Arka berdldiri di depan gedung parkir basement rumah sakit jiwa dan di sampingnya, Marco menutup laptop tipis berisi potongan rekaman CCTV yang telah mereka bongkar sejak dini hari. “Semua rekaman asli sudah kita amankan,” kata Marco pelan, membuka pembicaraan dengan hati-hati sekali. “Bagian dari server rumah sakit sudah dimanipulasi. Tapi kita punya salinan sebelum dihapus.” Arka menoleh. Tatapannya tajam, fokus, tapi ada kelelahan yang tak bisa disembunyikan. Ia tahu, pangkal ujungnya mengarah ke siapa. “Jam berapa tepatnya Bu Rahma mulai kritis?” “Setelah perempuan itu keluar. Pukul 16. 49. Lima menit kemudian, monitor jantung mulai tidak stabil.” Arka mengepalkan tangan. “Dan, dokter jaga?” “Diganti mendadak satu jam sebelumnya. Perintah langsung dari manajemen.” Arka tertaw

