Penampilan Gia tak ubahnya seperti anak kos di akhir buan, kusust masai. Kantung matanya seperti sudah memiliki kantung kembali dengan lingkara hitam yang dikenal dengan mata panda. Tak sedikitpun matanya mau tertutup, terlebih kini menghawatirkan keadaan Bima. Ia merasa bersalah dengan laki-laki itu, sebenarnya itu lebih pada pendapatnya sendiri karena memang ia memilih untuk tidak membuka ponselnya. Cacian yang bertubi-tubu menyerangnya takkan berhenti begitu saja dan ia enggan untuk menambah pikirannya. “loh dek kamu belum tidur?” tanya Abidzar yang kebetulan melewati kamarnya dengan sang putri yang pintunya sedang terbuka. “gak bisa tidur?” tanya Abidzar lagi. Gia tak merespon pertanyaan abangnya, ia hanya terdiam memegang keningnya. “badai pasti berlalu, dan masalah-masalah kamu

