Sangkar Pelarian

1014 Kata

Tepat pukul 07.00 pagi, Arka dan Marco juga Tika sampai di bandara. Perjalanan yang begitu mulus tanpa kendala dan di dalam pesawat, Arka tidak mendekati Tika sebagaimana pasangan suami istri. Lelaki itu hanya memantau dari jauh pergerakannya. Ia memastikan bahwa Tika tidak bisa berulah. Tidak ada sentuhan, atau isyarat lembut lainnya. Hanya satu kalimat pendek yang keluar dari mulutnya pada Marco. “Amankan jalur.” Marco mengangguk. Tika tahu, ini bukan perlindungan tetapi penahanan yang dibungkus kata “keamanan”. Mobil hitam berlapis kaca gelap membawa mereka keluar bandara menuju villa milik Arka di kawasan terpencil. Pun, Rania sebagai sang istri juga tidak pernah tahu kedudukan villa ini. Tika memandang keluar jendela, rahangnya mengeras dengan kedua tangan yang saling mengepa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN