Benji mundar-mandir di depan teras rumahnya menunggu kedatangan sang adik yang tak juga pulang ke rumah bahkan saat waktu tengah malam sudah lewat.
Bukannya dia cemas atau pun khawatir, namun ada hal yang lebih penting baginya untuk dia bahas dengan Ronald ketimbang mengkhawatirkan keadaan Ronald. Benji tahu adiknya itu mampu jaga diri, jadi tak perlulah dia mencemaskan keadaan Ronald di luar sana.
Benji sudah memeriksa seluruh data-data di dalam komputer yang berhasil dia curi dari rusun ke dua anak kembar itu. Namun apa yang menjadi target utamanya tidak ada di sana.
Benji hanya mendapatkan fakta, mengenai kecurigaannya selama ini, bahwa Joyce dan Jovan memang benar anak dari Gayatri dan Wisnu.
Benji duduk dengan gusar di kursi kayu masih di teras rumahnya, di taruhnya gantungan kunci batu giok yang sedari tadi dia genggam ke atas meja. Lalu dia mulai mengutak atik ponselnya.
Benji mendapati beberapa pesan masuk.
Salah satunya dari sang komandan.
Benji pun membuka pesan masuk itu.
Komandan
Aku baru saja mendapat laporan dari Tiwi mengenai gantungan kunci yang kamu kirimkan padaku tadi sore.
Tiwi mengatakan, jari-jari dan biji bola mata itu, bukan imitasi, tapi memang benar organ tubuh manusia yang sudah dimodifikasi menjadi hiasan gantungan kunci.
Sayangnya, Tiwi tidak bisa menemukan sidik jari apapun di sana.
Benji menutup pesan itu tanpa membalasnya.
Hasil penyelidikan Tiwi tidak mungkin salah. Sebab Tiwi adalah seorang dokter sekaligus ilmuwan yang bekerja di BIN.
Ke dua kelopak Benji kian menyipit saat otaknya mencoba menganalisa sesuatu.
Tadi, sewaktu makan malam, Ajeng, istrinya sempat menceritakan kejadian tragis dan misterius yang terjadi di rusun itu baru-baru ini.
Bahkan Ajeng menceritakan dengan detail mengenai kematian tragis salah satu penghuni rusun yang bernama Gladis.
Ajeng bilang, dia dibunuh dengan cara yang sangat sadis, sampai beberapa organ tubuhnya pun hilang.
Apakah, ke dua gantungan kunci itu ada kaitannya dengan pembunuhan wanita bernama Gladis itu?
Lantas, bagaimana bisa gantungan itu ada pada anak-anak Wisnu dan Gayatri?
Benji harus segera menemukan jawabannya.
*****
"Mas? Kamu nggak tidur?" tanya Ajeng saat dia terbangun tapi tak ditemukannya Benji di kamarnya. Jadilah Ajeng mencari suaminya keluar. Saat itu, dilihatnya Benji tengah termenung di teras rumah mereka.
Ajeng duduk di kursi kayu yang bersebelahan dengan kursi yang di duduki Benji. Dia menoleh dan menatap wajah Benji. Sepertinya, suaminya itu terlalu serius melamun hingga tak menyadari keberadaan Ajeng di sisinya.
"Mas?" sapa Ajeng lagi, disentuhnya lengan Benji.
Benji terhenyak, dia sadar bahwa dirinya tengah melamun. "Loh, kamu kenapa di sini?" tanya Benji pada istrinya. "Bukannya kamu tadi udah tidur?"
"Iya, tadi kebangun, tapi nggak ada kamu, makanya aku cari keluar,"
Benji terkekeh. "Oh... Kirain minta nambah," Benji mengedipkan mata genitnya ke arah Ajeng sembari tersenyum nakal. Pertempuran mereka tadi masih terlihat membekas di beberapa titik bagian leher Ajeng yang saat itu hanya menggunakan daster mini dengan belahan d**a yang rendah.
Benji terlalu bernafsu hingga leher istrinya kini berubah seperti orang terserang alergi kulit. Penuh dengan bekas jejak hisapan bibirnya.
"Idihh... Itu sih maunya kamu," canda Ajeng dengan wajahnya yang kian merona. Suaminya itu memang gila jika sudah di ranjang. Bahkan jika Ajeng belum mengibarkan bendera putih tanda dirinya menyerah, mungkin Benji akan terus menggarap dirinya hingga pagi.
"Tutupin ih, keliatan tuh! Bentar lagi Ronald pulang," ucap Benji sambil menaikkan daster Ajeng ke atas menutupi leher istrinya yang terekspos hingga sebatas d**a. Dia tahu bahwa Ajeng saat itu sedang tidak menggunakan bra.
Akhirnya, Ajeng masuk ke dalam kamar dan mengambil jaket. Kebetulan cuaca di luar sangat dingin akibat gerimis sejak tadi sore belum juga reda.
Ajeng keluar menghampiri Benji kembali di teras dengan secangkir teh manis hangat.
"Duh, perhatiannya istriku, jadi makin sayang," puji Benji seraya menyesap teh manisnya.
"Nih kaus kamu dipake, masuk angin aja! Nggak usah sok-sok pamer otot di luar deh! Biar dilirik sama tetangga depan ya, malem-malem keluar cuma pakai singlet," omel Ajeng. Dia memberikan kaus untuk dipakai Benji. Bibir tipisnya mengerucut ke depan.
Benji memakai kausnya dengan tatapan yang tak beralih sedikit pun dari wajah istrinya yang sedang merajuk. Kalau lagi cemberut begini, Ajeng mirip sekali dengan Nayna. Kloningan yang sempurna.
Meski, Benji tahu jika sifat Nayna justru bertolak belakang dengan sifat Ajeng yang pendiam dan kemayu. Sifat Nayna yang sedikit nyeleneh dan pemberani jelas diwarisi dari almarhum sang Ayah, Bagas Restu Syailendra.
Ya, Bagas.
Benji tersenyum miris, jika dirinya harus teringat dengan Bagas, mantan suami Ajeng.
Korban dari ketidakadilan dan keserakahan keluarganya sendiri.
Sebuah rahasia yang sampai detik ini Benji sembunyikan dari Ajeng sang istri, mengenai kematian Bagas.
Bagas memang kecelakaan pesawat, tapi dia selamat. Meski setelahnya, hal itu dimanfaatkan oleh keluarga Bagas untuk benar-benar menyingkirkan Bagas untuk selama-lamanya.
Bagas Restu Syailendra adalah anak tunggal dari pasangan suami istri Ayudya Setya Ningrum dan Ardilan Syailendra. Ayudya meninggal saat Bagas berusia lima tahun, lalu Ardilan menikah lagi dengan seorang janda bernama Sangrilla abimanyu, yang memiliki anak bernama Reymond Abimanyu.
Saat Bagas berusia dua puluh tahun, Ardilan meninggal karena penyakit jantung. Tak berselang lama Ardilan meninggal, Sangrilla menikah lagi dengan seorang laki-laki bernama Dwi Galih Saputra.
Dan sejak saat itu Bagas sang anak yatim piatu itu tinggal bersama ke dua orang tua tirinya serta kakak tirinya.
Tanpa pernah dia tahu bahwa keluarganya itu tengah berkomplot untuk menghabisinya dan menjadikan Reymond sebagai satu-satunya pewaris atas kekayaan Syailendra.
Dan Benji tahu mengenai latar belakang keluarga Syailendra saat dirinya tengah mencari informasi mengenai keterlibatan perusahaan Syailendra dengan Gayatri dan senjata pembunuhnya itu.
Itulah sebabnya, Benji menjadi kurang respect pada Reymond.
Menurut Benji, Reymond dan keluarganya itu benar-benar tidak tahu diri. Terutama Ibunda Reymond. Dia sudah diangkat dari tong sampah, oleh Ayah Bagas dan menjadikannya seorang ratu istana keluarga Syailendra, hingga setelahnya dia juga yang menjadi tembok penghancur keberlangsungan darah turun temurun asli keluarga Syailendra.
Jadi, saat Benji mendengar cerita Ajeng mengenai sang Ibu mertua yang begitu membenci Nayna, sudah pasti alasannya karena Nyonya Sangrilla takut Nayna bisa menjadi penghalang dirinya untuk menjadi penguasa penuh atas harta Syailendra. Nyonya Sangrilla hanya ingin anak semata wayangnya Reymondlah yang mengendalikan seluruh harta keluarga Syailendra bukan Bagas ataupun Nayna, apalagi Ajeng!
Sebab, hanya Nayna satu-satunya darah daging Bagas. Hanya Nayna yang sesungguhnya berhak atas seluruh hak waris harta keluarga Syailendra, bukan Reymond.
Dan satu hal yang membuat Benji merasa lucu, yakni, saat dirinya mendapat kabar kalau istri Reymond meninggal karena dibunuh oleh orang tak dikenal.
Faktanya, hukum karma itu memang berlaku.
Siapa yang menanam benih, maka dia juga yang menuai hasilnya.
Seperti halnya yang telah menimpa Reymond.
Akibat kejahatannya terhadap Bagas, bahkan dengan begitu serakahnya mengambil hak atas diri Nayna, maka dia pun akhirnya kehilangan orang yang begitu dia cintai, yakni sang istri sendiri.
Kepulangan Ronald dengan deru mesin motornya yang nyaring, membuyarkan lamunan Benji, lagi.
Sorot cahaya lampu depan motor Ronald yang mengarah ke wajahnya, membuat Benji mengernyitkan dahi dengan ke dua matanya yang menyipit.
"Tumben malem banget pulangnya Nald?" tanya Ajeng saat Ronald sudah berada di teras.
"Iya Mba, ada urusan," jawab Ronald.
Benji berdecak. "Paling juga pacaran," terka Benji.
Ronald hanya terkekeh.
"Duduk dulu sini, ada yang mau gue omongin," perintah Benji.
Ronald pun duduk di salah satu bangku kosong lain.
Merasa tidak berkepentingan akhirnya, Ajeng pun undur diri. Lagi pula, dia masih sangat mengantuk.
Ronald dan Benji pun duduk berhadapan di teras itu. Dari gelagatnya, Ronald tahu, kalau sesuatu yang ingin dibicarakan sang Kakak kepadanya bukan sesuatu hal yang biasa, melainkan sesuatu hal yang pastinya sangat penting, buktinya Benji sampai menunggu kepulangannya, padahal ini sudah pukul 02.00 WIB dini hari.
"Ini batu giok punya lo kan?" Benji menunjukkan gantungan kunci hasil temuannya di rusun ke dua gadis kembar itu tadi siang.
Melihat batu giok itu seketika wajah Ronald berubah kaget, "iya Ben, inikan punya gue yang di colong sama begal sialan itu," ucap Ronald sambil memperhatikan dengan seksama batu giok itu. "Lo dapet darimana?"
Benji tersenyum miring. Dia mengeluarkan dua carik foto dari saku celana pendeknya. Foto Rojak dan foto si kembar Jovan dan Joyce. "Nih, foto terduga tersangka atas kasus pembegalan yang menimpa lo. Orang-orang gue udah selidikin CCTV di ruang ATM lokasi kejadian ke Bank nya langsung. Laki-laki ini namanya Rojak, dia kenek bus metromini, dan ini Jovan sama Joyce, mereka kembar dan tinggal di rusun Blok S. Pertanyaannya siapa di antara mereka yang waktu itu membegal lo? Itu yang masih harus diselidiki," jelas Benji kemudian.
Ronald kembali dikagetkan saat tahu bahwa terduga tersangka atas pembegalannya itu salah satunya adalah Joyce, wanita yang tadi menjadi partnernya di balapan liar. Kenapa bisa kebetulan begini? Pikirnya dalam hati.
"Dan satu hal lagi yang perlu lo tahu, dari hasil penyelidikan, Rojak meninggal di malam yang sama saat lo di begal. Dia di tembak di bagian kaki kanan dan kepalanya sebelum akhirnya jatuh dari lantai tujuh rusun tempat tinggal Jovan dan Joyce. Rekan gue bilang, ada kemungkinan dua pembegal ini berantem dan saling rebut hasil begalannya lalu saling bunuh, tapi... Menurut gue sih nggak kayak gitu kronologinya. Sekarang gue mau tanya sama lo, sewaktu lo di begal, siapa di antara dua pelaku yang pegang kendali atas duit yang dia begal?" tanya Benji pada adiknya.
"Si cewek yang ambil duit gue. Terus dia kantongin ke jaket jeansnya. Udahannya, dia liat batu giok ini di saku celana gue, terus dia ambil juga. Padahal tadinya gantungan ini gue satuin sama kunci motor, tapi dia lepas. Kunci motornya dia balikin ke gue," jawab Ronald apa adanya.
Benji mengelus janggut tipis di dagunya. Wajahnya terlihat begitu serius berpikir. Hingga setelahnya, dia pun tersenyum dengan beribu ide licik di kepalanya.
"Gue yakin, pelaku pembunuhan Rojak nggak ada sangkut pautnya sama si cewek pembegal itu. Karena kalau memang mereka berantem perebutan duit, tapi kenapa di saku jaket kulit Rojak justru di temuin duit senilai dua setengah juta? Gaji lo lima jutakan? Itu tandanya, mereka udah sempet bagi dua tuh duit. Masalah Rojak bukan jadi masalah utama, karena dia udah mati. Sekarang, kita fokus ke Joyce dan Jovan. Oke?" Benji menatap Ronald serius dengan telunjuknya yang menekan foto gadis kembar itu di atas meja.
Ronald masih mendengar dengan seksama rencana apa yang saat ini sedang Benji susun.
"Lo kuliah di IBMkan? Kebetulan, Joyce juga kuliah di sana. Tugas lo, cuma perlu deketin dia, buat dia percaya sama lo, kalau perlu lo pacarin dia, dengan begitu, lo juga punya kesempatan untuk deketin Jovan? Gue yakin, dengan cara ini, lo bisa menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang mereka. Lo bilang kan kalau lo mau resign dari Dirgantara Grup? Jadi sekarang, anggap aja lo kerja sama gue, dan gue bakal gaji lo senilai gaji yang lo terima sebelumnya. Tapi dengan catatan, lo bisa kasih gue informasi penting tentang mereka berdua setiap harinya. Mereka ini target dari kasus yang lagi gue pecahkan saat ini, mereka anak Wisnu dan Gayatri. Dan gue yakin, salah satu di antara mereka tahu dimana Gayatri menyimpan sampel senjata Micro FX berserta dokumen-dokumen pembuatannya. Lo maukan bantuin gue Nald?"
Ronald tampak berpikir dan Benji bisa melihat ekspresi keraguan dari wajah sang adik. Hingga akhirnya lelaki itu pun mendesah berat.
"Udah nggak usah pake mikir! Mantan Play Boy juga! Masa deketin dua cewek aja nggak bisa! Itung-itung refreshing lo, siapa tau bisa dapet plus-plusnyakan? Kasian tuh Ucok lo kelamaan di anggurin, tar lumutan. Gue udah liat cewek yang namanya Jovan di rusunnya tadi siang, beeehh... Nampol deh pokoknya, nggak bakal nyesel lo kalo iya-iya sama mereka," Benji terkekeh saat otak kotornya mulai bermain.
Ronald melengos malas jika sudah mendengar Kakaknya itu berbicara m***m. "Pikiran lo nggak jauh-jauh dari s**********n Ben!" keluh Ronald.
Benji tertawa keras. "Yaelah, masih kaku aja! Nggak usah munafik lo, Nald! Mereka cantik, dan itu keberuntungan buat lo,"
"Bukannya begitu, Ben! Gue nggak mau di cap laki-laki b******k dengan mempermainkan perasaan cewek lagi. Lo kan tau, gue udah tobat. Lagian Joyce itu bukan cewek biasa yang gampang di bego-begoin. Dia beda Ben. Joyce itu ketua genk motor. Lo tau kenapa gue pulang malem begini? Itu gara-gara dia. Dia nantangin gue tanding balapan liar. Kalau lo liat cara dia bawa motor, cara dia bikin gue hampir frustasi di arena, lo pasti bakal kaget dan nggak bakal menyangka,"
Mendengar penjelasan Ronald itu, Benji memang terkejut. "Terus siapa yang menang?" selidiknya penuh antusias.
"Ya guelah," jawab Ronald dengan bangga.
"Nah! Itu dia!" pekik Benji senang. "Gue tau kemampuan lo Nald! Dan gue yakin, lo bisa taklukin Joyce maupun Jovan! Lo bilang mau gabung jadi personil BIN? Anggap aja sekarang itu lo lagi gue ospek. Kalau lo berhasil, gue bakal rekomendasiin lo supaya lo bisa masuk STIN, tanpa tes! Gimana? Deal?" Benji mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman.
Meski ragu, tapi akhirnya Ronald menerima jabatan tangan itu yang menandakan kesepakatan pun di mulai.
Sebab, bekerja menjadi Inteligen Negara itu memang sudah impian Ronald sejak kecil.
So' mulai malam ini, sepertinya Ronald harus kembali memasang topeng busuk play boynya untuk bisa mendapatkan hati wanita bernama Jovan dan Joyce itu.
Dan Ronald tahu, ini bukan pekerjaan mudah.