Pria misterius

2088 Kata
 “....” “kamu dimana sayang mama sudah sampai di depan gedung bioskop kamu dimana nak” tanya Gia mencari sosok anaknya yang belum ia temui. “mama sudah sampai? Mama” panggil Biyya pada sambungan teleponya melambaikan tangannya kearah Gia Melihat hal tersebut Gia membalas lambaian anaknya, dua hari yang lalu sang putri mengajak dirinya untuk menghabiskan akhir pekan berdua, seperti biasa mereka hanya akan bertemu di lokasi dan bersikap seolah-olah tak saling berkenalan, jika dulu Biyya selalu menolak permintaan konyol dirinya tak jarang ia dan Biyya selalu bersiteru panjang terlebih dahulu sebelum meet up mereka tapi kali ini anaknya tampak sudah menerima keadaan mereka.  “Biyya awas” teriak Gia berlarian menuju putrinya, pandangannya tertuju pada sosok laki-laki jangkung yang sedang melipat kain segi tiga menjadi lebih kecil, bukan hal itu yang menjadi fokusnya melainkan pandangan lurus laki-laki itu terhadap putrinya Respon Biyya saat itu cukup kuat ia bisa menghindari  sosok yang entah siapa, dengan cekatan Biyya melepaskan semprotan parfum miliknya, otomatis membuat laki-laki itu kesulitan sendiri, suasana hari itu memang lebih sepi dari biasanya. Puk Gia memukul lengan pemuda yang entah siapa, berani-beraninya berniat menyentuh putrinya. Untunglah ada beberapa orang yang sadar dengan keadaan ia dan Biyya diantaranya tim keamanan dan beberapa anak muda yangkemungkinan akan menonton seperti mereka. “terima kasih” ucap Gia menurunkan topinya, menaikkan resleting jaketnya hingga menutupi setengah wajahnya dengan cepat membawa Biyya menuju parkiran  karena sang putri tanpak seperti ketakutan. **** “baik terima kasih, tidak masalah nanti akan saya atasi sendiri” ucap Gia memutuskan panggilannya sepihak “ma” “kamu sudah bangun nak? Apa ada yang sakit?” tanya Gia menyentuh kening anaknya “enggak ma Biyya gak papa, kita ada di mana ma?” “kit ada di klinik om Abid, mama takut kamu kenapa-kenapa” ucap Gia memeluk putrinya erat “Biyya gak papa ma, Biyya cuma kaget” “sayang, untuk sementara kamu tinggal sama abi dulu yah nak, mama mau mastiin sesuatu” “tapi ma” “percaya sama mama yah nak ini cuma sebentar, nanti kamu ketempat abi sama Balqees yah sayang” “lalu sekolah Biyya?” “mama yakin gak akan sampai satu minggu, tapi mama minta kamu jangan bicarain ini dulu sama abi, biar mama aja yang bicara sama abi, oke?” Biyya hanya mengangguk tanpa protes, baginya kejadian tadi sudah cukup  mempercayai setiap ucapan mamanya. Setelah menitipkan Biyya pada Balqees Gia bergegas menghampiri Abidzar untuk berpamitan. “bang,  terima kasih untuk malam ini, aku gak tau harus membawa Biyya kemana lagi” “tidak perlu merasa sungkan, justru aku senang kalian mengunjungi klinikku, lalu setelah ini kau akan kemana?” “aku mau memastikan sesuatu dulu bang” “bukannya sudah jelas kalau pisau yang kau maksud tidak ada pada pria itu melalui rekaman CCTV yang kau dapat?” “aku tidak bisa percaya begitu saja bang” “lalu kapan kau akan meninggalkan dunia mu sekarang?” “maksud abang?” “kau tidak ingin selamanya sendirian kan?” “bang” “apa lagi Gia, bulan depan abang akan mengikuti mbak mu ke Kalimantan, abang akan membuka klinik di sana, abang minta kamu secepatnya menemukan pasanganmu, abang tidak bisa menjaga kamu lagi” “Bima sudah melamarku” pungkas Gia “bagaimana orangnya?” “dia orang yang baik bang” “lalu agamanya?” “dia laki-laki yang baik bang” “lalu apa lagi? terima lamaran laki-laki itu” “bukan begitu bang” “berapa usia pemuda itu?” tanya Abidzar yang seolah faham dengan kepala adiknya, entah kenapa adik cantiknya itu selalu dikelilingi brondong, bukan hal yang salah hanya saja sebagai abang ia ingin sang adik mendapatkan laki-laki yang lebih dewasa bisa menuntun sang adik. Namun ia takkan memaksa karena jodoh siapa yang tau? “dia lebih muda 4 tahun dari ku bang” “lalu keluarganya?” “mereka menyambutku bang, mereka menyukaiku, tapi Biyya belum bisa menerima Bima, akupun masih belum mencintainya bang, aku tidak bisa berbohong” “kau dulu mencintai Ali tapi kalian berpisah, cepatlah mengambil keputusan agar abang bisa dengan lega meninggalkan kalian berdua disini, mungkin hanya kau Gia. karena Biyya memiliki sosok abi yang akan melindunginya, sementara kau hanya punya aku” “akan Gia fikirkan, kalau gitu Gia pamit dulu bang” pamit Gia memeluk Abidzar “semoga allah melindungi setiap langkahmu dek” “insyaallah bang”  **** Sesuai permintaan Gia, usai mengantar putrinya dengan selamat pada abinya, Balqees mengunjungi Gia di apartemennya, selain mengenai kejadian yang baru menimpa Biyya ada beberapa pekerjaan yang akan gadis itu bicarakan dengan Gia “assa... ya ampun kaget aku” ucapnya keget melihat sosok  Bima yang membuka pintu untuk dirinya “ngapain kamu di sini, mba Gianya man...” “loh kamu sudah sampai Qees” “kalau gitu aku duluan yah Gi” pamit Bima yang memang hendak keluar dari apartemen Gia “iya Bim, sekali lagi terima kasih yah udah mau aku repotin” “ini aku loh Gi, kaya sama siapa aja” Tak banyak respon yang Gia tunjukkan perempuan itu hanya mengangguk patuh “kenapa?” tanya Gia melihat raut wajah Balqees yang seperti menaruh rasa curiga “membawa laki-laki non mahram sudah terlalu lumrah yah mba?” “maksud kamu?” “’itu tadi ngapain coba si Bima-Bima itu masuk” “gak usah mikir yang macam-macam, tadi aku minta Bima jemput, nelepon kamu berkali-kali gak diangkat” sindir Gia merapikan kursi tamunya “maaf” “tidak masalah.... aku capek banget” keluh Gia menghembuskan napas kasar, seraya mengangkat sebelah tangannya ke atas kepala seseklai memijit kepalanya lembut “bagiamana, sudah berhasil?” tanya Balqees hati-hati “belum, hasilnya masih sama” jawab Gia tanpa merubah posisinya “mba yakin kalau itu beneran pisau?  untuk apa coba, kalau memang laki-laki itu mau melukai  Biyya gak perlu nunggu di depan gedung bioskop, laki-laki itu bisa melakukan itu sebelumnya, apa lagi Biyya berangkat sendirian kan?” “maksudnya?” terlalu banyak kejanggalan-kejanggalan yang menggrogoti hatinya sampai-sampai ia sulit memahami ucapan Balqees “ini cuma hipotesis aku mba, kenapa harus nungguin kamu dulu baru laki-laki itu dekatin Biyya, padahal banyak waktu terlebih Biyya berangkat menggunakan angkutan umum, gadis itu melupakan paket internetnya kan? Terlebih mereka turun dari angkutan umum yang sama” “pantes Biyya menelepon aku... tapi untuk apa?” “kamu tidak bercanda kan mba bertanya padaku?” Tak ada jawaban dari Gia, perempuan itu hanya mencerna maksud ucapan dari asistennya “mereka cuma menggertak kamu” “kamu tenang aja mba, berita yang lebih mengejutkan bukan cuma itu” “aku sudah mengirimkan jadwal kamu mulai besok subuh” dengan rasa malas Gia mengecek email yang dimaksud oleh Balqees “Bromo?” “yap, kamu harus ngeliput acara semacam dayli activity di sana dengan view yang sangat indah?” “kamu serius?” “dua rius mba, eit kamu hanya meliput. salah satu pengusaha asal arab yang sedang liburan di Indonesia, dan ini progam pertama kamu dalam acara tersebut bersama para tokoh, itu permintaan mba Ina” “kamu bercanda, besok malam aku live seperti biasa” “acara kamu akan di ganti dengan acara talkshow yang pindah jam tayang menggantikan acara kita, karena sorenya stasiun tv kita akan meliput resepsi pernikahan salah satu artis ibu kota” “aku tidak terima,  bahkan dari media kita sudah memublikasi tema kita besok hari” “maaf mba, sebenarnya malam ini adalah malam perpisahan kamu dengan acara Cerita Gia. karena kamu sedang ditimpa musibah sehingga akan di ganti minggu depan, seperti biasa ini program baru yang akan menggantikan program lainnya” *** Entah kemana perginya rasa capek yang tadi dikeluhkan oleh Gia, tanpa memperdulikan penampilannya yang lebih cocok seperti ke dapur dari pada ke perusahaan media tempatnya bekerja, amarahnya sudah membuncah karena dengan seenaknya mereka memberhentikan dirinya tanpa persetujuan dari dirinya sebelumnya. “mba gi” “dimana bos lo?” tanya Gia berkacak pinggang, bahkan setengah berteriak di depan gedung R2, Gia sudah tidak memperdulikan lagi wibawa yang selama ini ia junjung tinggi, bahkan Balqees saja sudah kewalahan menangani sosok Gia yang sudah meledak-ledak. “Gi, bisa bicara sebentar” panggil laki-laki tegap masih mengenakan seragam media tersebut. Ingin rasanya Gia berteriak tak terima tapi egonya masih menahan hal itu, ia mengikuti langkah Pram menuju ruangan laki-laki itu “duduk Gi” “aku sedang tidak berniat basa-basi, aku tidak terima kalian memperlakukan aku seperti ini, kalian semua yang terlebih dahulu meminta aku menjalankan kasus ini kenapa tiba-tiba kalian memecatku tanpa berbicara denganku terlebih dahulu” “tidak ada yang memecatmu Gi, ini semua demi kebaikan kita” “kebaikan apa maksud mu hah? Kebaikan dompet kalian begitu? Apa semua pada lupa media ini berdiri sebagai gatekeeper, sudah tugas kita me....” “aku tau, aku paham tapi maslahnya bukan hanya itu, masalahnya kita juga butuh dana dari mereka-mereka yang” “aku paham, aku paham arah pembicaraan mu, kalau begitu aku akan mundur dari acara itu “tidak bisa mba, kalau kamu mundur kamu harus bayar penalti” telak Balqees. **** Tak henti-hentinya Gia menghembusakn nafas berat, jantungnya sudah berdisko dari semenjak pagi tadi , bahkan dari malam otak dan hatinya sudah tak singkron membuat ia tak bisa terlelap bahkan sedikitpun, ia yakin lingkaran hitam pasti sudah sangat jelas di kedua matanya. “hai” “h hai” balas Gia menjawab sapaan yang dari tadi membuat jantungnya mau meledak, mendengar suranyahnya saja sudah membuatnya gugup bagaimana jika menatap mata yang membuatnya tujuh tahun berbunga. “kamu apa kabar?” “baik, kamu sendiri apa kabar?” setengah mati Gia mempertahankan suranya untuk tidak bergetar “seperti kamu, aku baik, terlebih saat malaikat kecil kita bisa dengan bebas disekitarku” tidak ada yang salahkan? Sampai kapanpun Biyya akan menjadi malaikat kecil antara dirinya dan juga Gia. “maaf” entah alasan apa Gia mengucapkan hal itu. “tidak masalah kamu memangkan hak asuh itu dan terima kasih karena kamu memberi aku kesempatan bersamanya, dan juga selamat atas pencapaianmu kamu semakin bersinar” “terima kasih” jawab Gia menunduk “apa sebegitu bencinya kamu sampai kamu hanya menunduk dihadapanku?” “apa?” “ada apa, kenapa kamu menghubungiku?” “aku mau menitipkan Biyya sementara waktu aku harap kamu bisa memastikan ia dengan baik, untuk sementara waktu aku akan ada di Bromo” “sebenarnya apa maksud ucapanmu? Bukannya  besok malam kamu akan live seperti biasa” “acara itu sudah tidak ada” “aku tidak paham” “aku tidak bisa mengatakan banyak, intinya aku mendapatkan program lain” “ada yangmengancam kamu?” terdengar suara Ali seperti menahan amarah? “bagiku ancaman sudah hal biasa tapi ini mengenai Biyya, mereka mulai mengancamku melalui Biyya. Aku belum mendapatkan bukti ancaman itu semua hasil CCTV nya sama tapi aku yakin kalau... kalau laki-laki itu memegang pisau” Tak ada jawaban dari Ali, namun wajah laki-laki itu tidak seramah seperti biasanya, Gia faham kalau raut itu adalah raut amarah sudah sangat jelas “aku minta tolong sementara kamu jaga dia, anggap saja kalau kamu belum mendengar ini dari aku biar saja dia menganggap kalau kemarin itu hanya sebuah kesalah pahaman, dan kekeliruan mataku.” “tidak bisa kah kau mundur dari ini semua?” Hanya gelengan yang Gia berikan sebagai jawaban “Altinggia” “aku tidak bisa mundur kamu tau itu Ali” “apa lagi alasan kamu kali ini Gia?” “Ali” bukan Gia yang memanggil melainkan sosok perempuan dewasa dengan penampilan yang begitu berkelas sangat jelas dengan oufit branded yang dikenakan perempuan itu. “hai, kamu?” tanya Ali mencoba mengingat siapa wanita tersebut, sementara Gia menaikkan resleting jaketnya seperti biasa bahkan memakai kacamata hitamnya ditengah malam “ini aku Zeline, kamu lupa?” “maaf, aku pangling melihat kau sekarang, bagaimana kabarmu sekarang?” “lebih baik terima kasih untuk yang dulu, kamu sama siapa?” “oh ini perkenalnkan” “kalau begitu aku aku duluan” ucap Gia berdiri lebih dulu “aku antar?” “tidak perlu sudah ada Bima di parkiran kalau begitu aku permisi” pamit Gia yang tidak ada penolakan dari Ali, laki-laki itu hanya memperhatikan Gia berjalan seperti seorang artis yang sedang menutup diri dari serangan paparazi, meskipun tak bisa dipungkiri istrinya memang seorang selebriti saat ini. “suranya seperti mirip seseorang, tapi aku lupa sangat familiar” “oh ya siapa?” “entahlah mungkin aku salah orang, tadi siapa salah satu klienmu?” Ali hanya mengangguk seraya tersenyum seperti biasanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN