Kepoin mantan?

2282 Kata
 “kamu bisa minum kopi itu pelan-pelan saja? Kamu sedang live Gia, gak lucu kalau tiba-tiba segmen ketiga kamu ganti baju karena kecerobohan kamu menumpahkan kopi itu” peringat Balqees “maaf aku sedang tidak fokus” “satu studio tau kalau kamu tidak fokus, kamu tidak mau menghancurkan reputasimu malam ini juga kan?” “maksud kamu?” “semua yang ada di sini  tau kalau pak Ramli sedang berusaha menjatuhkan pamor kamu, sudah saatnya Gi satu Indonesia tau kalau kamu sudah memiliki seorang putri” “yah, tapi bukan sekarang, aku gak mau mereka menggunakan Biyya untuk memperalat aku” “terus kamu mau apa?” “aku hanya perlu menyelesaikan 7 segmen lagi dengan mulus” “lalu pak Ramli?” “aku sudah menutup mulutnya jika ia berani menyentuh teritoriku aku akan membuka kartu as nya” “lalu apa yang membuat kau takut?” “entahlah aku hanya gugup, kau tau aku merasa seperti seorang trainee” “well ku akui malam ini kau memang seperti seorang trainee” “berapa menit lagi on satge?” tanya Gia mengalihkan topik pembicaraan yang hanya akan memperburuk moodnya “tiga menit lagi” “oke” jawab Gia kembali melanjutka menyeruput kopinya kali ini lebih rileks dari semnya. Drrt Drrt Gia memperhatikan nomor yang menghubunginya, memastikan lekat-lekat siapa yang menghubunginya “siapa?” “bukan siapa-siapa aku angkat ini sebentar, kasih kode kalau tinggal 30 detik lagi” Gia mengambil nafas terpanjang yang ia bisa “ha hallo” “mama” mendengar kata “mama” Gia menghembuskan nafas lega, benar-benar lega. Meski sudah berpisah Gia tak pernah menghapus kontak Ali di ponselnya bahakan nama Ali dalam kontaknya masih bertulis zaujii “iya sayang, kenapa kamu pakai ponsel abi, ponsel kamu mana nak?” “maaf ma ponsel Biyya tadi gak sengaja tercebur ke dalam kolam waktu ngasih pakan ikan” “....” “mama” “yah sayang?” “semangat yah ma, Biyya baru aja selesai solat isya doa untuk mama, Biyya sama abi nonton mama” “terima kasih yah sayang, jangan tidur kemalaman yah nak” “Gi” mendengar namanya dipanggil Gia menoleh pada sumber suara, yaitu Balqees. Perempuan indo arab itu menunjukkan pergelangan tangannya dengan mengisaratkan tiga jari pertanda waktunya habis, Gia hanya mengangguk sebagai respon “Bee mama mau nampil lagi, udah dulu yah nak” pamit Gia pada sang putri, tapa menunggu respon dari Biyya Gia mematikan sambungan teleponnya kemudian memberikan ponselnya pada balqees kembali. “make up?” tanya Gia menoleh sekilas pada cermin yang ada di ruangannya. “kau selalu cantik Gia” “kau yang terbaik Balqees” tegas Gia membetulkan kemeja Balqees yang sebenarnya sudah rapi. Bak bunga mekar di tengah teriknya padang gurun, semua mata tertuju pada Gia yang menduduki kursinya kembali. Bahkan aura perempuan anak satu itu lebih memancar dari dua segmen sebelumnya. “baik semuanya stand by tiga dua satu” usai mendapat instruksi Gia memberikan senyum terbaiknya untk penonton setianya. “kata-kata bijak pernah mengatakan, buruh lebih utama dar ipada sebuah modal. kita lanjutkan diskusi kita kembali” “lalu apa tanggapan anda mengenai artikel Haluan Pagi media yang mengatakan citra pabrik emas pemeras pribumi? Bagaimana tanggapan anda bang Ramli dan bang Deni?”  “itukan hanya sebatas artikel yang belum tentu kebenarannya, belum lagi  masih ambigu dengan tanda tanya setelah tulisan pribumi” “jadi anda meragukan artikel yang dirilis oleh salah satu media yang ada di negara anda sendiri?” “saya tidak mengatakan kalau saya meragukan media-media kita yang menjalankan tugasnya, hanya saja beritanya belum kongkrit saya berani jamin, kalaupun memang ada korban yang sesuai diberitakan silahkan datang ketempat kami kita diskusikan kebenarannya” “baik, jadi anda menjamin kalau artikel yang beredar kenyataan tidak sesuai fakta, begitu?” “anda mengatakan hal tersebut karena anda bagian dari mereka dan saat terjadi pun anda sedang tidak dilapangan, lalu bagaimana anda membuktikan ketidak adanya kecurangan di sana?” ucap kubu lawan, Gia hanya diam menunggu opini dari kedua kubu “kita semua diawasi dengan sistem keamanan yang lengkap, bagaimana saudara bisa mengatakan kalau kami bisa melakukan kecurangan?” “semua bisa di rubah bang Deni, kalau bermain licik bermainlah yang benar jangan tinggalkan ampasnya sedikitun” “anda jangan sembarangan menuduh kalau tidak berdasarkan bukti kita bisa saja...” “baik Bang Deni, kalau begitu bagaimana dengan kesaksian pekerja anda mengenai tindakan yang tidak menyenangkan yang mereka dapat apa itu tidak bisa menjadi bukti?” tanya Gia mencoba mengenengahkan keduanya, namun tetap dengan pertanyaan-penyaan andalanya. Suasana diskusi malam ini terasa makin panas, kepercayaan diri Gia semakin memuncak terlebih saat timnya berhasil menghubungi salah satu korban yang sebenarnya Gia tak terlalu mengetahui seluk beluknya semuanya terlalu tiba-tiba, namun Gia tetaplah Gia dengan segudang ketenangan yang ia miliki.  “.... baik waktu tiga jam berlalu terasa begitu terasa singkat, sayangnya diskusi seru malam ini harus berakhir saat ini juga, saya Altinggia undur diri, selamat malam” pamit Gia menutup jalannya diskusi yang ia pimpin. Acara malam ini benar-benar mendebarkan  untuk Gia namun ia puas, terlebih saat berkali-kali ia bisa membungkam seorang Ramli yang awal-awal begitu memojokkan dirinya. “mba Gi” panggil salah seorang crew meneui Gia dalam ruangannya “iya?” jawab Gia tanpa merubah fokusnya pada talk show  luar negeri kesukaannya “ada waktu gak mba?” Gia tak langsung menjawab “sekarang?” “iya mba” “saya sedang tidak ada urusan yang mendadak ada apa?” yah Gia tidak punya tujuan untuk pulang cepat. “mba Ina ingin bicara sebentar” “oke lima belas menit lagi aku ke atas” jawab Gia membereskan perlengkapannya “kenapa bu bos mau jumpa kamu?” tanya Balqees yang sedari tadi hanya diam mengamati. “gak tau, aku minta tolong kamu bawa ini ke mobil yah... mmm Qees kalau aku minta kamu temanin aku malam ini kamu mau  gak? Atau kamu ada acara lain yah?” “bisa sih mba, aku lagi malas beres-beres kost” “yah sudah kalau gitu kamu tunggu aku di mobil yah atau kalau mau main sama anak-anak dulu silahkan” ucap Gia memberikan kunci mobilnya “aku nunggu di mobil aja deh lagi malas bicara sama orang-orang” jawab Balqees mengenakan masker hitamnya menganggkat tas miliknya dan milik Gia “selamat yah mba Gi” “selamat mba Gi” “semangat mba” Entah sudah berapa banyak Gia mendapat ucapan selamat dari para Crew, namun Gia hanya merespon dengan senyuman serta anggukan “Altinggia Axelsa Levana” panggil Pram selaku produsernya keluar  ruangan petinggi kantornya “kenapa semua orang memberiku semangat bang?” “silahkan masuk kedalam nanti kau akan paham” Gia semakin tak paham dengan ucapan laki-laki tersebut namun Gia tetap melanjutkan langkahnya memasuki ruangan dengan direkturnya. *** “mba, kok aku gak denger suara Biyya prasaan dulu semalam apapun kita balik dia tetap bangun?” “Biyya sama abinya” jawab Gia meniriskan frozen foodnya, ia melewatkan makan siang dan makan malamnya, untung saja asam lambungnya tak berulah namun tetap ia atasi sebelum penyakit itu kambuh dan membuat hari-harinya kacau. Uhuk uhuk “jorok kamu” protes Gia memberikan tissue pada Balqees “jadi kalian udah damai? Serius demi apa? Sejak kapan?” “memangnya siapa yang perang ada-ada aja kamu, aku fikir Biyya juga berhak mendapat kasih sayang dari abinya secara langsung” “kenapa?” tanya Gia melihat asistennya seperti tidak percaya ucapannya “gak percaya aja, pasti ada sesuatu” “gak ada sesuatu-sesuatu, kamu ingat makan malam aku dengan Biyya beberapa minggu yang lalu kan, Biyya sudah besar dan aku gak mungkin nutupin semuanya dari dia, kemarin dia sendiri yang meghubungi abinya, aku gak bisa nolak permintaan Biyya” “silakan dinikmati, kalau mau pakai nasi ada di rice cooker” ucap Gia meletakkan masakannya di atas meja makan “kalau amer ada mba?” “ada-ada aja kamu gak mungkin aku ngoleksi begituan di rumah” “bercanda mba, serius banget, jadi ngapain aja tadi dipanggil sama bu bos?” mendengar pertanyaan tersebut Gia memelankan kunyahannya “aku juga gak paham, awalnya mba Ina cuma ngucapin selamat karena raiting kali ini sangat tinggi tapi setelah itu mba Ina meminta aku membungkus acara ini aku gak ngerti apa yang ada dalam kepala mba Ina” “kok gitu? Terus tawaran lainnya? Gak mungkin mba Ina cuma nyuruh kita pensiun tanpa pesangon kan?” “aku ditawari menjadi staff khusus disalah satu perusahaan milik negara, keren banget gak aku?” tanya Gia dengan nada bangga yang dibuat-buat “aku baru memulai beberapa kasus, apa bisa aku mundur begitu saja?” “kenapa tidak, kalau mba memang berniat ingin mencoba hal baru, kalau mengenai omongan orang aku yakin hanya sebentar” “tapi maslahnya tidak semudah itu, aku gak bisa bicarain semuanya maaf... terlebih Biyya, anak itu selalu membanggakan aku, aku tidak mau mengecewakan dirinya yang sudah membanggakan aku” “bukan karena mas Ali?” “kenapa Ali?” tanya Gia mengernyitkan keningnya, meski tak dapat ia pungkiri kalau ada perasaan malu bila ia keluar dari pekerjaannya yang membuat sedikit banyaknya perpisahan mereka dulu. Ada perasaan gengsi bila tiba-tiba ia keluar mengingat perjuangannya “gak papa” jawab Balqees menutupi “kamu tertarik sama Ali yah?” tebak Gia “ah engga mba, gak mungkin lah” ralat Balqees “jujur saja” “ii iya sih mba, tapi bukan suka juga gimana yah bilangnya” “wajar kok kalau kamu suka sama Ali” “tapi aku gak enak sama kamu mba” “kenapa begitu? Santai aja kali aku udah bukan siapa-siapanya Ali sekarang” “justru itu, mba pernah ada dalam hidup mas Ali, kalau aja mantan mas Ali itu bukan mba, udah dari dulu aku pepet” “yah kan siapa tau jodoh, aku tau kok kalau kamu sering stalking sosial medianya Ali” mendengar itu wajah putih Balqees memerah bukan main “aku gak masalah, terlebih kamu yang akan menjadi ibu sambungnya Biyya, yang ada aku lega bisa nitipin Biyya sama kamu” “enggak deh mba, kalaupun cowo cuma tinggal mas Ali aku gak mau kecuali” “kecuali?” ulang Gia menunggu jawaban Balqees “kecuali mba sudah meninggal baru aku maju” “dasar kamu, doain aku cepat m*ti?” “bukan begitu mba, maksudnya aku gak enak aja kalau” “iya aku paham sudahlah, mendingan kamu habisin makanan kamu, setelah itu shalat isya baru tidur” “mmm mba, kamu beneran gak ada kontakan atau saling follow-an sosmednya mas Ali?” “engga sih, memangnya kenapa?” “mas Ali makin ganteng tau mba, serius. makin dewasa, semakin mapan errr jantan sekali mantanmu itu mba” “makanya aku kawal dia dari muda kalau soal itu” jawab Gia terkekeh “mba beneran udah move on?” “mau jawaban jujur atau bohong?” “jujur dong, ngapain dijawab kalau bohong mba!” “oke, kalau jujurnya aku masih tahap usaha, mungkin sekarang aku bukan pada tahap move on tapi lebih berdamai dengan masa lalu, bagaimanapun Ali pernah menjadi seseorang yang sangat spesial dihatiku terlebih ada Biyya diantara kami, tentu hal itu bukan hal yang mudah dan asal kamu tau kami berpisah karena ego masa muda kami, bukan karena ada isu orang ketiga apa lagi rasa bosan” untuk pertama kalinya setelah 7 tahun berpisah Gia berani mengungkapkan perasaan terdalamnya. “kalau suatu saat mas ali mengajak kalian kembali bersama bagaimana?” Gia tak langsung menjawab pertanyaan Balqees, baginya saat ini kembali bersama Ali sangat tidak mungkin namun lidahnya sangat sulit untuk menjawab apapun“Qees jangan lupa shalat isya malu sama sama nama, Balqees Jameera kurang islami apa lagi tu nama” “mba arab juga kalau lupa” jawab Balqees yang memahami kalau lawan bicaranya sedang mengalihkan pembicaraan yang menurutnya cukup pribadi bagi seorang Gia. Hanya seorang Balqees yang mengetahui karakter seorang Gia, meski diluar seorang Gia terkenal dengan sikap ambivert tapi sebenarnya Gia seorang introvert sesungguhnya, bahkan terkadang bisa menjadi seorang melankolis. namun pekerjaan lah yang memaksa dirinya harus selalu tampil sebagaimana mestinya, hmmm sebenarnya Ali juga termasuk orang yang memahami karakter Gia yang sedikit manja? Hah rasanya mengingat kemesraan mereka dulu Balqess seperti tak percaya mereka sudah berpisah bahkan 7 tahun, namun duanya masih tetap mempertahankan status janda dan dudanya. “dasar rasis” tuding Gia dengan nada bercanda “mba duluan yang rasis” “yah suda aku minta maaf deh, lagian arab ataupun non arab sama aja yang beda itu cuma amal ibadahnya saja, jagan tunda-tunda malaikat maut juga gak kasih skor waktu kalau mau cabut nyawa” “serem banget kamu mba pakai bawa-bawa malaikat maut” Gia tak memperdulikan teriakan Balqees, ia hanya melangkahkan kakinya menuju kamarnya tubuhnya benar-benar sudah merindukan kasurnya. Niat ingin tenggelam dalam lautan mimpi malah tertanggu dengan ucapan Balqees tadi “akh” keluh Gia bangun dari rebahnya mengambil ponselnya “bismillah” ucapnya kemudian dengan pelan jarinya berselancar pada sosial medianya. Berkali kali lafal “hanya sebentar” ia kumandangkan namun jarinya terus aktif melakukan scroll pada ponselnya “scroll sampai bawah” bisik Balqees tepat di telinga Gia “ya ampun Qees kamu ngangetin tau gak” “katanya udah berdamai sama masa lalu tapi kenapa diliatin mulu si doi?” “gara-gara kamu ini” “lah kok gara aku?” “emang ulah kamu yang ungkit-ungkit Ali” ucap Gia merebahkan tubuhnya “ya elah lagian nih ya kalau masih suka tu bilang mumpung belum digaet sama tante-tante yang sering seliweran sama doi” “udah bukan urusan aku kali Qees, udah deh aku udah ngantuk jangan lupa matiin lampu aku mau tidur” tandas Gia memunggungi Balqees   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN