Langkah kaki itu berhenti tepat di ambang pintu. Rania menoleh perlahan. Arka sudah berdiri di sana, jas hitamnya belum ia lepaskan, rambutnya sedikit berantakan, sorot matanya tajam meneliti. Seperti bukan sorot seorang suami yang rindu, melainkan pria yang sedang menimbang medan ranjau. Lalu, ia tersenyum manis. “Aku tahu kamu pasti mampir di sini," katnaya pelan seolah kedatangannya biasa saja, padahal ia sedang mendekati sesuatu. Rania berdiri tegak, melirik ke arah laci yang sudah ia kunci sempurna. Aman. “Aku belum selesai di sini, Mas," jawabnya singkat. Arka melangkah masuk dan menutup pintu. Mengunci dari dalam, lalu menanggalkan jasnya dan melepas dasi. Kemudian ia bersandar sebentar di atas kasur busa lama yang menimbulkan suara deritan ketika tubuhnya turun di sana.

