Bu Mega duduk sendirian di bangku panjang ruang tunggu, punggungnya tegak tetapi sorot matanya penuh kekecewaan. Vonis sudah dibacakan. Kata-kata hakim masih menggema di kepalanya seperti palu yang tak henti menghantam. Pasti, tegas dan tak bisa dihindari. Bukan hanya hukuman yang meluluhlantakkan dirinya, melainkan kesadaran paling pahit karena semua ini bermula dari dirinya sendiri. Dari rasa cemburu masa lalu yang tak pernah bisa ia padamkan. Dulu, ia mengira. Dengan kekuasaan yang ia miliki, hukum tidak akan pernah menyentuhnya, seperti kebiasaan bahwa uang bisa membungkam apapun di dunia ini, tapi ... kenyataan itu jauh dari mimpi indahnya kini. Ia menunduk, menatap kedua tangannya yang gemetar. Tangan yang dulu ia banggakan, tangan seorang ibu yang merasa telah membesarkan anak

