Ali hamzah

2311 Kata
Memiliki rahang tegas dengan rambut halus menambah kesan maskulin seorang Ali hamzah bertambah berkali lipat, tak hanya itu tubuh proporsional dengan tinggi 185 cm dengan potongan d**a bidang membuat banyak kaum hawa berangan ingin berada dalam dekapan hangat seorang duda satu orang anak tersebut. Namun belum ada yang berhasil meluluhkan sisi dingin dari seorang Ali, meski banyak juga yang berspekulasi kalau Ali sudah tidak tertarik wanita semenjak dinyatakan berpisah dengan mantan istrinya yang entah siapa dan dimana keberadaan perempuan tersebut, namun Ali tak pernah memperdulikan hal tersebut baginya menjaga privasi anak dan mantan istrinya lebih penting dari pada rumor yang jelas tak benar tersebut, ia hanya belum mampu membuka hati untuk perempuan manapun termasuk wanita yang sedang menemani dirinya makan malam. “ada apa? Apa ada sesuatu yang salah dengan hidangannya? atau mau sesuatu lain?” tanya Ali menyadarkan lamunan teman kencannya yang entah keberapa kalinya hari ini. “kamu?” “aku?” “yah, kamu yang mengganggu pikiranku setiap waktu” Ali hanya memberikan senyum terbaiknya sebagai jawaban yang justru semakin menarik bagi lawan bicaranya “maka kau bisa memikirkan aku sesukanya” “bolehkah?” “kenapa tidak, aku tidak mempermasalahkan itu sama sekali” “kalau begitu bagaimana kalau kita mencoba sesuatu yang lain, lebih dari sekedar makan malam?” bisik perempuan itu meraih jemari Ali mengusapnya pelan merambat hingga lengan namun saat akan melangkah jauh “hmm kau tidak maslah dengan status dudaku?” “siapa yang perduli? bagiku itu bukan masalah” balas perempuan itu mengusap dagu laki-laki tersebut lebih berani Drrt Drrt Ali mengalihkan tatapannya pada ponselnya yang sedang berdering yang tadi ia letak di samping piringnya “permisi” tanpa memperdulikan kalau lawan bicaranya akan murka Ali menarik tubuhnya sedikit menjauh mengangkat ponselnya yang berdering, ia yakin itu penting karena ia sudah menyetel ponselnya hanya untuk panggilan penting. “siapa? dan kenapa kau seperti sagat bergembira menerima panggilan itu” “dia orang yang sangat spesial di hatiku, terima kasih atas jamuan makan malamnya kalau begitu aku permisi aku sedang buru-buru” pamit Ali tergesa-gesa tanpa memperdulikan kalau tamunya malam ini akan murka padamu esok hari. Tak henti-hentinya Ali berhenti tersenyum sepanjang koridor menuju ruang tunggu mencari sosok yang sudah lama tak ia temui beberapa tahun belakang “hai sweetheart” “abi, Biyya kangen” teriak gadis kecil tersebut memeluk abinya “abi juga kangen sama kamu, mama kamu mana Bee?” “mama tadi sama om Bima” “Bima?” tanya Ali meyakinkan, ada perasaan yang ia tak mengerti, bukan cemburu tapi kesal karena mantan istrinya tega meninggalkan anaknya demi menghindari dirinya. “tidak masalah kan bi ?” Ali buru-buru merubah raut wajahnya “iya sayang tidak masalah kalau gitu kita langsung pulang atau kamu mau kemana dulu mumpung malam ini abi tidak ada jadwal?” “Biyya cuma mau pulang, kangen rumah yang dulu” “yah sudah kalau gitu kita langsung berangkat tuan putri” ucap Ali merangkul sang putri mendekapnya kemudian berjalan menuju parkiran karena Biyya sudah tampak kelelahan “abi udah lihat postingan kamu, seneng banget yah di Bali sama mama?” “seru bi, kapan-kapan kita jalan bareng yuk kalau bisa kita jalan bertiga sudah lama juga kan?” “memangnya putri abi mau kemana?” “belum tau sih, nanti Biyya tanyain mama deh” “yah sudah terserah kamu, jadi kamu udah mutusin mau tinggal sam abi?” “boleh bi?” “kok kamu nanya gitu? Memangnya pernah abi larang kamu tinggal sama abi?” “abi gak pernah nawarin Biyya untuk tinggal sama abi” “kalau abi nawarin sekarang kira-kira boleh sama mama?” “mama?” “iya, abi bukannya gak mau nawarin kamu tinggal sama abi tapi abi takut buat hubungan kamu sama mama rusak, mama sayang banget sama kamu” tak ada jawaban dari Biyya anak perempuan itu hanya menatap nanar bahu jalanan “ada apa, kamu berantem sama mama?” “enggak, Biyya gak berantem sama mama” “kalau gak berantem tumben minta jemput sama abi?” “kita bahas mama besok aja yah bi, Biyya ngantuk kalau udah sampai di rumah bangunin Biyya yah” “yah sudah kalau kamu mau istirahat tidur aja nanti abi bangunin” **** Tak henti-hentinya Biyya memperhatikan foto dirinya mulai dari bayi hingga usianya menginjak 5 tahun foto ketika ia mengenakan pakaian adat yang bergelantungan sepanjang dinding di ruang tamu, hanya foto dirinya minus tanpa kedua orang tuanya yang dulu bergelantungan juga diantara foto-foto dirinya “kamu lihatin apa nak?” “Biyya gendutan waktu kecil yah bi?” Ali hanya tersenyum sebagai respon awal pertanyaan anaknya “bagaimana kamu tidak berisi kalau mama kamu selalu memastikan asupan kamu dengan baik” “sekarang mama juga menjaga asupan makan Biyya dengan baik bi” “berhubung bahas mama kamu ada masalah apa dengan mama?” “gak ada bi, Biyya cuma mau ngasih mama waktu sendiri, kemarin Biyya gak sengaja dengar percakapan mama dengan om Bima kalau mama cuma mau yang terbaik untuk Biyya, mama gak mau kalau ada yang membuli Biyya” “jadi kamu udah paham kan sayang kalau selama ini kami cuma mau melakukan yang terbaik untuk kamu” “termasuk abi?” “yah, termasuk abi, abi bukan malu untuk mengakui kamu sebagai anak, abi cuma mau kamu dan mama menjalani hidup dengan tenang, lalu apa alasan lainnya, pasti ini bukan alasan kamu yang sebenarnya kan?” tekan Ali lembut Biyya mengangguk ragu, rasanya sangat sulit membohongi laki-laki yang menjadi cinta pertamanya “mau bicara sama abi?” “Biyya cuma gak mau kalau Biyya punya papa atau umi lainnya, Biyya cuma mau punya abi sama mama” Lama Ali terdiam mendengar permintaan anaknya, baginya permintaan Biyya satu itu terdengar sangat sulit untuk saat ini, meski belum ada keinginan untuk kembali merajut tali asmara dengan siapapun belum tentu menutup kemungkinan kalau Gia yang lebih dulu menempuh hidup baru dengan pilihannya. “permintaan Biyya sulit untuk dikabulakan yah bi?” Ali menggeleng pasti “enggak, abi janji kalau cuma abi yang akan menjadi abi kamu” “pinky promise?” pinta Biyya mengangkat jari kelingkingnya berbinar “pinky promise” jawab Ali membalas uluran jari sang anak “terima kasih abi, Biyya seneng dengarnya” “apapun yang membuat kamu bahagia sweetheart” ucap Ali mengecup puncak kepala sang anak yang berada dalam dekapannya “biasanya kamu tidur sama mama atau sendiri kalau di rumah mama?” “kalau mama di rumah Biyya tidur sama mama, tapi kalau mama keluar kota Biyya tidur sama si mbak” tak banyak respon dari Ali karena ia sudah sangat hafal dengan tabiat perempuan yang kini menjadi mantan istrinya “lain kali kalau mama keluar kota dan abi tidak kemana-mana kamu minta izin aja untuk menginap di sini nanti abi jemput” “boleh bi, nanti Biyya kabarin yah” “kalau gitu kamu malam ini kamu tidur sama ab...” “Biyya tidur di kamar Biyya yang lama yah bi, kangen sama kamar itu” “yah sudah terserah kamu, kalau gitu jangan lupa sebelum tidur cuci muka cuci kaki yang paling penting jangan lupa baca do’ a biar tidurnya dijaga sama malaikat” “siap abi” jawab Biyya meletakkan tangannya keatas kepala menirukan posisi hormat. “anak pinter” Tanpa menunggu lama Biyya berlari menuju kamar yang sudah ia rindukan 7 tahun ini Sementara Ali laki-laki itu berjalan menuju ruang yang selama ini menjadi tempatnya menghabiskan malam ketika matanya sulit untuk diajak istirahat. *** Pagi ini Gia menyantap sarapannya dalam diam tak ada tawa nyaring dari sang putri. Untuk pertama kalinya ia melakukan kegitan tersebut tanpa anaknya, sesibuk apapun ia selalu menghabiskan sarapan dengan sang putri meski mereka harus dipisah oleh jarak karena dirinya harus melakukan liputan diluar kota, Gia akan menghubungi anaknya untuk sekedar menanyakan apakah Biyya memakan sarapannya dengan benar , tapi pagi ini terasa berbeda ia merindukan putri kecilnya, tangannya begitu gatal ingin menghubungi sang anak yang entah sudah sarapan atau belum karena ia tau kalau suaminya dulu tak bisa menyentuh dapur tapi hatinya menolak hal itu, ada perasaan yang ia simpan begitu rapat sejak palu hakim memutuskan hubungan dirinya dengan sang mantan. Drrt Drrt Senyumnya merekah melihat siapa yang menghubungi dirinya “ya ampun sayang mama kangen banget sama kamu, masih di rumah abi yah nak, kamu udah sarapan?” tanya Gia pada sambungan teleponnya “ya ampun mama nanyanya satu-satu, hehe ia ma Biyya masih di rumah abi, tuh abi lagi buatin Biyya wafel ice cream, di jamin enak kan bi?” ucap Biyya merubah kamera depannya menjadi belakang memerlihatkan kegiatan Ali “abi jawab dulu dong, enak kan? “iya sayang abi jamin rasanya enak” jawab ali menoleh sekilas pada sang anak dengan senyum yang begitu manis. Rasanya jantung Gia berdebar tak karuan untuk pertama kalinya setelah tuju tahun berpisah ia kembali melihat wajah yang dulu selalu menjadi candu untuknya senyum yang begitu tulus memuja dirinya, bagi Gia aki-laki itu jauh berubah. “sayang bisa mama bicara berdua dengan kamu tanpa ada abi? ada yang mau mama bicarain” Masih dengan kamera belakang Gia melihat Ali mengangguk dengan senyumnya yang begitu menawan, Gia sedikit bersyukur saat kamera menunjukkan berpindah arah menampakkan isi rumahnya dulu “mama lihatin apa?” tanya Biyya membuyarkan lamunan Gia “kamu udah jauh dari abi?” “iya ma Biyya udah di kamar, abi di dapur” “bee sayang, kamu tau kan nak selama ini mama menghindari abi, jangan seperti tadi yah nak mama minta tolong” tak ada respon sedikitpun dari Biyya “nak, sayang, biyya, Gazbiyya Ali” “iya, iya ma maaf Biyya udah keterlaluan” jawab Biyya lesu “nak, mama cuma mau kamu memahami kondisi kita, kita sudah tidak bisa seperti dulu lagi, mama mohon sekali pengertian kamu sayang” “iya ma Biyya minta maaf yah ma” “bukan salah kamu nak, jadi putri mama mau sampai kapan ninggalin mama sendirian?” “rencananya Biyya mau sama abi selama libur nanti kalau udah mulai sekolah Biyya balik boleh kan ma?” “boleh have fun yah sayang sama abi, assalamualaikum” “waalaikumussalam ma” Lama Gia terdiam mencerna takdirnya pagi ini, baru saja tadi malam ia menerima lamaran Bima seketika goyah dengan sekilas melihat wajah Ali, dadanya begitu sesak hanya melihat sekilas wajah Ali, ia tak munafik laki-laki itu semakin tampan bahkan lebih dewasa dari tujuh tahun lalu. Ting Lamunan Gia buyar saat menerima pesan mengenai artikel yang akan menjadi topiknya pada malam ini, agaknya Gia sedikit kesal karena dirinya baru dikasih tau kalau tema malam ini akan diganti alhasil ia harus ngebut membuat skrip dadakan untuk persiapannya tampil nanti malam ditengah persiapanya untuk launching anak media yang ia dirikan beberapa tahun yang lalu. *** Semua crew tampak bersiap-siap begitupun dengan Gia yang sedang bersiap di balik backsatge menunggu panggilan dirinya. Seperti biasa gimmick yang ia gunakaan sebelum melakukan opening acara adalah dengan melakukan adegan Gia sedang membaca koran yang sebenarnya adalah point-point dari pertanyaannya malam ini, namun dibuat seolah-olah dunia seorang Gia selalu berpusat pada berita terkini dengan gimmick tersebut. “kamera on berapa menit lagi?” tanya Gia mencoba memahami tema malam ini “tersisa 3 menit lagi” mendengar itu Gia menatap lurus pada kamara yang berhubungan dengan bagian operator dengan tatapan nyalang, membanting koran tersebut “kenapa saat briefing ini tidak dibahas , apa bisa dalam waktu lima belas menit topik kita langsung berbeda?” tanya Gia emosi ia merasa dipermainkan “ayolah Gia profesional, kita semua disini cari makan, lagi pula ini permintaan mba Ina jangan bilang kamu belum baca email yang barusan aku kirim?” masih dengan gurat kekesalannya Gia membuka ponselnya memastikan emailnya “sudah Gi, waktu kita tinggal satu menit lagi kau bisa menelaah materinya setelah satu segmen pembukaan, segmen kedua kita akan memutarkan satu vidio total kau punya 15 menit Ready?” Tak ada pilhan Gia menuju posisinya membetulkan duduknya bersiap untuk menjadi dirinya seperti biasa tampil dengan penuh pesona Untuk pertama kalinya Gia merasa dibidohi dengan tim yang ia percaya selama tiga tahun kebersamaan mereka. Gia mulai melempar opini pada narasumbernya seperti biasa dengan satu opini dari dirinya akan membuat kelimpungan narasumbernya, meskipun ia tak bisa sesantai biasanya karena ketidak becusan timnya “jadi menurut anda perlakuan seperti apa yang dapat memperbaiki citra yang sudah mulai pudar dimasyarakat?” tanya Gia spontanitas “yang pasti bukan dengan kabur ke bali selama tiga hari demi menjaga sebuah citra diadapan masyarakat banyak itu bukan pilihan yang bijak” Boom Gia merasa tersudutkan dengan pernyataan tersebut dengan mengatakan kabur ke “bali”, namun bukan Gia jika tidak mampu mempertahankan kelancaran acara yang ia pimpin “saya belum bertanya pada anda pak Ramli, saya bertanya pada pak Iwan silahkan dijawab” Meski dengan jantung berdebar-debar Gia tetap berusaha bersikap profesional hingga satu segmen pun berakhir dengan perdebatan yang masih berlangsung saat kamera sedang mati “saya harap anda cukup profesional dengan tema malam ini, karena jika anda menyinggung masalah pribadi yang tidak ada hubungannya dengan anda, saya tidak akan segan-segan mempertanyaakan mengenai vila anggrek putih dua bulan lalu, tentunya anda tidak ingin nama anda buruk sebelum pernikahan putri tercinta anda bukan?” bisik Gia sebelum izin mengambil segelas kopi untuk sekedar menenangkan fikirannya. Di tempat lain dua manusia beda generasi tengah khusuk memandangi jalan debat malam ini. “abi mama tidak akan kalah kan?” “maksud kamu?” “mereka memojokkan mama kan bi, Biyya paham sekarang” “mama kamu pasti bisa dia perempuan hebat” “tapi Biyya takut bi” “percaya sama mama kamu, menjadi orang jahat pasti dibenci semua orang tapi menjadi baik belum tentu disukai sama orang nak, tekanan seperti tadi bukan apa-apa untuk mama kamu, percaya sama abi” setelah menghela nafas berat Biyya mengangguk kemudian memperisiapkan hati bila nanti mamanya sudah tak kuat lagi ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN