Seperti janjinya pada sang mama untuk menemui calon yang akan dikenekalkan padanya, dan disini ia berakhir, yaitu salah satu pondok pecel yang sangat terkenal dikotanya. Tak seperti wanita pada umumnya, wanita itu cantik alami tanpa polesan berlebih, pilihan mamanya benar-benar tidak mengecewakan. Namun seperti biasnaya perasaannya masih saja belum bisa dimasuki siapapun. “Nakita?” tanya Ali mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan sang wanita. “yah saya Nakita, anda mas Ali yah?” tanya perempuan itu khas dengan logatanya. “yah saya Ali, kalau gitu silahkan duduk, kamu mau pesan makanan apa? Kebetulan saya juga belum memesan apapun, bagaimana kalau kita pesan makanan dulu?” tawar Ali memberikan satu buku menu yang tadi ia pesan dua untuk mejanya. “apa yah mas, saya tidak tau. Mas sa

