.
Seorang laki-laki tampan dengan tatapan tajamnya dan kejeniusannya dalam menganalisa sesuatu.
Seorang laki-laki asing yang bahkan baru dikenalnya dalam kurun waktu yang begitu singkat, tapi telah berhasil meluluhlantahkan seluruh hati dan jiwanya secara bersamaan.
Seorang laki-laki pertama yang telah berhasil menyentuhnya bahkan hingga ke area tertutup yang sebelumnya tidak pernah ada yang berani menjamahnya. Seorang laki-laki pertama yang berhasil meruntuhkan semua kewarasan seorang Mia Prameswari. Melumpuhkan benteng pertahanannya sebagai seorang wanita suci.
Dan semua itu terjadi sekitar empat tahun silam, di Amerika.
*
"Aduh, El, lo udah mabuk berat! Udah sih minumnya!" omel Mia pada El, seorang laki-laki yang baru dia kenal sejak insiden penculikan itu.
"Tobias b*****t!" maki El dengan wajahnya yang merah padam. Ke dua kelopak mata lelaki itu terlihat berair. Dia melempar botol minuman di tangannya ke arah danau.
Semuanya mendadak seperti mimpi bagi El, saat sang adik Ronald memberitahunya sebuah fakta yang begitu menyakitinya. Menghancurkan sisa-sisa harapan yang dia miliki sebelumnya.
Yakni, tentang kematian sang Ibunda tercintanya, Meghan.
"Bertahun-tahun gue bergabung sama kelompok TERORIS b*****t ITU! Cuma demi mencari informasi dimana keberadaan Nyokap gue! Setiap hari gue berharap, kalau suatu hari nanti, gue bisa kembali bertemu sama Mamah... Tapi apa sekarang? APA YANG GUE DAPET SEKARANG MIA? APA? NYOKAP GUE UDAH MATI!"
El bangkit dari duduknya di tepi danau central Park, New York dengan langkah sempoyongan. Lalu dia terjatuh. Efek minuman keras yang telah dia minum dalam jumlah yang banyak, cukup membuat pandangannya kian kabur, meski kesadaran dan kewarasannya tak benar-benar hilang.
Mia berusaha membantu El untuk bangkit, El memutar tubuhnya menjadi posisi telentang dan pergerakan tangan El yang begitu tiba-tiba jelas tak bisa dihindari oleh Mia.
El yang menarik tengkuk Mia menyatukan wajah Mia ke wajahnya hingga posisi Mia membungkuk saat itu. Bibir Mia jatuh persis di atas bibir El.
El menutup matanya dan mulai menyelami bibir lembut itu dengan pagutan bibirnya, meski setelahnya dia justru mendapat penolakan. Sebab Mia yang langsung melepas tautan di bibir mereka. Meski wajah Mia tak benar-benar menjauhi lelaki pemilik nama samaran El itu.
Mia menatap El dengan tatapan sendu dan denyut jantung yang terus berpacu dengan sangat cepat. Keintiman mereka membuat Mia merasa begitu aneh. Sebab ini pertama kalinya Mia merasa sulit untuk menolak sentuhan laki-laki.
Pesona El terlalu memabukkan baginya.
"Gue sayang sama lo, Tessa..."
Mia terperangah hebat saat El mengucapkan kalimat itu. Sejauh ini, Mia memang menyembunyikan identitas aslinya dari dunia. Tentang siapa nama aslinya, dari mana dia berasal pun tentang semua latar belakang kehidupannya.
Terhitung sejak dirinya dikhianati oleh kelompok organisasi kesatuan ICE, yakni nama organisasi inteligen rahasia di negara kelahirannya.
Mia dibuang ke sebuah jurang setelah dia dinyatakan tewas akibat suntikan racun mematikan yang memang sengaja dilakukan oleh kelompok organisasinya sendiri. Mia yang terlalu jujur dan tak pernah membelot dari tugas yang mereka emban, dianggap membahayakan, jadilah Mia disingkirkan oleh kelompoknya sendiri.
Dan sejak saat itu, dirinya ditemukan oleh warga setempat lalu diurus dengan pemulihan obat-obatan tradisional.
Mia pun sembuh. Hingga sebuah kenyataan pahit dia terima setelah kesembuhannya, tepatnya saat dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Ke tanah kelahiran Ibunya.
Di sanalah Mia tahu bahwa ke dua orang tuanya meninggal tak lama setelah dirinya dinyatakan hilang oleh pemerintahan tempat organisasi ICE bernaung.
Dan fakta yang lebih membuatnya terkejut adalah, orang tuanya meninggal akibat kejang otak secara tiba-tiba dan dalam kurun waktu yang sangat singkat. Padahal sebelumnya, ke dua orang tuanya itu sedang dalam keadaan baik-baik saja.
Dari kejanggalan demi kejanggalan yang terjadi, akhirnya Mia memutuskan untuk menggali informasi lebih lanjut mengenai penyebab kematian orang tuanya.
Hingga akhirnya, Mia mendapati kebenaran bahwa orang tuanya meninggal akibat dibunuh, bukan kejang otak.
Melainkan ada sebuah alat atau senjata yang digunakan untuk membunuh ke dua orang tuanya itu dari jarak jauh, hingga menyebabkan ke dua orang tuanya seolah-olah meninggal terkena stroke.
Setelah hari itu, Mia memutuskan untuk membunuh satu persatu para pelaku pembunuhan orang tuanya.
Hingga akhirnya, dia dipertemukan dengan El di Amerika dalam misinya tersebut.
Jadi, apa yang dialami Mia dan El, kurang lebihnya sama. Begitu pula apa yang mereka rasakan saat harus kehilangan orang yang mereka cintai.
Melihat keterpurukan El malam ini, sungguh membuat hati seorang Mia tersentuh.
"Kita balik ke rumah ya El, hari mau hujan kayaknya, ayo," cukup susah payah, Mia membantu El untuk bangkit.
Dipapahnya El menuju kediamannya diujung jalan Central Park.
Sejak beberapa hari yang lalu saat dirinya, El dan adik El yang bernama Ronald berhasil menghabisi nyawa keponakan dari pemimpin organisasi The Lion King yang bernama Dornan Kellyson alias Fathur, El dan Mia tinggal bersama dalam satu petakan rumah kecil milik Mia di New York.
Meski itu hanya rumah sewaan, sebab sejauh ini Mia hidup berpindah-pindah.
Sesampainya di rumah, tubuh El dibaringkannya di atas ranjang. Karena ukuran rumah itu memang kecil dan hanya ada satu kamar, biasanya El tidur di sofa, tapi kali ini, Mia akan membiarkan El untuk tidur di tempat tidurnya.
Mia hendak mengambil handuk dan sebaskom air hangat untuk membasuh tubuh El yang lengket dan berbau alkohol, meski hal itu tak jadi dia lakukan sebab saat itu, El tiba-tiba bangkit, menarik tangannya dan menjadikan tubuh Mia berada di bawah kuasanya.
"Jadi milik gue Tessa... Gue janji akan bahagiain lo..." bisik El saat itu. "Tolong... Jangan tolak gue lagi... Gue butuh lo Tessa... Tolong..." racau El dengan setengah kesadarannya. Laki-laki itu membuka pakaiannya juga pakaian Mia.
Bahkan tanpa sedikit pun ada perlawanan.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Mia melakukan hubungan yang benar-benar jauh dari hubungan normal sebatas rekan kerja dan sahabat.
Mungkin El bisa saja tidak sadar sudah menjadikan tubuhnya pelampiasan atas kesakitan yang laki-laki itu rasakan karena kehilangan ibunya, tapi saat itu, Mia menerima segala perlakuan El secara sadar.
Dia tahu, hanya dengan satu manuver pukulan tangannya saja, El pasti akan langsung kehilangan kesadarannya. Mia tahu, dirinya mampu melawan, mampu untuk lari dan menghentikan aksi gila El terhadap dirinya saat itu, tapi, dia sungguh tak mengerti dengan dirinya sendiri.
Mia hanyut dalam cumbuan El. Mia menyerah dalam kuasa El. Mia terbuai dalam setiap sentuhan lembut bibir El yang menjajaki inci demi inci tubuhnya. Lekuk demi lekuk kulitnya yang sudah dalam keadaan polos.
Mia tahu, saat itu bahwa dirinya telah jatuh, sejatuh-jatuhnya pada pesona El.
Dia tahu, bahwa dirinya telah jatuh cinta pada sosok pria bernama lengkap Benji Eldino.
Ya, sejak saat itu.
*
"Bu-Bu guru, Bu Mia..."
Mia terhenyak saat tiba-tiba sebuah suara yang memanggil-manggil namanya tertangkap oleh telinganya.
"Oh, ya, maaf," sahutnya dengan suara terbata.
"Omong-omong, tadi kata Pak Karto, Ibu tinggal di daerah rusun di Blok S?" tanya Ajeng pada Mia.
"Oh, iya benar," jawab Mia disertai anggukan kepala.
"Kebetulan Bu, saya mau ke sana sama Nayna. Mau berkunjung ke rumah kawan lama saya yang juga tinggal di sana. Namanya Ratih, Ibu kenal?"
Mia terlihat berpikir. Ratih?
"Oh, Ratih yang baru melahirkan anak ke dua bukan? Di lantai tiga deh kalau nggak salah, dia buka usaha jahit di rumahnya?" terka Mia si ibu guru.
"Iya, betul, Bu."
"Oh, kalau Ratih itu saya kenal. Saya pernah beberapa kali jahit pakaian sama dia,"
"Kalau begitu, Ibu Guru pulang bareng saya aja. Kita satu arahkan? Kebetulan saya di jemput sama suami saya, tuh mobilnya udah dateng, jadi nanti Ibu bisa antar saya ke tempatnya Ratih," ajak Ajeng pada Mia.
"Papah..." teriak Nayna pada seorang laki-laki yang saat itu baru saja turun dari sebuah mobil sport hitam. Kini laki-laki itu mulai berjalan memasuki pintu gerbang sekolah Tadika.
Perasaan Mia kian berkecamuk.
Tidak! Tidak!
Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengganggu ketentraman keluarga El saat ini.
Aku harus pergi...
Gumam batin Mia saat itu.
"Maaf Bu, kebetulan saya sudah ada janji dengan teman, jadi tidak bisa pulang bareng," ucap Mia pada Ajeng, dia terpaksa berbohong.
Tanpa menunggu jawaban Ajeng, sang Ibu guru itu sudah pergi lebih dulu memasuki ruangan Guru di ujung koridor sekolah, diikuti langkah Calista di belakangnya.
Kenapa, dia jadi aneh begitu?
Pikir Ajeng, sedikit heran saat didapatinya wajah sang Ibu guru yang tiba-tiba memucat.