Ajeng melangkah menaiki tangga rusun di Blok S menuju lantai tiga bersama Nayna dan Benji.
Awalnya Ajeng heran kenapa suaminya itu tiba-tiba tertarik untuk ikut bertandang ke rumah Ratih, padahal sebelum ini, Benji tidak pernah mau diajak kumpul bersama kawan-kawan Ajeng baik di luar atau pun harus bertamu langsung ke rumah mereka. Benji itu anti sosial, dia itu egois. Jika Ajeng yang punya hajat, Benji pasti malas menemani, coba lihat jika dirinya yang memiliki hajat, Ajeng tidak boleh ketinggalan oleh ketiaknya.
Benji itu memang tidak suka berada di antara orang-orang yang tidak dikenalnya dengan baik. Tapi kali ini, Benji justru mengatakan hal yang menurut Ajeng sangat-sangat konyol.
"Gimana kalau kita tinggal di rusun itu sementara waktu sayang? Kayaknya seru," itulah yang Benji ungkapkan pada Ajeng beberapa menit tadi saat mereka masih dalam perjalanan menuju rusun.
Dan Ajeng tau suaminya itu pasti hanya sekadar bergurau, makanya dia tidak terlalu menanggapi serius kicauan Benji.
"Aku mau liat-liat ke lantai atas dulu ya, kamu duluan aja ke tempat Ratihnya sama Nayna, nanti aku susul," ucap Benji sesampainya mereka di lantai tiga.
Suami dan istri itu pun berpisah di lantai tiga. Ajeng dan Nayna melangkah mencari kediaman Ratih, sementara Benji melanjutkan langkah menyusuri anak tangga rusun, menuju lantai lima.
Langkah lelaki itu terhenti di sebuah rusun bernomor 55.
Tatapannya tertuju pada daerah sekitar. Aman.
Benji melangkah mendekati pintu rusun itu dan mulai mengetuk pintunya.
"Permisi," teriaknya dari luar.
Tak lama, seorang gadis keluar dari dalam rusun itu.
Tatapan Benji tak lepas dari gadis itu. Seorang gadis yang berpakaian santai dengan celana jeans super duper pendek serta tank top yang memperlihatkan bagian pusarnya. Sungguh pemandangan yang begitu memanjakan mata. Pikir Benji dengan menyembunyikan senyum mesumnya.
Sepengetahuan Benji saat ini, wanita bernama Joyce, salah satu mahasiswi IBM yang menghuni rusun ini sedang ada di kampusnya sekarang. Dan itu artinya perempuan seksi dihadapannya sekarang inilah yang bermama Jovan, kembaran Joyce.
Hebatnya, wajah mereka memang sangat-sangat mirip.
"Hai? Selamat siang," sapa Benji sumringah.
"Iya siang, cari siapa ya?" tanya gadis sang pemilik rusun itu.
"Kenalkan, saya El," Benji mengulurkan tangannya ke arah gadis itu.
Uluran tangan itu disambut tanpa sedikit pun rasa curiga oleh si gadis.
"Aduh!" Pekik si gadis saat merasakan sesuatu seperti menggigit telapak tangannya saat dia menyambut uluran tangan Benji. Gadis itu segera menarik tangannya kembali, meski setelahnya, dia langsung kehilangan kesadaran.
Benji celingukan dan mendorong tubuh itu ke dalam lalu menangkapnya sebelum tubuh mulus itu benar-benar terjatuh ke lantai.
Sayangkan kalau sampe lecet...
Ditaruhnya tubuh si gadis di sofa setelah dia berhasil membuat si gadis pingsan sementara waktu.
Benji menutup pintu rusun itu untuk kemudian dia memulai aksi mata-matanya.
*****
Ajeng menyesap es teh manisnya yang dihidangkan oleh Ratih. Sementara Nayna sedang mewarnai buku gambar bersama anak Ratih yang lebih tua tiga tahun di atas Nayna, bernama Adit. Mereka terlihat cepat akrab satu sama lain.
Nayna itu anaknya memang supel dan pintar beradaptasi di tempat baru. Sangat berbeda dengan Ajeng sang Bunda yang cenderung pendiam dan tertutup.
Ajeng tahu, semua sifat dan kelakuan Nayna itu diwariskan dari almarhum Bagas.
Bagas dan Benji, mereka memiliki sifat yang tak berbeda jauh, hanya saja Ajeng memang memiliki perasaan lebih besar ke Benji ketimbang Bagas.
Seandainya dulu Ajeng tidak hamil duluan, mungkin pernikahannya dengan Bagas tak akan pernah terjadi.
Sementara Ajeng tak mungkin mengatakan bahwa dirinya tengah hamil lebih dulu pada Benji dan menjadi lebih tidak mungkin lagi jika dia meminta Benji untuk bertahan di sisinya.
Hingga akhirnya, Ajeng melepas kepergian Benji dengan sangat berat hati lalu menikah dengan Bagas.
Dan sejak itulah, Ajeng lost contact dengan Benji.
Benji bilang dia bekerja di luar negeri dan pekerjaannya itu mengharuskan dirinya untuk tinggal secara nomaden. Meski setelahnya, Benji tidak pernah menceritakan lebih detail mengenai pekerjaannya itu.
Dan kehidupan keluarga Benji pun masih menjadi sebuah misteri bagi Ajeng. Terutama mengenai siapa sebenarnya Ibu kandung Benji dan Ronald?
Tangisan seorang bayi menyadarkan Ajeng dari lamunannya. Saat itu, tatapannya tertuju pada Ratih yang sedang menyusui bayinya.
Ratih baru saja menyampaikan permohonan maafnya pada Ajeng karena tidak bisa menghadiri acara pernikahan sang sahabat, sebab keadaan memang tak mendukung Ratih untuk melakukan perjalanan jauh saat itu.
"Sudahlah nggak apa-apa Rat, aku maklum keadaan kamu, nggak mungkinkan kamu harus paksain ke Semarang sementara kamu aja baru melahirkan," sambut Ajeng yang kini mengambil posisi duduk berhadapan dengan Ratih yang masih menyusui bayinya.
Ajeng sesekali membelai pipi sang Bayi.
Rasanya, Ajeng sudah begitu rindu mendengar tangisan Bayi menghiasi kamarnya bersama Benji. Pasti akan menjadi saat-saat yang begitu membahagiakan jika hari-hari itu dia lewati bersama Benji nanti. Terlebih, Ajeng tahu bahwa Benji itu sangat menginginkan anak laki-laki, dan semoga saja Allah bisa mengabulkan keinginan suaminya itu.
"Loh Benji kemana Jeng? Kok nggak ke sini? Jangan-jangan kesasar lagi tuh dia," goda Ratih dengan kerlingan mata jahilnya.
"Kesasar kemana sih? Masa di gedung begini aja sampe harus kesasar,"
"Yeee, kamu belum tau aja, di lantai atas itu kebanyakan yang huni, janda-janda cantik," beritahu Ratih.
"Ah, kamu ini bisa aja bikin kaget orang!"
Ratih tertawa.
"Oh iya, Rat, kamu kenal nggak sama Mia Prameswari yang tinggal di rusun ini juga, Guru TK Tadika?" tanya Ajeng pada Ratih.
Biasa, ibu-ibu rempong kalau ketemu itu pasti ujung-ujungnya bergosip.
"Oh, Ibu Guru Mia, iya kenal," jawab Ratih dengan anggukan kepalanya.
"Itu, beneran dia janda?" selidik Ajeng lagi.
"Kalau masalah itu sih, aku nggak begitu tahu, Jeng. Cuma yang aku tahu itu, dia tinggal di sini gantiin almarhumah Kakaknya Mba Retno, ibunya Calista. Dan selama dua tahun dia tinggal di sini, emang nggak pernah keliatan ada cowok yang masuk ke dalam rusunnya. Kecuali, akhir-akhir ini, ada tuh yang sering datengin dia ke rusun, kayaknya sih orang kaya, terus kata Ibu-ibu sini, laki-laki itu duda anak satu," jelas Ratih panjang lebar.
Ajeng terlihat berpikir.
Apa mungkin, laki-laki yang dimaksud Ratih itu adalah Mas Reymond? Pikir Ajeng membatin, hingga akhirnya Ratih kembali bicara.
"Eh, Jeng, tapi kamu diem-diem aja ya, ini sih cuma sekedar gosip-gosip yang beredar, ada yang pernah bilang, kalo Mia itu sebenernya belum menikah, dia gadis, tapi bukan perawan,"
"Ah masa sih? Terus El?"
"Ya, El itu anak dari hasil hubungan gelapnya mungkin! Tapi dari gosip-gosip yang lain sih, ada juga yang bilang katanya dia udah menikah, terus suaminya di luar negeri. Tapi logikanya nih ya, dua tahun dia tinggal di sini, masa sih suaminya nggak pernah keliatan sama sekali datengin dia ke rusun?" cerita Ratih dengan penuh antusias. Ratih ini aktif bergabung dengan sekumpulan ibu-ibu penggosip penghuni lantai satu. Tapi sejak dia hamil anak ke dua, intensitas Ratih bergosip dia kurangi, dia takut mulut nyinyirnya berpengaruh buruk pada si jabang bayi, meski setelah melahirkan, Ratih kembali pada sikap aslinya, yang sering kepo sama kehidupan orang lain dan seringkali percaya dengan gosip-gosip yang beredar tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu.
"Tinggal di rusun begini itu harus kuat-kuat iman, harus ekstra hati-hati, banyak banget kejadian, suami ibu-ibu di sini, ke pergok main gila sama janda-janda penghuni lantai atas, belum lagi l***e-lontenya, waria-waria, aduh, banyak banget hal negatifnya sebenernya. Seandainya aja aku tinggal di sini bukan dari subsidi pemerintah, udah dari dulu aku pindah, cari lingkungan tempat tinggal yang lebih baik. Mana akhir-akhir ini sering denger kabar tentang pembunuhan dan orang hilang. Belum lama, ada yang bunuh diri dari lantai tujuh, terjun ke bawah. Serem banget deh. Tapi kata polisi yang olah TKP, ada dua luka tembakan di mayat korban, itu tandanya dia udah di tembak sebelum akhirnya jatuh dari lantai tujuh,"
"Itu penghuni rusun sini juga?" potong Ajeng ngeri.
"Bukan, nggak tau orang mana. Nggak ada yang kenal,"
Ratih menaruh Bayinya yang sudah terlelap ke atas kasur bayi yang dia letakkan di atas kasur lantai.
Lalu kembali mengajak Ajeng mengobrol di sofa.
"Terus aku punya cerita serem lagi nih," lanjut Ratih.
"Apa tuh?" tanya Ajeng sama antusiasnya.
"Belum lama, ada kasus pembunuhan sadis di lantai sepuluh. Jadi, di rusun ini, dari mulai lantai delapan sampe lantai sepuluh memang rusunnya masih kosong semua, itu di lantai sepuluh di tutup karena pernah terjadi kebakaran dan belum di renovasi sampai sekarang. Dari kabar yang beredar, mayat yang ditemuin di lantai sepuluh itu keadaannya bener-bener mengenaskan, Jeng. Mau siapin kantong kresek nggak? Nanti kalo aku ceritain kamu muntah lagi?" Ratih jadi ragu menceritakan hal itu, takut Ajeng syok mendengarnya.
"Yaelah lebay banget kamu Rat, kalo cuma denger ceritanya aja sih aku masih sanggup, asal jangan liat langsung aja," balas Ajeng sambil tertawa kecil.
"Oke deh, begini ceritanya. Di lantai enam itu kan ada l***e, namanya Gladis. Dia itu cantiknya minta ampun. Tapi sayang, simpenan Om-om. Dalam satu hari, bisa dua sampe tiga orang Om-om yang dia ajak masuk ke rusunnya. Sampe akhirnya, tetangganya bilang Gladis menghilang. Dua hari nggak keliatan batang hidungnya di rusun. Terakhir tetangga ngeliat dia, Gladis abis di labrak sama Ibu-ibu yang dateng bawa mobil bagus, kayaknya sih itu istri dari salah satu Om-om yang kencanin Gladis. Waktu itu, dia diseret keluar sama Ibu-ibu itu dari dalam rusunnya. Rambutnya dijambak, ditendangin. Orang-orang rusun mau nolongin tapi bodyguard-bodyguard yang dibawa Ibu-ibu itu ngalangin, nggak ada yang berani ngelawan. Nah, udahannya, puas menganiaya Gladis sampe babak belur di depan warga, si Ibu-ibu pergi. Besokkannya Gladis menghilang. Dua hari kemudian, dia ditemuin di lantai sepuluh rusun ini dalam keadaan telanjang. p****g payudaranya putus, alat kelaminnya robek, rambutnya di gundulin. Sebelah biji matanya hilang, lima jari tangan kanannya putus..."
"Udah-udah stop-stop! Aduh... Kok aku jadi pusing dengernya. Serem banget sih?" potong Ajeng tiba-tiba sambil menutup telinganya. Bibir wanita itu mendadak memutih. Perutnya juga jadi mual.
Ratih buru-buru meminta Ajeng ke kamar mandi kalau memang dia hendak muntah betulan.
"Nggak-nggak, aku nggak apa-apa. Terus kasusnya gimana kelanjutannya? Udah ketemu pelakunya?" tanya Ajeng.
"Ya, sejauh ini sih tersangka utama itu, ya si Ibu-ibu yang dipergoki warga udah menganiaya Gladis,"
"Oh iya ya, bisa jadi sih, sumpah aku langsung merinding Rat..." beritahu Ajeng pada Ratih.
"Mau denger cerita yang lain lagi nggak?"
"Hah? Masih ada lagi?" pekik Ajeng tak percaya.
"Masih beberapa kasus. Dibilang, saking takut, warga di sini sempet patungan buat panggil orang pinter supaya cari tahu siapa sebenernya pelaku dari pembunuhan-pembunuhan itu, soalnya dari beberapa kasus cara pelaku membunuh korbannya emang beda-beda, malah pernah ada korbannya itu Ibu hamil tujuh bulan, mau tau nggak dia diapain?"
"Oh, nggak-nggak makasih! Jangan deh! Nggak kuat kayaknya aku denger yang begituan, sadis banget! Cuma berharap aja sih pembunuhnya cepet ketangkep,"
"Nah itu dia, pembunuhnya ini licin banget! Sampe sekarang polisi bahkan nggak menemukan bukti apa-apa dari beberapa kasus pembunuhan yang terjadi di rusun ini. Tapi setelah ditelaah lebih jauh, rata-rata dari mereka yang meninggal itu emang dikenal tukang buat masalah di rusun, contohnya ibu hamil tadi Riska namanya, dia tukang cari ribut. Orang setel radio kenceng-kenceng dia marah. Orang setel kaset tilawah Qur'an dia marah. Banyak banget orang yang sakit hati sama omongannya di rusun ini, terus pernah juga dia nampar si Joyce cuma gara-gara si Joyce nggak sengaja jatuhin jemurannya dia, itu pun bukan Joyce yang jatuhin, tapi El. Jadi, si Joyce itukan deket banget tuh sama Ibu guru Mia karena kebetulan rusun mereka sebelahan. Jadi Ibu Mia suka nitipin El sama Joyce. Joyce lagi ke kamar mandi, El keluar, Joyce lupa kunci pintu. Posisi rusun Riska sama Rusun Joyce cuma berjarak dua rusun. Waktu itu katanya El mau ambil boneka mobil-mobilan yang lagi dijemur sama Riska di luar, ditaruhlah boneka mobilan itu diatas jemuran besi dia, karena ditaikin sama El, roboh dong tuh jemuran, El jatuh, dan semua jemuran dia juga ikut jatuh padahal belum kering. Waduh, itu suaranya dia pas lagi marah-marahin Joyce sampe ke dengeran ke lantai satu, bayangin! Kasian banget si Joyce. Kasian nggak kasian sih pas denger kabar Riska meninggal, mungkin ngenesnya karena posisi dia waktu itu lagi hamil kali ya?" Ratih menarik napas dalam-dalam, dia sungguh prihatin oleh serentetan kejadian tragis yang akhir-akhir ini terjadi di lingkungan tempat tinggalnya. Saat ini, Ratih hanya berharap, jika sang pembunuh itu lekas tertangkap, sebelum akhirnya jatuh korban lagi.
Percakapan Ratih dan Ajeng pun berlanjut tapi kali ini dengan topik yang berbeda.
Mereka memilih untuk bercerita mengenai hal-hal lucu dan manis, mengenang saat-saat perkuliahan mereka di Semarang dahulu.