9. KEJADIAN DI RUSUN

1263 Kata
Dengan langkah tergesa bahkan setengah berlari, Jovan terus berjalan cepat menyusuri gang sempit yang menjadi jalan pintas menuju rusun tempat tinggalnya. Lampu jalan yang redup membuatnya sedikit gelisah. Pasalnya, tempat ini seringkali menjadi tempat tongkrongan preman-preman jalanan, meski yang terlihat saat ini, jalan setapak itu sangat sepi, namun hal itu tak menyurutkan kekhawatiran Jovan. Dia terus berlari dengan susah payah, bahkan dia melepas high heelsnya supaya bisa lebih leluasa bergerak. Jovan kecewa dengan Nathan yang telah membohonginya malam ini. Bisa-bisanya Nathan menjerumuskan dirinya kepada fotoghrapher m***m seperti Jackie. Jovan marah pada Nathan karena kenyataannya, Jackie mewajibkan Jovan berpose tanpa mengenakan apapun. Dan parahnya, Nathan tahu semua itu. Jovan merasa benar-benar bodoh. Langkah Jovan terhenti saat dilihatnya Nathan ternyata sudah berdiri di bawah tangga rusun tempat yang pasti dilalui Jovan untuk pulang. Jovan tak menghiraukan keberadaan Nathan, langkah wanita itu terus melaju dan mulai menaiki anak tangga. Bahkan saat Nathan mencoba mengimbangi langkahnya dan menahan tubuhnya, Jovan terus meronta dan menghindar. "Beb! Beb! Dengerin aku dulu! Aku bisa jelasin semuanya, jangan kayak gini dong?" ucap Nathan yang terus melangkah di tangga. Jovan tidak perduli, langkahnya kian dipercepat. Kelopak matanya mulai memanas. Saking kecewanya. Bagaimana bisa Nathan melakukan semua ini kepadanya? Jovan benar-benar tidak mengerti. "Perjanjianku sama Jackie udah aku batalin. Kamu nggak terikat kontrak apapun lagi sekarang, udah jangan marah lagi!" "Terus aku harus apa? Tega kamu, jual aku sama Jackie! Aku udah bilangkan, aku nggak mau di foto bugil! Selama masih pakai dalaman, oke fine, tapi kalo bugil? Apalagi itu di depan beberapa laki-laki, nggak cuma Jackie dan kamu. Pikiran kamu di mana sih Beb?" balas Jovan penuh emosi. Dia kembali menepis tangan Nathan yang hendak meraih lengannya. Nathan menghela napas berat. Dia menarik kembali lengan Jovan dengan tarikan dan genggaman yang cukup kuat. Hingga tubuh Jovan akhirnya tidak mampu berkutik. Tubuh berbusana minim itu di kunci oleh Nathan di dinding tangga. "Aku minta maaf, Beb. Aku nggak ada maksud untuk merendahkan kamu apalagi mempermalukan kamu. Aku cuma mau bantu kamu," bisik Nathan dengan posisi tubuhnya yang hampir menempel dengan tubuh Jovan. Jovan bergeming. Dia hanya menatap Nathan dengan tatapan marah yang sarat kekecewaan. Kelopak mata bulat bening itu kian berkaca-kaca. "Aku tahu kamu lagi butuh uang banyak, butuh kerjaan instan yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dengan nominal yang nggak sedikit dalam waktu singkat, aku pikir, bekerja sama dengan Jackie itu bisa sedikit membantu kamu. Aku minta maaf kalau aku sebagai orang terdekat kamu nggak bisa bantu kamu lebih banyak. Kamu tahukan kondisi aku seperti apa? Bisnisku akhir-akhir ini sepi, Beb..." Emosi Jovan kian luluh saat dilihatnya wajah sendu Nathan. Perlahan tapi pasti, dia jadi kasihan pada Nathan. Mungkin Jovan terlalu emosi tadi, membuatnya tidak bisa berpikir jernih. "Semenjak intel polisi-polisi itu banyak yang nyamar jadi konsumen, aku jadi sulit bergerak. Kamu tahukan, belum lama ini Joshua masuk perangkap polisi-polisi preman itu. Aku harus lebih teliti pilih konsumen, aku nggak mau kejebak kayak Joshua dan teman-temanku yang lain, mereka yang sekarang harus mendekam di penjara," lanjut Nathan lagi. "Maaf..." ucap Jovan dengan suara super pelan. Dia menunduk dengan penuh penyesalan. Selama ini, Nathan yang seorang yatim piatu harus bertahan sendirian menjalani hidup di tengah kerasnya kehidupan metropolitan. Jovan tahu semua kesulitan Nathan. Bahkan bisnis haram yang kini Nathan geluti pun Jovan mengetahuinya. Sama seperti dirinya, Nathan hanya seorang lulusan SD. Hidup di jalanan sejak kecil membuat seorang Nathan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan kuat. Meski, kondisi Nathan tidak semenyedihkan kehidupan Jovan. Jovan sang pengidap Disleksia. Jovan yang bahkan tak pernah mengecap indahnya bangku pendidikan di sekolah akibat perlakuan tak menyenangkan yang diterimanya semasa kecil. Jovan dan Joyce. Mereka terpisah sejak bayi. Jovan di culik oleh sekelompok orang yang memiliki dendam pribadi kepada Ayahnya. Dalam keadaan sekarat Jovan bayi di temukan warga di dalam tong sampah. Lalu membawanya ke rumah sakit. Jovan di besarkan di sebuah panti asuhan, hingga akhirnya sebuah keluarga mengadopsinya. Sayangnya, nasib dan kesialan Jovan justru bermula sejak saat itu. Jovan hidup dalam tekanan. Dia kerap mendapat siksaan dari Ibu angkatnya. Bahkan pelecehan seksual oleh Ayah angkatnya. Hingga takdir mempertemukan Jovan dengan Nathan. Jovan yang saat itu hendak di perkosa oleh Ayah angkatnya. Nathan yang menyelamatkan dirinya dan membawa Jovan lari dari rumah nerakanya itu. Sejak saat itu Jovan tinggal bersama Nathan. Hingga akhirnya tumbuhlah benih-benih cinta di antara mereka. Nathan membantu Jovan mencari keluarga aslinya. Hingga pertemuan Jovan dengan Joyce terjadi di Bandung, empat tahun yang lalu. Karena mereka kembar, maka Joyce membawa Jovan ke rumahnya. Dan sejak itulah Jovan akhirnya bisa kembali berkumpul bersama keluarga yang dia cari-cari. Keluarga sesugguhnya yang benar-benar tulus menyayanginya dengan sangat. Meski setelahnya, Jovan harus kembali memilih, tepatnya saat sang Ayah di tugaskan ke Amerika. Hubungan Jovan dengan Nathan merenggang. Bahkan hubungan LDR mereka tidak berlangsung mulus. Hingga pada saatnya mereka benar-benar lost contact. Jovan menjalani kehidupan barunya di Amerika. Hingga sesuatu terjadi. Ayahnya yang ternyata berprofesi sebagai seorang intel di serang oleh sekelompok orang bersenjata sewaktu dirinya baru saja menginjakkan kaki di Bandara Husain Sastra negara. Ayahnya di tuduh telah mangkir dari tugas dan menjadi salah satu pengkhianat negara dengan bergabung bersama komplotan Wahid Abdullah, sang teroris yang hidupnya berakhir dalam hukuman tembak mati oleh pemerintahan Indonesia bersama rekannya Dimas. Kejamnya politik, hingga Ibunda Jovan pun ikut menjadi sasaran teror manusia-manusia laknat itu. Saat Ibunya tengah berjuang untuk mengungkap kebenaran bahwa suaminya tidak bersalah, Ibunya malah diculik oleh sekelompok orang tak di kenal, lalu sebulan setelahnya, Ibunya ditemukan dalam keadaan sekarat di sebuah hutan oleh para pemburu. Saat Jovan dan Joyce mendengar kabar bahwa Ibunya masih hidup, mereka mendatangi rumah sakit saat itu, tapi ketika itu juga, mereka harus kembali menelan pil pahit kehidupan, tepat saat dokter mengatakan Ibunya mengalami trauma berat dan kelumpuhan otak yang mengakibatkan dirinya tak mampu mengenali siapapun. Emosinya tidak stabil dan dia selalu dirasuki ketakutan luar biasa bila bertemu dengan orang lain. Jovan dan Joyce tidak menyerah, mereka terus berusaha untuk membuat ingatan sang Ibu kembali, meski usaha itu sia-sia. Depresi sang Ibu bertambah parah. Tidak hanya hampir menghilangkan nyawa orang lain, Ibunya pun sering bertindak tidak wajar dengan menyiksa dirinya sendiri. Nyatanya, penderitaan Jovan terus berlangsung, bahkan hingga detik ini. Meski setelahnya, kembalinya Nathan ke dalam kehidupan Jovan sedikit mengurangi kepedihan gadis itu. Nathan memang seorang berandal, tapi dia tidak pernah bersikap kurang ajar pada Jovan. Hubungan mereka memang telah jauh, meski tak pernah benar-benar sampai ke tahap yang paling intim. Hanya sekedar make out dan foreplay saja. Sebatas itu dan tidak lebih. Bukan Jovan yang tidak mau, tapi memang Nathan yang tidak ingin merusak Jovan lebih jauh. Nathan memang sangat mencintai Jovan sejak pertemuan pertama mereka di Bandung. Hari-hari yang Nathan lalui bersama Jovan begitu indah, meski hidup dalam keadaan serba pas-passan. Tapi sayangnya, ketika pertemuan mereka kembali pasca perpisahan yang terjadi, saat Nathan menjalin hubungan yang cukup akrab dengan Joyce, perasaan Nathan kian berubah. Entahlah, Nathan sendiri pun bingung dengan perasaan yang dia rasakan terhadap Joyce mau pun Jovan. Tapi yang jelas, Nathan merasa adanya getaran-getaran aneh yang tidak biasa dia rasakan, justru saat dirinya kerap berdekatan dengan Joyce, bukan Jovan. Meski, sejauh ini Nathan belum berani mengekspresikan perasaannya. Dia tidak mau merusak hubungan persaudaraan Jovan dengan Joyce. Jadilah Nathan menyembunyikan perasaannya dan tetap menjalin hubungan dengan Jovan. Meski perasaan itu kini kian terkikis, tapi Nathan selalu berusaha untuk membahagiakan Jovan. Sebab, hanya Jovan satu-satunya orang yang perduli padanya selama ini, bukan Joyce. Joyce itu terlalu kekanak-kanakan dan manja. Meski sikapnya yang manis itu justru terlihat menggemaskan, bagi Nathan. Kondisi malam yang semakin larut dengan keadaan rusun yang terlihat sangat sepi membuat Nathan terbawa suasana. Posisinya yang begitu dekat dengan Jovan kian membangkitkan syahwatnya. Nathan hendak mencium bibir Jovan namun sebuah teriakan seseorang yang berhasil mereka tangkap dari lantai atas jelas membuat mereka kaget setengah mati. Jovan mendorong d**a Nathan dan berlari menuruni tangga. Nathan mengekor langkah Jovan. Sesampainya di lantai dasar, Jovan mendapati beberapa orang penghuni rusun di lantai dasar berlari ke arah suara teriakan tersebut dan tak lama Joyce menyusul. Begitu halnya di lantai atas, para penghuni rusun yang sedang terlelap dalam buaian mimpi mereka dikejutkan oleh teriakan yang melengking nyaring dan membuat mereka berhamburan keluar dari rusun masing-masing. Hingga setelahnya, seperti ada sesuatu yang terjatuh. Dan mereka menjadi terkejut luar biasa saat mendapati sesosok tubuh lelaki yang tak dikenal terkapar di bawah sana dengan kondisi yang mengerikan. Sepertinya, lelaki itu terjatuh dari lantai tujuh rusun itu. Tapi, siapa dia? Dan apa yang terjadi padanya? Tak ada yang tahu!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN