Senandung lirih terdengar dari mulut wanita cantik yang sedang bercengkrama dengan penggorengan dan minyak panas dan bahan-bahan bumbu lainnya. Ia benar-benar menikmati perannya didapur itu. Rasanya sudah sangat lama ia benar-benar menyelami kegiatannya pagi ini.
Meski sudah memaksakan matanya utnuk terlelap tapi matanya tak kunjung mau dibawa tidur, sehingga ia memilih kedapur mancari apa yangbisa ia kelolah menjadi makanan untuk putrinya, Ali dan juga Jameela di rumah itu.
“loh mbak, udah bangun aja gak sakit kepala kamu tidur gak nyampai dua jam?” tanya Jemeela dengan rambut yang ia gulung dengan handuk putih.
“aku gak bisa tidur makanya buat ini untuk Biyya beberapa hari disini” ujar Gia pelan takut kedengaran sang putri.
“kamu lagi ada masalah sama laki-laki tua ini mbak?’ ucap Jameela mempreteli pekerjaan Gia.
“ada yang kamu kenal?” tanya Gia dengan tangannya yang sudah menyentuh piring kotor yang ia gunakan untuk masak tak luput dengan membereskan pritilanlainnya, bahkan bekas masak yang entah sejak kapan tidak dibersihkan kini sudah bersih seperti pertama kali dibeli.
“tujuh dari sepuluh aku kenal, tapi cuma beberkali bertemu dan bertukar nomor ponsel”
“oh yah? Kamu kenal dimana?” tanya Gia mencuci tangannya berjalan menuju Jameela duduk
“beberapa kali di kelab malam mall, hotel, lelang lukisan, badan amal apa lagi yah lupa” ujar Jameela mengingat-ingat
“kenapa dengan kelab malam? Kamu masih sering masuk sana?” tanya Ali pada sepupunya yang baru tiba entah dari mana.
“sekali-kali doang lagi pula aku udah lama kok gak kesana”
“terus biasanya mereka sama istri-istrinya atau sendiri-sendiri?” sela Gia cepat melihat raut wajah Ali yang seperti akan kembali mengomel. Dan berhasil laki-laki itu pergi dari sana menuju kamarnya.
“kalau badan amal biasanya sama para istri sih, secara itu diliput media, pastinya mereka nampilin citra yang positif dong”
“tapi kalau ngeotel, kelab sama cewe beda dong, nih aki satu pernah ngajak aku dong mbak” tunjuk Jameela pada salah satu foto yang berada dalam tangannya
“terus kamu terima?” Tanya Gia tersernyum geli.
“yah enggak lah mbak ada-ada aja”
“tapi kok wajah kamu panik gitu, Li sepupu kamu mulai nakal”
“mbak jangan bilang mas ali kelar hidup aku” cicit Jameela melihat kanan kiri
Melihat itu Gia hanya tersenyum simpul “aku gak macem-macem sama mereka yah palingan cuma nemani minum abis itu udah gak ada kontakan lagi” Gia hanya mengangguk saja meskipun ia tak menyukai tindakan Jameela tapi ia tak ingin banyak berkomentar mungkin nanti ia akan menasihatinya.
“Gi kamu masak?” tanya Ali yang entah kapan kembali lagi.
“iya aku masak nasi kebuli mumpung ada bahannya terus aku udah masakin Biyya untuk seminggu kedepan, ayamnya bisa digoreng kalau mau dimakan”
“mengenai maslaah itu yah?”
Tadi malam aku dibuntuti sama orang yang aku gak kenal sampai sini, kemungkinan mereka udah tau apartement aku dan tempat ini, tapi setidaknya disini Biyya lebih aman”
“lalu kamu?” Gia hanya tersenyum sebagai respon “Biyya saat ini lebih penting dari siapapun, seperti biasanya mereka hanya ingin menggertak aku karena rahasia mereka berada dalam genggamanku, termasuk yang secara sembunyi-sembunyi membutntutiku”
“Altiggia!” seketika Jameela tersentak mendengar bentakan dari seorang Ali, laki-laki lembut yang takkan berkata kasar walaupun dirinya direndahkan.
“kalau aku mati maka merekapun akan masuk lubang yang sama denganku, mereka tau itu makanya mereka tidak berani menerorku secara terang-terangan, saat ini harapanku utnuk tersenyum hanya Biyya, aku minta tolong sama kamu jaga dia, jaga putri kita” ujar Gia dengan nada lembut bahkan dengan mudah menjatuhkan emosi Ali seketika.
“tapi Gi, meneror kamu dimalam hari seperti itu bukan hal yang paptut kamu sepelekan, berarti mereka memang ingin mengincar kamu”
“ini bukan pertama kalinya untuk aku dan aku selalu memenangkan semua pertarungan ini, aku dianugrahi kelebihan dalam menilai, berpikir, menganalisa dan sudah menjadi tugasku untuk membantu mereka yang membutuhkan aku berjanji akan selamat” mendnegar itu Ali mengusap wajahnya kasar, laki-laki itu tidak paham jala pikiran mantan istrinya.
Drrt drrt
“Hallo Qees”
“....”
“baik tunggu aku, lima belas menit lagi aku sampai” tandas Gia mematikan sambungan teleponnya membereskan berkasnya
“ada apa?” tanya Ali tak kalah biingungnya.
“ada yangmencoba menggangu media aku dengan mengacaukan sistem keuangan kami, dan bebrapa data penting yang seperti sudah tergangu aku yakin ada yang sedang berkhianat” Gia menejda ucapnnya menarik napas dengan mata sedikit berkaca “semoga saja aku salah sangka”
“oh iya Jameela aku boleh minta nomormu ,mungkin suatu saat aku membutuhkannya” perempuan bernama Jameela itu mengangguk saja mengambil ponsel Gia menuliskan nomornya dengan perasaan campur aduk, ia merasa berada dalam film yang sebentar lagi akan ada masalah besar.
“aku antar, La, kau disini temani Biyya dan janagn kemanapun sampai aku pulang”
“tidak apa Li, aku bisa sendiri” tolak Gia pelan yang tentu mendapat penolakan dari Ali.
“kau pergi bersama ku atau tidak akan beranjak satu centipun dari rumah ini” tandas Ali mengambil kunci mobilnya berjalan lebih dulu meninggalkan Gia yang hanya bisa menurut.
“jadi ini alasan kenapa kau tampil seperti seorang gadis yang tidak memiliki anak bahkan pernah menikah?” tanya Ali tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan dan melirik mobil yang menurutnya tak lepas mengikuti mereka.
“yah, leih baik aku terlihat seperti single dari pada mereka mengetahui aku sebagi seorang ibu”
“lalu kenapa kau malah mengambil hak asuh Biyya saat itu? Kenapa tidak kau berikan saja padaku?” ucap Ali dengan kesal ia tidak mengerti jalan pikiran mantannya satu itu.
“aku cuma seorang ibu yangmencintai putrinya dengan tulus dan menjaganya dengan caraku”
“tapi itu membahayakan nyawa putriku Gia, lihat saja kita dibuntuti seperti ini, dan aku ingat Biyya pernah mendapat teror apa selalu begitu?” Gia hanya menggeleng lemah, sampai saat inipun ia masih mencari tau kenapa putrrinya bisa dibuntuti tapi smeunya masih abu-abu.
“aku akan mengambil kembali hak asuh Biyya” seketika Gia menoleh tak percaya pada Ali, namun laki-laki itu tak perduli. Merasa diabaikan Gia hanya diam tanpa mendebat apapun.
***
Suasana kantor media yang dirintis Gia 6 tahun yang lalu kini tampak kacau dengan barang-barang yang berantakan tak hanya data mereka yang berantakan berkas hard copy mereka yang tampak berantakan.
“siapa yang pertama kali masuk kantor?” tayna Gia pada teman-temannya
“aku Gi, tapi sepertinya mereka bukan lewat pintu utama tapi pintu samping” lama Gia memandangai teman-temannya.
“apa ada yang masuk kesini selain kita?” semua serempak menggeleng.
“kalau gitu aku minta tolong belikan kunci yang baru dan bagus aku sendiri yang akan menggantinya” tandas Gia membersihkan berserakan, sementara Ali, laki-laki itu hanya diam tanpa inginikut campur bahkan membantu, karena ia berpikir tidak ingin ikut campur pada permsalahan internal yang bukan menjadi urusannya.
Akhhh
Teriak Gia membuka sebuah box yang berisi foto dirinya, dan kedua orang tuanya yang dicoret menggunakan tinta merah yang entah itu darah atau tinta Gia tidak tau itu apa tak hanya itu Gia mendapati dua bangkat tikus dan boneka beruang kecil miliknya dulu. Seketika Gia merasakan ketakutan yang luar biasa badannya sampai bergetar hebat, kalau Ali tidak sigap menanggung bobotnya maka dirinya akan mencumbu lantai dingin.
“tolong ambilkan tas Gia” pinta Ali karena tangannya tak sampai menjangkau tas perempuan itu
“bernapas dengan pelan oke, semua baik-baik aja kamu perempuan kuat.... percaya sama aku kamu bisa bernapas dengan pelan Gia” pinta Ali mebauhi penciuman Gia, yang dihantui perasaan ketakutan.
“hubungi bang Adnan, kasih tau bang Adnan” pinta Gia dengan terputus-putus
“oke akan kau hubungi....” belum selesai Ali mengucapkan kata-katanya perempuan itu sudah berpindah tangan pada Bima, seketika laki-laki itu menarik gia dalam dekapannya meminta perempuan itu untuk tetap sadar.
Ali mecoba memahami, karena bagaimanapun Bima saat ini memiliki status dalam hati mantan istrinya, tanpa mengalihkan pandnagannya dari Gia, Ali mencoba menghubungi Adnan memberi tahu kondisi yang baru saja dialami oleh Gia tanpa mengatakan seluruhnya, ia tak mau membuat Adnan menjadi cemas.
****
Setelah memutuskan untuk memanggil dokter barulah Gia bisa lebih tenang dan tidak ketakutan, melihat Gia seperti tadi seperti melihat Biyya versi dewasa, putrinya benar-benar mewarisi sang ibu dalam berbagai aspek.
“Bim, aku mau minum” pinta Gia dengan kondisi yang belum sepenuhnya sadar.
“bentar aku ambilin”
“Ali tadi mana Bim?” mendengar namanya dipanggil Ali segera menoleh sejenak
“ada di samping kamu tuh” Gia tersenyum samar pada Bima
“ada apa Gi? Mengenai bang Adnan udah aku telepon kamu gak perlu khawatir”
“makasih yah, aku mau minta tolong untuk terus awasi Biyya, aku gak tau tujuan mereka apa” Ali mendesah pelan tapi tak bisa menolak.
“aku akan jagain Biyya tanpa kamu suruh yang penting saat ini bukan hanya Biyya tapi orang-orang yang berada disekitaran kamu, mereka semua juga perlu dalam pengawasan” Gia hanya mengangguk.
“sebentar aku ada panggilan” pamit Ali menenerima panggilannya.
“Bim aku minta tolong untuk memulihkan rekaman cctv yang ada di kantor ini, saat ini aku Cuma bisa percaya kau, Ali dan Balqees”
“maksudnya kamu meragukan mereka yang udah bekerja bertahun-tahun sama kamu?” dengan sedikit memaksakan tubuhnya untuk bangun yang dibantu oleh Bima, Gia mengeluarkan ponslenya.
“tadi malam aku dibuntuti seseorang, aku keakutan karena saat itu aku merasa diikuti seseorang, bahkan taksi yang kupesan tiba-tiba mati mendadak, semuanya terasa serba tiba-tiba, sampai aku memutuskan untuk mencari ojek dan saat itu pikiranku cuma rumah Ali karena putriku ada disana” ada perasaan tak terima ketika Gia yang notabenenya adalah kekasihnya mala minta perlindungan sama orang lain.
“apa kamu sudah mengatongi sebuah nama?” tanya Bima penasaran, Bima berusaha menekan perasaannya saat ini, mengesampingkan egonya.
Gia mengangguk “tapi masih samar, aku belum bisa membuktikan karena semuanya terasa serba tiba-tiba, aku cuma berharap aku salah menilai orang” Bima mengangguk saja
“Gi, aku sedang buru-buru menemui seseorang, maaf tapi aku harus pergi” Gia tersenyum saja
“Li untuk sementara waktu aku titip Biyya sama kamu, aku benar-benar harus pokus dengan kasus kali ini, kamu tenang aja aku akan tinggal sama Balqees sampai kasus ini selesai, lagi pula ada Bima yang akan aku minta tolong kalau ada apa-apa” Ali mengangguk saja
“baik lah kalau gitu aku pamit dulu kebetulan aku sedang ada pekerjaan” sekali lagi Gia hanya mengangguk sebagai respon.
“Bim aku titip Gia yah” tak ada jawaban dari Bima, bagi laki-laki itu Ali adalah rival terberatnya untuk saat ini, ia tidak bisa meremehkan kedekatan keduanya.
Ali tak perduli ia tetap melanjutkan langkahnya tak lupa memanggil Balqees untuk menemani Gia didalam sana.
****
“ada apa Li, sepertinya kamu memikirkan sesuatu” spontan Ali menoleh pada sumber suara
“tidak, hmm yah aku sedang memiliki masalah, bukan aku tapi klien aku dia sedang mendapati teror yang cukup mengganggunya”
“oh yah? Kenapa tidak minta perlindungan hukum saja? Memangnya kenapa klienmu bisa terkena teror?” Ali terdiam sejenak, ia paham betul bagaimana karakter Gia, perempuan itu akan menolak bila harus diawasi.
“terima kasih, nanti akan aku pertimbangkan saranmu, jadi bagaimana perkembangan kasusumu?” tanya Ali sedikit berbasa basi.
“klienmu terlalu merepotkanku dengan tuduhan akh sial kau selalu lebih beruntung dariku”
“benarkah? Perasaan aku juga sering kalah dalam persidangan” jawab Ali cuek.
“aku bingung kenapa para tante-tante itu mempercayakan kasusnya sama kau, duda anak satu tapi lebih mirip bujangan. Hei aku ingin tau sesuatu apa kau tidak geli mengencani klienmu setiap kau memenangi persidangan?”
“enak saja, aku tidak mengencani mereka, aku hanya menerima undangan makan malam yang mereka buat, sebagai seseorang yang diundang maka aku harus datang”
“yap, mereka selalu mengajak kau berkencan dan menawarkan malam panas padamu” Ali tergelak mendengar pernyataan dari rivalnya saat berada dalam persidangan, namun teman dekatnya bila berada diluar persidangan.
Ali tak perduli dengan rumor yang sering mengatakan dirinya sring menikmati malam panjang bersama para mantang kliennya.
“apa kau tidak risih mengenai rumor itu? Dan apa kau tidak takut bila suatu hari harus gagal dalam hubungan asmara hanya karena kedatangan mantan teman tidurmu dengan seorang anak yang mengaku sebagai anak mu?”
“tidak, karena aku memang tidak pernah menemani mereka lebih dari sekedar makan malam kalaupun harus gagal aku tak perduli, aku pernah berada dalam tahap tak ingin mencari pasangan lagi” ujar Ali menyeruput kopinya.
“sebentar lagi sidang putusan, kalau aku yang menang aku akan traktir kau di tempat biasa” tandas Ali mengedipkan sebelah matanya.
Suasana persidangan kali ini tak seriweh sebelumnya yang cukup menguras tenaga, karena keduanya merasa paling benar, Ali yang memang sudah merasakan angin segar kemenangan kliennya, hanya menikmati alur persidangan dengan santai.
Benar saja, tak terasa kini persidangan sudah selesai dan benar dugaan Ali kalau merekalah yang memenangkan persidangan tersebut.
“kali ini kau yang menang tapi lain kali aku akan lebih keras lagi” Ali hanya meresponnya dengan sebuah senyuman.
Dengan raut bahagia yang tak lepas dari senyum lega seorang perempuan berusia 30an menghampiri diirnya, tak seperti perempuan sosialita lainnya, klien Ali kali ini hanya seorang ibu rumah tangga yang ingin terlepas dari suaminya yang ototriter dengan segala kebiadaban laki-laki itu, awalnya Ali tak mempercayai degan mudah perkataan sang wanita, namun setelah mendnegar sendiri hasil pemeriksanaan dokter barulah Ali membantu perempuan itu bahkan Ali tak meminta bayaran, Ali sedikit lega ketika mengetahui profesi perempuan itu sebagai guru sehingga perempuan itu tak luntang lantung setelah perceraiannya.
“terima kasih pak Ali, akhirnya saya bisa lepas juga dari laki-laki itu, meskipun saya masih menyeyanginya tapi perlakuan buruk pria itu membuat saya memilih mundur, saya sudah tidak sanggup” Ali hanya tersenyum sebagai responnya, setiap perempuan yang mengucapkan terima kasih atas bantuannya, Ali selalu penasaran dengan perasaan Gia saat mereka resmi berpisa, apa bahagia seperti perempuan dihadapannya atau menangis tak rela seperti perempuan lainnya.
“semoga anda bisa mendapatkan kebahagiaan lainnya, kalau begitu saya permisi dulu” tanpa babibu Ali segera meninggalkan perempuan itu, ia masih banyak pekerjaan lainnya, namun ia harus tetap pulang memastikan sang putri aman di rumah.