Kalau bukan karena informasi ngaur yang diterima oleh Gia mengenai nama baiknya yang dengan kurang ajarnya digunakan sembarangan bahkan memfitnah dirinya, Gia lebih memilih menghabiskan waktunya bersama sang putri mengenang awal-awal kariernya di rumah Ali tapi untuk saat ini ia tidak punya pilihan selain mengikuti permain seseorang yang ia belum tau siapa dalangnya.
Dengan kotak bekal yang tadi diberikan oleh Ali ia biarkan begitu saja tergeletak di sampingnya. Tangannya begitu sibuk memastikan sesuatu yang menurutnya genting.
“pak bisa lebih cepat? Saya sedang buru-buru”
“bisa bu ini sudah jalan terdekat dan sebentar lagi sampai” Gia mengangguk melanjutkan pencariannya.
“sepertinya saya kenal dengan suara ibu tapi siapa yah?”
“oh ya? Memangnya mirip dengan siapa pak?” ujar Gia membalikkan pertanyaan tanpa menghentikan aktivitasnya
“aduh siapa yah, rasanya sudah di ujung lidah tapi lupa siap gitu bu”
“sudah sampai yah, kalau gitu terima kasih ini duitnya kembaliannya untuk kamu saja” tandas Gia keluar dari taksinya.
“altinggia, saya ingat anda presenter itu kan?”
“yah saya orang yang anda maksud kalau gitu saya permisi dulu”
“bu... bu sebentar saya mau mengucap terima kasih” seketika Gia berhenti menole kebelakang memastikan wajah laki-laki muda tersebut.
“maf, tapi apa sebelumnya kita pernah bertemu?” tanya Gia dengan kening mengkerut karena ia tidak pernah merasa megenal sosok pemudda tersebut.
“mbak pernah mengungkap kasus pembunuhan 7 tahun silam yang saat itu ayah saya dijadikan kambing hitamnya” lama Alisya terdiam mengingat kasus 7 tahun silam.
“kamu... kamu putra korban?” tanya Alisya berbinar. Ia ingat ia pernah memecahkan sebuah kasus perebutan harta warisan yang berujung pembunuhan dan yang menjadi kambing hitamnya adalah ayah dari anak dihadapannya. Senyum yang tadi mengembang berubah muram kasus itu menjadi awal percekcokan dirinya dengan Ali. Disaat dirinya harus meliput persidangan pembunuhan tersebut, bersamaan dengan sidang pututsan perceraiannya dengan Ali, senyum bahagia dari raut istri korban berbeda kontras dengan senyum Gia yang menyiratkan luka.
“iya mbak saya putra korban, saya ingin berterima kasih sama mbak yang sudah membersihkan nama ayah saya. Setidaknya ayah bisa meninggal tanpa ada yang menghinanya lagi” Gia mengangguk senang setidaknya pengorbanannya tidak sia-sia, bagianya setiap pekerjaan memiliki konsekuensi dan ia tidak masalah karena ia tidak bisa menjamin kebebasan Ali bila terus bersamanya.
“saya senang mendengarnya, saya sedang buru-buru maaf” ujar Gia melesat dengan cepat memasuki kantor media online miliknya.
“sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Gia tanpa basa-basi
“kamu tenang dulu yah semua pasti ada jalan keluarnya” ucap Bima mencoba menenangkan.
“kenapa bisa nama aku terlibat dalam kasus pencucian uang yang bahkan aku tidak pernah bermain di area sana?”
“mbak tenang dulu yah aku yakin ini cuma permainan mereka yang ingin membunuh karakter yang selama ini kamu ciptakan... kami mencium aroma skandal korupsi besar-besaran disana tapi akses kita saat ini sulit karena nama kamu langsung yang terlibat” Balqees menyerahkan bukti foto dirinya dimasa lalu yang sedang bersalaman dengan petinggi perusahaan media tersebut.]
Gia tersenyum miring tidak mengerti bagaimana mungkin foto dirinya saat magang menjadi bukti keikut campurannya dalam skandal tidak bermutu disana “itu foto aku ketika magang saat kuliah dulu kenapa bisa diungkit setelah hampir lima belas tahun kemudian?”
“aku yakin skandal ini bukan kamu tujuannya tapi tidak menutup kemungkinan mereka memang menginginkan kamu hanya saja secara perlahan”
“satu lagi, ini” Balqees memberikan satu artikel mengenai putrinya dan kebohongan lainnya
“kamu jangan marah dulu mbak, ini sudah tidak lagi dirilis tim kita udah berhasil melobi media Lentera untuk menurunkan beritanya”
“ada baiknya kamu kurangi dulu aktivitas bersama Biyya di luaran karena kita belum tau musuh kamu sebenarnya siapa”
“aku belum berniat mundur, aku penasaran siapa yang terlalu menjadi pengecut mengancamku dengan hal-hal seperti ini, memangnya sehebat apa aku sampai mereka harus membunuh citraku?”
Balqees hanya mengehela nafas ringan kemudian berjalan menuju salah satu rak.
“kasus pembunuhan, p*********n, korupsi, dan ini kasusus pelanggaran lainnya sekali kamu berbicara bisa menurunkan omset satu perusahaan ataupun instansi kamu masih bertanya kenapa mereka ingin kamu selesai dari dunia seperti ini?”
“Gi, Balqees benar kamu memang harus mengalah sejenak”
“dengan membiarkan mereka mengatakan aku apapun begitu? Bim aku selalu membantu orang lain dan kenapa aku harus takut kalau aku memang benar?”
“Gi, dunia ini tidak seadil dalam imajinasi kamu, dunia akan selalu kejam bagi orang-orang seperti kamu yang terlalu idealis”
“lalu menurut kamu orang-orang yang memilih aman mengabaikan hati nurani akan selamanya aman? Apa mereka tidak akan mengambil jalan curang ketika mereka sedang terdesak karena terlalu terbiasa mengabaikan hati nurani begitu?”
“mbak maksud bang Bima bukan gitu, lebih baik kita mundur sejenak memikirkan langkah kedepannya. Langkah yang tepat untuk kita tempuh”
Gia terduduk menarik rambut hitamnya yang sudah kering karena jarang ia rawat.
“sori, aku terlalu terbawa suasana, aku tidak terlalu perduli kalau mereka mau mengatakan apapun tentang aku tapi kalau sudah menyangkut Biyya... anak itu terlalu kecil untuk memahami situasinya”
“kita semua akan berusaha semaksimal mungkin mbak, kita tau kamu gak mungkin aneh-aneh” Gia mengangguk menyandarkan tubuhnya sejenak mendinginkan fikirannya sehingga ia bisa menentukan langkah apa yang akan ia tempuh.
****
Dengan langkah pelan Gia melewati sang anak yangsedang tertidur memeluk guling dengan Jameela disampingnya. Yah dirinya kembali mengunjungi rumah Ali karena dirinya meninggalkan kunci rumahnya di rumah pria itu alhasil ia terpaksa kembali menginap karena sepanjang perjalanan dari kantor menuju rumah pria itu dirinya merasa dibuntuti. Salah sau alasan dirinya memilih kerumah pria itu yaitu keamanan dirinya, untung saja laki-laki itu belum tidur sehingga tidak perlu ada drama sebelum masuk kerumah ini.
Air dari shower sedikit membuat kepalanya segar dan beban yang sedari tadi menghantuinya sedikit demi sedikit terasa ringan meski perasan cemas takut itu masih mengakar padanya
karena perutnya yang sudah meronta ingin diisi Gia mempercepat mandinya, ia tak ingin diopname saat seperti ini hanya karena belum makan seharian full.
Bersyukur karena semuanya sudah tidur Gia beringsut menuju dapur mencari apa yang bisa dimakan atau minimal untuk ia masak dengan waktu cepat karena tubuhnya pun sudah terasa terkuras. Ia yakin akan tumbang kalau berdiri lebih lama lagi tanpa mengkonsumsi apa-apa.
“Gi, kamu ngapain?” tanya Ali menghidupkan ruang tengah dan Dapur karena memang tidak ada sekat yang memisahkan selain meja yang terkadang ia gunakan menyantap makanannya disana bila sedang sendirian.
“aku lapar, pinjam dapurnya sebentar yah” jawa Gia merasa kikuk sendiri.
“duduklah biar aku siapkan, makan malam sudah habis aku buatkan nasi goreng kampung aja yah biar gak terlalu ribet tapi anget” Gia mengangguk saja dengan langkah pelan gia beringsut menuju meja makan seketika tubuhnya menegang melihat kotan bekal yang tadi pagi diberikan oleh Ali padanya yang tidak sempat ia makan, bahkan ia melupakan bekal itu.
“tadi supir taksi kamu yang ngatar katanya dia udah manggil kamu tapi kamu gak dengar makanya dia antar ke sini”
“Li sori, aku benar-benar kelupaan sama bekal kamu buat aku makan sekarang aja yah?” Gia benar-benar merasa bersalah dengan bekal itu, bagaimanapun laki-laki itu telah mengeluarkan tenaga untuk dirinya tapi malah ia abaikan.
Tak ada jawaban dari Ali laki-laki itu meneruskan pekerjaannya, dengan pelan Alisya menyantap bekal buatan Ali tadi pagi terakhir meminum s**u UHT yang juga ada dalam kotak bekalnya.
“semoga kamu suka dan rasanya pas dilidah kamu” Ali menyodorkan sepiring nasi goreg kampung ekstra suwiran ayam. Nasi goreng kampung khas Ali ada kacang tanah, wortel dan terkadang berokoli yang sangat enak.
“terima kasih” jawab Gia menyantap makanannya dengan cepat perutnya benar-benar kelaparan, meskipun sudah mengganjalnya dengan bekal dari Ali tadi pagi belum membuat tenaganya pulih.
Sangking cepatnya perempuan itu makan tak terasa air matanya keluar begitu saja tanpa ia komando, tak ada yang mencubitnya tapi ia masih terus ingin menangis tanpa bisa ia cegah.
“tidak baik menangis dihadapan makanan” lirih Ali memberikan selembar tisu pada mantannya
“maaf aku sedang banyak pikiran” jawab Gia yang malah semakin terisak
Melihat itu Ali tergelak tipis memahami benar kalau perempuan itu menangis seperti itu berarti ia dalam keadaan takut tapi itu hanya sementara karea keesokanharinya perempuan itu akan kembali sekuat macan.
“aku tidak akan percaya berita buruk yang sedang menimpa kamu terlebih itu gambar-gambar lama, rumah ini akan selalu terbuka kalau kamu membutuhkan nasi goreng kampung buatanku” Gia semakin terisak ia benar-benar dalam posisi ketakutan.
****
Hari sudah menunjukkan pukul 4 subuh tapi Gia masih disibukkan dengan tumpukan kertas dan laptop yang masih menyala bahkan kini perempuan itu tengah bersiap dengan mie rebus yang asapnya masih mengempul disampingnya guna menambah staminanya . keadaan seperti ini membuat matanya sulit tidur karena alam bawah sadarnya akan memaksakan diririnya untuk terus berpikir mencari tau dan membuat penelitian kecil untuk dirinya sendiri dalam menilai beberapa kasus-kasus sebelumnya yangpernah ia pecahkan. seperti yag sudah-sudah cara itu cukup ampuh dalam menyelesaikan permasalahan dengan jenis dan cara yang sama.
“Gi, kamu belum tidur? Atau kebangun? Ini masih pagi banget dan kamu udah kerja lagi”
“belum, aku gak bisa tidur kalau seperti ini” laki-laki itu hanya mendesah pelan
“apa lagi kali ini?” Ali mengambil posisi dihadapan Gia mengambil beberapa kertas yang menumpuk dihadapan perempuan cantik itu.
“Burhan Pranidya” ujar Ali membaca salah sau nama yang tertera
“kamu kenal?”
“aku pernah menangani kasus perceraiannya dan beberapa kali persidangan lainnya” seketika Gia menutup kerjaannya mentap Ali penuh tanya.
“kamu pernah dengar kalau dia tersandung kasus penggelapan dana atau apapun” lama Ali terdiam memilih ucapan yang akan ia katalan.
“hmm aku pikir kita dalam zona bersebrangan Gi, aku harus menjaga informasi klienku maaf tapi memang aku sudah bersumpah”kali ini Gia yang mengangguk pasrah.
“kau benar maafakan aku”
“tapi aku bisa meminta untuk aki-aki itu tidak mengusikmu?”
“tidak perlu aku bisa menangani sendiri kau cukup menjadi orang yang berdiri pada posisi seharusnya atau kau bisa kehilangan apapun” Ali tersenyum
“kalau kau butuh apa-apa kasih tau aku karena aku cukup mempunyai koneksi dibeberapa hal, tapi balik lagi aku tidak bisa membocorkan informasi klienku, kita bekerja di posisi yang bersebrangan” lagi-lagi Gia terdiam banyak hal yangia ingin bicarakan namun ia tidak bisa sembarangan karena dalam kasusnya siapapun bisa menjadi musuh.
“Li, kemungkinan terbesarku adalah kau dan Biyya akan terseret yang aku takut Biyya akan tertekan dan kau, mungkin akan kehilangan klienmu, karena kau akan di tuduh kong kalingkong dengan aku”
“tujuan mu bekerja apa? Kita berpisah juga karena kau takut akan merusak karierku kan? anggap saja begitu”
Gia menggeleng “kita berpisah karena memang kita terlalu muda dalam membina hubungan tersebut dan itu yang terbaik, maafkan aku”
“tidak masalah bagiku berpisah bukan akhir dari kehidupan ini, yang tidak pernah dan tidak akan kusesali adalah lahirnya Biyya dari rahim seseorang yang begitu cerdas dan pintar seperti kamu, karena ibu adalah madarasah pertama untuk anaknya” Gia tersenyum
“dan aku tidak pernah menyesal pernah mempunyai suami sedewasa dan sesabar kamu”
“kamu tau aku sedang teringat sesuatu” ujar Gia sambil terkekh geli
“ apaan?”
“bir, kelab, malam hari, cabut dari kampus, lari dari kejaran polisi karena demo apa lagi yah... aduh air mataku sampai jatuh gini” Ali hanya diam mengenang masa lalu mereka dimana itu semua bentuk pengalihan rasa sedih Gia karena baru ditinggal kedua orang tuanya.
“terus aku ingat kamu jemput aku yang udah setengah sadar, ngantar aku pulang dalam keadaan mabuk dan boom kita disuruh menikah setelahnya benar-benar kocak tapi seru seriusan apa lagi wajah penggemar kamu benar-benar menggelikan” yap pernikahan mereka tergolong singkat, serba cepat. Meski sudah menjalin kedekatan semnajak Gia menjadi seorang maba, dan sat itu diirnya sebagai kakak asuh mantan istrinya.
“kalau diingat-ingat kamu itu dulu nyebelin, kaku, gak asik tapi pinter, ganteng dan salah satu alasan aku mau nikah sama kamu karena banyak kating yang benci sama aku, sasaran mereka malah dekatin aku si tukang nyolot yah udah aku nikahin sekalian aja. kalau ada hari patah hati nasional maka saat itu adalah hari patah hati satu angkatan” Gia teringat bagaimana laki-laki itu melindunginya dari serbuan polisi yang sudah bentrok antara mahasiswa dan aparat.
“kamu tenang aja aku masih menjadi rebutan kok, kamu jangan sedih kalau soal itu” timpal Ali dengan pedenya.
Kali ini Gia yang terdiam memandangi Ali dengan pandangan yang sama saat melihat sosok Ali pertama kali sebagai seniornya dikampus kurang lebih 15 tahun yang lalu, pandangan memuji mengagumi dalam diam.
“kenapa? Kamu nyesal udah ceraiin aku saat itu?” tanya Ali menyamakan pandangan mereka
Gia membalasnya dengan tersenyum manis kemudian menggeleng “menikah dan bercerai dengan kamu adalah pilihan aku, baik tujuh tahun lalu sat kita bercerai ataupun 14 tahun yang lalu saat kita menikah” jawab Gia masih memandang bola mata milik Ali.
“aku takut kamu kenapa-kenapa Li, aku takut kamu terseret kembali karena melindungiku” ingin sekali Gia mengatakan hal itu tapi menurutnya itu sia-sia saat ini. prioritasnya saat ini adalah putrinya dan orang-orang yang bekerja untuknya. Ia ingat Ali harus keluar dari perusahaan tempatnya bekerja karena membantu dirinya menyelesaikan sebuah kasus diperusahaan tempat Ali bekerja . Ali diPHK tidak terhormat dianggap sebagai penghianat.
Tak terelakkan perdebatan antara dirinya dengan laki-laki itu, berkali-kali Ali meminta diirnya untuk mundur dari profesinya fokus pada Biyya, tentu saat itu Gia berkeras hati bahkan tak jarang merendahkan idealis seorang Ali yang terlalu mudah didikte hanya demi sebuah pekerjaan.
Prang
Sontak saja kedua insan itu menoleh pada sumber suara, ternyata itu adalah Jameela yang tidak segaja menjatuhkan gelas yang berada dalam genggamannya.
“maaf maaf aku tidak bermaksud gangguin kalian, aku haus banget makanya aku kesini, emm aku mau ambil minum kalian bisa lanjutkan kegiatan kalian yang tertunda, serius aku tidak lihat kalian ngapain” cerocos Jameela mengangkat jari manis dan tenganya membentuk huruf V.
“memangnya kami terlihat ngapain sama kamu?”
“kalian ciuman kan? sori banget tapi kalian udah pisah ingat kondisi tolong! yah walaupun bukan urusan aku tapi plis, bagaimana kalau yang keluar Biyya? Sudahlah susah bicara sama manusia yang masing-masing belum move on”
“mata kamu tuh kebanyakan nonton yang haram-haram yah gitu bawaannya itu-itu aja, udah ah aku mau siap-siap subuh dulu kalian berdua jangan lupa solat subuh” tandas Ali meminum minuman milik Gia.
“Li tapi itu punya aku”
“minta”
“tapi itu yah sudahlah”
“tapi nih Gi, kamu kapan ke sini? Kok aku gak tau?”
“tadi malam setengah satu pagi kalau gak salah” jawab Gia membereskan pekerjaannya menata beberapa bantal kursi depan tv dan juga
“yang aku dengar guyuran air kamu mandi?”
“iya itu aku sori yah ganggu waktu tidur kamu”
“terus kamu kapan bangunya? Kok udah sibuk gini aja mana ada bungkusan mie?”
“ini mau tidur... capek banget aku tidur dulu yah... akh aku sedang datang bulanan” ucap Gia mencari posisi nyamannya dengan selimut yang menutupi sebatas dadanya.