Part 9

2457 Kata
 Sesampainya Ali dirumah harus membujuk sang putri yang sedang ngambek karena lagi-lagi sang putri harus menjalani  sekolah dari rumah, tanpa mengatakan yang sebenarnya Ali terus membujuk sang putri dengan makanan kesukaannya namun belum ada tanda-tanda Biyya akan luluh dengan cepat. “sayang, kamu makan dulu dong nanti kalau kamu sakit mama marahnya sama abi loh bukan sama kamu, memangnya kamu tega kalau abi kena marah mama? Mama kalau marah serem loh” “Biyya masih kesal sama abi juga mama, Biyya bosan bi diam dirumah terus gak ngapa-ngapain, sekolah dari rumah tuh gak enak, Biyya maunya sekolah sma kaya yang lain” keluh biyya menarik selimutnya. “oke terus kamu maunya apa?” “yah masuk sekolah lagi bi, kaya biasa” “baik,nanti abi bakalan bicarain ini sama mama, tapi sekarang kamu makan dulu. bagaimana?” “abi janji?” Ali mengangguk pasti kemudian merentangkan tangannya meminta sang putri memeluknya. “maafin abi yah sayang” “abi gak salah apa-apa kok, Biyya sayang abi” “abi lebih dari sekedar sayang pada kamu nak” jawab Ali mengeratkan pelukannya. “bi...” panggil Biyya “hmm” “lapar” “ yah sudah yuk makan abi temani” ujar Ali membantu sang putri untuk bangun dari tidurnya. “abi duluan aja, Biyya mau pakai baju lengkap dulu” ucap Biyya yang melupakan kebiasaan buruknya yang suka melepas celanannya ketika tidur. “oke kalau gitu abi tunggu di meja makan” Biyya mengangguk menunggu sang abi keluar lebih dulu. Ditempat berbeda Gia tengah mendatangi sebuah restoran jepang langganan ia dan rekan kerjanya dulu selama dirinya bekerja di stasiun televisi, ditemani Balqees bersamanya. “bang Pram, sini!” panggil Gia melambaikan tangannya “sendirian aja Gi?” tanya laki-laki yang dipanggil ‘Pram’ oleh Gia “enggak bang, aku bareng Balqees tapi tadi dia ke toilet bentar. jadi ada yang aku minta?” tanya Gia bersemangat “ini berkas yang kamu minta, dan ini data dari tujuh tahun yang lalu, kau tau aku harus ke gudang mencari ini semua” “gak usah drama, lebih dari 14 tahun yang lalupun kau bisa mendapatkannya Pram” “memangnya itu untuk apa?” tanya Pram meneyruput kopinya. “ada seseorang yang mencoba menggangguku bang, polanya hampir sama dengan yang dilakukan sama anakku, aku curiga mereka orang  yang sama bang” “kau terlalu banyak musuh Gi, bahkan media saja minta kau mundur entah sampai kapan” “pecundang, aku tidak perduli kalau dia mencelakai aku, tapi bukan anakku” Pram hanya mendesah saja, melarang Gia pun rasanya percuma “tujuh tahun yang lalu terlalu banyak kasus yang kita hadapi, lalu kau mau memulai dari yang mana?” “aku belum tau tapi yang pasti aku akan mempelajarinya satu persatu” “kalau mereka mengincar nyawamu bagaimana?” “bang, hidup ada yang ngatur kalau aku mati ditangan mereka yahh sudah menjadi garis tanganku mati seperti itu, tapi kalau belum masanya aku meninggal  apapun yang mereka lakukan terhadapku aku tidak akan kenapa-napa” “selalu begini! kau terlalu keras kepala” “tidak bang, aku hanya keras terhadap apa yang aku anggap benar, kalau kebenaran dibungkam lalu apa lagi yang bisa aku percaya diatas dunia ini?” “terserah kau saja lah Gi, aku balik dulu sebenatar lagi aku akan on air, aku harap kau cepat menyelesaikan semuanya agar kita bisa kembali bersama dalam satu program acara, aku malas mengatakannya tapi aku rindu kerja sama kau lagi. sicerewet, tunkang ngomel tapi hobinya ngambekan” Gia hanya mengangguk saja, ada keraguan dalam hatinya untuk kembali ke acara tersebut, ia mulai nyaman dengan waktu santainya yang bisa ia gunakan bersama putrinya tanpa harus ada waktu yang mengikat. “loh bang, udah selesai aja? aku baru juga dari kamar mandi” timpal Balqees yang datang sebelum Pram pergi, Gia memilih menyandarkan punggungnya karena ia yakin sebenatar lagi pasti ada drama antara mereka berdua. “hai dekku, dah lama kali gak jumpa kau dekku, makin cantik aja kulihat” “iyalah, abang pun makin tua kalau ku lihat bang” “heeeh pakai bawa tua pula, berasa ingin kunikahkan pula kau dengan anakku” “adek abang ajalah untuk aku ada bang?” “aku pulanya anak terakhir dikeluargaku, enggaknya mau adek jadi bini kedua abang?” Seketika Balqees menggeliat  mendengar diminta menjadi istri kedua dari laki-laki yang dulunya menjadi atasannya. “dah lah bang, merinding bulu roma ku, gak kebayang aku jadi istri kedua abang, pecah mungkin perang dunia ketiga macam gak tau aja bini abang macam mana” “bisa lah kita atur itu dekku, asal mau sama mau jadi” “dah lah bang, ilang selera makanku abang buat” “bah belum kuapa-apakan udah ilang aja selera makanmu, apa lagi kalau heeeh dah lah jadi pingin pula aku dah lah pergi lah aku dulu yah nomor teleopn abang masih yang kama kok dekku” ujar Pram bangun dari duduknya sedikit merapikan pakaiannya, sementarqa Gia hanya mengangguk saja. Lain dengan Balqees yangmengibas rambutnya, Selalu begitu. “udah dapat semua mbak?” tanya Balqees melihat beberapa tumpukan kertas dihadapan Gia. “semoga, karena tujuh tahun lumayan lama” Balqees mengangguk saja “lalu setelah ini mbak mau kemana dulu?” “mungkin aku balik ke apartemen, udah lebih dari seminggu semenjak kita pulang dari Bromo aku belum ada kesana,dari bandara langsung ke rumah Ali. Sekalian aku mau memperlajari ini semua” “tapi mbak, aku boleh izin sebentar? Aku sudah ada janji kontrol dengan dokter gigi” “kaya  sama siapa aja Qees, aku bisa sendiri kok kalau kamu udah selesai langsung ke apartemen aku aja, bantuin aku lumayan banyak ini” “oke mbak, nanti setelah aku kontrol langsung ke tempat mbak Gi” “ yah sudah kalau gitu kamu bantui aku angkat ini ke mobil, berat banget.” Balqees mengangguk mengangkut separuhnya karena memang berkas yang diberikan oleh Pram dua buah dus ukuran sedang. “mbak, aku naik taksi aja tau sendiri soalnya kita beda arah” “serius?” “iya mbak, taksi aku juga kayanya udah dekat sini” “yah udah kalau gitu aku pergi dulu yah” pamit Gia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Matahari sudah hampir samar, macetpun sudah tidak dapat dielakkan karena memang sudah memasuki jam pulang kantor. Positifnya dirinya bisa sedikit santai mengemudikan mobilnya. Setelah hampir 20 menit terjebak macet barulah Gia bisa terhindar dari padatnya sesama pengguna jalan. Tubuhnya benar-benar pegal  hanya duduk  saja dan berjalan seperti siput, baru saja diirnya mengatakan positif dan sekarang dirinya kembali mengeluh terlebih bawaannya yang kalau dikilo mungkin akan lebih dari 15 kg. “lho” bisik Gia merasakan pintu apartemennya yang seperti tak terkunci bahkan setengah terbuaka. Setelah beberapa kali mengeluarkan nafas berat Gia memutuskan untuk membuka pintu tersebut berharap bisa melihat siapa pelakunya. Belum setengah pintu terbuka Gia merasakan seseorang mencegatnya. “ya ampun Balqees, kau mengagetkan aku” keluh Gia menyentuh dadanya. “maaf mbak, habisnya daritadi panggil kamunya gak nyahut” “bukannya kamu bilang kamu bakalan telat datang?” “udah selesai kok, kenapa mbak?” tanya Balqees melihat kearah tangan Gia “ pintunya sedikit terbuka, apa aku yang kelupaan menguci atau ada seseorang yang masuk?” Balqees mengerjabkan matanya beberapa kali sangat kontras kalau perempuan itu sedang ketakutan, bagaimana kalau memang ada yang masuk ke apartemen?. “hai Gi kamu baru balik? Dari semenjak kamu pergi pintu itu terbuka” ucap tetangga Gia yang baru saja keluar dari apartemen disebelahnya. “aku udah mencoba menghubungimu, tapi tidak masuk, aku pikir kau mengaktifkan panggilan khusus seperti biasanya tapi aku sudah menutupnya” “yah... oh terima kasih karena kamu sudah mau membantu aku, yah aku sepertinya terburu-buru saat itu dan melupakan mengunci pintu, sekali lagi terima kasih” “kalau gitu aku permisi dulu yah Gi” “mbak kamu yakin kalau saat itu pintunya udah kamu kunci? Maksud aku saat itu kita sudah hampir terlambat untuk penerbangan?” Gia tampak berpikir sejenak, ia bukan tipe orang yang ceroboh akan hal-hal tersebut, tapi rasanya sangat sulit untuk mengingat minggu lalu “yah udah nanti kita minta rekaman cctvnya aja, kita masuk dulu semoga tidak ada yang hilang satupun” Gia mengangguk saja.    ****  Tak henti-hentinya Gia memperhatikan penampilannya dari atas hingga bawah, mempertanyakan apakah dirinya masi cocok berpenampilan seperti ini? mini dress hitam membaluti tubuhnya rampingnya dengan rambut hitam sedikit bergelombang ia biarkan tergerai tak lupa heels senada dengan dress yang ia kenakan melengkapi penampilan panasnya malam ini. Rasanya sudah sangat lama Gia tidak seperti ini, terakhir kali ia menggunakan semua ini ketika ulang tahunpernikahannya dengan Ali yang ke 6 tahun. Tepat 7 tahun usia pernikahan mereka palu hakim perceraian menjadi kado pernikahan terpahit untuk dirinya. “ya ampun mbak, kamu cantik banget sih, kalah cantik aku yang masih ting-ting ini” “kamu juga cantik kok udah ada pesan dari Jameela?” tanya Gia mengenakan antingnya. “belum sih, tapi tadi dia bilang udah dijalan” Gia hanya mengangguk kembali memperhatikan penampilannya yang  sebenarnya ia sudah tidak pede mengenakan gaun mini tersebut. “kamu lipstick baru yah mbak? Pinjam dong warnanya cantik banget” “jangan yang itu, itu aku beli untuk Biyya yang ini aja sama kok, tapi memang udah aku buka, kalau kamu mau ambil aja gak papa” “serius mbak? Lumayan loh ini harganya? Kayanya seru yah mbak punya anak gadis bisa hang out bareng, shopping aduh kok aku jadi kepingin punya anak juga sih?” “makanya nikah, biar kamu tau serunya punya anak” “tapi bukannya Biyya baru 14 tahun memangnya boleh dia menggunakan make up begini?” “sebenarnya aku bukan beliin dia make up tapi satu paket skin care dapat bonus lipstick, kegiatan dia sering panas-panasan kalau sekolah, makanya aku pesan itu buat dia tapi kelupaan terus” “eh mbak, Jameela udah didepan katanya, kalau gitu kita berangkat sekarang?” “kamu temuin dia dulu aku mau ambil cardigan bentar” “oke mbak, aku keluar duluan yah” Dua hari yang lalu saat dirinya disibukkan dengan beberapa kasus yang pernah ia tangani 7 tahun lalu baik saat diirnya masih magang disalah satu stasiun televisi, hingga dirinya sendiri yang mempin sebuah program acara, Jameela memberi informasi mengenai Burhan Pranidya yang akan merayakan kemenangan pria itu disalah satu kelab malam yang Jameela mendapat undangan secara langsung oleh laki-laki tua bangka tersebut. “udah pada siap?” tanya Gia menghampiri Jameela dan Balqees yang sibuk dengan ponselnya masing-masing. “sudah, mau berangkat sekarang?” tanya Jameela memasukan ponselnya Gia menelan ludahnya kasar, banyak yang ia pertimbangkan, nama baiknya, kariernya, medianya bahkan putrinya. Tapi ia tak punya pilihan lain dirinya hanya harus tetap sadar sampai pulang ke apartemennya. “oh iya mbak, Ali udah bilangkan kalau Biyya sedang mengikuti perkemahan tiga hari kedepan?” “udah, tadi Biyya juga udah kirim lokasinya dimana” “aku takut kita pada tepar, jadinya aku pesan taksi online. Tidak masalah kan?” “ide bagus, kapan lagi kita bisa senang-senang begini” seru Balqees mengibas rambutnya. “kita pergi kerja Qess, bukan senang-sennag seperti ucapan kamu” ralat Gia. *** Berusaha komitmen untuk tetap sadar demi misinya, Gia hanya memesan minuman beralkohol sedang, ia tak punya pilihan lain selain berpura-pura menikmati malam itu. Tak sepeti dua rekannya yang sudah berjoget ria , bahkan keduanya sudah mendapati kenalan baru, belum kering ucapannya mengenai alasan mereka di kelab itu untuk bekerja, Jameela dan Balqees sudah dikusai alkohol, awas saja kalau mereka membuatnya susah esok harinya. Setelah menunggu kesempatan untuk bisa bercengkrama dengan Burhan, akhirnya Gia bisa berbincang beruda dengan laki-laki tersebut. “hai” sapa Gia mengangkat gelasnya. “hai apa kabar?” Gia mengangguk manis “baik, tapi aku sedang tidak ingin berbasa basi” tandas Gia kemudian menyerahkan ponselnya pada laki-laki tua tersebut. “kau mengenal mereka?” tanya Gia to the point. “mereka orang bayaran” “mengapa mereka menyerangku dan putriku?” Gia merutuki mulutnya yang dengan mudahnya mengatakn putrinya, tapi Gia tetap mempertahankan raut wajahnya untuk tidak berubah secara drastis. Laki tua itu menyipitkan matanya “kau menuduhku? Begitu?” “memangnya kau punya bukti?” “tidak, alasan aku kesini untuk mencari bukti itu, kita punya kenangan buruk dimasa lalu, aku berhasil membantu penyidik membongkar usaha gelapmu dan beberapa kegitana prostitusi, mungkin kau berniat mencelakaiku” “sayangnya aku tidak berniat melakukan itu semua, terlalu receh untuk balas dendam seperti itu kau tau aku kalau tidak suka dengan seseorang. bush... lenyap tanpa cela” Gia terdiam sejenak memilih kata apa yang akan ia ucapkan. “lalu kenapakau berada di mezz TV ketika aku dipecat? Dan saat itu kau pura-pura tidak mengenalku” “kau terlalu cerdas Gia sayang. Tapi kau salah besar saat itu aku sedang menghadiri acara amal yang diadakan Mezz TV dan aku penyumbang terbesar, jadi wajar kalau mereka menjamuku bukan?” dengan kurang ajarnya tangan laki-laki itu menyentuh dagu Gia mengusapnya pelan, manarik wajah cantik itu semakin dekat “aku ingin memberi kau penawaran, seperti take and give. Puaskan aku kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan” bisik Burhan tepat ditelinga Gia. “tertarik?” tanya Burhan memberikan segelas minuman yang entah apa isinya Gia tak tahu. Satu tegukan, dua tegukan hingga entah tegukan keberapa kalinya, Gia merasakan pusing yang luar biasa, kerongkongan yang terasa panas. Tak hanya itu ia merasakan gejolak panas yang berbeda. “kenapa Gia? Kau seperti kepanasan? Mau ku bantu?” tawar laki-laki tua tersebut Gia menggeleng lemah, namun tenaganya seakan menghilang, ia benar-benar pusing. Ia tak bisa lagi menolak saat tua bangka nan mempesona itu mulai mendekatinya. “maaf tapi perempuan ini milik saya” **** Kilauan lampu yang memaksa matanya untuk terbuka serta dinginya udara membuatnya haru teraga mencari selimut, karena malam ini benar-benar dingin, entah sepenuhnya sadar atau masih dalam kebingungan Gia mengerjabkan matanya beberapa kali, berusaha menyesuaikan cahaya lampu yang memasuki korneamatanya. Dengan pusing yang masih teramat dah tenggorokan yang terasa panas, Gia berusaha untuk bangun dari dinginnya lantai. “lantai?” tanya Gia pada dirinya sendiri? Ia tak meningat ada lantai sedingin ini di apartemennya, karena dirinya penyuka karpet sehingga dari ruang tamu hingga ruang tengah di isi karpet yang tidak akan sedingin ini, apa dirinya tidur di dapur? Namun siapa yangmembawanya? Seingatnya dirinya tepar di salah satu ruang VIP dalam kelab malam. Dengan perasaan takut luar biasa Gia membuka matanya, yang pertama kali ia lihat adalah Balqees dan Jameela yang tertunduk di salah satu sofa, lalu kenapa dirinya di lantai? “haus” satu kata yang keluar dari mulut Gia dari banyaknya pertanyaan dalam benaknya. Merasa tak ada respon dari kedunaya Gia memaksakan tubuhnya untuk bangun meski sulit karena pening yang belum juga menghilang, tak lama ia mendapati sosok jangkung dengan segelas air yang berada pada laki-laki tersebut. “Ali” cicit Gia dengan pandnagan berputar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN