8. SALAH SASARAN

1046 Kata
Rojak berjalan ke arah rusun dengan langkah gontai tanpa pernah dia menyadari bahwa ada seseorang yang tengah menguntit langkahnya dari belakang. Lelaki berusia 40 tahun itu sudah sampai di lantai tujuh rusun Blok S. Dia celingukan sambil mencari rumah susun bernomor 79 yang telah diberitahu oleh kawannya. Karena lantai tujuh di huni oleh rata-rata kaum waria, lantai tujuh menjadi lantai paling sepi jika sudah mendekati waktu tengah malam begini, sebab para penghuninya telah berkeliaran di luar mencari pelanggan. Belum lag, memang karena sebagian rusun di lantai itu masih kosong. Rojak tersenyum sumringah saat dia berhasil melihat nomor rumah yang dia cari. Belum sempat Rojak mengetuk pintu itu, sebuah tangan telah lebih dulu membekap Rojak dan membius lelaki itu dari belakang. Dalam hitungan sepersekian detik Rojak langsung kehilangan kesadaran. Tubuh Rojak di seret ke salah satu ruangan kosong di rusun itu. Sang pembius yang mengenakan sarung tangan hitam itu mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jaketnya. Dan mulai mengamati sebuah ruangan dimana terdapat seorang wanita dan dua orang anak kecil tengah menonton televisi di sana. Sebuah rusun bernomor 54 yang dihuni oleh seorang wanita bernama Mia Prameswari dengan anaknya Eldino Rafael Putra dan sang keponakan yang bernama Calista Pricilia. Rusun bernomor 54 itu telah dia amati selama satu bulan belakangan. Bahkan telah terpasang beberapa titik CCTV micro di dalam rusun itu. Termasuk mengenai semua data-data rahasia Mia dalam komputernya, sudah dia ketahui. Mia tak akan bisa berkutik, wanita itu akan menjadi sasaran paling empuk untuk menjalankan misi terpendamnya selama ini, terhadap seseorang yang begitu dia benci. "Halo, siapa ini?" tanya suara di seberang sana yang terdengar kesal. Sang pembius misterius itu menyeringai lebar. Akhirnya teleponnya di angkat juga oleh Mia. "Hai, Tessa? Apa kabar?" ucapnya dengan nada suara yang terdengar mengerikan. "Kenapa Tessa? Tidak usah terkejut. Aku meneleponmu untuk menyampaikan kabar gembira," "Aku ingin menawarkan kerjasama denganmu..." "Maaf, sepertinya anda salah orang, saya Mia, bukan Tessa," sahut suara di seberang sana. Lalu sambungan telepon itu terputus. Sang pembius itu tahu, Mia tak akan tinggal diam begitu saja setelah mendapat telepon darinya. Dia pun memukul kepala Rojak hingga laki-laki itu terbangun dari pingsannya. Setelah sebelumnya, dia menaruh ponsel yang dia gunakan untuk menelepon Mia di tangan Rojak. Sang pembius itu kabur sebelum Mia menemukannya. Tak berselang lama, Rojak bangkit dengan kepala pening dia terheran-heran saat mendapati dirinya berada di dalam salah satu rusun kosong. Dan saat dia berdiri, Rojak baru sadar kalau dia menjatuhkan sesuatu dari genggaman tangannya. Dia menyalakan lampu senter di ponselnya dan mendapati sebuah ponsel lain di lantai itu. "Wah, ada Hp nih?" pikir Rojak. Dia pun memungut ponsel itu. "Masih bagus lagi, kayaknya keluaran terbaru nih, rejeki nomplok dah, kantongin..." ucap Rojak dengan hati gembira tanpa sedikit pun rasa curiga. Dia berpikir kalau malam ini adalah malam keberuntungannya, walau dia masih sedikit kebingungan dengan apa yang telah terjadi menimpa dirinya tadi. Hanya karena sebuah ponsel, Rojak berhasil mengenyahkan segala pikiran-pikiran buruk yang hinggap dalam benaknya. Nyatanya, perkiraan Rojak meleset. Sebab, semua menjadi sesuatu yang mengerikan baginya tepat saat lelaki itu melangkahkan kakinya keluar dari rusun kosong itu. Sebuah tangan mencekik lehernya dari belakang dengan sebuah todongan senjata yang mengarah tepat di leher Rojak. "Siapa lo? Dan apa mau lo sebenernya?" ucap suara si penodong itu. Digiringnya, tubuh Rojak memasuki salah satu rusun kosong di lantai tujuh dan di lemparnya tubuh lelaki itu ke lantai. "Ampun! Ampun! Gua nggak tau apa-apa! Tolong! Jangan apa-apain gua! Tolong..." mohon Rojak saat senjata di tangan seseorang yang berdiri dihadapannya itu masih tertuju ke arahnya. Sang penodong terlihat menggeledah tubuh Rojak, ditemukannya sebuah ponsel yang dia cari. Dia mengambil ponsel itu dari Rojak dan menyimpannya di saku celananya. "Jangan berisik kalo lo mau selamet!" ancam si penodong. Rojak tidak bisa menangkap wajah di balik tubuh tinggi berpakaian serba hitam itu, tapi dari postur tubuhnya, Rojak bisa menebak kalau dia adalah seorang wanita bahkan suaranya pun memang terdengar seperti suara wanita. Hingga akhirnya, Rojak pun memberanikan diri untuk melawan. Perkelahian antara Rojak dan si wanita itu tidak terelakkan. Rojak berhasil memukul wajah wanita itu. Namun setelahnya, wanita itu berhasil menembakkan senjatanya yang telah dilengkapi alat peredam suara ke arah kaki Rojak. Rojak berusaha kabur, lelaki itu berteriak meminta tolong, hingga akhirnya wanita itu menarik kerah baju Rojak dan menggiring tubuh laki-laki itu ke tepi pembatas dinding rusun. "Jangan... Tolong, jangan bunuh gue!" "Lo yang harusnya tahu, jangan pernah main-main sama Tessa!" hardik wanita itu tepat di depan wajah Rojak. "Gue nggak akan bunuh lo, gue cuma mau tau, siapa orang yang udah bayar lo buat ganggu gue, Hah? jawab!" ucap wanita itu yang hanya berniat untuk menggertak Rojak. Dia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi menghilangkan nyawa orang lain sebelum terbukti bahwa orang itu memang orang jahat. Saat itu, belum sempat Rojak menjawab sebuah peluru sniper dari arah rofftop telah lebih dulu menembak kepala Rojak. Wanita itu kaget, hingga tanpa sengaja, tubuh Rojak yang telah sekarat tak mampu dia genggam dengan sempurna. Sebuah tembakan kembali dilepaskan kali ini tepat mengenai tangan sang wanita hingga akhirnya, tubuh Rojak terlepas dari genggamannya dan melayang di udara. Rojak terjatuh dari lantai tujuh rusun itu, dengan sebuah pagar besi yang menanti tubuhnya di bawah sana. Rojak menghembuskan napasnya yang terakhir saat ujung-ujung pagar besi itu menembus tubuhnya dari mulai kepala hingga ke perut. Lengkingan teriakan Rojak pun menarik perhatian penghuni Rusun. Wanita itu mengurungkan niatnya untuk mengejar sang sniper di rofftop. Tangannya yang terluka dan mulai meneteskan darah segar, membuatnya mau tak mau harus cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Sebelum aksinya dipergoki orang lain. ***** Joyce sedang berganti pakaian hendak tidur saat dia mendengar suara teriakan seseorang yang begitu kencang dari arah luar. Dan saat Joyce keluar ternyata rusun di lantai dasar telah ramai. Merasa penasaran, Joyce pun berlari menuruni tangga menuju lantai dasar. "Ada apaan sih Bang?" tanya Joyce pada salah satu waria yang ada di sana. "Yeee, abang-abang... Abang Jono maksud yey? Nama eike Meisya, masa di panggil Bang," protes si waria. Joyce hanya menanggapinya dengan tatapan acuh. Dia beralih pada waria lain. "Itu tuh, ada yang bunuh diri," Saat itu, tatapan Joyce tertuju pada sesosok tubuh tak bernyawa di bawah sana. Hingga setelahnya, ke dua bola mata gadis itu jadi terbelalak saat dia menatap lebih seksama pada sosok mayat itu. Astaga! Itukan? Bang Rojak? Rekan sesama begalnya! Pekik batin Joyce, kaget!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN