“abi kenapa malam ini acara mama tidak ada? apa pindah jam tayang? Apa Biyya melewatinya? Padahal Biyya udah memastikannya sendiri bi” adu Biyya pada Ali yang tengah bermesraan dengan masakannya, putrinya meminta dibuatkan nasi kebuli, seperti beberapa hari yang lalu ia buatkan untuk anaknya.
“memangnya sudah terlambat berapa menit?” tanya Ali tanpa mengubah fokusnya pada kedua kompornya
“ini sudah setengah jam bi, tidak biasanya acara mama terlambat seperti ini, apa Biyya telepon mama saja?” untuk sesaat Ali menghentikan kegiatannya, ia lupa kalau acara Gia tidak akan tayang malam ini
“ponsel mama gak aktif, tante Balqees juga ponselnya tidak aktif” keluh gadis itu mengerucutkan bibirnya
“kalau om Bima sudah kamu coba hubungi?” entah karena apa Ali terfikir satu nama itu.
“kenapa kamu diam?”
“enggak deh, mungkin mama kencan dengan om Bima, nasi kebuli pesanan Biyya sudah selesai bi, Biyya sudah kelaparan”
“iya sayang sebentar, abi bisa minta tolong kamu untuk merapikan kamar kamu sebentar?”
“nanti aja deh bi”
“kalau mama tau kamu tidak tanggung jawab dengan kamar kamu abi yakin mama akan ngamuk” tanpa babibu lagi Biyya menuju kamarnya merapikan kamar yang sebenarnya tidak berantakan hanya saja gadis itu lupa meletakkan buku-bukunya ketempat semula.
***
“capek sekali” keluh Gia merenggangkan anggota tubhnya sesekali stretching lemah
“lebih enak di studio, dari pada outdoor seperti ini, lihat! Kulitku mengelupas, sia-sia perawatanku selama ini” rengek Balqees menunjukkan spot-spot kulitnya yang terbakar matahari.
“hehe aku minta maaf yah nanti kalau bonus sudah cair kita perawatan, lagi pula tiga hari lagi kita kembali”
“pelit banget sih, mba tu orang kaya ngeluarin sekarang juga tidak membuat kamu jatuh miskin”
Tak ada respon dari Gia, perempuan itu hanya merebahkan tubuhnya.
“mbak, Biyya nelepon aku” adu Balqees memberikan ponselnya pada Gia.
“tadi Ali sudah kasih kabar” jawab Gia tnap membuka matanya
“kalian sudah sapaan yah?” Gia membuka matanya menoleh pada Balqees yang seperti kecewa?
“kami memang tidak berkelahi, kau beneran tertarik dengan Ali?”
“entah lah mbak, mantan kamu itu benar-benar membuatku bingung”
“maksudnya?”
“aku fikir aku paham perasaan ketika kamu menjadi istrinya mbak”
“maksudnya?” tanya Gia tak paham
“Ali itu terlalu ramah dengan semua wanita, aku tidak sanggup berhubungan dengan laki-laki seperti itu”
“aku baru tau, setau aku Ali tidak pernah memusingkan perempuan yang mendekatinya”
“masa sih? mantan kamu itu terkenal playboy apa lagi dikalangan tante-tante sosialita kurang belayan”
Rasanya Gia sangat sulit menerima informasi mengenai mantannya barusan, laki-laki itu benar-benar tipe setia, sanagt setia Gia berani jamin itu.
“apa itu ada hubungannya dengan kegagalan kalian dulu?”
“ngaur kamu yah gak mungkin lah, yah aku juga gak tau sih, yang aku tau Ali itu laki-laki yang baik, baik banget malahan”
“lebih baik mana, Bima atau Ali”
Gia menarik selimutnya sebatas d**a memunggungi Balqees “janga lupa matikan lampu besok kita shooting pagi” rasa-rasnaya Gia malas bila sudah membahas kedua laki-laki itu apa lagi kalau sudah meng hitung-hitung kebaikan.
***
Beberapa kali Gia melontarkan senyuman terbaiknya untuk tamu penting yang selama lima hari ini menemaninya. Shooting Program Daily bersama pengusaha asal arab itu telah selesai tadi pagi, namun malam ini mereka mengundang Gia dan Balqees untuk makan malam perpisahan karena pasangan suami istri itu akan kembali melanjutkan perjalanan mereka ke kota lainnya yang ada di Indonesia.
“apa ada masalah?” Gia mendongak memastikan laki-laki tua pengusaha kilang minyak itu bertanya padanya. Akh Gia lupa mengatakn kalau tamunya itu adalah pengusaha tampan diusia 60 tahun, bahkan Gia sempat memikirkan wajah Ali diusia tersebut.
“tidak, saya hanya sedikit memikirkan anak perempuan saya saja” jawab Gia apa adanya
“kau sudah menikah?”
“yah, tepatnya saya sudah bercerai” untuk pertama kalinya Gia jujur pada lawan bicaranya, bahkan Balqees dibuat tersedak mendengarnya, untung saja perempuan itu bisa mengatasi kecerobohannya satu itu.
“sangat wajar seorang ibu begitu mencintai anaknya, bagaimana kabar nyonya Levana?” mendengar nama terakhir nya disebut tentu Gia kebingungan, bagaimana laki-laki itu mengenal mamanya?
“anda mengenal mama saya tuan Adnan?”
“yah, sebenarnya saya cukup kaget mengetahui nama Levana melekat pada namamu, setelah saya cari tau kamu putri dari mantan calon istri saya” jawaban laki-laki itu semakin membuat Gia semakin terperangah.
“kami dikenalkan oleh Mike ketika sama-sama mengenyam pendidikan dibangku perkuliahan”
“abi?” ucap Gia memastikan
“yah abi kamu, dia sahabat lama saya. Itu sudah menjadi cerita lama, kau tau aku sangat mencintai istriku, lalu bagaimana kabarnya teman lama ku itu?”
“mereka sudah berpulang, ketika aku baru kuliah semester satu mereka kecelakaan pesawat”
“maaf”
“tidak masalah tuan Adnan, saya sudah lama mengikhlaskan semuanya”
“ini kartu nama saya, kamu bisa gunakan ini bila kamu membutuhkan” ingin rasanya Gia menolak karena baginya bantuan seseorang adalah hutang, ia tak ingin berhutang pada siapapun.
“jangan menolak aku sudah menganggap kedua orang tuamu saudaraku sendiri, maka anggap aku orang tuamu”
“terima lah nak” bukan laki-laki itu yang mengatakan melainkan istrinya
“baiklah terimakasih nyonya” tandas Gia menerima kartu tersebut.
***
Usai makan malam di salah satu hotel berbintang Gia memilih untuk segera kekamarnya, yang kebetulan menginap di hotel yang sama. Sesampainya di kamar ia dan Balqees, Gia mencari ponselnya yang tadi ia lempar sembarangan, ia tidak terbiasa memgang benda pipih itu bila sedang berada dalam acarapenting, atau menitipkan pada Balqees tapi perempuan itu juga mendapatkan undangan sehingga ia memilih meninggalkan ponselnya. perasaannya tidanyak nyaman dari tadi entah karena apa.
“Gi, syukurlah kamu mengangkat ponselku, dari tadi Biyya memanggil kamu, dia demam tinggi aku sudah menawarkan dia untuk kerumah sakit, tapi dia menolak, aku juga tidak tau dia mengkonsumsi obat apa atau apa dia memiliki alergi obat” cerca Ali dujung teleponnya
“kasih ponselnya sama Biyya Li”
“sayang, mama nak” ucap Ali terdengar merayu sang putri
“mama” panggil Biyya dengan suara seraknya
“Bee kamu kenapa nak?”
“Biyya gak papa ma, Biyya cuma kecapean”
“kata abi kamu demam, kenapa nak? Mama riasu sayang”
“maafin Biyya ma”
“mama yang minta maaf, sayang mau yah kerumah sakit”
“Biyya gak sakit ma”
“yah sudah kasih ponsel kamu ke abi lagi yah mama mau bicara sama abi “
“Al, Biyya jarang banget demam terlebih kalau cuaca baik seperti sekarang, kamu pakein dia plaster penurun panas untuk orang dewasa saja yah, dia udah makan belum?”
“uda tapi habis keluar semua karena muntah”
“ yah sudah kalau nanti demamnya turun kamu suruh dia makan yah setelah itu kasih dia paracetamol, kalau belum reda kamu bawa keruma sakit yah, atau kalau kamu punya kenalan dokter kamu bisa minta tolong untuk periksa Biyya, malam ini aku cari penerbangan besok paling pagi, maaf aku merepotkan”
“dia anakku juga Gi, kamu tidak perlu sungkan, Biyya sudah pulas, mungkin dia memang kangen sama kamu kalau gitu aku matiin panggilannya yah, aku mau beli plasternya dulu”
“Al, kalau bisa jangan tinggalin Biyya sendirian, kasian kamu pesan online saja yah” terdengar suara Gia yang sudah serak
“baiklah”
Usai sambungannya terputus Gia menangis sesenggukan ada perasaan yang retak setiap mendengar anaknya sakit, mungkin orang lain berfikiran kalau dirinya cuek dan tidak perduli pada anaknya jawabannya tidak, hanya saja ia harus kuat dengan keadaan yang memaksa dirinya untuk kuat tanpa ada yang tau dirinya terluka.
“mbak, kenapa?”
“ah ini tadi aku teleponan dengan Biyya, kangen banget” jawab Gia tak sepenuhnya berdusta.
***
Untuk pertama kalinya setelah 7 tahun memilih keluar dari rumah yang dulu memberikan diirnya perasaan nyaman,bahagia, cinta dan hangat dalam bersamaan. Tanpa menginformasikan terlebih dahulu pada Ali perempuan itu langsung kerumah itu, memastikan keadaan anaknya.
Usai menyalurkan rasa rindunya dan sang putri kembali terlelap barulah perasaan canggung melingkupi hatinya, berkali-kali perempuan itu merutuki kecerobohannya tanpa pikir panjang.
“mau minum apa?” tawar Ali membuka kulkasnya
Namun tak ada jawaban dari lawan bicaranya, bahkan Gia hanya menunduk dari tadi.
“apa kau sudah sarapan?” ulang Ali merubah pertanyaannya
“Algia” panggil Ali memanggil nama kecil perempuan itu panggilan kesayangannya dulu.
“apa?”
Ali mendesah kasar “ tunggulah sebentar aku siapkan sesuatu” pungkas Ali kemudian bereksperimen membuat sesuatu untuk bisa dimakan. Sebenarnya hal itu ia lakukan agar otaknya tak berkelana pada masa-masa mereka bersama dulu.
Tak sampai dua puluh menit sandwich spesial dan segelas teh anget serta infused water untuk dirinya
“mau yang ini?” tawar Ali melihat wajah sang istri yang sudah ia hapal bila menginginkan sesuatu
“tidak, ini saja sudah cukup” Gia kembali menunduk menikmati sarapannya.
“infused water ini buatan Biyya, cobalah sedikit” Gia terdiam memandangi lekat-lekat wajah yang kini haram untuk ia nikmati berlama-lama, kemudian meneguk air tersebut sedikit demi sedikt, yang menerbitkan senyum tipis dibibir Ali.
“setelah ini kau akan kemana?”
“aku mau meninjau beberapa media online ku”
“kemarin aku bertemu dengan bang Abid” Gia menoleh kembali namun sesaat
“dia mengatakan akan ke Kalimantan”
“lalu?”
“hanya itu, jadi kamu berangkat jam berapa?”
“Bima sedang dalam perjalanan kemari, mengenai kasus Biyya untuk sementara aku menganggapnya sudah selesai, besok dia sudah bisa kembali sekolah”
Ting
“Bima sudah di depan kalau gitu aku duluan” Gia mengangkat piring kotor dengan kedua gelasnya untuk ia bawa ketempat cucian piring
“aku saja, kau adalah tamu tidak baik tamu mencuci piringnya sendiri”
Gia mengangguk singkat meletakkan kembali piringnya ditempat semula dengan perasaan kaku ia berjalan keluar dengan begitu pelan
“aku sedang dalam panggilan, maaf aku tidak bisa mengantar kau sampai kedepan dan menemui Bima” lagi-lagi Gia mengangguk namun kali ini lebih berat.
***
“sudah dari tadi?” tanya Gia memasuki mobil Bima
“baru, Ali mana?”
“Ali sedang teleponan gak tau sama siapa”
“yah sudah kalau gitu kita langsung ke lokasi atau mau kemana dulu?” tanya Gia mengalihkan pembicaraan mengenai Ali
“kita sarapan dulu, kamu belum sarapan kan?” tanya Bima mencari jalan keluar dari perkarangan rumah Ali
Gia mengangguk dengan senyum yang tak lepas
“bagaimana keadaan Biyya?”
“syukurlah dia sudah lebih baik, untuk sementara kasusnya akan aku selidiki secara pribadi”
“mmm Bim kamu gak marah kan kalau aku sering komunikasi dengan Ali?” tanya Gia harap cemas
“kenapa? Kamu mencemaskan aku dengan kedekatan kalian?”
“Bim”
“aku gak jawab yah, tapi kamu tenang saja aku akan percaya sama kamu apapun keadaannya”
“terima kasih”
“terlebih kalau kamu memberi kepastian mengenai hubungan kita?”
“serius Bim kamu melamar aku di dalam mobil?”
“lalu kau ingin lamaran romantis?” Gia hanya mengangkat bahunya cuek namun tampak menggemaskan di mata Bima
Sementara di tempat lain
Usai memastikan Gia menjauh dari perkarangan rumahnya barulah Ali menjatuhkan tubuhnya keatas sofa yang ada di ruang tamu rumahnya, hingga beberapa saat.
“hallo, kamu lagi ada kerjaan?”
“....”
“aku titip Biyya sebentar, boleh? Kebetulan aku sedang ada janji dengan seseorang”
“...”
“hmm kalau kamu belum sarapan kamu bisa sarapan di rumahku saja, kebetulan aku membuat sarapan lebih”
“....”
“baik terima kasih aku tunggu”
.
.
.
“terima kasih kamu mau bantuin aku yah, aku sudah ditunggu orang”
“iya mas, aku gak keberatan kok mumpung lagi kosong”
“kalau kamu belum sarapan aku sudah buat sarapan sekali lagi terima kasih yah Qees, ntar aku bilangin Gia naikin gaji kamu” canda Ali sebelum benar-benar keluar dari rumahnya.
Balqees tersenyum kemudian menutup pintu rumah Ali setelah memastikanlaki-laki itu keluar dari rumah bahkan terlihat menjauh.
Tak banyak yang dilakukan oleh Balqees karena memang ia tidak ada pekerjaan, jadwal Gia hari ini hanya memantau beberapa media onlinenya, terlebih jadwal shooting perempuan itu yang tidak sepadat dulu.
Tok tok
Belum ada satu jam pintu rumah Ali kembali diketok, padahal Ali mengatakan akan pulang sore.
“ada apa mas?”
“mbak” spontan Balqees mundur mendapati Gia di depan rumah Ali
“kamu, kamu ngapain?” tanya Gia berusaha biasa saja.
“tadi mas Al telepon minta tolong aku nemanin Biyya, mumpung hari ini gak ada jadwal aku terima permintaan mas Al”
“ouh begitu, aku hanya sebentar, berkas ku ketinggalan di kamar Biyya kalau begitu aku ambil dulu” ucap Gia canggung. Benar-benar situasi yang menjengkelkan menurutnya.
“mbak” cicit Balqees mengikuti langkah Gia yang tenga menyusun perlengkapan milik anaknya, Biyya minta kembali pulang karena anaknya sudah merengek merindukan sekolah.
“aku gak ada hubungan apa-apa sama mas Ali, tadi hanya kebetulan”
“Ali sudah memberiku pesan, mungkin dia terlambat memberi tahu, aku hanya kaget saja kok, tadi Biyya telepon aku minta dijemput kangen sekolah katanya”
“kalau gitu aku pamit yah mbak, bingung juga kalau di sini sendirian”
“terserah kamu Qees kalau mau bareng aku boleh, tapi nungguin Biyya kayanya masih di kamar mandi”
“aku sendiri saja mbak, tadi aku bawa motor” Gia mengangguk sekilas
“Qees” panggil Gia kembali
“iya mbak”
“kamu kenapa? Jangan bilang kamu canggung sama aku, kamu seperti sedang aku pergoki bersama suami orang” canda Gia.
“entah lah mbak, aku merasa memang seperti itu, rasanya aku ingin minta maaf sama kamu, aku gak tau” Gia mendesah lemah, ia sempat berfikiran yang tidak-tidak sebenarnya namun ia segera menguasai dirinya kembali.
“jangan seperti itu, aku tidak menuduhmu, aku hanya kaget mendapati kau di rumah ini hanya itu saja” jujur Gia.
“kalau gitu aku pergi yah mbak, untuk jadwal kamu nanti aku kirim”
“kamu bisa kerumah seperti biasa, akh aku benci situasi sekarang, kau seperti tidak lepas padaku”
“maaf mbak”
“udah Qees. aku merasa jahat banget loh sama kamu kalau kamu minta maaf cuma karena ini”
“yah sudah kalau gitu aku pulang yah mbak”
“gak mau nunggu Ali dulu?” canda Gia berusaha mengembalikan mood perempuan itu, bagaimana pun ia sudah berniat memulai hubungan baik dengan Bima.
“tidak mbak, aku duluan yah, salam sama Biyya” Gia mengangguk lemah.
“sayang, kamu sudah selesai” ucap Gia melihat sang putri keluar dari kamar mandinya
“yakin mau pulang sekarang? Kamu sudah kuat?”
“kangen mama, mau peluk mama kalau tidur” Gia merentangkan tangannya membawa sang putri kedalam pelukannya.
“abi gak pelukin kamu” Biyya menggeleng. Gia yakin kalau Ali hanya kurang nyaman memeluk sang putri yang sudah semakin besar bahkan menginjak remaja.
“ yah sudah kamu telepon abi izin dulu nanti kalau dapat izin baru kita pulang yah sayang, wajah kamu pucet banget” bukanya melonggarkan pelukkannya Biyya malah semakin mengeratkan pelukannya
“masih ngantuk? Mau mama peluk?” Biyya mengangguk
“yah sudah kalau gitu mama temani kamu” Gia memilih untuk tidur disamping putrinya memeluk hingga sang putri tertidur, siapa sangka dirinyapun pulas.
***
Ali mendudukkan sejenak pantatnya di teras rumahnya sebelum memasuki rumahnya yan sudah sepi seperti sebelumnya.
Huh
Desah Ali mengeluarkan nafas berat, kebersamaan sang putri ternyata sudah selesai sekarang ia harus bersabar menunggu akhir pekan untuk bersama anak kembali.
Tanpa sadar Ali berjalan menuju kamar yang selama ini ditempati sang putri, lelah yang tadi memenuhi raganya sedikit tersingkap melihat dua wanita yang paling berarti dalam hidupnya saling berpelukan, di rumahnya.
Beberapa kali Ali membatalkan tangannya untuk membangunkan Gia, setelah 7 tahun berpisah pertama kalinya ia kembali melihat raut pulas dari seorang Gia, perempuan keras kepala dengan semua ambisinya, namun sangat cantik bila permintaannya keturuan oleh perempuan itu
Ough
Leguhan Gia yang mungkin kebas menahan bobot sang putri
“Gi” panggil Ali akhirnya.
“aku ketiduran” keluh Gia merutuki dirinya sendiri, ia hanya berniat menemani sang putri sampai tertidur malah ia ikut terlelap
“jam berapa sekarang?” tanya Gia masih mencoba meluruskan tulang-tulangnya yang menurutnya masih harus diluruskan.
“sudah hampir setengah sepuluh malam”
“pantas saja badanku sakit semua” keluhnya bangun, ini pertama kalinya ia terlelap lebih dari 8 jam dalam sehari.
“kapan kau terakhir kali tidur dengan benar Gi?” tanya Ali yang sudah sangat hapal kebiasaan mantan istrinya satu itu.
“entah lah, aku lupa”
Krauk
Tanpa rasa malu perut Gia memberontak yang membuat semburat merah pada raut wajah Gia.
“kau mau makan apa?”
.
.
.
“udah dong gak usah ngedumel gitu, lagian kita gak mungkin maksain ojolnya yang membatalkan pesanan kita hari hujan”
“yah karena itu aku udah kelaparan, tuan rumahnya juga gak ada rasa sopan banget tamu disuruh masak” cerca Gia namun tetap meliukkan tangannya di dalam kuali milik laki-laki itu.
“yah mau gimana aku gak pandai masak seperti kamu gimana dong” dusta Ali. Bahkan laki-laki itu bisa memasak daging kambing hanya saja ia benar-benar rindu melihat perempuan itu di dapurnya.
“terus selama ini kamu kasih Biyya makan apa? Siap saji itu gak baik Li” protes Gia
“mama, mama masak apa?” pandangan mereka tertuju pada Biyya yang sedang ke dapur dengan selimut tebal menutupi tubuhnya
“masih sakit anak abi?” tanya Ali mengalihkan pertanyaan Gia.
“udah mendinagn kok bi, cuma masih sedikit meriang, malas di kamar terus”
“yah sudah sini, kita tungguin mama selesai masak yah sayang, kamu sudah minum obat nak?”
“belum, kan Biyya sama mama ketiduran” cengir Biyya mendudukkan pantatnya pada kursi lainnya
“nasi gorengnya sebentar lagi siap, Bi obat sebelum makan kamu sudah kamu minum?” tanya Gia dengan sutil dan wajan yang saling beradu seirama dengan aroma yang membuatperut lapar.
“belum ma, tapi lidah Biyya udah gak pait Biyya langsung makan aja yah”
“yakin?nanti kamu muntah”
“engga ma, Biyya bisa kok”
“yah sudah mama angetin air buat kamu dulu yah, Li mau sekalian?”
“boleh kalau gak keberatan” Gia hanya mengangguk sekilas menghidupkan kompor karena dispanser milik Ali sedang rusak.
***
Tidak ada yang bisa memprediksi cuaca, padahal tadi pembawa acara salah satu stasius tv mengatakan kalau hari ini tidak akan hujan, nyatanya hujan lebat bahkan guntur beberapa kali, Biyya saja berteriak heboh membuat Ali yang terlelap di ruang tamu terjungkang sangking kagetnya
“Bi, jangan teriak begitu, ini rumah bukan hutan”peringat Gia, yang sebenarnya juga ketakutan
“maaf ma, Biyya kaget”
“jangan di ulangi”
“masih mau pulang sekarang?” tanya Ali melihat Gia masih setia didepan pintu rumahnya dengan beberapa berkas yang ada di tangannya.
“ada beberapa hal yang mau aku kerjakan” jujur Gia
“ini sudah hampir pagi, istirahat lah paling tidak sampai matahari sudah mulai naik”
“aku sudah puas tidur tadi, gak bisa tidur lagi”
“yah sudah terserah kamu, yang penting jangan pulang sebelum pagi,
“ma, acara mama sudah gak ada yah ma?”
Pertanyaan tersebut membuat keduanya bungkam.
“sayang, kamu bisa tolong buatin abi sama mama teh anget nak?” dengan raut cemberut Biyya menyanggupi pertmintaan abinya
“aku harus jawab apa?”
“jawab saja sejujurnya dengan bahasa yang sederhana, aku yakin Biyya akan paham”
Gia mengangguk menetralkan nafasnya kemudian mereapikan berkas kasus yang terakhir kali ia gali, kali ini ia tak bisa bekerja semasif dulu, kini ia hanya bisa mengandalkan beberapa orang saja.
“ini bi” ucap Biyya dengan nampan berisi dua gelas berukuran sedang
“terima kasih sayang, sini duduk dekat abi” tak ada penolakan, Biyya duduk di samping abinya membalas pelukan tersebut kemudian merelainya menatap Ali dengan datar
“pertanyaan Biyya masih sama, acara mama udah gak ada?”
“mama dipecat”
“maksudnya? Mama gak bohong kan?”
“tidak nak, mama di pindah tugaskan acara itu benar-benar bungkus, tapi mama dapat gantinya, mama masih tetap akan muncul di tv tapi dengan orang-orang yang berbeda, tidak ada kasus tidak ada perdebatan mama menjadi pembawa acara reality show”
“bukan karena Biyya kan ma?”
“geer kamu, mereka takut bangkrut karena kali ini yang punya masalah berani ngancam atasan mama, makanya mama mau bungkam dia lewat jalan yang lain”
“sykurlah bukan karena Biyya”
“tuh dengarin bukan karena kamu Gazbiyya Ali” ulang Ali kembali mengeratkan pelukan sang anak.
Tok tok
Semua menoleh pada suara pintu yang di ketuk di depan rumah
Tok tok
“Ali plis buka pintunya”
“Ali ini aku Jameela Denaan”
***