11. AJAKAN MAKAN MALAM

1519 Kata
"Calista, sarapannya cepat dihabiskan ya," teriak Mia dari dalam kamar mandi. Dia sedang memandikan El. Hari ini, sepertinya, Mia terpaksa membawa serta El ke sekolah, lagi-lagi Bi Astuti tidak bisa datang untuk menjaga El. Akhir-akhir ini kondisi Bi Astuti memang terlihat kurang baik, mungkin karena faktor usia. Dan itu artinya, Mia harus segera mencari pengasuh baru untuk El. Meski, dia tahu hal itu tidaklah mudah. Sejauh ini, Mia percaya pada Bi Astuti karena beliau adalah mantan pembantu rumah tangga Almarhumah Kakaknya, Retno, Ibunda Calista. Dan jika Mia harus kembali menitipkan El pada Joyce, Mia merasa sungkan sendiri, karena hal itu sudah terlalu sering dia lakukan. Meski dia tahu, Joyce sepertinya tidak keberatan. Tapi, Mia merasa kalau Jovan sepertinya tidak menyukai jika Mia seringkali merepotkan adiknya. Dari tatapan Jovan, Mia merasa ada sesuatu yang sedang berusaha gadis itu sembunyikan dari dunia. Mia adalah seorang sarjana psikologi, dia bisa tahu apa yang ada dalam pikiran orang lain dari mimik wajah, tatapan dan bahasa tubuh seseorang. Sejauh ini, Mia seringkali merasa, jika beberapa hal yang ada dalam diri Jovan itu palsu. Entahlah. Itu hanya sekedar instingnya saja. Intuisinya terhadap sesuatu yang menurutnya janggal. Meski sejauh ini, dia memang tak menemukan bukti apapun atas prasangkanya itu. Selesai memandikan El, Mia bergegas memakaikan pakaian untuk El. Lalu menyuapi El sarapan. "Piringnya ditaruh di wastafel kalau sudah selesai makan ya, Kak," perintah Mia saat dilihatnya piring sarapan Calista di meja makan telah kosong. "Susunya jangan lupa dihabiskan," ucapnya lagi mengingatkan sang keponakan. Saat itu tatapan Calista terus tertuju pada bagian telapak tangan Tantenya yang di balut kain perban. Padahal setahunya, semalam, sebelum tidur, tangan Tantenya itu tidak kenapa-kenapa. Calista itu anak yang pendiam. Dia tidak pernah banyak bicara jika bersama Mia. Berbeda halnya jika dia sedang bersama Joyce. Calista justru lebih dekat dengan Joyce ketimbang Mia. "Ayo, El, makan dulu. Jangan susah-susah makannya, nanti kita main ke sekolah Kakak Calista sama Mamah, ya? Nanti El bisa main ayunan di sana, oke? Makan dulu ya?" bujuk Mia pada El yang memang susah makan. "Nggak mau, kenyang," ucap El saat sang Ibu hendak menyuapkan sesendok bubur ke mulutnya. Mulut mungil El terkatup rapat dengan kepalanya yang terus menggeleng. Mia mendesah pasrah. "Yaudah, kalau nggak mau makan, El nggak jadi Mamah ajak main ke sekolahnya Kakak Calista. El main sama Tante Joyce aja ya?" ancam Mia dengan gertakan manuvernya. Seorang El, mana mungkin mau ditinggal jika dia sudah dalam posisi berpakaian rapi begitu. El tahu, jika sang Mamah sudah memakaikannya pakaian rapi, itu tandanya dia akan di ajak pergi naik mobil. Dan El sangat suka naik mobil. Akhirnya El pun menurut juga. Dia memakan suapan demi suapan bubur yang di sodorkan ke dalam mulutnya oleh sang Mamah. Meksi bubur di mangkuk El tidak habis, tapi setidaknya perut El tidak kosong. Mia masih sibuk membereskan bekas sarapan mereka sebelum berangkat, dan suara ketukan di pintu rusunnya membuat Mia terpaksa menghentikan aktifitasnya sejenak. Setengah berlari dia melangkah ke arah pintu dan membukanya. Seorang laki-laki berpakaian rapi dengan setelan jas casualnya terlihat berdiri di depan pintu rusunnya. "Pak Reymond?" ucap Mia dengan wajah yang cukup terkejut. Meski, ini bukan kali pertama Reymond menyambangi rusunnya, tapi sebelumnya tak pernah Reymond datang pagi-pagi begini. Sendirian lagi. "Hai, selamat pagi Bu Guru Mia," sapa Reymond ramah seperti biasa. Mia menoleh ke dalam rumahnya sekilas. Sejauh ini, Mia cukup selektif dengan tidak membiarkan orang asing memasuki ke daerah pribadinya. Dan hanya Joyce dan Bi Astutilah yang selama ini kerap memasuki kediamannya di rusun. "Maaf, ada perlu apa ya, Pak? Tumben pagi-pagi ke sini?" tanya Mia setengah sungkan. Dia jelas tak akan membiarkan Reymond memasuki rumahnya. Hingga akhirnya, Mia hanya mengajak Reymond bicara diambang pintu rusun. Memang terkesan tidak sopan, tapi Mia tidak perduli. Dia hanya berusaha untuk waspada. Itu saja. "Hm, nggak ada perlu apa-apa. Cuma, Ruby maksa saya supaya jemput Bu Guru sama Calista ke sini, supaya bisa berangkat bareng ke sekolah," ucap Reymond menjelaskan. "Ya ampun, repot-repot, Pak? Rubynya mana?" "Ada di mobil," "Oh begitu. Yaudah sebentar Pak, saya ambil tas dulu, Bapak tunggu di sini dulu ya, maaf..." ucap Mia sesopan mungkin. Dia menutup pintu rumahnya dan langsung bersiap. Mia keluar bersama Calista dan El. Dia mengunci rusunnya sebelum pergi bersama Reymond. Saat Mia keluar, Reymond terlihat sedang mengamati ke arah bawah rusun di mana terdapat garis polisi di sana. "Asik, El ikut," ujar Reymond yang langsung mencubit gemas pipi chuby El. "Iya, pengasuhnya sakit, nggak bisa datang, jadi terpaksa saya bawa El hari ini," jawab Mia apa adanya. "Ada kejadian apa semalam di sini? Kenapa ada garis polisi di bawah?" tanya Reymond saat dirinya sedang melangkah menuruni anak tangga rusun bersama Mia. Reymond menuntun Calista sementara Mia menggendong El. "Saya juga kurang tahu, tapi katanya sih bunuh diri," jawab Mia dengan wajah datar. Reymond merasa Mia agak kesulitan berjalan dengan El di dalam gendongannya dan sebuah tas yang tersampir di lengan kanannya. "Sini, biar saya yang gendong, El?" ucap Reymond menawarkan bantuan. "Nggak usah, Pak. El suka nangis kalau di gendong sama orang yang belum dia kenal," tolak Mia terhadap niat baik itu. Reymond hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Dan saat itu Reymond menangkap sesuatu yang janggal pada telapak tangan Mia. "Tangan Bu Guru kenapa? Kok diperban?" tanya Reymond yang terlihat khawatir. Mia tersenyum masam. "Kejepit pintu semalam," jawabnya singkat mencari alasan. "Oalah, Ibu Guru ini ceroboh juga ternyata? Gimana ceritanya bisa sampai terjepit pintu? Lagi mikirin apa sampai bisa terjepit, mikirin saya ya?" goda Reymond. Mia kembali tersenyum masam. Akhir-akhir ini, Mia memang tak menampik adanya sikap-sikap manis yang kerap diperlihatkan Reymond kepadanya. Perhatian yang justru terkadang dianggap berlebihan oleh Mia. "Nanti malam ada acara nggak Bu Guru?" tanya Reymond lagi saat mereka sudah keluar dari area pekarangan rusun. Kini mereka sedang berjalan menyusuri gang menuju jalan raya tempat Reymond memarkirkan mobilnya. "Hm, kayaknya nggak ada sih, Pak. Biasanya sih saya bantuin Calista kerjain tugas sekolah," jawab Mia apa adanya. "Calista..." suara nyaring Ruby terdengar saat langkah mereka semakin mendekati arah Marcedes Benz milik Reymond. Kepala Ruby menyembul dari balik mobil yang kacanya dia buka. Mia cukup terkejut saat mendapati Ruby sendirian di dalam mobil. "Ya ampun, jadi daritadi Ruby sendirian di sini?" pekiknya dengan wajah kaget. "Iya, Bu guru," jawab Ruby. Mia menoleh ke arah Reymond meminta penjelasan kenapa dia meninggalkan Ruby sendirian di dalam mobil, padahal itu sangat berbahaya sekali. "Semalam Ruby jatuh dari tangga, Bu Guru, kakinya masih sakit, makanya dia nggak mau saya ajak naik ke rusun, lagian mobilnyakan sudah saya kunci, Bu," jelas Reymond dengan senyuman lebar. Entah kenapa, Reymond justru semakin tersentuh dengan sikap keibuan dan perhatian Mia terhadap Ruby, anaknya. "Tapi tetap saja itu berbahaya, Pak. Ruby ini masih kecil. Jangan dibiasakan seperti ini," omel Mia saat kini dirinya sudah berada di dalam mobil. Mia duduk di depan bersama Reymond sambil memangku El, sementara Calista dan Ruby duduk di belakang. Reymond jadi tertawa kecil. "Iya, maafkan saya ya Bu Guru," ucapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat Mia sedikit risih. Mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang menuju sekolah Taman Kanak-kanak di daerah Jakarta Selatan. El terlihat begitu antusias saat Mia mengajaknya berdiri. El menatap ke depan jalan dimana begitu banyak berbagai macam kendaraan yang berlalu lalang di sana. "Tluk pacil, Mah," teriak El saat melihat kendaraan roda empat yang memang di gunakan untuk mengangkut pasir. Telunjuk mungilnya menunjuk ke arah kendaraan itu. Mia dengan sabar memberitahu El nama dari macam-macam kendaraan yang mereka lihat di sekitar mereka. "El senang ya naik mobil?" sela Reymond melihat betapa antusiasnya El kala itu. "Dia memang begini Pak kalau udah di ajak keluar. Soalnya selama ini memang jarang saya ajak kemana-mana. Kebanyakan dia menghabiskan waktu di rusun, sama Bibinya," beritahu Mia. "Wah, kalau gitu besok-besok Om bakal ajak El jalan-jalan deh," ucap Reymond lagi sembari melirik kecil ke arah Mia. "Oh ya, saya baru ingat, percakapan kita yang tadi sempat tertunda," tambah Reymond kemudian. "Percakapan yang mana ya?" "Masalah rencana malam ini? Aku harap kamu bisa meluangkan waktu untuk makan malam denganku," Mia sempat tertegun mendengar cara Reymond bicara padanya. Aku-kamu? Mia terdiam seolah berpikir sesuatu. Tapi yang jelas, Mia sama sekali tak berminat menerima ajakan itu. Maka itulah, dia mencari cara untuk membuat alasan yang tepat, supaya Reymond tidak kecewa. "Gimana? Bisa nggak?" desak Reymond tidak sabar. Mia tersenyum tipis. Dia mengutuk kebodohannya karena tak menemukan alasan apapun untuk menolak ajakan Reymond. Sebab, memang Mia tak memiliki kegiatan berarti di rumahnya setiap malam. Paling hanya sekedar berkumpul menghabiskan waktu bersama Calista dan El, dengan belajar atau pun menonton TV. Itu saja kegiatan yang dia lakukan setiap malam. "Oh gini aja deh, kalau memang kamu keberatan untuk keluar, gimana kalau saya dan Ruby yang datang bawa makan malam ke rusun kamu? Kita makan sama-sama di rusun? Gimana?" Reymond tak patah semangat melancarkan aksi PDKT nya terhadap Mia. Dan itu adalah ide yang paling konyol menurut Mia. Tidak, Mia tak akan membiarkan orang asing masuk ke dalam rusunnya selain Bi Astuti dan Joyce. "Saya bisa keluar kok Pak, nanti malam. Jam berapa?" Yesss!!! Pekik Reymond dalam hati dengan senyum lebar yang terkembang di wajah kharismatiknya. "Aku jemput jam tujuh malam ya?" Dan Mia pun mengangguk, meski terpaksa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN