18. PENGIDAP DISLEKSIA

935 Kata
Sudah lima belas menit Benji berkutat di dalam rusun Joyce dan Jovan. Itu artinya, Benji masih memiliki waktu kurang dari lima menit untuk menyelesaikan misinya. Sebab pengaruh obat bius yang sengaja dia suntikkan pada kembaran Joyce yang bernama Jovan itu hanya bisa bertahan selama dua puluh menit saja. Korban akan tertidur selama kurun waktu tersebut dan kemudian sadar namun dia tidak akan mengingat apa yang terjadi menimpanya sejak dua puluh menit terakhir itu. Selain menyalin seluruh data yang tersimpan di komputer, Benji juga memeriksa seluruh ruangan, berharap dia bisa menemukan barang bukti demi menguatkan argumennya bahwa Joyce dan Jovan adalah anak kandung Wisnu dan Gayatri yang selama ini disembunyikan identitas aslinya oleh ke dua orang tua mereka. Dan yang pasti target utama Benji adalah menemukan di mana sampel dan dokumen penting pembuatan senjata berbahaya itu berada, termasuk dengan senjata itu sendiri. Benji membuka lemari pakaian. Dia melihat sebuah kotak bekas es krim tersimpan di dalam lemari itu. Benji pun membukanya. Ternyata hanya sekumpulan gantungan kunci. Benji hendak menutup kembali kotak itu, namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya dari gantungan-gantungan kunci yang tersimpan rapi di dalam kotak itu. Hingga setelahnya, Benji pun mengambil beberapa gantungan kunci yang menarik perhatiannya saat itu. Ada tiga buah gantungan kunci yang Benji masukkan ke dalam saku celananya. Pertama, sebuah gantungan kunci dengan bentuk dan warna seperti sekumpulan jari manusia yang direkatkan oleh lem. Ke dua, sebuah gantungan kunci berbentuk bulat, seperti biji bola mata manusia. Dan yang ke tiga, sebuah gantungan kunci, yang Benji yakin, bahwa itu hasil curian. Sebab, Benji mengenali gantungan kunci itu. Yakni, sebuah gantungan kunci batu giok berwarna putih kehijauan. Sebuah batu giok yang sangat mirip dengan batu giok milik Ronald, sang adik. ***** Kematian Letnan Jendral Wisnu Prayoga menjadi buah bibir di beberapa media televisi. Hal itu memicu beberapa opini publik mengenai adanya konspirasi oknum-oknum terkait mengenai masalah senjata berbahaya Micro FX yang kini menjadi satu-satunya senjata buruan pihak-pihak tak bertanggung jawab yang ingin memiliki senjata itu demi mendapatkan keuntungan pribadi. Sore itu, di sebuah pemakaman umum di daerah selatan Jakarta, Letnan Jendral Wisnu Prayoga dimakamkan secara layak oleh pihak pemerintah. Para anggota militer, TNI dan kepolisian terlihat memenuhi area pemakaman. Dari kejauhan, dua orang manusia berdiri dengan tatapan yang berbeda tertuju pada serangkaian acara pemakaman itu. Sebuah tatapan sendu sarat kepedihan dan mata yang terlihat sembab terpancar dari salah satu di antara mereka, berbeda halnya dengan tatapan sang saudara di sisinya, tatapan tajam, bengis dan sarat dendam yang membara terlihat di sana. "Salah satu otak dari pembunuh Ayah pasti ada dikerumunan orang itu, Jov," ucap Joyce dengan satu titik air matanya yang terjatuh, meski langsung dia seka dengan cepat. "Tapi siapa, Joy? Mereka semua orang penting, kita bisa apa?" sahut Jovan. Suaranya terdengar parau. "Ibu bilang, Ayah dikhianati oleh kelompok Inteligennya sendirikan? Tugas kita cuma perlu mencari, siapa orang-orang busuk itu!" ucap Joyce dengan penuh penekanan. "Kayaknya terlalu berbahaya, Joy! Mereka bukan tandingan kita," bantah Jovan, wajahnya terlihat putus asa. Joyce tidak menjawab. Ingatannya berputar pada kejadian satu bulan yang lalu di rumah sakit, saat Joyce tengah menjenguk Ibunya. * "Ehm," Joyce tersentak saat tiba-tiba dua petugas rumah sakit berjenis kelamin laki-laki memasuki ruangan tempat Ibunya di rawat. "Maaf, anda siapa ya? Sudah mendapat izin untuk menjenguk?" ucap salah satu dari ke dua petugas rumah sakit itu. "Oh, ma-maaf, saya salah masuk kamar!" Joyce yang gugup dan jadi panik begitu petugas rumah sakit itu mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan menjurus, jelas memilih untuk langsung hengkang dari dalam ruang ICU. Meski, setelahnya, tangannya sudah lebih dulu di tarik oleh salah satu dari dua lelaki itu. Joyce digiring ke tempat yang sepi oleh mereka dan di interogasi di sana. "Siapa kamu? Ada hubungan apa kamu dengan Gayatri?" tanya salah satu dari mereka. "Sa-saya Joyce, sa-ya nggak kenal sama wanita tadi, tapi pas saya liat dia di ruang ICU, saya jadi teringat sama Ibu saya, makanya saya masuk," jawab Joyce. Tubuhnya semakin didesak ke dinding. Sejauh ini, Joyce memang tak pernah sampai masuk ke dalam ruangan di mana Ibunya di rawat, kalau pun dia menyambangi rumah sakit, Joyce hanya bisa menatap tubuh Ibunya dari kaca luar. Dan bertanya pada sembarang perawat tentang perkembangan pasien di kamar ICU itu. Semua itu dia lakukan demi menutupi identitas aslinya. Joyce sadar, dirinya dengan Jovan kini tengah menjadi incaran begitu banyak pihak termasuk para anggota personil BIN yang menjadi musuh di dalam selimut terhadap ke dua orang tuanya selama ini. Ya, para pengkhianat itu. * Dan keyakinan Joyce bahwa dua petugas rumah sakit yang waktu itu memergokinya di ruang rawat ibunya adalah para personil BIN, kian menemukan titik temu saat tatapannya kini tertuju pada dua sosok laki-laki itu di sana. Berdiri di antara kerumunan orang-orang itu. Dari hasil pengintaian yang dia lakukan sejauh ini, Joyce mendapati nama ke dua orang itu adalah Benji Eldino dan Arjuna. Meski, semua penyelidikannya itu masih abu-abu. Joyce tidak ingin salah sasaran dalam menentukan target incarannya. Jika memang kematian Ayahnya, Wisnu adalah sebuah konspirasi busuk, maka para pelaku penculikan atas diri Gayatri, alias Ibu mereka pasti ada kaitannya dengan orang-orang yang telah membunuh Ayahnya. Mungkin, ada baiknya, Joyce meminta bantuan seseorang untuk menyelidiki ini semua. Joyce tidak mungkin meminta bantuan Jovan. Sebab, sejauh ini, Jovan tidak tahu menahu tentang apapun. Baik itu masalah yang menimpa ke dua orang tuanya, mengenai siapa sebenarnya Wisnu dan Gayatri, ataupun mengenai senjata Micro FX buatan Gayatri. Selama ini, yang Jovan tau, Ibunya koma, ayahnya di penjara, sementara mereka membutuhkan uang untuk melanjutkan hidup. Itu saja. Dan kenyataan bahwa Jovan adalah pengidap disleksia jelas semakin membuat langkah Joyce kian sulit. Sebab, Joyce tahu, Jovan pasti rentan untuk dibodohi. Hanya karena Jovan buta huruf.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN