"Naynaaaa... Nay... Naynaaa..." Ajeng terus berteriak. Matanya sudah berair saking khawatir. Dia memeriksa segala penjuru di setiap sudut rumahnya, tapi tak juga menemukan Nayna di sana. "NAYNAAAA..." teriak Ajeng lebih keras. Suaranya terdengar serak akibat tangis. Ajeng sungguh bingung. Semalaman dia hanya sendirian di rumah, hanya bersama Nayna, dan bodohnya Ajeng lupa mengunci pintu saking mengantuk. Dan kini dia harus menerima kenyataan bahwa Nayna menghilang akibat kecerobohannya. "Naaayy..." kali ini suara Ajeng terdengar melemah. Dia bersandar lesu di dinding dapur. Suara telepon yang berdering mengagetkan dirinya. Ajeng berlari ke arah ruang TV dimana dia menaruh ponselnya semalam. Panggilan masuk dari Benji. Dengan tangan gemetar, Ajeng mengangkat telepon itu. "Good morni

