10. BATU GIOK

1628 Kata
Joyce, Jovan dan Nathan telah kembali ke rusun di lantai lima dan hendak masuk ke dalam rusun tempat tinggal mereka saat pintu rumah susun di sebelah tiba-tiba terbuka. Mia dengan muka bantalnya terlihat keluar sambil sesekali menguap dan mengucek ke dua matanya yang sayup karena mengantuk. Dia menggendong El yang terlihat menangis. "Ada apaan sih berisik banget, El lagi tidur sampe ke bangun," tanya Mia pada Joyce dan Jovan. "Ada yang bunuh diri, Mba," jawab Joyce dengan wajah kisut. Dalam hati, Joyce benar-benar ketakutan. Pikirannya terus berputar-putar pada wajah si lelaki yang menjadi korban begal dirinya dan Bang Rojak hari ini. Apa jangan-jangan Bang Rojak dibunuh sama laki-laki itu ya? Pikir Joyce dalam hati. Tubuhnya meremang dan bergidik ngeri. "Aku masuk dulu ya Mba," pamit Joyce pada Mia yang saat itu tengah memperhatikan apa yang terjadi di bawah sana, sambil terus meninak bobokan El dalam gendongannya. Aku nggak akan biarkan siapa pun mengganggu ketentraman hidupku bersama El dan Calista saat ini. Apalagi sampai berani menyakiti mereka! Siapa pun! Ujar Mia dalam hati dengan tatapan tajam pada sang mayat di bawah sana. ***** Nathan baru saja pamit. Joyce sudah bersiap untuk tidur. Jovan baru saja keluar dari kamar mandi dan membuka lemari es untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Mendadak perutnya lapar. "Wah, ada martabak nih? Lo yang beli Joy?" tanya Jovan sembari melahap sepotong martabak di tangannya. "Iyalah, emang siapa lagi?" sahut Joyce yang terpaksa membuka matanya kembali karena Jovan mengajaknya bicara. "Punya duit lo?" "Punyalah, emang lo pikir lo doang yang bisa cari duit!" "Awas ya kalo gara-gara lo mentingin nyari duit terus nilai lo nanti jadi turun," ancam Jovan. "Iya Kak Jovan..." ucap Joyce dengan nada manja. "Lo udah liat Ibu tadi?" tanya Jovan lagi. "Udah," "Terus apa kata dokter?" "Dokter nggak bilang apa-apa. Keadaan Ibu masih sama kayak kemarin-kemarin," "Malem ini gue nggak dapet duit, Joy. Besok, Nathan yang anterin lo ke kampus biar lo nggak perlu keluarin ongkos. Nggak usah jajan dulu besok ya? Duit gue udah tiris nih," jelas Jovan pada adiknya. Dia sengaja meminta Nathan untuk menjadi ojek Joyce ke kampus untuk beberapa hari ke depan, sampai dia mendapat pekerjaan baru. Untungnya Nathan siap membantu. Nathan memang kekasih yang selalu bisa dia andalkan. "Nggak usah deh! Males banget gue naik motor sama pacar lo! Kapok!" bantah Joyce. "Emang kenapa?" "Bawa motor udah kayak jalanan punya nenek moyangnya! Gue masih mau hidup tau!" Jovan tertawa mendengar pengakuan Joyce. Sejauh ini, yang Jovan tahu, Joyce itu memang penakut, cengeng, dan manja, terlepas dari otaknya yang super duper jenius. Sangat berbanding terbalik dengan otaknya yang bodohnya kebangetan. "Kalo nggak mau dianter Nathan, terus lo mau pake apa ke kampus? Jalan kaki?" Jovan mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur tingkat yang menjadi tempat tidur mereka. "Gue mau naik taksi," jawab Joyce dengan penuh percaya diri. "Cih, naik taksi! Nggak usah mimpi lo!" Jovan menatap Joyce tak percaya. Kenapa malam ini, Joyce kelihatan berbeda? Pikirnya dalam hati. "Udah deh, lo tenang aja, Jov. Gue pasti bakal baik-baik aja kok, oke? Jadi mending lo kasih tahu sama pacar lo supaya nggak perlu repot-repot anter gue ke kampus besok, gue bisa jalan sendiri," "Yakin nih?" "Yakin," "Serius?" "Sepuluh ribu rius," "Oke, nanti gue DM Nathan supaya nggak usah anter lo ke kampus besok," "Oke, udah ah, gue mau tidur, ngantuk!" ucap Joyce pada akhirnya. Dia berbaring miring ke arah tembok lalu mulai memejamkan mata. Jovan masih menatap langit-langit kamarnya saat dia teringat pada sebuah benda yang dia temukan tak jauh dari lokasi mayat di lantai dasar itu. Jovan bangkit dan mengambil benda itu. Sebuah gantungan kunci. Gantungan kunci yang terbuat dari batu giok berwarna putih kehijauan. Sepertinya, ini bukan gantungan kunci biasa. Pikir Jovan. Sebab Nathan bilang, ini giok asli dan harganya sangat mahal. Apa mungkin, batu giok ini ada kaitannya dengan kejadian mengerikan yang terjadi malam ini di rusun tempat tinggalnya? Entahlah, Jovan hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Tanpa terasa Jovan menguap satu kali, rasa kantuk yang menyerangnya, membuat Jovan pun memejamkan matanya, masih dengan genggaman batu giok itu di tangannya. ***** Malam semakin larut namun permainan Benji dengan sang istri pun semakin menggila. Puas bermain dengan Ajeng, Benji dan Ajeng beristirahat sebentar dengan saling mengobrolkan hal-hal lucu. Mereka bersenda gurau dalam balutan selimut masih dalam keadaan sama-sama polos. Film dewasa yang sengaja Benji putar melalui DVD kian membangkitkan hasrat bercintanya lagi. Dia kembali menggarap Ajeng bahkan tanpa melakukan foreplay. Faktanya, pengaruh video porno itu sangat kuat bagi para penikmatnya. Sebab, sang Junior sudah kembali tegak bahkan tanpa adanya rangsangan dari Ajeng. Berkali-kali cairan cintanya dia tumpahkan di dalam rahim Ajeng hingga berkali-kali juga Ajeng bolak-balik kamar mandi untuk membersihkan area kewanitaannya yang penuh oleh lendir kental suaminya. "Udah ya, Mas... Nggak lagi," ucap Ajeng sekembalinya dia dari kamar mandi. "Iya, aku udah pake celana kok, tenang aja. Takut banget! Minta udah, tapi giliran aku tusuk mendesah. Huuu, Dasar!" Benji menoyor gemas kepala Ajeng. Ajeng cekikikan sambil mengenakan gaun tidurnya. Dia merangkak dengan lututnya mendekati Benji yang masih santai merebahkan diri di ranjang. Wanita itu menaruh kepalanya di atas d**a bidang suaminya. "Besok hari pertama Nayna sekolah, anterin ya?" pinta Ajeng. Dia menatap Benji dengan mendelikkan matanya ke atas. "Iya," jawab Benji singkat. Matanya fokus menatap layar ponselnya. "Lusa kamu jadi pergi sama temen-temen kamu?" tanya Ajeng lagi. "Iya jadi, you know lah, rencananya aku mau joinan buat konten di daerah kepulauan seribu sama temen-temenku. Nanti tolong kemasin baju aku ya? Nggak usah banyak-banyak, tiga setel aja. Aku nggak lama kok," Ajeng mengangguk paham. "Mas, besok pulang dari sekolah Nayna, boleh nggak aku mampir ke rumah Ratih?" "Ratih? Ratih siapa?" "Ratih sahabatku dulu di Semarang. Semenjak menikah diakan hijrah ke Jakarta, katanya sih dia sekarang tinggal di rumah susun di daerah Blok S, kamu tahu nggak itu di mana? Jauh dari sini?" "Oh Blok S, lumayan jauh sih dari sini, tapi kalo dari sekolah Nayna sih deket," jawab Benji apa adanya. "Anterin ya Mas? Akukan belum tahu jalan di sini, nanti kalo nyasar gimana?" rengek Ajeng dengan suara manja, tangannya bergerak mengelus-elus d**a suaminya. "Yaudah nanti aku anter sekalian jemput Nayna. Tapi aku nggak ikut mampir ya, aku ada janji sama temenku. Nanti kalau kamu udah selesai kamu telepon aku aja, biar aku jemput lagi," "Oke deh, makasih sayang..." Ajeng mengecup bibir Benji sekilas. Benji melirik Ajeng. Di taruhnya ponsel di nakas dan diraihnya dagu Ajeng supaya wajah istrinya itu mendongak ke arahnya. "Apa?" tanya Ajeng sok polos. "Mau aku ajarin nggak caranya ciuman yang bener?" tanya Benji dengan tatapannya yang tak lepas dari bibir Ajeng. "Ih apaan sih, nggak usah mulai," tolak Ajeng. Ajeng hendak menghindar namun tubuhnya sudah lebih dulu diarengkuh oleh Benji hingga mereka sepenuhnya berpelukan. "Kamu pake pelet apa sih sayang?" tanya Benji dengan wajahnya yang mulai h***y. "Pelet apa? Nggak ada!" Ajeng masih berusaha menghindari serangan suaminya yang mulai menggila. "Jangan bohong! Kenapa kamu bisa bikin aku tergila-gila sama kamu? Hayo?" Ajeng mencebik. Bibir bawahnya maju beberapa centi. "Kalo kamu tergila-gila sama aku, terus Prameswari itu siapa? Hayo jawab?" balas Ajeng, tajam. Benji merenggangkan pelukannya di pinggul Ajeng. Ekspresi wajahnya berubah drastis. "Prameswari? Siapa?" tanyanya dengan kening yang berkerut. Mendadak perasaannya kian kacau. "Mana aku tahu! Aku cuma inget, kalo suamiku itu sempet salah ucap namaku waktu Ijab Kabul, yang harusnya puspita, malah jadi Prameswari," Ajeng melepas pelukan Benji, wajahnya jelas menunjukkan kecemburuan. "Waktu itu kalimatku spontan, sayang... Keluar begitu aja tanpa memikirkan siapa-siapa. Kamu tahukan, gimana pengorbanan aku buat dapetin kamu? Aku bahkan nggak punya waktu buat mikirin cewek lain sewaktu aku berusaha memenuhi semua syarat yang diajukan Bapak kamu sebelum kita menikah. Aku sibuk cari uang, buat beli rumah, buat beli mobil, buat melamar kamu, nggak ada namanya cewek lain, cuma kamu yang ada di otak aku saat itu," jelas Benji panjang lebar. "Ya bisa aja sebelum kamu kembali ke Indonesia, sebelum kamu melamar aku," Benji berdecak. "Astaga, Ajeng... Jadi kamu meragukan kesetiaan aku?" "Siapa yang percaya sama cowok playboy kayak kamu! Dulu aja di kampus bisa lima kali kamu gonta ganti cewek dalam waktu sebulan! Sementara kita pisah udah belasan tahun! Nggak mungkin nggak ada cewek lain yang mampir di hati kamu selama itu?" Benji membalik tubuh Ajeng supaya menghadap ke arahnya. "Aku akuin aku emang b******k, aku b******n! Bahkan aku udah tidur sama banyak cewek sebelumnya, tapi perlu kamu tahu, bahwa satu-satunya cewek yang aku sayang itu cuma kamu sekarang dan untuk seterusnya. Cuma kamu yang ada di hati aku selama ini, Jeng. Sewaktu kita masih sahabatan di kampus, tanya Ronald, kalau nggak percaya! Aku cuma punya foto kamu yang aku simpen di dompet aku selama aku tinggal di luar negeri kemarin-kemarin," Ajeng menatap lekat-lekat ke dalam mata Benji. Mencoba mencari kebenaran di sana. Hingga setelahnya dia berkata dengan suara yang bergetar, "kalau kamu memang sayang sama aku, kenapa dulu kamu malah biarin aku menikah sama Bagas?" Benji terdiam cukup lama. Rasanya sangat tidak mungkin jika Benji mengatakan alasan apa yang membuatnya harus hengkang dari Semarang begitu dirinya lulus kuliah. Ajeng tidak boleh tahu apapun tentang masa lalunya. "Karena dulu aku masih pengangguran, sementara Bagas adalah seorang pilot. Hidupnya sudah mapan dan berkecukupan. Sama dia kamu akan lebih bahagia. Karena aku sayang sama kamu, makanya aku nggak mau egois dengan membiarkan hubungan kita berlangsung tanpa kejelasan, membiarkan kamu menunggu aku. Kamu berhak bahagia..." Ajeng tertegun. Dari tatapan Benji, Ajeng tahu bahwa suaminya itu sedang tidak berbohong. Ucapannya terdengar tulus. Ajeng tahu bahwa Benji memang sangat mencintainya. Meski, kata Prameswari itu kian menjadi tanda tanya besar dalam benak Ajeng sampai saat ini. Membuat hatinya kian di rundung gelisah. "Jangan khianati aku, Mas..." ucap Ajeng lirih. Benji melihat bayang-bayang air mata di kelopak mata istrinya. Hingga setelahnya, Benji merengkuh tubuh Ajeng ke dalam pelukannya. "Aku sayang kamu. Aku nggak akan kecewain kamu, Jeng. Percaya sama aku?" bisik Benji dengan penuh keyakinan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN