Kalau tidak memikirkan malam hari dan hujan lebat ingin sekali Gia keluar dari rumah mantan suaminya, dari semua perjalanan yang ia lalui selama 7 tahun perpisahan mereka ada satu hal yang terluput dari perkiraannya yaitu sang mantan kembali merajut tali kasih entah dengan siapapun itu.
“Gi aku bisa minta tolong buatkan teh hangat untuk Jameela” pinta Ali memberikan handuk kecil untuk mengeringkan rambut dan kemeja panjang milik Ali.
Tak ada penolakan, Gia ke dapur membuatkan pesanan Ali kemudian memberikan teh tersebut pada Ali, kemudian memilih untuk kembali ke kamar sang putri memberi ruang sejenak Gia yakin pasti ada sesuatu yang mendesak yang mungkin ingin mereka bicarakan melihat betapa kusutnya perempuan yang mengaku sebagai Jameela tersebut.
“minumlah kenapa lagi kali ini?” tanya Ali usai perempuan itu menyesap teh buatan Gia.
“siapa mereka?” bukannya menjawab Jameela malah balik bertanya
“mantan istri dan anakku, kau belum menjawab pertanyaanku”
“aku kembali dipaksa menikah, kali ini orang tuaku menyuruh aku menikah dengan aki-aki tua bahkan mungkin seusia dengan atukku” Ali menghela nafas
“apa tante dan om tau kamu ke rumahku?”
“tidak, mereka tidak akan tau yang mereka tau aku membenci kau dan mereka pun juga belum bisa memaafkan kau” Ali tersenyum samar
“jadi perempuan itu yang membuat kau membujang selama ini?”
“sok tau, lalu kenapa kau bisa hujan-hujanan seperti tadi? dan ini sudah malam”
“taksi yang aku pesan mogok, dan aku tidak tau harus kemana, aku tidak membawa dompet untung saat aku kabur aku memiliki uang saku”
“lalu kau mau tinggal dimana?”
“nebeng lah apa lagi?” lagi-lagi Ali hanya bisa mengeluarkan nafas lemah, mau menyuruh pulang pun ia tak tega.
“lalu hubungan kau dengan Baim bagaimana?”
“gak usah bahas dia, hubungan kami telah kandas das das”
“semoga aku tidak mendengar kalian kembali jalan bersama”
“kali ini kau bisa memotong telingaku kalau aku sampai berbohong, sudahlah kalau gitu aku mau istirahat dulu”
“mau kemana?” tanya Ali mengekori Jameela
“kamar tamu lah tidak mungkin kamar utama”
“kamu di kamar Biyya dengan ibunya saja”
“bilang aja kalau kamu mau aku mengklarifikasi kenapa aku malam-malam ke rumah kamu kan?”
“terserah kalau kau berfikir seperti itu, kalau kau mau tidur dengan debu yang mungkin membuat hidungmu meler aku tak perduli” Jameela hanya berkomat-kamit merubah langkahnya menuju kamar Biyya dan ibunya kata Ali.
“tapi Li, siapa yang tidak mengetahui seberapa sadisnya mantan istrimu itu”
“kalian akan cocok percayalah” ingin rasanya Jameela membenturkan kepala Ali pada dinding, ia tidak tau saja bagaimana kalau perempuan sudah ngamuk, dengan menghembuskan nafas secara teratur Jameela mengetuk pintu kamar Gia.
Tok tok
Mendengar pintu kamar ia dan putrinya tempati diketuk Gia segera membuka kamar tersebut
“ada apa yah?”
“tadi Ali menyuruh aku untuk istirahat di kamar ini” ucap Jameela tersenyum ramah
Gia mengangguk membuka pintu kamar tersebut lebih lebar
“terima kasih, apa ada orang di kamar mandi?”
“anakku sedang di dalam kamar mandi, tunggulah sebentar” Jameela mengangguk segera mengambil posisi di hadapan pintu dengan gerakan gerakan kecil seolah menahan sesuatu
Ceklek
Mata Biyya melotot mendapati perempuan yang ia tak pernah tau siapa perempuan tersebut
“tante pinjam kamar mandinya yah nak” tanpa memperdulikan delikan sebal dari Biyya Jameela segera memasuki kamar mandi tersebut
“kok tante itu di kamarnya Biyya ma? Abi gimana sih?”
“kamu mau pulang sekarang?” entah kenapa ia sepakat dengan pertanyaan anaknya, apa maksud Ali memasukkan perempuan cantik itu ke kamarnya, licik sekali kalau niat laki-laki itu mendekatkan Biyya dengan cara seperti ini.
“mama mau pulang?”
Tak ada jawaban dari Gia, perempuan itu segera membereskan barang-barang putrinya dan juga miliknya.
“loh mbak, mau kemana?”
“anak saya minta pulang, kalau begitu saya permisi dulu”
“mbak, mbak sebentar, janagan sala faham dulu” cegat Jameela meraih pergelangan Gia
“tidak, saya sedang tidak salah faham, lagi pula saya tidak memiliki hak unutk salah faham”
“jangan bohong mbak sedang salah faham saya mengerti” kali ini Jameela melangkah lebih dulu kembali menutup pintu yang tadi dibuka oleh Gia
“tante kenapa sih? Kami mau pulang, kenapa dilarang?”
“saya sepupunya Ali, saya juga sudah memiliki kekasih saya kabur ke sini karena saya dijodohkan dengan aki-aki tua, saya gak mau” Gia melayangkan tatapan tajamnya mencari tau kebenaran dari ucapan wanita dihadapannya melalui mata tentunya, hal yang sudah sangat biasa ia lakukan.
“saya tidak pernah tau kamu sebelumnya” tandas Gia melepaskan cengkramannya, ia masih menelisik raut kebohongan dari wajah jameela.
“boleh kita duduk dulu?” pinta Jameela
Gia menunjuk salah satu boneka besar yang bisa digunakan untuk temapt duduk, dan Gia duduk di hadapannya tentunya dengan raut intens seperti sedang mengintrogasi narasumbernya seperti biasa, jiwa Altinggianya kembali keluar.
“kamu kenapa hanya berdiri begitu nak? Duduk lah tante rindu sekali sama kamu”
Biyya menolak ia hanya berdiri di posisinya, dalam hati Gia bersorak senang, seakan mengatakan “baru tau kalau anaknya tidak segampang itu untuk percaya orang lain”
“aku itu sepupunya Ali, ibuku dan ayahnya adik kakak tapi beda ayah. Dulunya orang tuaku menginginkan pernikahan kami, tapi ternyat si Ali memiliki tambatan hati yang lain bahkan sudah mempersiapkan pernikahannya, ketika itu orang tuaku kecewa dengan Ali, aku berarap kau tidak berfikiran kalau aku menaruh hati pada mantan mu itu, membayangkan aku akan menikah dengannya saja membuat perutku mual” ucap Jameela mengusap tubuhnya seolah tubuhnya mereinding membayangkan hal tersebut
“ apa kita tidak bisa berteman? Kalian seperti mengintrogasiku?” tanya Jameela kikuk memandangi ibu dan anak tersebut
“sebenarnya aku tidak perduli siapapun kamu” Jameela mengangguk menganggap ucapan tersbut hanya angin lewat namun raut muka ibu satu anak itu bertolak belakang meskipun sudah ditutupin.
“nenek kami itu pengusaha yang cukup sukses di masanya, karena Ali satu-satunya cucu laki-laki nenek memberikan hartanya lebih banyak pada Ali, namanya manusia lihat harta jadi siwer orang tuaku mau menikahkan kami tapi mau bagaimana kami berdua sudah memiliki kekasih masing-masing. Ali memberikan semua haknya pada ayahnya dan yah intinya orang tua ku kecewa. Dan kejadian itu aku gunakan untuk keluar kota seolah-olah aku kecewa dan pura-pura membenci Ali karena menolakku, padahal agar aku bisa bebas. Maka dari pada itu kalian tidak mengenalku di pernikahan kalian saat itu pun aku jamin orang tuaku tak hadir”
“lalu malam ini apa alasannya kau kemari dengan keadaan basah kuyup?”
“aku kembali dijodohkan entah untuk berapa kalinya, kali ini sama aki-aki tua seusia dengan kakekku, lebih baik aku gelandangan dari pada harus menikah sama laki-laki seperti itu”
Pandangan Gia yang tadinya tajam seolah siap menerkam, meneduh sejenak “aku minta maaf, aku sempat mendapat informasi kalau ayah dari anakku suka bermain perempuan dan untuk pertama kalinya aku melihat perempuan cantik kerumah ini, aku minta maaf” aku Gia apa adanya.
“apa kau tidak sadar kalau dari dulu laki-laki itu di kelilingi banyak perempuan bahkan saat ini tante-tante pun banyak yang err menjijikkan”
“ekhem” Biyya terbatuk tak terima ayahnya dibicarakan seperti itu
“maafkan tante yah sayang, tapi memang abi kamu itu banyak yang suka sayang”
“kamu tidak mau salim tante nak? Sudah kelas berapa padahal dulu kamu masih sangat kecil 14 tahun yang lalu”
“Ali yang mengirimkan fotonya” ujar Jameela menjelaskan.
“kalau begitu kalian bisa istirahat terlebih dahulu aku masih ada pekerjaan” ucap Gia kembali mengutak atik laptopnya seseklai berkirim pesan dengan Bima dan juga Balqees.
Jameela mengambil posisi disamping Biyya dengan ada guling pembatas mereka.
Pagi ini Gia terbangun lebih siang dari biasanya, sepagi apapun ia tidur, Gia tidak pernah terbangun siang. Bahkan posisi yang ditempati oleh Jameela dan anaknya sudah tertata rapi, setelah menarik nafas panjang Gia meliukkan tubuhnya kekanan dan kekiri sesekali membukkukkan tubuhnya kemudian kekamar mandi membersihkan tubuhnya.
dengan ponsel yang berada ditangankanannya dan beberapa berkas di tangan kirinya Gia berjalan keluar kamar hendak meninggalkan rumah tersebut namun langkahnya terhenti melihat Biyya yang sedang membatu Ali dan Jameela di dapur bahkan mereka tertawa bersama. Selain Balqees dan Adnan Biyya nyaman bersama Jameela. Itu yang ia tangkap saat ini.
“mbak Gi, udah cantik aja, mari mbak sarapan dulu jam 9 belum terlambat untuk sarapan kan?” ucap Jameela menenteng hasil tangan mereka bertiga dengan Biyya membawa satu ceret kecil yang kemungkinan berisi teh beraroma melati kesukaan Ali.
“ayok ma, abi buat ini untuk kita”
“aromanya enak sekali, tapi mama sedang buru-buru, mama sudah ditunggu orang, kalau gitu aku permisi yah”
“sebentar Gi” cegat Ali membuka apronnya memberikan satu kotak yang entah kapan dipersiapkan olehnya
“setidaknya kamu harus mengkonsumsi sesuatu di pagi hari” Gia mengangguk menerima kotak tersebut, mengecup pipi putrinya sayang “mama sudah mengatur jadwal les kamu dengan bu Widya, nanti mama kirim mama berangkat yah nak, mbak aku duluan yah, lain kali kita bincang-bincang lagi. Li aku berangkat terima kasih bekalnya taksi aku sudah sampai” ucap Gia memperhatikan ponselnya pada semua orang kemudian berlari kecil keluar dari rumah tersebut.
“abi kenapa senyum gitu?”
“bukan apa-apa lanjutkan makannya, abi mau mandi lagi kalian makanlah duluan tidak perlu menunggu”